Chapter 11
Adhira
Musisi itu sudah membagi kisahnya. Kami membaca semuanya. Akhirnya aku lebih memahami situasinya. Aku sudah paham duduk perkaranya.
Terus terang aku iba pada sejarah hidupnya. Betapa hidupnya terasa berat. Kalaupun ia pernah bahagia, mungkin hanya sebentar. Hanya di awal ia merasakan manisnya kesuksesannya itu, atau manisnya sebuah kebebasan dari penjara. Tapi, setelah itu hidupnya tidak benar-benar bahagia. Hidupnya kembali tidak tenang bahkan jauh tidak lebih tenang dari sebelumnya. Setiap saat ia harus membayangkan dirinya celaka. Setiap saat ia harus curiga pada siapa saja. Ia sibuk menjaga harta-hartanya, menjaga gaya hidupnya sebagai orang kaya. Ya, aku tahu persis ia tipe orang yang sangat takut kembali jatuh miskin!
Melihat kisahnya yang begitu, andai itu terjadi pada diriku, kalau bisa sudah pasti aku memilih tidak dilahirkan saja. Sepertinya itu jauh lebih baik. Daripada sejak hari pertama hadir di dunia langsung tidak memiliki siapa-siapa. Tidak dilihat siapa-siapa. Tidak memiliki apa-apa. Bahkan nama saja tidak ada yang memberikannya, apa lagi untuk sebuah perhatian ataupun rasa iba? Betapa itu sangat miris! Artinya, ia hanya dibesarkan oleh alam?
Kisahnya mungkin hampir mirip kisahnya Tarzan. Tapi, Tarzan masih jauh lebih beruntung darinya. Tarzan memiliki keluarga. Tarzan masih memiliki pengasuh, yang memberinya perhatian dan kasih sayang, sekalipun itu dari bangsa binatang. Dan, merekalah keluarga Tarzan. Sedangkan musisi itu, ya begitulah. Sangat-sangat memprihatinkan.
Jika saja aku hidup sezaman dengannya, sebaya, aku ingin sekali menjadi menjadi temannya. Biarpun itu cuma aku, teman satu-satunya. Aku ingin menjadi teman untuk ia berbagi, teman bermainnya yang menyenangkan supaya ia bisa melupakan duka-dukanya. Atau, jika aku ditakdirkan lebih tua darinya, aku bisa menjadi sosok kakak atau bila perlu mengasuhnya sebagai anak. Ya, sebagai orang tua aku akan benar-benar mengasihininya, membekalinya dengan hal-hal sosial supaya di masa dewasanya ia tidak salah jalan, seperti yang sudah diambilnya itu.
Aku bersyukur, sekarang, selangkah lagi kami sudah bisa keluar dari masalah ini. Ia akan segera terselamatkan, begitu juga dengan orang-orang yang terjebak dalam lagunya.
Aku sudah berani membayangkan wajah lama Tarika dan Vimala. Wajah mereka yang cantik. Ulah mereka yang menyenangkan. Ya, walaupun sekembalinya Tarika \'dunia\' bakal rusuh dengan \'perseteruannya\' dengan Qiran, itu tidak mengapa. Biarkan hal itu terjadi lagi. Aku tetap akan melihatanya, menikmatinya. Ah, aku sungguh-sungguh sudah tidak sabar menyaksikan kembali suasana itu.
\"Dasar Tembem. Rusuh aja maumu, ya.\"
\"Dasar Om-om. \'Ngurus aja masalah anak gadis.\"
\"Aku bukan \'ngurus, ya. Tapi negur, ngasih tahu!\"
\"Ah, sama saja!\"
\"Tuh, kan ngeyel.\"
\"Enggak!\"
\"Terserahmu!\"
\"Ya memang terserah aku.\"
\"Damai lebih indah, lho, Guys! Lebih syantiiik,\" ujar Vimala sambil memamerkan bando.
Saat \'perseteruan\' makin \'memanas\' begitu, biasanya Vimala akan \'membelah\' suasana itu dengan suara khasnya yang lembut. Ia akan muncul sebagai penengah, memasang wajah cantik dan imutnya (Vimala paling cantik dari kami).
