Pria Misterius
Mario tidur. Dia mendengkur keras. Pemuda keriting itu terkejut saat bangun dan menyadari sudah berada di atas lemari.
“Ini pasti ulah Lena,” gumam Mario. “Lena! Keluar kau. Berani kali kau pindah aku ke atas lemari!” Mario melompat turun.
Lena muncul di atas ranjang. “Itu balasan karena udah menyakiti sahabat gue, Suster Ngesot. Selain itu, lo juga mesti ngerasain gimana rasanya tidur di atas lemari kayak gue.”
“Salah dia sendiri ganggu kawanku kerja. Kalau kau tak mau tidur di atas lemari, carilah ruangan lain. Gampang, kan?” sahut Mario enteng.
Mario meringis karena Lena menjitak kepalanya dengan batu cincin Merin yang tidak kalah besar dari cincin Tongghost. Kepalanya benjol. Mario mencengkeram tangan Lena dengan tangan kiri agar dia tidak bisa menghilang. Namun, kekuatan cincin Merin membuat Lena tetap bisa menghilang dan muncul lagi di ranjang.
“Seenaknya aja kalo ngomong. Nih, liat punggung gue. Udah lima buah koyo gue tempelin tetap aja pegal.”
“Sundel Bolong Stres. Kalau kau pegal tinggal nyari tukang pijat.”
Lena hampir menjitak kepala Mario lagi. Beruntung, pemuda itu bisa menghindar.
“Sudah cukup kau buat kepalaku benjol, Butet,” Mario mengunci tangan Lena di belakang.
“Jangan panggil gue Butet atau Sundel Bolong Stres. Gue nggak suka,” Lena menghilang dan duduk menjuntai di atas lemari.
“Kalau bukan Sundel Bolong Stres, apa namanya? Kabur dari rumah pengen jadi artis di Jakarta. Setelah gagal, malah kabur ke sini.”
“Gue nggak gagal. Sebenarnya… gue udah lolos audisi pertama pas casting film Sundel Bolong Reborn buat gantiin peran Suzzana. Tapi, para hantu sialan itu hampir menangkap gue. Beruntung ada dokter ganteng menyelamatkan dan membawa gue ke sini.”
“Curhatnya udah selesai, Tet? Badanku gatal kali. Mau mandi dulu aku,” Mario menggaruk punggungnya.
Lena cemberut. “Pantesan dulu Mariana sukanya curhat sama gue daripada kakaknya. Lo tengil sih,” Lena langsung menghilang.
Mario mendadak murung mendengar nama Mariana. Dia beranjak ke kamar mandi. Mengganti baju dan menyemprotkan minyak nyongnyong di pakaian dan menyisir rambut yang basah.
Mario mengunci pintu kamar. Melangkah di lorong museum yang panjang dan gelap walau siang hari. Hanya malam, lampu lorong boleh dinyalakan. Tanpa sengaja, dia berpapasan dengan Robi, saat pria berjas hitam itu masuk ke ruangan Pak Herman.
“Dia siapa?” Mario menghampiri Ardan.
“Nggak tau, Mas. Katanya pengen ketemu Bos. Mas mau ke mana?” Ardan menatap Mario
“Makan siang di luar. Aku pergi dulu ya,” pamit Mario.
Mario melangkah lebar ke rumah makan yang berjarak 100 meter dari museum. Hari ini, dia ingin makan bakso beranak untuk meredakan kekesalannya pada para hantu penunggu museum.
Mario memotong bakso besar. Sepuluh buah bakso kecil dan tiga buah telur puyuh muncul di dalam bakso.
“Banyak kali. Macam tak kenal program KB bakso ni,” Mario menatap bakso di depannya.
Mario melahap bakso beranak dan mienya. Asap mengepul membawa aroma kaldu ke hidung pesek pemuda itu. Mendung yang tadi bergelayut di langit, berganti jadi gerimis. Hawa dingin menyebar. Bakso menghangatkan tubuh Mario yang kedinginan.
***
Ardan menatap Robi saat pria berpakaian serba hitam dan topi abu-abu untuk menutupi rambutnya yang botak itu berbincang dengan seorang pria berjas putih.
“Apa yang sedang mereka bicarakan?” Ardan menggumam.
Robi pulang, sementara pria berjas putih masuk ke dalam museum. Ardan mengikuti pria berjas putih yang tampak mencurigakan itu. Anehnya, dia malah menghilang di ujung koridor dekat ruang bawah tanah. Bulu kuduk Ardan meremang dan langsung kabur ke depan museum.
“Ardan, dari mana saja kau? Kenapa kau tinggalkan tempat ni? Kenapa pula wajah kau tu pucat macam orang tak makan sebulan?”
Ardan menelan ludah, lalu mengatur napasnya yang ngos-ngosan. “Tadi, aku melihat pria yang tadi berpapasan dengan Mas Mario ngobrol dengan orang misterius yang penampilannya kayak Dokter. Setelah mereka bicara, orang misterius itu malah masuk ke dalam. Aku mengikutinya, tetapi dia malah menghilang di ujung koridor dekat ruang bawah tanah,” Ardan gemetar. Keringatnya membanjir di kening.
“Aku baru tahu di sini ada ruang bawah tanah. Kau tunjukkan arahnya. Aku mau ke sana.”
Ardan menuruti keinginan Mario. Pemuda keriting itu langsung pergi ke arah yang baru ditunjukkan Ardan. Dia melihat sekelebat bayangan seorang dokter menghilang di koridor.
