Emak Kunti Dan Tuyul
Mario menutup pintu kamarnya yang terletak jauh di belakang museum. Melewati lorong sempit dengan cat yang memudar. Meski baru jam tujuh petang, suasana di museum sangat mencekam dan sepi. Hanya ada suara jangkrik dan kodok. Gerimis masih menemani hari pertama tugas Mario sebagai penjaga malam museum. Hawa dingin menyentuh tubuh pemuda keriting itu.
Mario merasa ada yang meraba saku celananya. Sesosok tuyul berkepala plontos memegang sebuah dompet. Dia hanya memakai kolor kuning agar berbeda dengan ayahnya, kolor ijo.
“Tuyul, kembalikan dompetku. Masih kecil sudah bisa mencuri kau!” bentak Mario dengan logat Batak.
“Enak aje lo. Gue juga perlu uang di dompet ini,” Tuyul membuka dompet hitam di tangannya, “Apaan nih? Uang lo cuma lima ribu, miskin banget.”
“Tapi duit Ini halal, bukan hasil mencuri macam kau,” Mario merampas dompetnya dan menjitak tuyul dengan batu cincin Tongghost yang sebesar kepalan bayi.
Tuyul menangis. Plak. Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Mario. Sehingga pipi kanan pemuda keriting itu merah dengan bentuk telapak tangan.
“Berani banget lo menjitak kepala anak gue seenaknya,” omel Emak Kunti dengan logat Betawi. Wanita bergaun putih hingga mata kaki itu berkacak pinggang. Sekeliling kedua matanya menghitam persis orang yang tidak pernah tidur selama setahun. Rambut wanita itu panjang hingga lantai dan acak-acakan karena tidak pernah keramas, apalagi disisir.
Wajah Mario menjadi merah seperti cabai. Dia menggosok batu cincin Tongghost dan mengecupnya mesra, lalu mengarahkannya ke Emak Kunti yang berdiri di samping tuyul. Tapi, kedua hantu itu menghilang.
“Sial, mereka kabur,” gerutu Mario. Dia melanjutkan tugas sambil mengelus pipi yang merah.
***
Mario bersiul sambil menyisir rambut di depan cermin. Tiba-tiba bayangan Lena muncul di belakangnya. Dia berbalik. Lena tidak ada. Pemuda keriting itu kembali menatap cermin dan menyisir rambut. Lena muncul dan menyentil kupingnya.
“Lena! Keluar kau!”
Tawa Lena menggema di kamar itu. Mario mengaktifkan radar hantu di cincinnya dan menemukan keberadaan Lena. Sundel bolong cantik itu berpindah-pindah tempat.
“Lo nggak akan bisa menangkap gue,” Lena tertawa.
Mario mematikan radar hantu. Dia ada urusan yang lebih penting daripada mengikuti permainan Lena. Pemuda keriting itu berusaha membuka pintu. Terkunci.
“Mencari ini?” Lena duduk di tepi ranjang sambil memainkan kunci.
“Kembalikan kunci kamarku!” Mario berusaha merebut kunci di tangan Lena.
Lena menarik tangannya, “Nggak, kecuali lo meninggalkan museum ini. Pipi lo juga habis kena gampar Emak Kunti. Kalau lo nggak pergi, kami bisa berbuat lebih nekat.”
“Tak Mau. Aku juga tak takut dengan kalian,” Mario menangkap lengan kiri Lena, sehingga dia tidak bisa menghilang.
“Lepaskan!” Lena berontak.
Mario merebut kunci di tangan Lena dan memasukkannya ke saku. Dia duduk di samping sundel bolong cantik itu. Mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah muda.
“Apa itu?”
“Amang kau menitipkan ini padaku,” Mario mengeluarkan cincin dengan batu merah delima, lalu meletakkannya di tangan Lena.
“Gue nggak perlu benda ini,” Lena melempar cincin itu ke lantai.
Mario mengambil cincin itu tepat sebelum sebuah tangan yang muncul di bawah ranjang meraihnya. Wajah pemuda itu merah padam.
“Aku mempertahankan cincin Merin ini sampai hampir mati!” Mario mencengkeram lengan Lena.
“Sakit! Cepat lepaskan!” Lena memukul tangan Mario.
“Pakai ini,” Mario memegang jemari Lena yang berusaha mengepal. Meluruskan jari manis Lena secara paksa dan memakaikan cincin Merin.
Lena berusaha melepas cincin di jari manisnya. Gagal. Cincin Merin sudah menyatu dengan DNA sundel bolong itu.
“Sekarang kau aman. Kalau saja Amang kau bukan kawan Amangku, jangan harap aku mau menghadapi ratusan hantu agar cincin itu sampai pada sundel bolong sombong macam kau,” Mario melepaskan tangan Lena.
