BAB I: BAYANGAN DARI EKSPEKTASI
Anak dari Pasir dan Garam
Arunika lahir di musim hujan, saat ombak sedang ganas. Konon, bidan desa bilang bayi itu menangis dengan suara keras, seperti melawan angin. “Anak ini kuat,” katanya. “Ia akan melawan arus.”
Ayahnya, Pak Darmo, nelayan yang setia pada laut. Ia tidak pernah kuliah, tapi tahu segalanya tentang arah angin, gerhana, dan ikan teri yang hanya muncul saat bulan purnama. Ibunya, Bu Sari, setelah berhenti menjadi nelayan perempuan- kini ia berjualan jamu keliling. Ia punya suara serak, tapi doanya selalu lembut.
Mereka bukan keluarga kaya. Tapi mereka punya satu kekayaan: mimpi.
Dan mimpi itu semua tertumpu pada Arunika.
“Kamu harus kuliah, Nak,” kata Bu Sari suatu malam, sambil mengelus rambut Arunika yang masih kusut usai bangun tidur. “Jadi orang penting. Biar kita nggak terus-terusan begini.”
Arunika hanya mengangguk. Ia masih kecil, tapi sudah mengerti: ia adalah harapan keluarga.
Kakak satu-satunya, Raka, sudah menikah dan bekerja sebagai karyawan toko bangunan di kota. Ia tidak pernah kuliah. Maka dari itu, Arunika dianggap sebagai “kartu terakhir” keluarga.
Setiap nilai bagus di rapor selalu disambut dengan senyum lebar. Prestasi di lomba sains, olimpiade kimia, bahkan lomba pidato bahasa Inggris—semua dianggap sebagai bukti bahwa Arunika adalah anak emas.
Tapi di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang terus menghantui:
Apakah aku memang senang berada didalam dunia kesehatan?
Laut yang Mengerti.
Ketika tiba waktunya memilih sekolah menengah kejuruan, tak ada diskusi panjang.
“Farmasi, Nak. Banyak lowongan kerja. Bisa buka apotek sendiri nanti,” kata Pak Darmo tegas.
Arunika mengangguk. Ia tak protes. Ia takut mengecewakan. Ia takut kehilangan cinta yang selama ini diberikan karena prestasinya.
Namun, malam-malam ia kabur ke pantai. Duduk sendiri. Menatap laut yang gelap, berkilauan oleh bintang yang terpantul di permukaan.
“Aku nggak tahu harus jadi apa,” bisiknya, melempar kerikil kecil ke air.
Laut tidak menjawab. Tapi ombaknya datang pelan, seperti pelukan. Seperti mengatakan:
"Tidak apa-apa kalau belum tahu. Aku juga tidak pernah tahu arah angin besok. Tapi aku tetap bergerak."
Di pantai, Arunika merasa bebas. Di sana, ia tidak harus menjadi siapa pun. Ia hanya Arunika. Anak dari pasir dan garam.
Arunika lahir di musim hujan, saat ombak sedang ganas. Konon, bidan desa bilang bayi itu menangis dengan suara keras, seperti melawan angin. “Anak ini kuat,” katanya. “Ia akan melawan arus.”
Ayahnya, Pak Darmo, nelayan yang setia pada laut. Ia tidak pernah kuliah, tapi tahu segalanya tentang arah angin, gerhana, dan ikan teri yang hanya muncul saat bulan purnama. Ibunya, Bu Sari, setelah berhenti menjadi nelayan perempuan- kini ia berjualan jamu keliling. Ia punya suara serak, tapi doanya selalu lembut.
Mereka bukan keluarga kaya. Tapi mereka punya satu kekayaan: mimpi.
Dan mimpi itu semua tertumpu pada Arunika.
“Kamu harus kuliah, Nak,” kata Bu Sari suatu malam, sambil mengelus rambut Arunika yang masih kusut usai bangun tidur. “Jadi orang penting. Biar kita nggak terus-terusan begini.”
Arunika hanya mengangguk. Ia masih kecil, tapi sudah mengerti: ia adalah harapan keluarga.
Kakak satu-satunya, Raka, sudah menikah dan bekerja sebagai karyawan toko bangunan di kota. Ia tidak pernah kuliah. Maka dari itu, Arunika dianggap sebagai “kartu terakhir” keluarga.
Setiap nilai bagus di rapor selalu disambut dengan senyum lebar. Prestasi di lomba sains, olimpiade kimia, bahkan lomba pidato bahasa Inggris—semua dianggap sebagai bukti bahwa Arunika adalah anak emas.
Tapi di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang terus menghantui:
Apakah aku memang senang berada didalam dunia kesehatan?
Laut yang Mengerti.
Ketika tiba waktunya memilih sekolah menengah kejuruan, tak ada diskusi panjang.
“Farmasi, Nak. Banyak lowongan kerja. Bisa buka apotek sendiri nanti,” kata Pak Darmo tegas.
Arunika mengangguk. Ia tak protes. Ia takut mengecewakan. Ia takut kehilangan cinta yang selama ini diberikan karena prestasinya.
Namun, malam-malam ia kabur ke pantai. Duduk sendiri. Menatap laut yang gelap, berkilauan oleh bintang yang terpantul di permukaan.
“Aku nggak tahu harus jadi apa,” bisiknya, melempar kerikil kecil ke air.
Laut tidak menjawab. Tapi ombaknya datang pelan, seperti pelukan. Seperti mengatakan:
"Tidak apa-apa kalau belum tahu. Aku juga tidak pernah tahu arah angin besok. Tapi aku tetap bergerak."
Di pantai, Arunika merasa bebas. Di sana, ia tidak harus menjadi siapa pun. Ia hanya Arunika. Anak dari pasir dan garam.
Other Stories
Mereka Yang Tak Terlihat
Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...
Hantu Kos Receh
Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
Di Bawah Atap Rumah Singgah
Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...
Sudut Pandang
Hidup terasa sempit?Mungkin bukan masalahnya yang terlalu besar,tapi carapandangmu yang te ...