Kisah Cinta Super Hero

Reads
2.9K
Votes
0
Parts
22
Vote
Report
Kisah cinta super hero
Kisah Cinta Super Hero
Penulis Dwi Nurcahyono

Bab 6: Adik, Cemburu, Dan Hoodie Ungu

Bab 6: Adik, Cemburu, dan Hoodie Ungu

Pagi itu saya masuk sekolah dengan tenang. Langit cerah, ayam goreng di kantin baru diangkat, dan saya sudah siap menjalani hari sebagai murid biasa yang tidak harus menghindari lemparan ember mutan.

Tapi semua berubah. Waktu saya masuk gerbang dan lihat Sefia berdiri dengan seragam sekolah saya.

Iya.Seragam SMA Negeri 11 Surabaya. Bukan SMA elit tempat dia biasa belajar bareng anak-anak sultan yang pulang sekolah naik Alphard dan bahas saham di TikTok.

Sefia melambai. Hoodie pink-nya diselipin di tas. Rambut dikuncir dua.Manis, kalau kita bisa abaikan fakta bahwa dia pernah melempar rak piring pakai kekuatan pikiran.

“Hei Kak Yooo~!” katanya ceria, suara nyaringnya mengiris harga diri saya. Saya hampir jatuh dari sepeda.


Rupanya, Sefia pindah sekolah. Katanya bosan sama sekolah lama yang penuh drama. Katanya pengen “lebih deket sama lapangan.”
Tapi saya tahu. Lapangan yang dia maksud bukan lapangan upacara.

Saya tarik napas panjang.
Karena sejak saat itu… hidup sekolah saya resmi berubah.


Setiap istirahat, Sefia nempel kayak perangko.
Dia duduk di samping saya waktu saya makan gorengan. Dia ikut waktu saya nyuci tangan. Bahkan pas saya ke koperasi beli pensil, dia elus kepala saya dan bilang,
“Cie Kak Cahyo beli pensil, lucuuu~”

Saya nyaris pensiun dari kehidupan.

Teman-teman langsung ribut.
Rico: “Bro, kamu punya fans berat sekarang!”
Aryo: “Itu bukan fans, itu udah kayak adik tiri ngeyel.”
Dani: “Dia jual pensil juga gak?”

Tapi yang paling fatal… adalah reaksi cewek-cewek lain.


Wulan tiba-tiba jadi pendiam.
Biasanya nyapa saya dengan senyum, sekarang cuma senyum... kecut. Pas saya duduk di sebelahnya waktu jam olahraga, dia bilang,
“Kenapa gak duduk sama Sefia aja? Kan dia suka ngelus kepala kamu.”

Saya langsung gagal napas.

Dan Evi makin sering manggil saya,
“Cahyo, punya waktu bentar gak?”
“Cahyo, udah lihat tugas Biologi?”
“Cahyo, itu anak kelas 1 yang suka nempel kamu, siapa sih?”

Sampai akhirnya saya nyaris bilang, “Dia mutan, Vi. Bisa melempar lemari dengan pikiran. Tapi hatinya… lebih berat dari lemari itu sendiri.”


Dan di tengah kekacauan emosional itu. Malam datang. Dan mutan baru muncul.

Bentuknya makhluk tinggi besar, mirip manusia... tapi punya kepala ikan lele. Tangan bersisik. Mata merah. Napasnya… ngorok.

Pak Handoyo menyebutnya "Manusia Lele Positif.”
Mutasi akibat konsumsi ikan lele sungai yang tercemar.
(Mohon maaf buat semua pedagang pecel lele.)

Saya dan Sefia turun ke lokasi lapangan basket belakang pasar.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya…
Fredy ikut turun.



Fredy muncul di atas atap gedung dua lantai, pakai hoodie ungu metalik, topeng hitam polos, dan senapan sniper laser dari laboratorium Pak Handoyo.

“Posisi siap,” katanya lewat earpiece. Suaranya lembut... tapi berbahaya.

Saya dan Sefia mengendap.

“Aku ambil kanan, kamu kiri,” bisik saya.

Sefia nyengir. “Bukan ‘Kak Cahyo ambil kanan, aku ambil kiri’ gitu?”

Saya hampir nyumpel mulutnya pakai daun pisang.


