Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan

Reads
1.4K
Votes
9
Parts
12
Vote
Report
Arungi waktu; ombak bergulung, waktu berderai—namun jangkar tak pernah ia turunkan
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan
Penulis Ivoryfloome

BAB I: BAYANGAN DARI EKSPEKTASI

Anak dari Pasir dan Garam

Arunika lahir di musim hujan, saat ombak sedang ganas. Konon, bidan desa bilang bayi itu menangis dengan suara keras, seperti melawan angin. “Anak ini kuat,” katanya. “Ia akan melawan arus.”

Ayahnya, Pak Darmo, nelayan yang setia pada laut. Ia tidak pernah kuliah, tapi tahu segalanya tentang arah angin, gerhana, dan ikan teri yang hanya muncul saat bulan purnama. Ibunya, Bu Sari, setelah berhenti menjadi nelayan perempuan- kini ia berjualan jamu keliling. Ia punya suara serak, tapi doanya selalu lembut.

Mereka bukan keluarga kaya. Tapi mereka punya satu kekayaan: mimpi.

Dan mimpi itu semua tertumpu pada Arunika.

“Kamu harus kuliah, Nak,” kata Bu Sari suatu malam, sambil mengelus rambut Arunika yang masih kusut usai bangun tidur. “Jadi orang penting. Biar kita nggak terus-terusan begini.”

Arunika hanya mengangguk. Ia masih kecil, tapi sudah mengerti: ia adalah harapan keluarga.

Kakak satu-satunya, Raka, sudah menikah dan bekerja sebagai karyawan toko bangunan di kota. Ia tidak pernah kuliah. Maka dari itu, Arunika dianggap sebagai “kartu terakhir” keluarga.

Setiap nilai bagus di rapor selalu disambut dengan senyum lebar. Prestasi di lomba sains, olimpiade kimia, bahkan lomba pidato bahasa Inggris—semua dianggap sebagai bukti bahwa Arunika adalah anak emas.

Tapi di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang terus menghantui:
Apakah aku memang senang berada didalam dunia kesehatan?


Laut yang Mengerti.

Ketika tiba waktunya memilih sekolah menengah kejuruan, tak ada diskusi panjang.
“Farmasi, Nak. Banyak lowongan kerja. Bisa buka apotek sendiri nanti,” kata Pak Darmo tegas.

Arunika mengangguk. Ia tak protes. Ia takut mengecewakan. Ia takut kehilangan cinta yang selama ini diberikan karena prestasinya.

Namun, malam-malam ia kabur ke pantai. Duduk sendiri. Menatap laut yang gelap, berkilauan oleh bintang yang terpantul di permukaan.

“Aku nggak tahu harus jadi apa,” bisiknya, melempar kerikil kecil ke air.

Laut tidak menjawab. Tapi ombaknya datang pelan, seperti pelukan. Seperti mengatakan:

"Tidak apa-apa kalau belum tahu. Aku juga tidak pernah tahu arah angin besok. Tapi aku tetap bergerak."

Di pantai, Arunika merasa bebas. Di sana, ia tidak harus menjadi siapa pun. Ia hanya Arunika. Anak dari pasir dan garam.

Other Stories
Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...

DAISY’s

Kisah Tiga Bersaudari ...

Sweet Haunt

Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...

Suara Cinta Gadis Bisu

Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...

Tersesat

Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Download Titik & Koma