Chapter 6
Qiran
Hari semakin gelap. Kami tiba di alamat rumah itu bertepatan dengan matinya mesin mobil. Sementara ini kami sudah merasa aman. Makhluk-makhluk itu kurasa tak ada lagi yang mengejar. Mereka dialihkan oleh orang-orang yang semula berlindung di apartemen. Namun tentu aku tidak tahu keadaan mereka sekarang. Aku harap masih banyak di antara mereka yang selamat. Terakhir yang mengejar adalah sosok Vimala itu. Dan, aku juga berharap besar ia terhenti sampai di sana---atau mungkin ia sudah mati di sana?
Aku mengamati rumah musisi itu. Berlantai tiga. Megah memang, tapi tampaknya tidak terurus. Tembok-tembok di bagian depan terlihat lesu, hampir kehilangan seluruh warnanya yang semula semirip telur asin. Kaca-kacanya juga kusam. Dan, halamannya, tidak rata. Pohon dan bunga-bunga tampak sakit. Kering sama sekali. Pintu gerbang juga sudah karatan. Entah sudah berapa lama rumah ini bernasib begini. Aku pun meragukan rumah ini masih ada yang menempati. Suasananya masih lebih baik daripada kuburan. Ini benar-benar mencekam!
Adhira menatapku. Ia bertanya, \"Kita masuk saja?\"
Karena aku merasa rumah ini benar-benar tak ditinggali lagi, aku mengangguk.
Aku mendorong pagar yang langsung meninggalkan serbuk karatnya di telapak tanganku. Kami melangkah pelan-pelan dan awas. Rumput dan daun-daun kering meretak di saat kami injak-injak. Jujur, aku sangat merinding dengan suasana ini.
\"Tidak terkunci, Qir.\" Adhira menarik gagang pintu. Pintu sedikit terbuka. Sekali lagi Adhira meminta pertimbangan, \"Masuk saja?\"
Di dalam gelap. Benar-benar gelap gulita. Aku tidak melihat satu lampu pun menyala. Tapi beruntung kami masih ada ponsel. Kami menggunakan penerang dari ponsel masing-masing.
Kami nenyisir di setiap bagian rumah di lantai satu. Mencari petunjuk apa saja yang sekiranya bisa membantu. Tapi, tampaknya tidak ada apa-apa. Di sini hanya ada perabotan yang berserahkan. Berdebu dan beralih menjadi hunian laba-laba.
Aku sempat memperhatikan sebuah DVD. Barangkali saja musisi itu menyimpan rekamannya di situ. Tapi, logikanya, bagaimana caranya memutar DVD itu sedangkan listrik di sini mati? Akhirnya aku mengabaikan DVD itu kemudian menuju lantai dua.
Adhira menyusulku. Ia bilang, \"Bagaimana bisa rumah sebesar ini tidak ada yang menghuni. Ke mana anggota keluarganya? Minimal para pekerjanya. Masak iya rumah sebesar ini ia tinggali dan urus sendiri?\"
Ya, sebenarnya aku juga ingin menanyakan hal yang sama. Heran saja. Rumah ini berlantai tiga. Meski sudah terlihat usang, perabotannya di dalamnya masih baik. Barang-barangnya kualitas terbaik. Mungkin juga imporan. Aku bisa membayangkan suasana rumah ini semasa terawat. Begitu mewah dan nyaman ditinggali.
Di lantai dua kami mendapati sebuah piano yang entah sudah berapa lama kesepian. Posisinya di dekat dinding kaca yang tidak lagi bertirai. Jika piano itu dimainkan, pemainnya persis menghadap ke arah tenggelamnya matahari. Dan, di kejauhan akan melihat lautan. Lautan yang seolah kelam karena sedikit tertutupi ranting-ranting pohon yang rapuh.
Ya, bukan hal yang tabu jika sebuah alat musik ada di rumah musisi. Bahkan bisa jadi di salah satu ruangan di rumah ini ada ruang studionya---atau mungkin itu di lantai tiga? Pasti berjejeran lagi alat musik yang lainnya.
Kami mendekati piano itu. Sungguh usang dan berdebu. Aku tidak yakin alat musik perkusi ini masih berfungsi. Jikapun masih bisa berbunyi itu tidak lebih dari bunyian absurd. Tidak normal. Asal bunyi. Atau, ia berbunyi karena menjerit karena merasa keram, kaku setelah sekian lama tidak terpakai, tidak tersentuh.
Maka, aku pun iseng mencobanya. Sesuai dugaan; pianonya tidak berbunyi.