“Konyol. Kenapa banyak hantu yang menginginkan cincin ini?” Lena mengusap lengannya yang sakit.
“Cincin Merin ini dapat melindungi kau dari senjata para hantu dan pemburu hantu. Tapi, yang bisa memakainya hanya keluarga kita.”
“Jadi, untuk apa mereka berusaha mengambil benda yang tidak akan bisa mereka pakai?”
“Menurut hasil interogasiku, di dunia kau ada sayembara untuk menangkap kau dan mengambil cincin itu. Yang berhasil melakukannya akan mendapat imbalan besar,” cerita Mario.
“Siapa yang menginginkan gue dan cincin ini?” Lena menatap Mario penasaran.
Mario membuka pintu dan menutupnya dari luar tanpa menjawab pertanyaan Lena. Sundel bolong itu mengikuti pemuda keriting yang melangkah lebar di lorong. Mengulangi pertanyaannya.
“Tidak tahu,” Mario tidak menatap Lena.
Lena yang kesal mencubit pinggang Mario.
“Sudahlah, mending kau pergi sana. Jangan ganggu aku!”
“Oke, gue pergi. Tapi, lo harus janji nggak akan mengirim teman-teman gue ke Kampung Hantu.
“Oke, aku janji. Puas kau? Cepat pergi sana!”
Mario menemui Ardan dan Joni.
“Bos sudah datang?”
“Belum, Mas,” sahut Ardan.
“Gue Joni, rekan kerja Ardan. Lo Mario penjaga malam museum ini kan?
Mario mengangguk.
“Mas Mario kenapa mencari bos?” tanya Ardan.
“Ada hal penting yang mau kubicarakan.”
“Semalam ada rampok ya, Mario? Kok pipi lo merah?” tanya Joni.
“Ini?” Mario menunjuk pipi kanannya, “Semalam aku digampar cewek galak gara-gara kujitak anaknya pakai cincinku pas mau nyuri dompet,” Mario menunjukkan batu cincin Tongghost.
“Pantesan lo digampar. Ceweknya cantik nggak?” Joni menatap Mario.
“Tapi, pintu depan kan sudah dikunci, kok mereka bisa masuk, Mas? Ardan mengerutkan kening.
“Mereka memang penunggu museum ini.”
Joni dan Ardan langsung merinding.
“Kamu serius, Mas? Jangan membuat saya takut dong,” Ardan merapatkan tubuhnya pada Mario.
“Buat apa aku bohong?”
“Jadi, lo pengen berhenti kerja?”
“Bos datang,” Ardan menatap Pak Herman.
“Ada apa kalian berkumpul di sini?”
“Ada hal penting yang mau kubicarakan dengan Pak Herman, Joni dan Ardan.
“Ayo ke ruanganku, mumpung museum masih sepi. Kunci dulu pintunya sebelum kita rapat.”
Ardan yang dapat jadwal piket langsung mengunci pintu. Dia, Joni dan Mario mengekor langkah Pak Herman ke ruangan kayu yang sangat luas. Pak Herman mempersilakan ketiga karyawannya duduk. Joni, Ardan dan Mario langsung duduk di sofa.
“Hal penting apa yang mau sampeyan bicarakan? Sampeyan tidak ingin berhenti, kan?” tanya Pak Herman was-was.
“Apa di sini ada yang pernah kehilangan uang, Pak?”
“Iya, aku sering kehilangan uang, padahal ruangan ini selalu kukunci,” ucap Pak Herman dengan logat Madura yang kental.
“Iya, Mas. Kami juga sering kehilangan uang.”
“Betul Mar…”
“Itu karena di sini ada Tuyul.”
“Sampeyan yakin?” mata Pak Herman membulat.
“Iya, Pak. Tadi malam dia mau ambil uangku, jadi kujitak dengan batu cincin ini. Mama dia marah dan gampar pipiku. Nih buktinya,” Mario menunjukkan tanda tangan Emak Kunti di wajahnya.
“Kalau dijitak dengan batu cincin segede itu, maling juga benjol,” celetuk Joni.
“Ini, Pak. Silakan letakkan di tempat uang kalian. Tuyul itu tidak akan bisa mengambil uang kalian lagi,” Mario meletakkan tiga buah merica di meja.
Ardan, Joni dan Pak Herman mengambil satu buah merica dan menyimpannya di dompet.
“Waduh, Mak. Rezeki kite diganggu sama Si Keriting itu.”
“Iye, Yul. Kite mesti kerjain balik tuh Si Rambut Mie.”
“Tuyul ada ide, Mak.”
“Apa ide lo, Yul?”
