Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan

Reads
1.3K
Votes
9
Parts
12
Vote
Report
Arungi waktu; ombak bergulung, waktu berderai—namun jangkar tak pernah ia turunkan
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan
Penulis Ivoryfloome

Bab VII; MENEMUKAN KEMBALI DIRI

Saat Laut Mulai Bernyanyi di Dalam Diri

Musim hujan tiba di Jogja. Hujan turun setiap sore, membawa udara yang lembap dan aroma tanah basah. Di gang kecil Baca Bersama, atap bocor di sudut ruang belajar. Tapi anak-anak tetap datang. Dengan payung kecil, sepatu yang sudah usang, dan semangat yang tak pernah padam.

Arunika duduk di lantai, memperbaiki rak buku yang longgar. Ia tersenyum melihat Dina sedang membaca keras-keras untuk teman-temannya. Suaranya masih gagap, tapi matanya bersinar.

Untuk pertama kalinya, Arunika merasa hidup.
Bukan karena ia sudah sukses.
Bukan karena ia sudah jadi siapa-siapa.
Tapi karena ia merasa ada.
Dan kehadirannya berarti.

Malam itu, ia kembali duduk di atap rumah komunitas, seperti biasa. Langit gelap, tapi bintang-bintang bersinar terang. Ia membuka jurnalnya, pena di tangan, hati yang tenang.

Aku datang ke sini karena ingin kabur dari kegagalan. Tapi ternyata, aku menemukan sesuatu yang jauh lebih besar: aku menemukan diriku sendiri.
Aku bukan lagi anak pintar yang harus memenuhi ekspektasi. Aku bukan lagi harapan keluarga yang harus sempurna.
Aku hanya Arunika. Dan itu sudah cukup.”

Ia menutup jurnal. Angin berhembus pelan. Seperti ombak yang memeluk pantai.


Mengajar dengan Hati, Bukan dengan Gelar

Dulu, Arunika mengira mengajar itu soal tahu lebih banyak.
Tapi di sini, ia belajar: mengajar adalah soal mendengarkan.

Suatu hari, seorang anak bernama Bayu, anak pemulung yang jarang datang, tiba-tiba muncul dengan wajah memar.

“Kenapa, Bayu?” tanya Arunika pelan.

Bayu menunduk. “Ayah marah. Katanya aku buang-buang waktu di sini. Mending cari plastik.”

Arunika tidak langsung memberi nasihat. Ia duduk di sampingnya. “Kamu suka baca buku, kan?”

Bayu mengangguk. “Aku suka cerita tentang kapal laut. Aku pengin sekali lihat laut.”

Arunika tersenyum. “Aku dari desa pesisir. Lautku biru, ombaknya besar, tapi indah sekali. Nanti aku gambar untuk kamu.”

Malam itu, Arunika membuat buku kecil: “Petualangan Kapal Kecil di Laut Biru”, dengan gambar tangan dan cerita sederhana. Esok harinya, ia berikan ke Bayu.

Anak itu membacanya berulang kali. Lalu berkata:
“Kak, aku mau datang terus. Aku mau bisa baca semua buku di sini.”

Arunika menatap Langit. Keduanya tersenyum.

Di jurnalnya, ia menulis:
Aku tidak mengajar Bayu membaca. Aku hanya menunjukkan bahwa ada dunia di luar kemiskinan. Dunia yang bisa ia capai dengan satu hal: huruf yang bisa ia baca.


Laut dalam Setiap Huruf

Lama-kelamaan, Arunika mulai mengintegrasikan laut ke dalam metode mengajarnya.

Ia mengajarkan huruf “L” dengan kata “Laut”.
Ia mengajarkan angka dengan jumlah ikan dalam jaring.
Ia membuat drama tentang nelayan yang melawan badai — sebagai metafora untuk tidak menyerah.
Anak-anak menyukainya. Mereka tidak hanya belajar membaca, tapi juga bermimpi.

Suatu hari, Dina berkata:
“Kak, nanti kalau aku besar, aku mau jadi nelayan perempuan. Kayak kamu!”

Arunika tertawa. “Aku bukan nelayan, Din.”

“Tapi kamu dari laut. Dan kamu kuat. Jadi kamu nelayan hati,” kata Dina polos.

Arunika terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia merasa lautnya bukan hanya miliknya.
Lautnya kini menjadi impian orang lain.


Arunika mulai menulis kembali di blog kecil miliknya: “Catatan dari Gang Kecil”- melanjutkan blog sebelumnya. Ia menulis tentang hari-harinya, tentang anak-anak, tentang bagaimana ia belajar dari mereka.

Aku datang ke sini dengan hati yang patah. Aku pikir, aku datang untuk memberi. Tapi ternyata, aku yang menerima.
Anak-anak ini tidak punya sepatu, tapi punya semangat yang tak bisa dibeli. Mereka tidak punya rumah layak, tapi punya mimpi yang besar.
Mereka mengajariku bahwa kegagalan bukan akhir. Bahwa hidup bukan soal gelar, tapi soal hati yang masih mau berusaha.
Terima kasih, Dina. Terima kasih, Bayu. Terima kasih, laut, karena mengirimku ke sini.”

Tulisan itu lagi lagi kembali viral.