Tapi tunggu! Tidak berbunyi? Benarkah pianonya tidak berbunyi? Barusan...
\"Kamu mendengarnya?\" Aku melempar pertanyaan sembari mengerling awas, bangkit berdiri.
\"Ya, aku mendengarnya. Tapi... bukan dari piano yang kamu pencet.\"
\"Maksudmu?\"
\"Awas!\" Dengan cekatan Adhira mendorongku. Kami sama-sama terjatuh. Tersungkur.
Gila! Bagaimana mungkin ada piano yang bisa naik ke tangga sendiri? Adakah yang mendorongnya?
Beruntung kami bergerak cepat. Jika tidak, kami akan diapit dua piano itu dan terjatuh dari lantai dua ini.
Ini tidak beres. Ini tidak menguntungkan kami. Maka, karena gusar, tidak ada lagi rasa takut aku pun berdiri menantang. \"Menggunakan kesempatan di saat lawan lengah? Cuih! Pengecut! Dasar lemah!\"
Sesaat setelah aku mengatakan itu bangunan ini bergetar. Berguncangan seperti gempa. Cukup besar sehingga membuat aku dan Adhira berpegangan sempoyongan.
\"Jangan jadi pengecut! Tunjukkan wujudmu! Kami tidak takut!\" teriakku yang terdengar ikut bergetar.
Semakin aku menantangnya semakin keras pula guncangan yang kami rasakan. Tapi ya, aku sungguh-sungguh tidak takut!
\"Jika kamu musuh kami, tunjukkan wujudmu. Apa pun wujudmu kami tidak akan pernah takut. Kami akan melawan meski kita bukan lawan yang sepadan. Tapi, jika kamu di pihak kami untuk menyelamatkan musisi itu mohon beri kami petunjuk. Kami datang untuk menyelamatkannya!\"
Aku tidak tahu lagi apa yang ada dalam pikiranku, kalimat itu meluncur begitu saja. Aku sendiri tertegun mendengarnya.
Suasana pun sedikit menjadi lebih baik. Aku dan Adhira saling pandang. Perlahan-lahan guncangan itu berhenti. Disusul lampu yang menyala di salah satu kamar.
Kami pun saling mengangguk paham. Di sana. Ya, pasti maksudnya kami diarahkan ke sana. Petunjuk!
Ada angka tiga belas di pintu itu. Entah apa alasan musisi itu menempelkan angka setelah angka sempurna itu di pintu... oh, ini kamarnya. Banyak orang yang percaya angka itu identik dengan kesialan. Ketidakberuntungan. Pun, sudah banyak sejarah kejadian besar di dunia terjadi di saat tanggal tiga belas. Seperti, terjadinya badai besar di Asia Selatan yang menewaskan tiga ratus ribu warga Chitangong, Bangladesh. Atau, yang sekalian menewaskan satu juta jiwa di Ganges. Dan peristiwa-peristiwa besar lainnya kerap terjadi di tanggal tiga belas!
Dari dalam ruangan ini ternyata bernuansa merah. Lampunya bercahaya fmerah. Cukup membuat tidak nyaman untuk membuka mata lebar-lebar.
Di samping tempat tidur kami menemukan sebuah komputer. Sudah dalam keadaan menyala (sekian waktu rumah ini kosong, komputer ini menyala? Betapa ini di luar logika!). Background-nya memperlihatkan foto diri si musisi. Foto yang sama seperti yang kami lihat di situs Creepypasta, tempat ia menulis sedikit tentang dirinya itu (atau sebuah petunjuk yang membuat kami berada di sini sekarang).
Aku lalu membuka semua file yang ada dalam komputer itu. Banyak sekali foto. Banyak sekali video lagu ciptaannya. Dan, ada satu lagu yang judulnya kami kenali. Ya, lagu itu. Lagu yang menyebabkan kini kami berada di sini. Tentu, di sini kami tidak akan memutarnya. Tidak akan!
Dari sekian banyaknya file, ada sebuah file yang tampaknya berdiri sendiri. Seperti sebuah dokumen. Oh, inilah yang kami cari. Petunjuknya. \'Kisah-kisah hidupnya?\'
Other Stories
Kau Bisa Bahagia
Airin Septiana terlahir sebagai wanita penyandang disabilitas. Meski keadaannya demikian, ...
Coincidence Twist
Kejadian sederhana yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Sera menyeretnya pada hal-h ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Ryan Si Pemulung
Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...
Hantu Kos Receh
Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...