“Sini, Mak. Tuyul bisikin.”
Emak Kunti membungkukkan badan agar Tuyul bisa membisikinya. Menyodorkan kuping ke depan mulut Tuyul.
“Busyet. Emak gue udah berapa tahun nih nggak keramas? Rambutnya bau kotoran kambing,” ucap Tuyul dalam hati sambil menahan napas.
Tuyul membisikkan idenya pada Emak Kunti. Hantu wanita itu menyeringai mendengar ide anaknya.
“Bagus sekali ide lo, Yul.”
“Siapa dulu dong, Mak… Tuyul!” Tuyul menepuk dada dan terbatuk.
“Kebanyakan gaya sih lo,” Emak Kunti berusaha berdiri tegak. Gagal.
“Emak kenapa? Encok Emak kambuh? Penyakit kok encok, nggak keren banget, Mak.”
“Lo nginjak rambut gue, Botak!”
Tuyul terkekeh saat melihat kakinya di atas sebagian rambut panjang Emak Kunti yang keras kayak ijuk. Dia langsung memindahkan kakinya.
“Pantesan dari tadi kaki Tuyul gatal dan perih, Mak. Makanya potong rambut, Mak. Kalau nggak, perawatan di salon dong. Tuyul aja sering creambath di salon,” ledek Tuyul.
“Apa yang di-creambath? Rambut lo aja kagak ada. Buang-buang duit aja kerjaan lo. Kecil-kecil ngeselin. Untung lo anak gue, kalau kagak udah gue tabok bolak-balik lo,” wajah Emak Kunti merah kayak banteng yang siap mengamuk.
“Kalau ngobrol mulu, kapan kite ngerjain Si Kribo, Mak?” Tuyul mengalihkan pembicaraan agar tidak ditabok Emak Kunti.
Emak Kunti dan Tuyul menghilang.
“Te… sate. Te… sate,” ucap Pak Herman.
“Bapak mau sate? Nanti saya belikan. Tukang sate di depan belum datang,” Ardan menatap Pak Herman.
Pak Herman menggeleng, “Te… sate,” wajah Pak Herman pucat menatap Tuyul dan Emak Kunti yang menyeringai di depan pintu. “Setan!” Pak Herman menunjuk pintu sebelum pingsan.
Mario menatap pintu. Tidak ada apa-apa.
“Mario, gimana nih? Bos pingsan,” Joni menatap Pak Herman yang tertelungkup di meja.
“Mas. Masa sih hantu keluar pagi-pagi begini?” Ardan mendekati Mario.
“Mungkin mereka marah tak bisa ambil uang kalian lagi,” Mario celingak-celinguk.
Joni dan Ardan merapat pada Mario.
“Tu-Tuyul!” Ardan langsung pingsan dan terduduk di sofa saat melihat tuyul menjulurkan lidah di pojok ruangan..
“Keluar kalian. Jangan main-main denganku.”
Emak Kunti tertawa cekikikan.
“Mario. Jangan nantangin mereka dong. Lihat tuh, Bos dan Ardan udah pingsan.”
“Tenanglah kau, Jon,” Mario mengaktifkan radar hantu.
Joni melihat Emak Kunti di sudut ruangan. Dia menutup mata. Menepuk pundak Mario.
“Kuntil Emak, eh kuntilanak, Mar...” Joni gemetar saat menyadari kaki kanannya tidak bisa digerakkan.
“Di mana?”
“Dia memegang kaki gue, Mar,” wajah Joni pucat.
Mario menatap ke belakang. Tidak ada apa-apa.
“Tolong gue, Mar…” pemuda berambut gondrong yang dikuncir itu gemetar.
“Kaki kau nyangkut itu di kaki meja,” Mario menatap kaki Joni.
Joni membetulkan posisi kakinya. Berdiri merapat pada Mario sambil memegang erat pundaknya.
“Jon. Lepasin pundakku. Aku susah gerak macam ni,” Mario berontak.
“Nggak mau,” Joni menggeleng.
Emak Kunti dan Tuyul muncul berpindah-pindah sambil tertawa cekikikan. Joni menutup mata. Mario mengeluarkan merica yang sudah diberi mantra dari dompet hitam. Dia menatap radar hantu di batu cincin Tongghost. Melempar merica dan tepat mengenai kepala Tuyul. Hantu anak kecil berkepala botak itu menangis karena kepalanya panas dan melepuh.
“Sakit, Mak…” rengek Tuyul.
“Tadi malam lo bikin kepala anak gue benjol. Sekarang, lo bakar kepalanya. Mentang-mentang rambut anak gue kagak mau tumbuh! Gue hajar lo!” Emak Kunti mucul di depan Mario dan langsung melayangkan tangannya.
