Konspirasi
Seorang kurir wanita celingukan di depan museum. Dia kembali menatap alamat yang tertulis di paket kiriman untuk memastikan tidak salah alamat.
“Mentang-mentang nama inyong Ayu, dapat alamat palsu kayak Ayu Tingting. Uangnya juga bayar di tempat lagi, masa inyong yang mesti nombokin?” gerutu kurir yang rambutnya dikuncir satu itu dengan logat Tegal.
“Wah, paket baju Emak udah datang tuh. Sekalian deh Tuyul ambil dompet Kakak cantik itu,” Tuyul mendekati wanita yang memakai jaket khas kurir berwarna merah tua itu, lalu memasukkan tangan ke tas pinggang warna hitam.
“Kayaknya ini dompetnya. Tapi, kok aneh ya? Ah, mungkin ini dompet murah, yang penting isinya. Tebal. Pasti banyak nih duitnye,” Tuyul langsung memasukkan benda yang baru dia ambil ke dalam saku kolor kuning tanpa melihatnya.
Tuyul mengambil paket di tangan Ayu. Wanita itu melotot saat melihat paket terbang.
“Se... setan!!!” dia langsung kabur dengan motor matic-nya.
Tuyul menghilang. Dia muncul di ruang bawah tanah.
“Nih, baju baru Emak. Daster putih motif bunga kamboja.”
“Baik bener dah lo, Yul,” Emak Kunti merebut paket di tangan Tuyul dan membaca tulisan di paketnya
“Kenapa lo memakai nama Luyut, Yul?
“Tuyul di balik Luyut, Mak. Masa iye, memakai nama Tuyul Koreng?”
“Lo kagak menghargai nama pemberian Emak lo, Yul.”
“Lagian, Emak ngasih nama Tuyul Koreng, nggak keren banget. Mentang-mentang pas baru lahir, Tuyul korengan.”
“Serah lo, dah. Yang penting paket gue sampai,” Emak Kunti menyerah. Dia membuka paket dan memakai daster panjang itu. “Cakep kagak, Yul?”
“Cakep, Mak,” Tuyul mengacungkan jempol. “Tuyul juga nyolong ini tadi, Mak.” Tuyul mengeluarkan sesuatu dari saku.
“Busyet. Kenapa lo nyolong gituan?” Emak Kunti melotot melihat benda yang dipegang Tuyul.
“Emang ini apaan, Mak?”
“Itu pembalut wanita.”
“Bukannya pembalut yang kayak gini, Mak?” Tuyul menunjukkan foto bungkusan pembalut yang ada di iphone.
“Itu bungkusnye. Yang ini isinye. Lo buang jauh-jauh dah benda itu.”
“Iye, Mak,” Tuyul langsung membuang pembalut itu di tempat sampah.
***
Sudah seminggu, Mario tidak mendapat gangguan dari para hantu saat berjaga malam. Lena juga sudah tidak pernah menemuinya. Hanya Dokter Anang yang beberapa kali tampak berkeliaran. Pemuda keriting itu tetap selalu mengawasi gerak-gerik Robi dan Dokter Anang yang mencurigakan.
“Enak kali kerja macam ni, tak ada gangguan,” Mario meregangkan tubuhnya.
Mario mendengar suara aneh di pintu depan. Suara kunci diputar. Pemuda keriting itu sembunyi di balik tembok. Pintu depan terbuka. Dia terkejut saat melihat pria yang memegang senter di depan pintu. Robi celingukan. Dia memasukkan kunci ke dalam saku celana. Besok memang giliran Robi piket. Tanpa Mario sadari, Dokter Anang muncul di belakangnya. Menusukkan gunting bedah mengandung listrik buatan Lena. Pemuda keriting itu pingsan dengan muka cemong dan rambut keriting yang mendadak lurus ke atas.
Mario membuka mata. Rambutnya kembali keriting seperti semula. Cahaya lampu sangat menyilaukan. Tangannya tak bisa bergerak untuk melindungi mata dari cahaya. Dokter Anang dan Robi menyeringai menatap Mario.
“Apa yang kalian inginkan?”
“Aku menginginkan cincinmu,” Dokter Anang memegang serum pemisah DNA di tangan kanan.