“Sepertinya, dia memang Dokter yang sering diceritakan Lena. Tapi, apa yang dia bicarakan dengan pria berjas hitam tadi? Kenapa dia bisa berkomunikasi dengan hantu?” Berbagai pertanyaan mencantoli pikiran Mario.
Mario berbalik. Menatap Pocong yang sudah berdiri di belakangnya.
“Pocong Polkadot,” Mario yang kaget menunjuk Pocong. Jari telunjuknya menusuk mata Pocong.
“Adaw…” Pocong menjerit. Dia langsung menggigit jari Mario dengan kuat, lalu menghilang.
“Dasar Pocong! Main gigit jari orang seenaknya. Awas kau, nanti kubalas,” Mario meniup jarinya. Dia mendadak mual. “Bau kali. Macam baru makan bangkai, Pocong tu. Kayaknya setelah jadi pocong dia tak pernah sikat gigi.”
Mario ke kamar mandi dan mencuci tangannya dengan sabun. Kemudian Segera ke kamar untuk mengobati jarinya agar tidak kena rabies setelah digigit Pocong.
***
Mario baru selesai mandi dan ganti pakaian. Dia memakai baju kaos oblong abu-abu yang agak longgar karena tubuhnya kurus. Dia segera ke dapur. Memecahkan telur di mangkok dan memberinya bumbu. Memotong dan menumis bawang putih, bawang bombay, tomat dan sosis di teflon. Pemuda keriting itu menuang telur.
“Lo nggak bosan makan telur dadar tiap hari? Gue aja bosan melihat lo bikin itu,” celetuk Lena yang tiba-tiba muncul di samping Mario.
“Telur dadar buatanku selalu enak dan berbeda. Kemarin sore, kukasih tomat dan kecap. Kemarin siang, kutambahkan irisan kol dan daun bawang.
“Tetap aja namanya telur dadar. Kayaknya Lo emang nggak bisa masak yang lain,” ledek Lena.
“Apa urusannya dengan kau? Aku yang masak, aku pula yang makan,” Mario mematikan kompor dan memindahan telur ke piring.
“Gue kasihan aja sama lo.”
“Macam jago masak saja kau. Masak air pun gosong.”
“Itu dulu, Kribo. Sekarang aku jago masak.
“Mana buktinya, Butet? Tuh banyak bahan makanan. Kau masaklah kalau jago.”
“Bilang aja lo pengen gue masakin,” Lena menghilang.
“Kaburlah kau. Dasar hantu tak bisa masak,” ledek Mario.
Lena muncul lagi dengan apron merah muda. Dia memasak nasi goreng bakso. Menghidangkan nasi goreng semerah darah dengan potongan bakso untuk Mario. Mario mencicipi nasi goreng Lena.
“Kau mau racuni aku ya? Asin kali masakanmu ni,” Mario langsung menenggak segelas air putih sampai habis.
“Rasain! Makan tuh nasi goreng rasa garam. Siapa suruh bilang gue nggak bisa masak!” Lena langsung menghilang.
Amarah Mario naik sampai ke ubun-ubun. Napasnya turun naik menahan luapan emosi yang siap meledak. Dia mengambil nasi putih. Makan nasi berlauk telur dadar dengan lahap seperti tidak pernah makan setahun. Dengan porsi makan seperti itu, seharusnya dia segemuk panda.
“Makan banyak tetap kurus. Lo cacingan atau kena kutukan?” ledek Lena yang muncul di kursi meja makan.
“Kukutuk kau jadi gendut kayak induk panda.”
“Amit-amit,” Lena mengetuk meja kayu pakai palu.
“Kau kira kita lagi sidang, pakai ketuk palu macam tu. Pergi sana! Kalau bukan karena Amang kau, sudah kukerjain kau macam para hantu lain. Lagipula, dari mana kau dapat palu tu?”
“Suka-suka gue. Masalah buat lo liat cewek bawa palu?” Lena menghilang.
Mario keluar dari kamar setelah selesai mencuci piring. Dia melihat pria misterius yang kemarin berpapasaan dengannya sedang bersama Ardan di depan pintu museum.
“Mas Robi… ini Mas Mario, penjaga malam di museum ini. Mas Mario… dia Mas Robi, security baru pengganti Joni,” Ardan memperkenalkan Mario dan Robi.
Mario dan Robi berjabatan tangan sambil tersenyum.
“Mas Mario mau ke mana?”
“Jalan-jalan ke taman Van Der Wijc, nyari udara segar. Bosan aku di museum terus,” Mario pamit pada Robi dan Ardan.
Matahari mulai condong ke ufuk barat. Mario kembali ke museum. Dia melihat Dokter Anang ngobrol dengan Robi. Dokter Anang menghilang saat melihat Mario memperhatikan mereka.
“Kenapa setelah kedatangan Robi, dokter itu sering muncul? Mencurigakan,” gumam Mario dalam hati.
Robi tersenyum pada Mario dengan mengangkat sebelah sudut bibirnya, Mario membalas senyum Robi dan kembali ke kamar.
***
Other Stories
First Love Fall
Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...
Bukan Cinta Sempurna
Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...
Awan Favorit Mamah
Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...
Sinopsis
hdhjjfdseetyyygfd ...
Percobaan
percobaan ...
Saat Cinta Itu Hadir
Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...