Manusia Lele Positif ngeluarin suara aneh.
“Nggrrrhhkk... lelee... lelee...”
Lalu melempar gerobak tahu bulat.

Saya lompat, tangkis. Sefia dorong balik pakai telekinesis.

Tiba-tiba, suara Fredy:
“Target terkunci.”

“DORRR!!”

Tembakan laser membakar tali terpal yang dipegang makhluk itu.
Terpal jatuh, nutup kepalanya.

Saya lompat. Tendang.
Sefia dorong pakai tong sampah.
Fredy tembak satu kali lagi ke arah kaki mutan.

makhluk yang tiba-tiba loncat tinggi dan... ZZZZZZZZTTTT!

BWOOGH!!!
Lele humanoid itu nabrak warung mie ayam, bikin mangkok-mangkok beterbangan.

“ASTAGA DIA BISA LONCAT MACAM GORILA DISUNTIK MINYAK!” teriak Sefia.

Aku langsung nyalain kekuatan listrikku. Telapak tanganku menyala biru.

“Sini lo, Lele Gojek!”
CRACKK!
Kucorongkan listrik ke arahnya. Tapi kulitnya licin kayak habis dilap baby oil.

“Cahyo! Kumisnya! JANGAN DEKETIN!”
Kumisnya bergerak-gerak liar, ngebentuk huruf M kayak Mi instan. Satu kali gesek nyaris mengenai aku.
“INI LELE ATAU BOS MAFIA KAMPUNG?” aku teriak.


Fredy langsung nembak.
DOR!
Tepat di dada.
Makhluk itu terpental, tapi bangkit lagi dengan teriakan, “AKU TIDAK DIBAYAR MANDORRRR!”

Sefia ngedongak, matanya nyala.

“Sorry, Mas Lele! Ini buat pelampiasan kalau PMS!”
BRAAAKK!!
Dia telekinetis kulkas bekas dari TPS. Ngemplang kepala si Lele mutan.

Aku terus nyetrum.
Fredy nembak peluru bius satu demi satu.
Sefia teriak “NIH TAMBAH POMPA AIR, TAMBAH EMBER, TAMBAH TONG SAMPAH!”


Akhirnya si makhluk roboh. Kumisnya berkedut pelan. Nafasnya ngos-ngosan.

Sefia jalan pelan-pelan, ambil suntikan penyembuh dari tasnya.
“Semoga ini bisa netralisir mutasimu… dan dendammu sama mandormu.”

Makhluk itu menatap Sefia.
“Dia kabur… habis maksa kerja lembur…”

Kami terdiam.
Fredy lewat interkom:
“Kayaknya kita butuh serikat pekerja khusus mutan.”


Setelah itu, aku, Sefia, dan Fredy duduk di pinggir kali sambil makan gorengan.
Aku nyesek liat celana spandek hijauku sobek kena kumis.
“Dolce harus bertanggung jawab,” gumamku.

Sefia komentar “Kamu masih lebih mending. Aku abis dilempar sandal jepit, ember, tong gas, sama pecahan rak TV. ya aku balikin ke dia”

Fredy nambahin, “Aku sih cuma panik pas nembak kena antena rumah orang. Sekarang sinetron mereka ‘ngadat’.”

Kami tertawa bareng.

Terkadang, jadi superhero remaja memang penuh tantangan.
Tapi kalau bisa ditertawakan bersama… semua terasa lebih ringan.


Setelah itu kami duduk di atap.

Fredy turun dari posisinya. Buka topeng.
Dia senyum kecil ke saya.
“Sudah lama saya tidak main lapangan.”

Saya angguk. “Fredy... lo keren.”

Fredy angkat alis. “Saya tahu.”

Sefia tertawa. “Fredy kayak John Wick, tapi yang bisa bikin kopi enak.”

Kami bertiga duduk, langit tenang, dan kota kembali hening.

Tapi saya tahu…
besok pagi, sekolah akan kembali ribut.

Karena cinta segitiga (plus adik kelas cerewet) jauh lebih sulit dilawan daripada mutan berkepala lele.




Other Stories
Perahu Kertas

Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...

Misteri Kursi Goyang

Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...

Perpustakaan Berdarah

Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...

Pesan Dari Hati

Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Download Titik & Koma