Kisah Cinta Super Hero

Reads
2.9K
Votes
0
Parts
22
Vote
Report
Kisah cinta super hero
Kisah Cinta Super Hero
Penulis Dwi Nurcahyono

Bab 9 Wangi, Cantik, Dan Sedikit Beracun

Wangi, Cantik, dan Sedikit Beracun

Pagi itu, sekolah berasa kayak sinetron.
Langit cerah, burung berkicau, tukang parkir senyum, dan ada murid baru.

Guru BK masuk ke kelas saya dengan ekspresi serius, lalu berdiri di depan papan tulis.

“Anak-anak, ini murid pindahan dari kota sebelah. Namanya Maya.”
Dan begitu Maya masuk, Kelas langsung berubah jadi iklan parfum.

Rambut panjang. Kulit bening. Senyum tipis. Dan entah kenapa bau badannya kayak campuran melati, vanilla, dan sabun bayi.

Seketika itu juga, Rico lemas.
Aryo mendadak kaku.
Dani nyender ke dinding sambil bilang, “Aku siap menikah.”

Bahkan guru fisika yang biasanya galak, tiba-tiba menawarkan Maya duduk di meja guru.

Saya menelan ludah. Ada yang gak beres.

Maya duduk di kursi belakang.
Tapi tiap dia lewat, anak-anak cowok jadi kayak sapi kena hipnotis. dengan moncong penuh liur.

Anak anak cowok mulai komentar.
“Wangi banget ya…”
“aku siap ditampar demi dia.”
“Dia kentut aja gue hirup, asli.”

Saya mulai panik. Saya memang lugu. Tapi hidung saya bukan pemula. kemampuan baruku bisa menganalisa hal yang janggal.

Saya noleh ke arah luar kelas. di sana terlihat Sefia juga lagi ngendus-ngendus kayak detektif penciuman.

Dia WhatsApp ke saya,

“Kak... ini aroma bukan aroma biasa.”
“Ini... feromon sintetis. Mutasi.”

Saya nengok lagi ke Maya.
Dia ngelirik. Senyum.
Dan... bau bunganya nambah satu tingkat.



Jam istirahat, sekolah udah kayak audisi jadi pacar Maya.
Ada yang nyanyi di depan kelas.
Ada yang ngasih surat cinta isi puisi ala Dilan.
Bahkan ada yang nyamar jadi cleaning service biar bisa pel ruangan tempat Maya duduk.

Rico bawa bunga.
Aryo bawa gitar.
Dani bawa... talenan.
“Buat Maya…” katanya polos. “Biar dia potong sayur enak.”
Saya tahan tawa. Tapi dalam hati deg-degan.


Di kantin, saya dan Sefia diskusi sambil makan cilok.
“Kak, dia bisa memancarkan aroma tertentu untuk mempengaruhi emosi manusia.”

“Efeknya... mirip hipnotis ringan.”

“Kalau gitu… dia mutan?”

“Besar kemungkinan, iya.”

Saya gigit cilok.
Pedas.
Lebih pedas dari situasi ini.

“Dan kenapa dia masuk sekolah kita?” tanya saya.
Sefia melipat tangan.
“Entah. Tapi kayaknya bukan buat ikut olimpiade matematika”


Malamnya saya cek grup super.
Pak Handoyo belum kasih perintah.
Tapi saya mulai siaga.

Saya bukan takut Maya.
Tapi kalau Rico, Aryo, dan Dani semua jadi korban cinta...
siapa yang bakal nolong saya nanti kalau ada tawuran?
Saya ngelirik hoodie hijau saya yang tergantung.
Dan di luar... angin berhembus aneh.
Saya tahu satu hal.

Masalah baru sudah datang.
Dan dia... sangat wangi.

Wangi yang Mengganggu Hati

Besoknya, sekolah mendadak jadi... aneh.
Siswa-siswa cowok mendadak jadi romantis.
Guru matematika senyum-senyum sendiri.
Penjual cilok di depan gerbang nanya, “Mbak yang harum kayak bunga mawar itu siapa, ya?”

Dan saat aku lewat koridor kelas 2B...
Seluruh cowok nempel di jendela.
Kayak nonton drama Korea, tapi live action.

Yang mereka lihat?

Maya.

Murid baru. Duduk kalem, rambut rapi, wajah teduh.
Dan yang pasti... bau tubuhnya kayak toko parfum masuk surga.
Aku nyolek Sefia yang jalan di sampingku.
“Kamu nyium wangi nggak?”

“Nyium apaan?”

“Bau ini. Serius. Ini tuh kayak... campuran antara wangi mawar, vanila, dan kue Lebaran.”

Sefia langsung noleh ke arah kelas Maya.
“Cahyo,” katanya dengan nada waspada.
“Itu mutasi. Parah. Ini bukan parfum. Ini sihir.”

Aku melongo.
“Jadi kamu juga ngerasa?”

“Jelas. Aku aja tadi hampir pengen peluk cleaning service sekolah.”