Komentar kembali mengerumuni:
Tulisan kamu, rasanya seperti jeda panjang dimana aku bisa narik nafas.”

“Kamu hebat sekali, terima kasih ya sudah membagikan kisah mu”

“Aku mau jadi relawan juga. Bisa aku gabung?”

Air mata Arunika selalu tak kuasa ia bendung. Bukan karena sedih.

Tapi karena sekali lagi ia merasa berguna.

Karena ia benar benar ada untuk dunia. Untuk lautnya.

Tubuhnya dipeluk oleh Langit yang selalu memperhatikan. “Kamu punya suara, Arun. Dan suaramu menyentuh banyak hati.”


Pulang dalam Mimpi

Suatu malam, Arunika bermimpi.
Ia berdiri di pantai Tirtamulya. Ayahnya sedang memperbaiki jaring. Ibunya menjual jamu. Raka datang membawa kue. Nenek Laut duduk di batu karang, tersenyum.

Lalu laut berbisik:
“Kamu sudah menemukan arahmu.”

Arunika bertanya:
“Tapi aku bukan apoteker. Aku bukan dokter. Aku bukan siapa-siapa.”

Laut menjawab:
“Kamu adalah orang yang membuat anak kecil percaya bahwa ia bisa baca. Kamu adalah orang yang membuat orang asing menangis karena tulisanmu. Kamu adalah jangkar kecil bagi yang hampir hanyut.
Itu lebih besar dari gelar apa pun.”

Ia terbangun dengan air mata di pipi.

Di jurnalnya, ia menulis:

Aku pikir, sukses itu masuk kuliah, punya gelar, punya gaji besar. Tapi ternyata, sukses adalah saat seseorang berkata: ‘Terima kasih, Kak. Aku bisa baca sekarang.’
Sukses adalah saat seseorang merasa hidupnya lebih ringan setelah membaca tulisanku.
Sukses adalah saat aku bisa tidur dengan hati yang tenang, karena aku tahu: hari ini, aku berguna.


Surat dari Rumah

Beberapa minggu kemudian, Arunika menerima surat dari ibunya.

Nak, kami bangga padamu. Kami lihat tulisanmu di internet. Semua orang di desa tahu. Nenek Laut bilang, ‘Aku tahu dia akan bersinar.’
Ayahmu bilang, kamu seperti ombak: tidak pernah berhenti, meski orang tidak selalu melihatnya.
Pulanglah kapan-kapan. Lautmu masih menunggu. Tapi kami tahu: kamu sedang menemukan laut baru.

Dengan cinta,
Ibumu yang selalu mendoakan.

Arunika membaca surat itu berulang kali. Ia tidak menangis keras. Tapi hatinya terurai lembut.
Untuk pertama kalinya, ia merasa diterima bukan karena prestasi, tapi karena jalan yang ia pilih.


Titik Balik: Menemukan Laut Yang Baru

Suatu sore, Langit berkata:
“Kamu punya bakat menulis, Arun. Kamu harus coba kirim tulisanmu ke media. Atau buat buku kecil.”

Arunika ragu. “Aku bukan penulis.”

“Kamu sudah menulis setiap hari. Kamu sudah membuat orang menangis, tertawa, dan termotivasi. Itu artinya kamu penulis,” kata Langit mantap.

Arunika mulai mencoba. Ia mengirim esai ke blog nasional. Diterima. Lalu ke majalah daring.

Dan diterbitkan.

Judulnya: “Dari Gagal ke Gema

Kegagalan bukan akhir. Itu adalah pintu. Pintu menuju jalan yang tidak pernah kamu bayangkan. Jalan yang lebih bermakna, karena kamu jalani dengan hati, bukan karena tekanan.

Tulisan itu booming. Banyak yang menghubunginya:
Remaja yang putus sekolah.
Mahasiswa yang ingin drop out.
Orang tua yang merasa gagal membesarkan anak.

Arunika membalas satu per satu. Dengan sabar. Dengan empati.
Dan perlahan, ia menyadari:

Ini passion-nya. Ini Lautnya.
Bukan farmasi.
Bukan apotek.

Tapi menulis, mengajar, dan membantu orang menemukan cahaya dalam gelap.


Laut yang Tidak Pernah Jauh

Perempuan itu kembali menatap langit di malam hari, rasanya atap menjadi tempat istirahat utamanya- lebih dari ruangan tidur yang telah disiapkan untuknya.

Ia membayangkan ombak di Tirtamulya. Ia membayangkan suara ayah yang memanggil ikan. Ia membayangkan kalung kerang yang kini selalu ia kenakan.

Ia menulis di jurnal:

Aku dulu pergi karena ingin lari dari laut.
Tapi ternyata, aku membawa laut bersamaku.
Laut adalah kesabaran.
Laut adalah keberanian.
Laut adalah terus bergerak meski tidak tahu arah.
Dan aku?
Aku adalah anak laut yang akhirnya belajar berenang dengan caranya sendiri.

Ia menutup jurnal. Angin berhembus pelan. Kali ini, laut yang menghampiri dan memeluknya dalam deburan lembut.


Other Stories
Hujan Yang Tak Dirindukan

Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...

Hopeless Cries

Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...

Pra Wedding Escape

Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...

Jam Dinding

Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir

Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...

Download Titik & Koma