Suster Ngesot Genit
Pemuda tampan bertubuh kekar dengan perut kotak-kotak kayak roti sobek menggedor pintu memanggil Mario. Dia adalah Ramlan, cleaning servis di Museum Bamboe Kuning.
“Kak. Tolong bukakan pintu.”
Mario merogoh saku untuk mengambil kunci. Membuka pintu.
“Pagi kali kau datang, Lan.”
“Iya, Kak. Aku pengen keluar sebentar untuk mengantar ibu ke Puskesmas.”
“Kau sudah minta izin pada Bos? Nanti dia ngomel sampai kuping kami sakit.”
Ramlan mengangguk. “Karena itu, aku disuruh datang lebih pagi dan menyelesaikan tugasku, Kak.”
Mario manggut-manggut seperti burung pelatuk. Pamit melanjutkan tugas karena kedua security museum belum datang. Ramlan ke dapur. Dia menyapu lantai. Lanjut mengepel lantai yang kotor.
“Kang Ganteng teh mau Neng Esot bantu?” perempuan berpipi tembem yang memakai baju putih lengan pendek dan rok selutut duduk di depan Ramlan. Matanya kedip-kedip seperti lampu rusak.
Pemuda berhidung mancung seperti perosotan TK itu mengusap kedua mata sipitnya. Berharap sosok di depannya tidak nyata dan hanya halusinasi. Suster Ngesot tetap duduk sambil tersenyum manis.
“Akang mau Neng bantu nggak?” Suster Ngesot mengulang pertanyaannya. Dia ngesot mendekati kaki Ramlan yang gemetar. Pel di tangan pemuda putih itu ikut bergetar.
“Setan!” Ramlan melempar pel bergagang besi panjang ke tubuh Suster Ngesot. Kain pel nyangkut di kepalanya.
“Aduh. Kang Ganteng mah jahat! Neng sakit nih,” Suster Ngesot menyingkirkan kain pel dari kepalanya. Mengusap tubuhnya yang sakit.
Ramlan lari. Suster Ngesot mengejarnya.
“Tolong! Aku dikejar setan!”
“Kang. Tungguin Neng atuh!” teriak Suster Ngesot.
Mario yang mendengar teriakan Ramlan langsung mengejar asal suara. Dia menabrak Ramlan saat ingin berbelok. Mereka berdua jatuh terduduk.
Mario mengusap pantatnya yang ngilu.
“Kak Mario. Tolong aku. Setan itu mengejarku,” Ramlan lari ke belakang Mario yang masih duduk dan jongkok di sana. Menunjuk Suster Ngesot di depan mereka.
“Kang Kribo jangan ikut campur urusan Neng Esot. Neng mah cuma mau ngobrol dengan Kang Ganteng, bukan Kang Kribo.”
“Macam mana aku tak ikut campur, kau sudah ganggu kawanku. Mending kau ngobrol dengan cincinku ni.”
Suster Ngesot menghilang. Dia muncul di belakang Ramlan. Memegang pundak Ramlan dengan tangan putihnya yang sedingin es. Pemuda tampan itu merinding. Dia juga meniup tengkuk Ramlan.
“Kak…” Ramlan gemetar menepuk pundak Mario.
“Tenang kau, Ramlan. Suster Ngesot itu sudah kabur,” Mario berdiri.
Dia berbalik. Ramlan sudah pingsan dekat kakinya.
“Kok Kang Ganteng pingsan sih,” gerutu Suster Ngesot.
“Rupanya kau di sana, Suster Ngesot genit. Kenapa kau dan teman-teman kau selalu merepotkanku macam ni?”
“Kalau Akang nggak mau repot mah nggak usah ikut campur atuh, pergi aja sekalian dari sini. Neng tahu Akang cuma cemburu dengan Kang Ganteng karena Neng nggak suka dengan Kang Kribo,” Suster Ngesot memainkan ujung rambuttnya yang panjang sepunggung.
“PD kali kau. Lena sepuluh kali lebih cantik dari kau. Nih masuk cincin Tongghost supaya langsung kudeportasi ke Kampung Hantu,” Mario mengarahkan batu Tongghost ke Suster Ngesot setelah membaca mantra dan mengecup batu itu mesra.