Kami nunggu jam istirahat.
Lalu jalan ke bangku taman belakang sekolah, tempat Maya biasa duduk sendirian sambil makan bekal.

“Permisi,” aku sapa.
Maya noleh. Senyum.
Manis. Dan… ya, wangi.

Sefia langsung nembak, “kamu mutan, kan?”

Maya diam sebentar. Lalu angguk.
“kamu juga, ya?”

Aku dan Sefia saling pandang.
Wah, ini nih momen awkward antar mutan.

“Apa tujuan kamu ?” tanya Sefia to the point.
“Wangimu bikin satu sekolah jadi... delusi cinta.”

Maya menghela napas.
“Aku nggak bermaksud jahat. Ini... kemampuan yang muncul sendiri. Awalnya aku pikir aku bisa ngendaliin. Tapi ternyata... kalau aku lagi emosional, aromanya keluar sendiri.”

“Emosional karena apa?” tanyaku pelan.

Maya menunduk.
“Karena lihat kalian. Cahyo... kamu perhatian ke banyak orang. Dan kamu dekat sama Sefia, Wulan, Evi...aku ngerasa... cemburu. Tapi juga kagum.”

Sefia mendelik ke arahku.
“Cahyo. Jangan GR.”

Aku buru-buru angkat tangan.
“Demi listrik yang ada di sarung tangan, aku beneran nggak ngapa-ngapain.”

Maya senyum tipis.
“Aku nggak mau nyakitin siapa-siapa. Aku cuma... pengen ikut berguna. Kalau kamu percaya sama aku.”

Kami bertiga saling pandang.
Tiga mutan.
Tiga remaja.
Tiga hati yang sebenarnya... juga sama-sama bingung dengan dunia.

“Aku percaya kamu,” kataku akhirnya.
“Tapi tolong, jangan bikin satu sekolah ngelamar kamu pakai kartu pelajar”

Kami bertiga ketawa.
Dan mulai cerita panjang lebar tentang kekuatan, misi, dan... kegilaan menjadi remaja berkekuatan super di sekolah biasa.

Cinta di Tengah Asap Netralisasi

Pagi itu saya datang ke sekolah dengan niat suci,
Sarapan di kantin, gak mikirin mutan, dan ngisi LKS yang udah dua minggu kosong.

Tapi rencana tinggal rencana.
Karena pagi itu... Wulan nunggu saya di taman sekolah.

Dia berdiri di bawah pohon ketapang, rambut dikuncir, bawa kotak bekal warna biru pastel.

“Cahyo…” katanya sambil senyum manis.
“Aku tahu kamu sibuk, dan kamu suka galau… tapi aku suka kamu. Dari dulu. Bisa gak... kita lebih dari teman?”

Saya beku. Lidah saya mendadak kayak akar pohon.
Tapi akhirnya saya jawab...

“Wulan… iya. Aku juga suka kamu. Tapi aku… aku banyak rahasia.” kataku
“Aku bukan cowok biasa.”

Wulan ketawa kecil.
“Iya, aku tahu. Kamu agak aneh. Tapi aku suka yang aneh.”

Hati saya langsung melting kayak lem di matahari.
Saya senyum.
Kami duduk bareng.
Saya pegang tangan Wulan.
Ada kupu-kupu di perut saya—dan bukan karena belum sarapan.

TAPI...
Siang harinya, saya lagi mau ke kelas...
Evi narik lengan saya ke belakang lab komputer.
“Cahyo… aku gak bisa bohong lagi.”

Sayakaget "Apa, Vi?”

“Aku… juga suka kamu.
Aku tahu kamu suka Wulan, dan mungkin Sefia juga deket.
Tapi aku juga ngerasa… ada yang beda tiap deket kamu.”
“Kalau kamu milih aku… aku bakal nerima semua anehnya kamu.”

Jantung saya berubah jadi drum. saya makin puyeng. saya gak bisa jawab. otak saya nge-lag.lebih parah lagi Maya tiba-tiba muncul di lorong.

“Cahyo…”
“Kamu bebas nanti malam?”
ASTAGA.
Ini bukan SMA.
Ini episode final The Bachelor.


Keesokan harinya, Rico diem-diem unfollow saya di IG.
Aryo mulai senggol bahu saya tiap lewat.
Dani nanya, “Yooo, kamu pakai ilmu pelet atau susuk?”

Saya ketawa canggung.
Tapi mereka kelihatan… sirik.
Sefia langsung nangkring di sebelah saya waktu istirahat.
“Kak, kamu harus fokus. Maya itu gak beres.”
“Kalau kamu gak hati-hati, kamu bisa kehilangan semua teman cewek... dan cowok juga.”

Saya mikir sejenak "Aku juga gak ngerti. Aku cuma pengen hidup normal.”

