Bab 10 Serum, Mantan, Dan Masa Lalu Yang Beracun
Bab 10 Serum, Mantan, dan Masa Lalu yang Beracun
Dua hari setelah ledakan bom asap. Kota kami mendadak sunyi senyap kayak habis dibacain ayat tidur. kekacauan yang selama ini muncul seolah-olah menjadi mode senyap.
Gak ada mutan. Gak ada baku hantam..Gak ada ember dilempar secepat peluru. Gak ada mahkluk aneh yang merusuh kota.
Saya pun jadi anak sekolah biasa lagi. Bangun pagi.
Sarapan. Lupa PR. Ditegur bu guru karena sepatu bolong.
Tapi yang beda. Saya lemas. saat aku telefin Sefia juga merasakan hal yang sama. seakan ada yang hilang dari tubuhnya.
Dan hoodie kami. sekarang cuma jadi jaket biasa. meskipun dari bahan yang canggih. Tanpa superhero didalamnya tidak ada yang spesial pada Hoodie kami.
“Kak, aku gak bisa ngangkat lemari lagi.” kata Sefia.
“Aku tadi dorong motor mogok... eh, yang jalan malah aku, motornya diem.”Saya ngangguk pelan.
Kami berdua duduk di tangga belakang sekolah. Pas pulang sekolah. murid lain banyak yang sudah pulang. sebagian ada yang masih ekstrakurikuler atau sekedar main basket di lapangan.
Saya minum es teh. Sefia makan ciki rasa jagung bakar.
“Rasanya kayak... hidup kita balik ke normal.” katanya. “Dan... aku bingung. Aku senang, tapi juga… hampa.”
Saya setuju.
Tapi belum sempat saya jawab, Fredy datang.
Dengan mobil listrik mini bertuliskan "HANDOYO EXPRESS".
“Mas Cahyo. Nona Sefia. Kakek minta ke markas. Katanya... penting.”
Di markas, kami disambut Pak Handoyo dengan... jas lab, celana batik, dan sarung tangan oven.
“Anak-anakku. Aku punya sesuatu untuk kalian.”
Dia membuka brankas.
Keluar dua botol kecil. Cairan warna biru mengilap.
“Ini... serum pemulih mutasi.
Hasil modifikasi dari serum kodok awal, tapi lebih stabil.
Kalian bisa dapat kembali kekuatan kalian... kalau kalian memang siap.”
Saya dan Sefia saling pandang.
“Kek, serius? Kenapa gak dari kemarin-kemarin?”
“Karena waktu itu kalian perlu tahu... hidup tanpa kekuatan itu seperti apa.
Supaya ketika memilih kembali, kalian gak setengah hati.”
Saya ngangguk.
Sefia senyum kecil.
“Suntikannya di mana, Kek?”
“Pantat.”
Saya langsung pucat.
Sefia ketawa puas.
Tiga jam kemudian, kekuatan kami kembali. Saya bisa lompat ke atap tiga lantai lagi. Sefia bisa ngangkat kulkas pakai telekinesis sambil nyisir rambut.
Tapi...
Masalah baru muncul.
Maya.
Tiba-tiba muncul di markas.
Mukanya panik.
“Kalian... harus tahu sesuatu.”
Kami semua menatapnya.
“Aku... sempat kehilangan kekuatan. Tapi sekarang kembali.
Dan bukan cuma aku. Ada mutan-mutan baru... lebih kuat, lebih brutal.
Mereka bukan hasil dari limbah. Tapi dari… suntikan serum.”
Pak Handoyo langsung tegak.
“Siapa yang suntik mereka?”
“Ibuku.”
Markas langsung sunyi.
“Ibuku... Profesor Ratna.
Dulu dia pacar Bapak ini...” sambil nunjuk ke Pak Handoyo.
Saya melongo
Sefia melonggo kuadrat.
Fredy menangis diam-diam sambil goreng tahu
Maya lanjut.
“Setelah istri Pak Handoyo meninggal mereka sempat dekat.
Tapi ibuku putusin beliau... setelah tahu sedang hamil—aku.”
Pak Handoyo duduk lemas.
“Dia... tak pernah bilang soal kamu.”
“Karena dia marah. Dan dia percaya dia lebih pantas memimpin riset sains daripada Bapak.”
“Sekarang, dia sedang menyuntik manusia sehat dengan serum modifikasinya sendiri.
Mereka jadi mutan generasi baru. Gak bisa dinetralisir dengan bom asap.”
Saya "Jadi... ini semua belum selesai?”
Maya menggeleng.
“Ini baru awal. Ibuku bilang...
‘Kalau dunia ingin diselamatkan, harus dengan evolusi yang dipaksa.’”
Saya dan Sefia menatap Pak Handoyo.
Dia berdiri perlahan, menatap kami.
“Kalau begitu... kita harus siap.
Dunia sedang berubah.
Dan kita... harus melindunginya.”
Fredy menyalakan lampu markas.
