Penyelidiki
Tidak seperti biasanya, Mario tidak keluar museum siang ini. Dia memilih jalan-jalan di dalam museum. Hujan deras dan petir mengguntur di luar. Namun, bukan itu alasan Mario jalan-jalan di dalam museum. Dia punya misi untuk menyelidiki hubungan Robi dan Dokter Anang. Mario menatap berbagai barang antik. Dia berdiri di depan bambu runcing dan beberapa tombak yang pernah dipakai pejuang melawan penjajah. Semua berjajar rapi dalam kotak kaca.
Robi pamit ke toilet pada Ardan. Mario mengikuti Robi dengan mengendap-endap. Dia mengintip di balik tembok. Seperti dugaannya, pria botak bertopi abu-abu itu ke depan ruang bawah tanah. Dia memarahi Dokter Anang karena tidak melaksanakan tugas dengan baik.
“Maaf, Bos. Aku gagal dan kena senjataku sendiri sampai pingsan.”
“Gara-gara kamu, aku dicopet Tuyul tadi malam. Aku tidak mau tau. Kamu harus ambil lagi dompetku.”
“Baik, Bos.” Dokter Anang menghilang.
“Bos? Sudah kuduga, mereka bekerja sama merencanakan sesuatu,” Mario langsung kabur agar tidak ketahuan. Dia terjatuh. Suster Ngesot tertawa melihat Mario jatuh dan langsung menghilang. “Awas kau, Suster Ngesot!”
“Kenapa kamu tiarap di lantai, Mario?”
“Aku tadi tersandung,” Mario berdiri. Dia langsung ke kamar.
Dokter Anang muncul di ruang bawah tanah. Dia langsung mendatangi tuyul yang sibuk main COC di iphone.
“Yul. Ikam mencuri dompet security baru itu tadi malam, kan?”
“Iya, Bang Dok. Kenapa?” Tuyul tetap asik main COC.
“Kembalikan!” Dokter Anang menatap tajam Tuyul. Menadahkan telapak tangan kanan.
“Tuh dompetnya. Ambil aje, Tuyul nggak perlu,” Tuyul memonyongkan bibir ke arah meja.
Dokter Anang mengambil dompet, lalu membukanya.
“Mana isinya, Yul?”
“Duitnye udah sama emak,” Tuyul masih asyik main COC.
“Mana uang Robi yang Tuyul curi tadi malam?” Dokter Anang menatap Emak Kunti.
“Maaf ye, Bang Dokter. Duit yang udah masuk kantong gue kagak bisa diambil lagi,” Emak Kunti melengos.
“Emak Kunti. Tunggu. Cepat kembalikan!”
“Kagak. Itu udah jadi duit gue. Lo mau gue hajar?” Emak Kunti melotot.
Dokter Anang mengalah. Dia menghilang sambil membawa dompet kulit warna hitam.
Robi melihat Dokter Anang di depannya. Dia kembali pamit pada Ardan pengen ke toilet.
“Mas Robi beser ya? Kok ke toilet terus dari tadi.”
“Iya. Kalau hujan begini aku pengen pipis terus,” Robi langsung berlalu.
Robi menemui Dokter Anang di depan toilet.
“Ini dompet ikam,” Dokter Anang menuduk.
Robi mengambil dompet di tangan Dokter Anang, lalu Membukanya.
“Mana uangku?” Robi melotot pada Dokter Anang.
“Maaf, Bos. Uangnya sudah diambil Emak Kunti. Dia hantu paling galak di sini. Suka menampar kalau marah. Aku takut.”
“Ya sudahlah. Yang penting kartu ATM, kartu kredit, SIM dan KTP-ku selamat,” Robi langsung kembali ke pos jaga.
***
Matahari bersinar terik di puncak langit. Mario baru selesai mandi dan ganti baju. Dia keluyuran di museum.
“Mas Mario, kok tumben nggak jalan-jalan?”
“Aku malas, Ardan. Panas kali hari ini. Nanti aku makin hitam kalau selalu jalan-jalan di luar.”
Mario berdiri di depan cermin kayu jati dengan ukiran naga. Konon itu adalah cermin istri Prabu Siliwangi. Bayangan Dokter Anang muncul di belakangnya. Mario berbalik. Dokter itu menghilang. Mario kembali menatap cermin. Mengawasi Robi. Pria botak itu lewat di belakang Mario. Dia ke toilet. Mario mengikutinya. Menempelkan kuping di pintu toilet.
Dokter Anang muncul di toilet.
“Kenapa kita harus ketemu di sini, Bos?”
“Jangan kencang-kencng bicaranya. Mario sedang mengawasi kita. Jadi, kita harus lebih hati-hati,” bisik Robi.
“Baik, Bos.”
Robi melangkah ke pintu. Derap langkahnya semakin dekat. Mario panik. Dia langsung masuk ke toilet wanita yang berada tepat di samping toilet pria untuk bersembunyi.
Robi keluar dari toilet dan melangkah menjauh. Seorang gadis berambut pirang baru keluar toilet. Dia kaget melihat Mario di depan wastafel.
“Ngapain lo di toilet cewek? Pengen ngintip ya? Cepat keluar!” gadis itu memukul Mario dengan tas merah berkali-kali. Tidak puas sampai di situ, gadis itu juga melaporkan Mario pada Ardan. Mario langsung dibawa ke ruangan Pak Herman.
“Maaf, Pak. Aku kebelet pipis kali tadi. Makanya salah masuk toilet.”
“Alasan!” celetuk gadis berambut pirang.
Pak Herman mengomeli Mario di depan pengunjung. Pemuda berambut keriting itu juga disuruh minta maaf. Dia langsung melakukannya.
“Ardan. Sampeyan antarkan nona ini ke depan.”
“Baik, Pak.” Ardan dan gadis berambut pirang ke luar ruangan.
“Mario. Maaf ya, aku terpaksa memarahi sampeyan di depan pengunjung tadi. Jangan ambil hati ya,” Pak Herman memasang tampang memelas.
“Iya, Pak. Aku paham. Sebenarnya, aku bukan tak sengaja masuk toilet wanita. Aku ke sana untuk sembunyi.”
Pengakuan Mario membuat Pak Herman menautkan alis.
“Aku sedang menyelidiki Robi. Aku curiga dia punya niat jahat pada museum ni. Beberapa kali aku memergokinya ngobrol dengan salah satu hantu penunggu museum.”
“Benarkah? Kalau begitu, kamu harus lebih waspada saat berjaga malam.”
“Bak, Pak.” Mario pamit kembali ke kamar.
***
Other Stories
JEJAK SENI BUDAYA DI TANAH BADUY
Dua mahasiswa antropologi dengan pandangan yang bertolak belakang harus mengesampingkan eg ...
Pulang Tanpa Diikuti
Sekar menghabiskan liburan panjang di rumah neneknya, sebuah rumah tua di desa yang menyim ...
Nafas Tahun Baru
Maren pindah ke apartemen kecil di lantai paling atas sebuah gedung yang hampir kosong men ...
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...
Anak Singkong
Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...
Plan B
Liburan tiga sahabat di desa terpencil berubah jadi mimpi buruk saat satu dari mereka meng ...