“Kamu mutan katak yang jadi manusia setrum berkedok hoodie.
Normal udah lama lewat, Kak.” komentar Sefia


Sore itu saya datang ke markas rahasia.
Pak Handoyo lagi duduk di ruang lab pakai baju lab dan... sandal hotel.

“Cahyo. Kamu datang tepat waktu.”
Saya lihat ke meja.
Ada semacam tabung besar warna kuning.
“Ini apa, Kek?”
“Ini... bom asap penyegar.”
Saya terkejut “Serius?”
“Serius. Asapnya mengandung senyawa penetral limbah mutasi.
Kalau disebarkan ke udara, bisa mengurangi efek mutasi di seluruh kota.”

Fredy muncul dari belakang pintu.
“Tapi kita belum tahu... apa semua mutan akan hilang efeknya.
Atau malah bermutasi lebih parah.”
Saya nelan ludah.
“Jadi... ini semacam langkah terakhir?”
“Bukan. Ini langkah... awal dari krisis baru.”


Malamnya, saya duduk di atap gedung.
Liat lampu-lampu kota yang kelihatan damai.

Di bawah, orang pacaran.
Di atas, saya dikejar tiga cewek.
Dan di langit... ada bom asap raksasa siap meledak.
Saya menghela napas.

Cinta itu rumit.
Tapi mutasi... lebih rumit


Saya pikir malam itu akan tenang.
Pikir saya, paling mentok diserang mutan kepala jendela atau dilempar bakso raksasa.
Ternyata...

Yang datang: Maya.
Sendirian.
Di atap tempat saya biasa duduk merenungi nasib.
Entah bagaimana ia bisa sampai ke atap. kekuatan dia adalah aromaterapi, bukan loncat kodok atau telekinetis yang memungkinkan mengakses tempat tinggi.

“Cahyo… aku tahu kamu bukan remaja biasa.”
“Aku juga bukan.”
Saya diam.
Hidung saya sudah siap kalau-kalau dia ngeluarin jurus aroma penghipnotis.

“Aku diutus.
Oleh seseorang.
Untuk memastikan bom asap itu gak pernah meledak.”
lho kok tahu?
“Karena... kalau meledak, semua mutan akan kehilangan kekuatan. Termasuk aku. Termasuk… kamu.”

Saya tercekat.
Saya tahu Maya aneh. Tapi ternyata dia punya misi pribadi.

“Siapa yang ngutus kamu?” tanya saya.

Dia mendekat.
Wangi melati makin kuat. Tapi saya tahan.
Saya yang sekarang bisa bernafas melalui kulit mirip katak. atau bisa menahan nafas berjam jam dengan menyimpan udara di lambung.

“Namanya masih rahasia. Tapi dia… mantan mitra kakekmu, Handoyo.”
Oke.
Sekarang mulai telenovela sci-fi.


Di waktu bersamaan...
aku mendengar dari pemancar jarak jauh.
[Kakek! Bomnya aktif! Padahal belum waktunya!]
[Fredy! Kita butuh protokol pembatalan!]
suara kepanikkan di lab Pak Handoyo



Kembali ke atap.
Maya mendekat.

“Kalau kamu gabung ke pihakku, aku bisa bantu kamu… hidup normal lagi.
Kita bisa kabur. Meninggalkan semua ini. Menjadi manusia biasa.”
Saya tatap wajah Maya.
Indah.
Tapi... bukan Wulan.
Bukan Evi.
Bukan Sefia.

Dan yang terpenting bukan jalan saya.

“Maaf, Maya.
Aku gak jadi kayak gini buat kabur.
Aku jadi kayak gini... supaya orang lain bisa hidup tenang.”

Maya mendesah.
“Sayang sekali.”
BOOM.

Dari arah selatan kota, asap kuning tebal membumbung tinggi.
Bom aktif.

Saya langsung pakai masker yang ada di dalam hoodie.
Maya?
Dia berbalik dan loncat ke atap lain seperti ninja wangi.

Saya dapat sinyal dari Sefia.

“Kak! Aku di utara kota. Asap mulai menyebar.
Kalau ini benar-benar menyebar semua...
kita berdua bakal kehilangan kekuatan dalam waktu 24 jam.”

Saya diam sejenak.

"Gak apa-apa, Fi.”
“Kalau itu bikin kota damai... aku rela.”
“Aku juga, Kak...”
“Tapi boleh gak... sebelum itu, kita makan es krim dulu?”
Saya senyum.
“Deal.”


Malam itu, kota dipenuhi kabut kuning samar.
Orang-orang mulai merasa "lebih enak nafasnya" katanya.

Mutan-mutan yang berkeliaran mulai pingsan.
Sebagian kabur.
Sebagian... jadi biasa.

Cahaya lampu mulai kembali stabil.
Suara ambulan gak seramai kemarin.
Dan saya tahu... babak baru akan segera dimulai.
.







Other Stories
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...

Perpustakaan Berdarah

Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...

Sebelum Ya

Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...

Adam & Hawa

Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...

Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

Diary Anak Pertama

Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...

Download Titik & Koma