Dolce muncul dari belakang tirai dengan desain hoodie baru di tangannya.
“Aku tahu ini akan terjadi.
Waktunya upgrade.”
Saya tersenyum.
Kembali jadi superhero.
Bersama Sefia. Bersama Maya.
Dan mungkin... bersama mantan dari masa lalu.
Tim Ajaib Pak Handoyo dan Rahasia Desa Ninja
Malam itu, langit cerah. Bulan purnama menggantung santai di atas atap rumah Pak Handoyo, seperti lampu tidur Tuhan yang nyala mode hemat energi.
Aku, Sefia, dan Maya duduk di atas genteng rumah Pak Handoyo, sambil ngemil kacang rebus dan ngeteh.
Kegiatan superhero memang tidak selalu soal menyelamatkan dunia. Kadang... soal mencari jawaban di atas genteng sambil ditiup angin malam.
Aku melirik Maya yang duduk bersila, wajahnya tenang, senyumnya selalu lembut kayak... senyum tukang tambal ban waktu sepi pelanggan.
Tapi malam itu, aku serius.
"Maya... boleh tanya satu hal?"
Maya mengangguk.
"Saya curiga kamu punya kekuatan lain. Maksud saya, kamu bukan cuma cewek wangi yang bikin satu sekolah susah tidur. Kamu geraknya terlalu cepat waktu di pertempuran. kamu lompat kayak... kucing dikasih sarden."
Sefia nyeletuk sambil ngunyah kacang.
"Setuju. Dan cara kamu ngilang waktu kemarin... itu bukan skill orang wangi biasa."
Maya tertawa kecil. Lalu diam. Lalu pelan-pelan, dia berkata.
"Sebenernya... waktu bayi, aku pernah dititipin ibuku di satu tempat... desa ninja. Di Jepang."
Aku dan Sefia langsung menatap Maya seperti dia habis ngaku pernah jadi backing vocal Upin Ipin.
"Serius?" tanyaku.
Maya mengangguk.
"Desa kecil di pegunungan. Tempat para ninja tua pensiun dan ngasuh bayi-bayi yatim piatu. Di sana... Aku belajar bertahan hidup, lempar shuriken, ngilang di asap, dan buka tutup galon pakai jari kelingking."
"Pantes," gumam Sefia. "Kamu waktu lari itu bukan lari biasa. Itu kayak Naruto level unjuk gigi."
Aku manggut-manggut.
Lalu aku sadar. Ini tim Pak Handoyo makin absurd.
Sefia cucu jenius, cerewet, bisa telekinetis, IQ-nya mungkin lebih tinggi dari tagihan listrik rumahku.
Fredy sniper pendiam, low profile, tapi kalau nembak... bisa bikin lalat berhenti mikir hidup.
Dolce Waria tukang desain kostum teknologi tinggi, suka drama, hoodie-nya bisa lebih mahal dari motor bebek.
Pak Handoyo ilmuwan tua, kombinasi Einstein dan dukun lokal.
Maya cewek wangi yang ternyata ninja... NINJA!
Dan Aku..
Cahyo superhero yang kostumnya menyiksa selangkangan, selalu di tengah masalah, dan belum bisa bedain kode cewek suka beneran atau cuma nyari contekan.
Aku mendesah pelan.
“Kenapa aku merasa jadi karakter yang ditulis terakhir waktu Tuhan bikin tim ini?”
Sefia ngetawain. Maya cuma senyum dan megang bahuku.
“Tapi kamu penting, Cahyo. Tanpa kamu, nggak ada yang jadi pengikat tim ini.” kata Maya menyemangatiku.
Aku senyum.
Tapi jujur, kadang pengikat itu juga pengin... jadi yang bersinar. Bukan cuma lakon bego yang selalu jadi korban cinta dan siksaan spandek.
Kami duduk bertiga, diam menatap bintang. dan entah kenapa... di tengah semua kekonyolan ini, aku merasa...
Tim ini—aneh, absurd, tapi paling manusiawi yang pernah ada
SMA dalam Genggaman Mutan, dan Cinta dalam Genggaman Maya
Kata orang, masa SMA adalah masa paling indah dalam hidup.
Mungkin benar. Kalau kamu bukan anak SMA yang sekolahnya diserbu mutan super evolusi generasi kedua.
Hari itu saya lagi asyik ngisi LKS Matematika yang saya beli tapi baru saya sentuh halaman pertama (karena halaman dua ada rumus-rumus yang kelihatan jahat), ketika…
BRAAAKKKK!!!
Langit-langit ruang kelas pecah. Bukan karena meteor. Bukan juga karena Aryo yang lompat-lompat latihan silat. Tapi karena mutan dengan sayap api, kulit sekeras baja, dan rambut berdiri kayak kesetrum charger KW.
"CIUM AROMA KEMENANGAN KAMI!!" teriaknya dan terbang keluar kelas.
Saya refleks ngumpet di bawah meja.
Aryo langsung lempar kursi.
