Chapter 9
Pertemuanku dengan Mammon
Aku melihat diri, bayanganku, keluar dari badan yang tengah tertidur. Aku keluar dengan pelan dan amat hati-hati sampai-sampai si badan sepertinya tidak merasakan apa-apa. Ia tetap pulas. Tertidur dengan damai.
Untuk sejenak aku memperhatikan wajah itu; wajahku. Wajah yang letih. Wajah yang dihunjam duka sejak pertama kali muncul ke dunia. Miris.
Melihat wajahku itu, aku langsung membayangkan diriku sendiri yang menjadi bayi. Bayi yang lugu. Lucu, pelepas penat. Bayi yang ingin kutimang-timang. Bayi yang ingin kuberi limpahan kasih sayang. Ya, aku begitu iba melihat diriku sendiri.
Aku mengelus pipinya---namun elusanku tidak tersentuh, elusanku lepas, tembus. Dan, ia seolah menggeliat. Benar-benar seperti 'bayi' yang menggemaskan.
Aku menoleh ke belakang ketika jeruji besi yang mengurungku terbuka lebar. Aku tidak melihat siapa yang membukanya. Aku langsung saja bangkit menujunya.
Keluar dari kurungan itu, aku berjalan menuju cahaya kemerahan. Aku membelahnya bersama kabut yang berkerumun. Ya, di situ terlihat agak temaram.
Lalu, dari arah yang berbeda, aku melihat sosok tinggi besar juga membelah cahaya itu. Posisi kami berhadapan. Kami saling memandang. Bedanya, ia menyeringai---atau mungkin itu sebuah senyum---sedangkan aku memasang muka meringis ketakutan.
Kamu tahu, sosoknya terlihat mengerikan walau badannya penuh berhiaskan emas; cincin di semua jarinya, tumpukan kalung dan gelang menghiasi leher dan pergelangan tangannya. Intinya, badannya yang tambun penuh sesak oleh emas!
"Jangan takut. Perkenalkan, aku Mammon," katanya langsung memperkenalkan diri.
Sementara itu, nyaliku semakin menciut mendengar gelegar suaranya yang menggetarkan tanah tempat aku berpijak. Ah, apakah saat itu aku benar-benar berpijak?
"Aku bisa membantumu."
"Membantu apa?" tanyaku kecil, hati-hati, cemas, dan takut. Ya, suaraku itu hampir tidak terdengar.
"Membantumu keluar dari masalah."
"Masalah yang mana?"
"Semuanya."
"Semuanya?"
"Ya, semuanya."
"Aku bisa keluar dari penjara?"
"Bisa."
"Aku keluar dari masalah kemiskinan?"
"Semuanya."
Meski belum tahu pasti, saat itu, aku begitu terlena mendengarnya. Aku begitu percaya. Makanya, penuh semangat aku bertanya, "Jadi apa yang harus aku lakukan?"
Ia tertawa dan aku semakin cemas.
"Pertanyaan yang bagus dan tepat. Sejauh ini, jarang ada yang bertanya begitu," katanya,
"oke, kau hanya cukup melakukan satu hal; mengagungkan aku. Menyerulah kepadaku. Sembahlah aku. Jadilah pengikut setiaku."
"Itu saja?"
"Sudah kubilang, hanya itu."
"Oke, aku tidak keberatan. Kapan aku bisa mulai menyembahmu?"
"Dimulai dari sekarang."
"Baiklah. Begini saja?"
"Ya, begini saja."
Ia pun pergi. Menghilang.
Esoknya, ketika terbangun, aku merasa lebih segar. Perasaanku ringan. Bebas. Bahagia. Dan, hal itu turut dipertegas oleh seorang sipir yang memanggilku. Ia memintaku menghadap. Dan, ternyata di sana aku diberikan surat kebebasan.
"Kamu bebas. Tuntutanmu telah dicabut."
Dengan perasaan haru aku menjabat tangan sipir itu. Saking harunya, aku bahkan ingin memeluknya. Namun, yang berani aku lakukan adalah bersujud di kakinya. Dan, tentunya aku juga bersujud untuk Mammon. Ternyata, ia benar-benar menepati janjinya!
"Jangan kepadaku," kata sipir itu, mengangkatku bangun. "Tetapi kepada dia."
Aku menoleh. Ternyata maksudnya pria itu. Mantan produserku yang terkutuk itu.
"Saya minta maaf. Izinkan saya memperbaiki kesalahan," katanya memohon.
Tapi aku abaikan.
"Saya berjanji akan bekerja sama dengan baik dan lebih adil. Kita bisa membangun dunia musik sama-sama. Kita kembangkan musik kita. Kita majukan hingga kancah internasional."
Aku memandangnya sinis, dan berkata, "Cari orang lain saja. Aku bisa membangun karier sendiri."
Sementara ia terpaku, aku melenggang begitu saja. Dunia sudah bisa aku genggam, kamu tidak bisa turut menikmatinya!
Other Stories
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...
Lam Biru
Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Bunga Untuk Istriku (21+)
Laras merasa pernikahannya dengan Rendra telah mencapai titik jenuh yang aman namun hambar ...
Aku Bukan Pilihan
Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...