Perasaan Iko
Iko mengempaskan tubuhnya di kasur buluk kamar kosnya. Sebelah lengan menutupi mata si cowok cungkring. Wajah Abel memenuhi pikirannya. Abel marah. Abel merengut. Abel melirik. Abel tersenyum. Abel tertawa. Abel. Abel. Abel.
Abel naksir Egi.
Iko duduk dan mengusap kasar wajahnya. Ini semua mulai mengganggu cowok cungkring itu. Bukankah ini yang menjadi akar masalahnya?
Abel naksir Egi. Egi naksir Renita. Renita nggak peka. Terus saja mencomblangkan Egi dengan Abel. Egi mengikuti permainan—iya, cowok itu menganggap ini sebagai permainan—Renita agar bisa dekat dengan si suara cempreng. Abel menyadari Egi nggak menyukainya. Abel salah paham pada Renita. Lalu… boom!
Iko terjebak di tengah-tengah ledakan.
Saat Renita kecelakaan, Iko kira semuanya akan berbeda.
Ya, memang berbeda. Tapi dengan cara yang lain. Masalah nggak selesai dengan meninggalnya Renita, karena roh cewek absurd itu terjebak dalam wujud boneka susan berkat sumpah Abel di hari ulang tahunnya.
Mungkin benar kata orang, “Hati-hatilah dalam berharap. Kamu tidak pernah tahu kapan harapanmu akan didengar.”
Sekarang Iko makin keteteran. Apalagi si boneka susan masih tetap sama merepotkannya bahkan setelah menjadi setan gentayangan. Beberapa kali Iko harus masuk angin karena berkendara malam-malam. Sudah begitu, bensinnya jadi boros. Padahal Iko harus berhemat.
Iko nggak mengeluh soal ini. Sebagai sahabat sehidup semati, Iko bersedia membantu sahabatnya yang sedang kesulitan. Bahkan meski itu harus mengorbankan dirinya. Membiarkan tubuhnya dipenuhi lebam dan membolos kuliah berhari-hari. Bahkan menghindari Abel karena cowok cungkring itu nggak mau Abel melihat tubuhnya penuh luka dan curiga.
Tapi lihat sekarang!
Setelah semua yang dilakukannya, Renita justru menghilang. Si boneka susan yang akhir-akhir ini kerap bersikap aneh dan galau nggak jelas itu justru menghindarinya. Beberapa kali Iko mengunjungi Renita, tapi dedemit itu nggak pernah ada di tempat.
Lalu Abel. Sia-sia saja selama ini Iko menutupi duelnya dengan si hantu bungkus demi Renita, karena ternyata Abel mengenal dedemit itu. Lebih parah lagi, dia abangnya.
Itu berarti selama ini Abel diam-diam mengetahui keadaan Renita di alam sana. Lalu, kenapa cewek bongsor itu nggak mencabut kutukannya?
“Karena gue ingin memastikan,” kata Abel tadi setelah Iko memergokinya bersama si hantu bungkus di halaman belakang rumah Abel.
“Memastikan apa?” tanya Iko. “Apa Renita sudah berubah, begitu?”
Abel menggeleng. “Lo suka sama Renita, Ko?”
Iko tersedak. Benar-benar tersedak. Bukan akting. Cowok itu meletakkan gelas jusnya dan menatap Abel.
“Kesimpulan dari mana itu?”
Abel mengedikkan bahu. “Lo care banget sama dia.”
Ya iyalah! Mereka sudah bersahabat sejak lama sekali. Justru kalau nggak saling peduli, apa arti persahabatan mereka selama ini?
Iko mendengus. Kalau saja dia bisa, cowok cungkring itu kepingin berteriak keras-keras di telinga Abel. Yang gue sukai itu lo, Bel. Elooo…!!!
Sayangnya Iko nggak bisa. Bukan saat yang tepat. Atau mungkin, tidak akan pernah ada ‘saat yang tepat’ bagi Iko. Dia terlalu sibuk menjaga kedua cewek beda segalanya itu. Sebagai sahabat.
Cowok itu meraih ponselnya di nakas dan mulai mengetik. Semua keabsurdan ini harus disudahi. Sekarang.
***
“Jadi …,” Iko menatap bergantian ke arah Abel dan Nico si hantu bungkus, “rencana kita kali ini adalah mengembalikan Renita kepada sifat absurd nggak jelasnya.”
“Caranya?”
Iko menatap Nico. “Lo beneran naksir sama Renita?”
Nico mengangguk mantap. “Nggak cuma naksir,” katanya, “gue sayang sama dia.”
Iko jadi kepo. “Sebenarnya apa, sih, yang lo suka dari cewek absurd nggak jelas itu? Bentuknya juga boneka susan begitu. Ngesot pula.”
Nico tersenyum. “Dia manis.”
“Hah?”
“Dia lucu.”
“Hah???”
“Menggemaskan.”
“Ha—”
“Stop!” Abel menyela. “Fokus, please?”
Iko nyengir. Terkadang perhatiannya suka teralihkan. Cowok itu berdeham. “Oke,” katanya. Serentetan rencana—jahat—mulai mengalir dari mulut cowok cungkring itu. Abel dan Nico hanya mendengarkan. Sesekali mereka manggut-manggut, mengangkat tangan dan bertanya, lalu kembali mendengarkan.
“Jadi gimana?”
Abel menatap abangnya, yang balas menatap si bongsor sambil mengedikkan dagu.
Iko menatap keduanya bergantian. “Halo?” tanya cowok itu ketika dua kakak beradik di depannya masih sibuk dengan saling melempar kode.
Abel mengangguk. Nico ikut mengangguk. “Gue setuju!” kata mereka hampir bersamaan.
“Tapi dengan syarat,” Abel melanjutkan, “lo harus jadi tumbalnya.”
Iko menelan ludah. “Okelah,” ujarnya pasrah. Cowok itu tertegun saat melihat senyum Abel merekah. Sudah lama sekali cewek bongsor itu nggak tersenyum seperti ini.
Apa yang kamu pikirkan, Ko? Kenapa kamu tiba-tiba gugup?
Iko mengalihkan pandangannya. Dia nggak tahu kalau sejak tadi Nico memperhatikan dirinya. Tatapannya pada Abel. Binar di matanya ketika Abel tersenyum.
Sebuah ide usil muncul tiba-tiba di dalam benak si hantu bungkus.
Nico nyengir lebar. Dia berdiri. “Gue tunggu kabar selanjutnya, ya!” ujarnya lalu melompat menghilang. Nico sedang senang. Saat senang, dia nggak keberatan memakai kemampuan hantunya.
***
Other Stories
Way Back To Love
Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...
Devils Bait
Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...
Jika Nanti
Adalah sebuah Novel yang dibuat untuk sebuah konten ...
Erase
Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...
Kabinet Boneka
Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...
Aku Pulang
Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...