“Kalian sengaja melakukan ini agar bisa mencuri di museum ini, kan?”
“Karena setelah ini kamu kehilangan pekerjaan, baiklah akan kujelaskan. Aku adalah putra pengusaha yang menginginkan museum ini untuk dijadikan pabrik. Berkali-kali ayahku meminta Herman, manajer sekaligus pemilik museum ini agar menjualnya, dia tetap menolak. Akhirnya, kukirim Dokter Anang untuk memengaruhi para hantu dan membuat museum ini angker.”
“Kau juga sengaja membawa Lena ke sini untuk tujuan itu?” Mario menatap Dokter Anang.
“Sundel bolong cantik itu?”
Lena mendengar suara Dokter Anang yang sedang membicarakannya di ruang Pak Herman. Dia mendengarkan sambil senyam-senyum sendiri.
“Dia memang cantik, tapi mudah dibodohi. Kepergiannya dari rumah langsung menjadi berita heboh. Hantu terjenius se-alam gaib kabur untuk jadi artis di ibu kota. Aku menyebar sayembara untuk menangkapnya dan merebut cincin Merin saat tahu ayahnya akan mengirimkan benda itu. Lalu, aku tampil sebagai pahlawan kemalaman dan membawanya kemari. Aku sudah membuatnya membantu penelitianku untuk membuat serum ini.”
“Jadi, Si Merah itu tak pernah ada?”
“Tidak,” Dokter Anang menuang serum dari air mata buaya dan lendir belut itu ke cincin Tongghost.
Lena muncul dan langsung menepis botol kaca itu hingga pecah sebelum benar-benar menetes ke cincin Mario. Serum menggenang di lantai. Dokter Anang menebaskan pisau bedah ke Lena. Tidak terjadi apapun. Sundel bolong cantik itu kebal dari senjatanya.
“Menyerahlah atau pemuda ini akan kuhabisi,” Robi menodongkan pisau pada Mario yang tangan dan kakinya terikat di kaki meja membentuk huruf X.
“Lakukan saja keinginanmu. Aku tidak peduli,” Sundel bolong yang terlanjur patah hati itu meninju wajah Dokter Anang. Mata dokter itu lebam.
Tuyul yang kebetulan lewat memberi tahu keributan itu pada semua hantu penunggu museum. Tuyul, Pocong, Emak Kunti dan Suster Ngesot muncul di ruangan Pak Herman.
“Perlu kite tolong nggak, Mak?” Tuyul menatap ibunya.
“Kagak usah, Yul. Kite juga kagak tau penyebab pertengkaran mereka.”
“Iya, Yul. Paling masalah cinta atuh. Teteh Lena suka dengan Kang Dokter. Tapi, dia patah hati karena Kang Dokter suka sama Neng. Kang Kribo yang suka sama Teteh Lena membantunya,” Suster Ngesot mendongak untuk menatap Tuyul yang berdiri di sampingnya.
“Kalau Mas Robi, kenapa dia membantu Mas Dokter?” Pocong menatap Suster Ngesot yang duduk paling ujung.
“Kang Dokter kan hantu yang baik. Mungkin, Kang Security pernah ditolong Kang Dokter.”
“Udah, kite tonton aje dulu. Yul, ambilkan kuaci Emak,” Emak Kunti duduk.
“Yah, padahal lagi seru nih, Mak.”
Emak Kunti melotot. Tuyul langsung menghilang untuk mengambil kuaci sebelum ibunya mengamuk. Tuyul kembali sambil memegang sebungkus besar kuaci. Mereka nonton bareng sambil ngemil.
“Menurutmu siapa yang menang, Yul?”
“Menurut gue yang menang Lena dan Mario,” Tuyul menyorotkan kamera. Dia yakin video itu akan viral seperti video Pocong dan cacing.
“Nggak mungkin toh, Yul. Pasti Robi dan Dokter Anang.”
“Gimane kalo kita taruhan, Encang Cong?”
“Oke. Yang kalah harus joget semalaman,” tantang Pocong.
“Iye, dah.”