Suster Ngesot mengesot cepat dan menarik kaki Mario hingga terjengkang. Bisul di pantat Mario langsung pecah.
“Sudah jelek, galak juga. Pantesan kang Kribo jomblo,” Suster Ngesot langsung menghilang.
“Sini kau, Suster Ngesot Nyebelin! Kubalas kau. Berani kali bikin aku jatuh dan ngatain aku jelek.”
Suster Ngesot muncul dan mengikik. Wajah Mario merah seperti disiram hasil blenderan cabai sekilo. Dalam semalam, sudah empat kali dia jatuh karena ulah Pocong dan Suster Ngesot. Mario bersiap mengarahkan cincin Tongghost ke Suster Ngesot.
Suster Ngesot menghilang. Lalu Muncul di belakang Mario. Pemuda itu melihat tangan Suster Ngesot ingin memegang kakinya. Dia melompat ke samping dan tanpa sengaja menginjak kaki Suster Ngesot saat mendarat.
Suster Ngesot menjerit. Mario memegang pundak Suster Ngesot agar tidak bisa menghilang. Dia bergeser ke lantai. Suster Ngesot mengusap kakinya yang sakit.
“Tadi, kau ngerjain aku dan kawanku sampai dia pingsan. Sekarang, kau kuhukum gantikan Ramlan bersihin seluruh lantai!”
“Nggak mau, Kang,” Suster Ngesot menggeleng.
Mario mendorong Suster Ngesot ke depan pintu. Mengambil kain lap basah.
“Duduk di atas kain itu!”
“Neng nggak mau, Kang. Nanti baju Neng teh kotor. Kaki Neng juga sudah sakit atuh, Kang.”
“Kayaknya, kau sudah bosan tinggal di sini dan ingin pindah ke Kampung Hantu.”
“Jangan, Kang,” Suster Ngesot langsung mematuhi perintah Mario.
Mario mendorong Suster Ngesot seperti anak kecil yang mendorong mainan mobil-mobilan. Dia membungkuk sambil berlari mendorong hantu genit itu ke seluruh ruangan.
“Sudah, Kang. Neng mah kapok,” ucap Suster Ngesot di sela isak tangisnya.
“Ramlan. Bangun!” teriak Mario karena Ramlan masih pingsan di lantai. Hanya bagian itu yang belum dipel.
“Teriaknya jangan keras-keras atuh, Kang. Nanti kalau Neng budeg bisa ganti nama jadi Suster Budeg,” Suster Ngesot mengorek telinganya dengan jari telunjuk.
Ramlan sadar. Dia melihat Suster Ngesot tersenyum padanya dan kembali pingsan.
“Yah. Dia pingsan lagi,” keluh Mario.
“Ketemu hantu secantik Neng aja pingsan,” Suster Ngesot manyun.
“Kau pindahkan tubuhnya jika ingin kulepas.”
Dengan satu tangan, Suster Ngesot membuat Ramlan terguling ke samping.
“Kuat juga kau,” Mario mendorong Suster Ngesot untuk mengepel lantai bekas Ramlan pingsan. “Sekarang kau boleh pergi,” Mario melepas pundak Suster Ngesot.
Suster Ngesot menghilang. Mario mengusap wajah tampan Ramlan dengan kain pel bekas lantai. Ramlan siuman dan langsung bersin.
“Kamu usap pakai apa wajahku, Kak? Kok bau apek?” Ramlan kembali bersin.
“Kain pel. Aku malas ke kamar mandi buat mengambil air. Cepat cuci muka kau tu.”
“Kau tega, Kak Mario,” butiran bening mengambang di pelupuk mata Ramlan.
“Aku sudah capek membersihkan seluruh lantai.”
“Kak Mario temani aku ke kamar mandi ya. Aku takut hantu tadi datang lagi,” Ramlan berdiri dan menarik tangan Mario.
“Pergilah sendiri. Badanku dah capek kali ni. Jangan macam anak kecil kau.”
“Ayolah, Kak,” bujuk Ramlan.
“Dia tak akan berani muncul lagi. Aku sudah kasih dia pelajaran.”
“Pelajaran apa Kak? Matematika, Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia?”
“Kau pikir dia anak SMA yang mau ujian? Aku suruh dia bersihin lantai sambil duduk di atas kain pel itu,” Mario menunjuk kain pel yang tergeletak di depan mereka.