Mario menunduk. Tamparan Emak Kunti mendarat keras di wajah Joni. Pemuda penuh otot itu langsung terkapar di lantai. Mario memegang dan menggelitiki pinggang Emak Kunti hingga tidak bisa menghilang. Dia menggeliat sambil tertawa karena kegelian.
“Mak. Tuyul sakit nih. Jangan bercanda mulu dong,” Tuyul menghilang dan muncul di samping Emak Kunti. Menarik-narik tangan baju Emak Kunti sampai robek.
“Ampun, Bang,” Emak Kunti terus menggeliat kegelian.
“Aku tak dengar.”
“Ampun!” teriak Emak Kunti.
“Kau tak boleh ganggu aku lagi.”
“Iye, Bang. Gue kagak bakal ganggu lo lagi.”
“Kau uruslah anak kau tu,” Mario melepaskan Emak Kunti dan menegakkan tubuhnya.
Emak Kunti dan Tuyul menghilang.
Mario mengangkat tubuh Joni ke sofa, lalu pergi ke kamar mandi mengambil segayung air. Dan Mencipratkannya ke wajah bos dan dua rekan kerjanya.
“Ampun, Kunti. Aku nggak ikutan,” Joni merengek tanpa membuka mata.
“Kau sudah aman, Jon.”
“Syukurlah, gue selamat,” Joni yang baru membuka mata langsung memeluk Mario.
“Lepaskan aku, Jon. Aku masih normal. Tak malu kau dengan otot kau tu?” Mario berontak.
Joni melepaskan pelukannya.
“Para hantu tadi ke mana?” Pak Herman menatap Mario.
“Mereka sudah kukasih pelajaran, Pak.”
“Kamu hebat, Mas. Saya salut,” Ardan memuji Mario.
Mario pamit ke kamar.
**
Emak Kunti dan Tuyul muncul di ruangan yang gelap. Ruangan itu dipenuhi perabotan berdebu. Sebuah meja yang dikelilingi kursi terletak di tengah ruangan.
“Anak Emak Kunti teh kenapa atuh?” Suster Ngesot menatap tuyul yang menangis sesenggukan.
“Anak gue kena senjata merica Si Keriting itu, Neng Esot.”
“Emak Kunti tenang saja, Biar kuurus anak ikam,” Seorang dokter sekitar umur 40 tahun serta berwajah tampan mirip dr. Ryan sedang bicara dengan logat Banjarmasin.
Ketampanan tersebut yang membuat penghuni museum wanita luluh dan mau jadi anak buahnya. Emak Kunti mengangguk.
“Kemari ikam, Tuyul!” Dokter hitam manis itu memanggil Tuyul.
Tuyul duduk di samping Dokter Anang.
“Parah kagak, Dok?”
“Tidak,” Dokter itu mengambil kotak obat berwarna putih. Mengeluarkan salep dan mengoleskannya di kepala Tuyul.
“Kenapa lengan bajumu robek, Emak Kunti? Dirobek Mas Kribo?” Pocong menatap robekan besar di lengan baju Emak Kunti.
“Tuyul tuh yang robekin. Pokoknya lo mesti cari ganti baju Emak, Yul.”
“Iye, Mak. Entar Tuyul carikan daster putih motif bunga kamboja di Online shop,” Tuyul memainkan iphone yang dia curi dari pengunjung tadi pagi. Dokter itu sudah selesai mengobati Tuyul.
“Dia harus segera diusir dari sini,” wajah Emak Kunti merah padam.
“Neng mah setuju. Tapi, gimana caranya atuh?” Suster ngesot menatap Emak Kunti.
“Tenang Neng Esot. Biar Mas Pocong yang mengurus Si Keriting itu,” Pocong berdiri dengan gagah.
“Kang Pocong teh hebat,” puji Suster Ngesot.
Pujian Suster Ngesot membuat hidung Pocong yang bersumpal kapas jadi kembang kempis.
“Teteh Lena kenapa? Kok diam saja?” Suster Ngesot menatap Lena.
“Nggak ada apa-apa. Gue pergi dulu,” Lena langsung menghilang.
Dokter itu memperhatikan Lena sebelum dia menghilang.
***
Other Stories
2r
Fajri tak sengaja mendengar pembicaraan Ryan dan Rafi, ia terkejut ketika mengetahui kalau ...
Rahasia Desa Teluk Roban
Farhan selalu tak betah ketika libur akhir tahun harus kembali ke Desa Teluk Roban. Desa i ...
Ilusi Yang Sama
Jatuh cinta pada wanita yang selalu tersakiti, Rian bertekad menjadi pria yang berbeda. Na ...
Srikandi
Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...
Sumpah Cinta
Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...