“Emak Kunti teh dukung yang mana? Kalau saya mah jelas Kang Robi dan Kang Dokter yang ganteng atuh,” Suster Ngesot tidak mengalihkan pandangannya dari pertarungan.
“Ah lo, Sot. Ganteng mulu. Gue dukung Lena dan Mario deh. Biar pun gue gedek banget sama Si Kribo, Lena tetap teman kite.”
Mario dengan susah payah menekan batu Tongghost di jari manis kirinya. Tali yang mengikat tangan kirinya perlahan hancur.
Lena menendang lengan Robi, hingga pisau di tangannya terpental. Dokter Anang menusukkan gunting bedah ke Lena. Sundel bolong itu kesetrum. Rambut panjangnya semua naik ke atas. Cincin Merin tidak bekerja pada senjata yang dia buat sendiri. Mario melepaskan ikatan di tangan kanannya.
Dokter Anang ingin menusuk Lena dengan gunting setrum itu sekali lagi. Mario duduk dan melempar panah surya. Dokter Anang hancur jadi abu. Bau gosong menyengat. Suster Ngesot memekik saat melihat Dokter idolanya hancur. Robi melibaskan pisau. Lena menarik tangan Mario hingga menunduk. Sebagian rambut kribo Mario terpotong. Lena meninju hidung Robi hingga mimisan. Pria yang takut darah itu langsung pingsan. Mario melepas ikatan di kakinya dan mengikat Robi.
Semua bertepuk tangan kecuali pocong. Bukan karena tangannya terbungkus kain kafan. Tapi, karena dia kalah taruhan.
“Encang Cong. Ingat ye. Joget semalaman,” Tuyul menyetel lagu dangdut di iphone.
“Iya deh, Yul.” Pocong menangis. Dia mulai menari.
“Emak Kunti. Kayaknya kita dapat hiburan tambahan dari Mas Pocong atuh.”
“Iye, Sot. Asyik juga ye.”
Emak Kunti dan Suster Ngesot masih ngemil kuaci.
Lena dan Mario bergabung dengan mereka.
“Kalian kenapa berantem sih?” Emak Kunti mengunyah kuaci.
“Dokter Anang ternyata nggak sebaik yang kita kira,” Lena menunduk.
“Iya, dia cuma memanfaatkan kalian untuk membuat museum ini angker dan sepi. Supaya bisa dijual pada ayahnya Robi dan dijadikan pabrik. Kalian bakal digusur dari sini,” Mario ikut menyaksikan tarian Pocong yang meliuk-liuk dengan kain kafan polkadot merah muda.
“Kalau tau begitu pasti gue bantu kalian,” Emak Kunti mendekati Robi dan menampar wajahnya. “Enak aje lo abis bawa kami ke sini, trus kami mau digusur.”
Emak Kunti kembali ke tempat duduk. Tuyul terus merekam tarian Pocong. Sesekali Mario mencomot kuaci di depan Emak Kunti. Pocong terjatuh karena lemas.
“Udah ya, Yul. Aku capek,” keluh Pocong setelah menari hampir lima jam.
“Oke lah, Encang Cong.”
***
Matahari pagi mulai bersinar. Ardan datang ke museum. Dia terkejut saat melihat pintu terbuka dan tidak ada siapapun yang berjaga. Pemuda kekar itu mencari Robi dan semakin terkejut saat melihatnya terikat di ruangan Pak Herman.
“Ardan. Tolong,” Robi menatap pria kekar di depannya
“Tadi ada rampok ya, Mas?” Ardan berusaha melepas ikatan Robi.
“Jangan dilepas. Dia penjahat. Tadi malam dia ke sini dan mengikatku untuk memuluskan tujuannya,” Mario muncul di depan ruangan Pak Herman.
“Tujuan apa toh, Mas?” Ardan mengerutkan kening sambil menatap Mario.
“Dia pengen museum ini dijual pada ayahnya. Sebaiknya, kau bawa dia ke kantor polisi. Sementara aku akan berjaga di museum.”
“Oke, Mas.”
Ardan membawa Robi ke kantor polisi terdekat. Mario ke kamar setelah Ardan kembali.
***
Other Stories
Bukan Cinta Sempurna
Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...
Adam & Hawa
Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...