\"Ih, Nona Kelinci lucu banget, sih. Cute...! Gemes, deh. Bando baru, ya? Pinjam, dong. Biasa, buat vlog.\"
\"Minta royalti, Vil. Tiga juta!\"
\"Ih, Om nggak usah ikut-ikutan, ya. Ngomentarin orang soal rusuh tapi dia sendiri yang ajak rusuh. Come on, Guys! Lihatlah kejadian yang sebenarnya!\"
\"Ih, sorry ya. Sebagai teman, aku hanya ingin menyarankan hal yang baik buat teman, buat Vimala. Money. Money. Hari gini gitu, kan. Butuh banget duit. Kamu aja nge-vlog supaya menghasilkan duit, kan?\"
\"Tolong, ya, jangan suudzon sama gadis cantik. Tujuan utamaku nge-vlog bukan mencari duit, tapi popularis, puas lo?\"
\"Ih, sudah deh. Malah makin heboh bahas bando sampai ke uang-popularis segala. Hati-hati, lama-lama \'baperan\' loh kalian. Bisa jadi emosi benaran. Ra, bantuin aku, napa. Pusing, nih, jadi penengah.\"
\"Lemah rapuh payah banget sih, Vil,\" kataku, lalu kami tertawa bersama. Terbahak-bahak.
\"Kamu sudah tahu, Ra?\" Tiba-tiba Qiran mengentak lamunanku. \"Kok, kamu senyum-senyum, sih?\"
Aku nyengir salah tingkah, mengangguk lambat. Agak ragu. \"Tapi aku tidak yakin, sih. Bagaimana kalau ternyata salah.\"
\"Emang seperti apa menurutmu?\"
\"Aku rasa... lagu ini harus di....\"
TAP! TAP! TAP!
Kami tersentak, sama-sama menoleh ke belakang. Tiba-tiba kami mendengar suara langkah. Suara langkah yang rapat, banyak, yang menaiki tangga.
Astaga! Mereka datang! Makhluk-makhluk itu di sini! Rupanya mereka mengikuti kami?
\"Sekarang bagaimana, Ra?\" Qiran panik. Napasnya mendadak tak keruan. \"Hei, Musisi! Jangan diam saja. Bantu kami. Sekarang kami harus melakukan apa?\" Qiran semakin kepanikan. Makhluk-makhluk itu sudah berada di luar pintu, berebutan mendobrak pintu itu.
\"Tenang, Qir. Kita harus tenang.\"
\"Tapi mereka sudah dekat, Ra. Kita harus mengambil langkah yang cepat.\"
\"Aku tahu. Tapi percuma cepat kalau tidak tepat. Ayo, cobalah sedikit untuk tenang. Bantu aku untuk tenang,\" kataku.
Qiran akhirnya menurut, walau wajahnya masih kelihatan genting.
Aku memperhatikan lirik lagu itu sekali lagi. Menyimaknya dalam-dalam lirik perliriknya.
Pejamkan matamu
Sentuhlah dadamu
Dengarkan gemericik air yang ada di depanmu
Ikuti perlahan-lahan
Jangan sampai kau terpeleset
Melangkahlah sembari kaubayangankan air dari surga menantimu
Ikuti!
Ikuti!
Teruslah ikuti!
Jangan pernah membuka matamu ataupun menolah ke belakang
Jika kau membuka mata dan menoleh
Kau akan lihat betapa susahnya aku
Kau akan merasakan betapa pahitnya penderitaanku
Kau akan menjerit histeris karenanya
Kau akan menangisiku dengan air mata darah
Kau akan turut merasakan tersesat dan terkutukny kehidupanku
Tapi... jika kau merasa sangat iba padaku
Tolonglah aku
Bawa aku pergi
Mohon selamatkanlah aku
Kemari!
Kemari!
Kemarilah!
Tolong aku!
Aku di sini!
Aku di sini!
Aku menunggumu di sini!!!
\"Aku tahu,\" kataku akhirnya.
\"Bagaimana?\" ujar Qiran bersemangat. Ia melompat mengamati lirik itu.
\"Kamu lihat, seperti yang mereka rasakan dan musisi itu katakan, lagu ini memiliki tiga bagian yang berbeda. Disusun runtut.\"
Qiran terlihat mendengarkan. Tapi, aku tidak melihat wajah \'paham\' darinya. Aku pun menjelaskan, \"Untuk mengembalikan ke keadaan semula atau mungkin bisa lebih baik lagi, aku rasa lagu ini harus diputar terbalik. Ya, aku rasa begitu.\"
Qiran terperangah. Bersemangat. Ia tampak terharu. Sedikit menggigit bibirnya, ia bertanya, \"Sekarang bagaimana?\"
\"Pengeras suara! Kita butuh pengeras suara!\"
\"Apakah di tempat ini ada?\"
\"Pasti ada. Kita berada di rumah musisi, bukan?\"
Other Stories
Langit Ungu
Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...
Suara Dari Langit
Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...
Kidung Vanili
Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...
Pesan Dari Hati
Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...
Makna Dibalik Kalimat (never Ending)
Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...