Kisah Cinta Super Hero

Reads
2.9K
Votes
0
Parts
22
Vote
Report
Kisah cinta super hero
Kisah Cinta Super Hero
Penulis Dwi Nurcahyono

Bab 3: Hoodie, Hujatan, Dan Hati Yang Bergetar



Saya bangun siang itu dengan notifikasi HP sebanyak jumlah utang negara.
WA grup rame.
Grup "Persahabatan Sejati 4EVER" dibanjiri video saya, melompat dari truk ke genteng toko kelontong, lalu menjerat penjahat pakai kabel. Judulnya
"PAHLAWAN KOTA ATAU ANAK MAGANG SUTRADARA MARVEL?"

Dan sayangnya... saya viral. Bukan viral yang keren. Tapi... viral bahan olokan.

Komentar netizen kejam banget.

“Kostumnya kayak habis dicuci belum kering.”

“Ini pahlawan kota atau pemain drama 17 Agustusan RT 04?”

Saya buka Twitter (iya, saya masih nyebutnya Twitter). Trending nomor 4: #KodokGagal
Saya ngedumel, “Padahal udah ngelawan penjahat. Kenapa orang malah fokus ke kostum?”
Lebih tepatnya: kostum spandek hijau lemon yang super ketat itu.

Video yang bikin aku viral:

Judul “Superhero atau Kodok Hijau Kegencet?”
Background music: Remix dangdut versi chipmunk
Caption:
“Kasian mas-mas ini... Udah capek nyelametin warga, tapi kayaknya selangkangannya menderita”

Dan bagian paling menyakitkan.

Komentar netizen:

“Itu spandek atau balutan daun pisang?”

“Kok gue ngerasa dia jalan kayak tahan kentut?”

“Tolong yang desain bajunya, jangan dendam pribadi dong ”


Aku scroll sampai ke ratusan komentar. Bukan buat nikmatin popularitas, tapi... buat nyari jejak Dolce. Dan bener. Di salah satu reply thread, akun bernama @dolcecouturetechno ngetik:
“FYI, baju itu bukan sekadar fashion. Itu armor. Itu teknologi. Itu karya seni. Tapi ya udah lah ya. Kalau semua orang sukanya baju tempur kayak di Marvel, ya mending aku balik jualan jaket parasut di Pasar.”

Sorenya saya datang ke lab Pak Handoyo, niatnya buat evaluasi misi.
Tapi ternyata, saya diculik. Secara teknis dibawa paksa oleh Dolce, waria jenius spesialis kostum superhero.

Dolce menyeret saya ke ruang fitting. Di sana sudah ada lima manekin dengan kostum yang... jujur, lebih cocok buat boyband daripada pahlawan.

Yang satu baju ketat full glitter.
Yang satu lagi celana pendek kulit dan rompi ungu.
Yang ini... entah kenapa ada bulu merak di bahunya.

Dolce berdiri dramatis.
“Sayang... viral itu berkah. Tapi fashion adalah iman. Kita harus bantu kamu tampil seperti harapan netizen. Dan lebih penting jangan sampai kamu memalukan aku sebagai desainer.”

Saya angkat tangan. “Tapi... saya lebih nyaman pakai jaket.”

“Sayang... kenyamanan adalah musuh estetik!”

Pak Handoyo muncul dari balik pintu dengan popcorn. Dia excited kayak lagi nonton konser girlband.

Fredy berdiri di pojokan sambil menyuguhkan teh dan ekspresi netral level dewa.

Setelah perdebatan panjang yang membuat saya nyaris ganti nama jadi Calvin Klein, akhirnya...

Dolce mendesah. “Oke, kalau begitu... kita kompromi.”

Dia munculkan jaket hoodie warna  hijau. Polos. Tapi saat dia tekan tombol di dalam kerahnya,
ZRRRT!
Garis neon tipis menyala di sisi kiri dan kanan mata pada topengnya. Warna hijau  elektrik. Elegan. Mistik.
Saya langsung merasa seperti karakter utama anime.

“Saya suka ini,” saya bisik.

Dolce mengangguk bangga. “Namanya ShadowLine Hoodie. Terinspirasi dari perpaduan stealth mode dan... tukang galon di tengah malam.”


Besoknya saya ke sekolah. Kali ini bukan sebagai pahlawan. Tapi sebagai Cahyo biasa, murid yang nilai IPA-nya seperti suhu kulkas.

Dan... entah kenapa... Wulan—anak kelas sebelah, cewek manis yang biasanya cuma saya lihat dari jauh pas antre kantin—mulai senyum.

Senyumnya bukan senyum basa-basi. Ini senyum... senyum yang kayak bilang,
“Aku tahu kamu nyembunyiin sesuatu. Tapi aku nggak takut.”

Saya salah tingkah. Nyengir sendiri. Lalu nabrak tiang.

Wulan bantuin saya berdiri. “Kamu nggak apa-apa?”

“Gak apa-apa... cuma... tiangnya kurang sopan.”

Dia ketawa. Manis. Senyum dia tuh kayak wifi kenceng—bikin hidup langsung lancar.


Di kantin, Rico melirik saya dengan alis setengah naik. “Bro. Itu barusan flirting?”

Aryo narik kursi. “Lu naksir dia?”

Dani baru datang lima detik kemudian. “Siapa naksir siapa?”

Saya cuma geleng. “Gak... dia cuma... ramah aja.”

Rico nyikut saya. “Lu pikir dia senyum segitu manis ke semua orang? Bro, lu harus gerak sekarang. Kapan lagi?”

Saya nengok ke arah Wulan yang lagi duduk sendiri, makan risol pakai gaya anggun kayak Putri Solo.

Saya mengangguk.

Saya hampir berdiri dan tiba-tiba HP saya bergetar. Notifikasi dari aplikasi rahasia buatan Pak Handoyo:
"PERGERAKAN TIDAK BIASA TERDETEKSI DI PASAR KODAM. SEGERA TINDAKAN."

Saya duduk lagi. Makan cilok dengan hati hampa.

Wulan melirik, kayak nunggu saya nyamperin.
Saya senyum kecil. Tapi di dalam hati, saya jerit
"MAAF, WULAN. KOTA INI BUTUH GUE DULU."


Malam itu saya pakai kostum baru.
Topeng menyala. Hoodie gelap. Saya lihat bayangan saya di kaca jendela gedung tinggi.

Saya bukan Cahyo si murid biasa.
Saya bukan Cahyo yang ditolak Evi sembilan kali.
Saya adalah... K-MAN, ahhh ngaco ngasih namanya!!

Dan misi malam ini menghadapi nenek-nenek mutan yang bisa melempar ember secepat peluru.



Other Stories
Way Back To Love

Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan  datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...

Hikayat Cinta

Irna tumbuh dalam keyakinan bahwa cinta adalah sesuatu yang harus ditemukan—pada seseora ...

Melupakan

Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...

Egler

Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...

Padang Kuyang

Warga desa yakin jika Mariam lah hantu kuyang yang selama ini mengganggu desa mereka. Bany ...

Kk

jjj ...

Download Titik & Koma