“Jadi, kain pel yang tadi Kak Mario usapkan di wajahku bekas diduduki hantu itu?”
“Ya,” jawab Mario singkat.
Pemuda berbaju lengan pendek dengan otot menyembul di kedua lengan bajunya menghampiri mereka.
“Ngobrolin apa nih, Mas?” Ardan langsung nimbrung.
“Kebetulan kau datang. Kau kawanilah Ramlan ke kamar mandi. Takut kali dia ketemu hantu pagi ni. Aku mau balik ke kamar dulu. Sudah lengket kali badanku.”
“Tentu aku takut, Kak Ardan. Tadi pagi aku ketemu Suster Ngesot sampai pingsan dua kali. Temani aku ya. Aku mau cuci muka gara-gara Kak Mario mengusap wajahku pakai kain pel kotor.”
“Kita bertiga saja, Mas Mario. Saya jadi takut nih,” Ardan merapatkan tubuh pada Mario.
“Alamak. Macam mana pula kau ni. Kau kan satpam. Malu lah sama tato naga di tangan kau tu.”
“Tugas satpam buat menghadapi maling dan rampok, Mas. Bukan hantu.”
“Okelah. Kau kunci dulu pintu depan tu kalau mau ikut. Nanti ada yang masuk dan mencuri. Habislah kita diomelin Pak Herman.”
Ardan mengangguk. Dia lari dan mengunci pintu depan, Lalu kembali lari ke tempat Mario dan Ramlan. Mereka bertiga berjalan berdampingan hingga tiba di kamar mandi. Ramlan langsung ke dalam dan mencuci mukanya.
“Makasih, Kak Mario. Kalau bukan karena Kakak, mungkin kerjaanku belum selesai dan aku pasti telat nganterin ibu ke Puskesmas.
“Makasihnya buat hantu cantik tadi aja. Dia yang mengepel lantai. Aku cuma dorong-dorong tubuhnya. Cepat kau selesaikan sisa tugasmu.”
“Jangankan berterima kasih. Ketemu lagi saja aku ogah, Kak.”
“Kenapa? Dia kan cantik.”
“Walaupun cantik, tetap hantu juga, Kak.”
“Sudah, jangan ngobrolin hantu lagi. Kalau Mas Mario ke kamar dan Mas Ramlan pergi saya berjaga sendiri,” protes Joni
“Kenapa sendiri? Kak Joni nggak masuk lagi?”
“Joni sudah berhenti. Sejak kemarin dia meriang karena ditampar kuntilanak.”
“Semua salahku. Sebenarnya tuh kuntilanak pengen tampar mukaku, malah muka Joni yang kena.”
“Kasihan ya, Kak Joni kena tamparan nyasar.”
Mario pamit ke kamar. Dia langsung mengambil handuk. Segera ke kamar mandi. Mengganti pakaian yang sudah bau dengan pakaian baru. Pemuda keriting itu langsung tidur.
***
Suster Ngesot muncul di dalam ruangan gelap. Dia mengesot sambil menangis sesenggukan.
“Kamu kenapa, Neng Esot?” Pocong menatap Suster Ngesot yang duduk di depannya.
“Kang Kribo udah jahatin Neng. Neng dipaksa duduk di kain pel trus didorong-dorong. Emang Neng teh pel lantai?” Suster Ngesot terisak.
“Dia berani ngerjain lo? Biar gue yang mengurus cowok nyebelin itu,” Lena menatap Suster Ngesot.
“Kaki Neng Esot sakit atuh,” rengek Suster Ngesot manja.
“Sini kuobati, Neng Esot.”
Suster ngesot meluruskan kakinya. Dokter Anang mengompres lecet di kaki hantu yang rok putihnya kotor itu dengan alkohol.
***
Other Stories
Mother & Son
Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...
Dia Bukan Dia
Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...
Beyond Two Souls
Saat libur semester, Fabian secara tiba-tiba bertemu Keira, reuni yang tidak direncanakan ...
Cahaya Di Ujung Mihrab
Amara adalah seorang wanita yang terjebak dalam gemerlap dunia malam yang hampa, hingga se ...
Cerella Flost
Aku pernah menjadi gadis yang terburuk.Tentu bukan karena parasku yang menjaminku menjadi ...