Dani lempar tas isinya tahu goreng.
Sekolah mendadak jadi zona perang. Dua Mutan imasuk dari segala arah. Guru-guru lari ke ruang BK (tempat paling aman karena siapa juga yang mau ke sana). Teman-teman saya berusaha bertahan.
Saya hampir lompat nyelamatin sekolah pakai hoodie hijau saya.
tapi.
Maya muncul Dengan Hoodie putih buatan Dolce. Topengnya elegan. Aromanya?
Campuran melati, vanilla, dan minyak kayu putih—tapi versi mewah.
"Tenang. Aku yang handle."
"WANGI CINTA!" Teriaknya.
Saya nggak tahu kenapa Maya harus ngasih nama serangannya kayak merek parfum MLM. Tapi begitu dia mengangkat tangannya dan melepaskan kabut aroma dari hoodie-nya...
Tiga makhluk mendarat di lapangan basket sekolah.
1. Mutan Sayap Api — bentuknya kayak elang raksasa, tapi nyebelin. Setiap kali dia mengepak, dia melontarkan bulu api yang bisa melelehkan ember plastik lima detik.
2. Mutan Akar Pohon — badannya dari akar dan batang. Jalannya ngesot, tapi cepet banget. Suka narik murid pakai akar kayak penagih utang
3. Mutan Salju — wajahnya dingin, literally. Napasnya aja bisa bikin dispenser ngambek. Setiap ngangkat tangan, kelas jadi freezer.
Alarm sekolah bunyi. Murid-murid panik.
Sementara aku dan Sefia langsung lari ke lorong. Aku pencet tombol HandoyoNet, aktifkan mode pengawasan.
Topeng langsung connect ke server Pak Handoyo. Di layar "Tiga mutan terdeteksi. Koordinasi darurat dimulai.”
BRAK! Mutan akar menjebol tembok kelas 10-B. Langsung ngambil dua murid.
BYUR! Mutan salju nyemprot lorong. Air dispenser beku. Kentang goreng di kantin berubah es krim.
FIUSSH! Mutan api melempar bulu panas ke papan pengumuman. Semua pengumuman lomba ikut gosong.
Sefia langsung pakai kekuatannya melempar tiang bendera ke arah mutan akar. Mutannya nyangkut.
Aku nyamber ember, kompor, dan kabel sound system, ngebantuin narik murid-murid dari akar.
Lalu…
Maya muncul.
Langkahnya tenang, pakai hoodie putih dari Dolce.
Dia berdiri di tengah aula, angin meniup rambutnya kayak iklan shampoo.
[Cahyo, tahan dulu. Aku yang atur emosi mereka.]
Dia mengeluarkan kekuatan aroma dari tubuhnya.
Wuuussshhh…
Sekolah jadi harum.
Semua murid yang tadi panik... mendadak berubah.
Matanya berbinar. Mereka merasa kuat. Merasa bisa menghadapi segalanya.
“AKU NGERASA KUAT!” teriak Herman, murid yang biasa pingsan kalau lari 50 meter.
“AKU BISA MELAWAN!” teriak Bu Jum, guru sejarah.
Aryo yang biasanya galak, mendadak jadi semangat dan berkata "AYO KITA BELA SEKOLAH INI!"
Dani ikut "AKU... AKU MAU IKUT! SELAMATKAN... KANTIN!"
Rico juga "AKU RELA DIPUTUSIN 10 CEWEK DEMI INI!"
Saya terharu.
Tapi juga ngeri, karena semua anak kayak kesurupan semangat.Dan semua liat ke Maya kayak liat bidadari Shopee Live.
Para murid yang terhipnotis aroma Maya menyerbu ke lapangan. Mutan salju dan mutan api malah saling ribut.
“Jangan bekuin bulu gue, bro!” teriak mutan api.
“Jangan bakar salju gue, nyebelin!” teriak mutan salju.
Mereka malah pukul-pukulan sendiri.
Seluruh sekolah menyerbu mereka kayak adegan film zombie kebalik. Sementara Maya menyelinap dan menghajar mutan akar dengan kecepatan ninja.
Dia lompat ke tembok, lalu ke kepala mutan, dan jleb! menanam bom aroma di dada mutan akar.
BOOM!
Akar tercerai berai. Murid-murid bebas.
Aku dan Sefia sibuk ngurusin evakuasi. Bikin perisai dari meja, lemparin kursi, dan bahkan aku pake sendal Crocs sebagai senjata.
Sefia masih sambil marah-marah.
“Ini makhluk mutan atau kontestan Indonesian Idol kok banyak gaya?!”
Akhirnya...
Semua mutan tumbang.
Sekolah aman.
Dan Maya berdiri di tengah lapangan, tangannya terbuka, lalu dengan satu helaan napas.
Wussshhh...
Aroma terhirup balik oleh dirinya sendiri. Efek hipnotis menghilang.
Para murid balik ke kondisi normal... meskipun ada yang masih gaya kayak superhero selama 5 menit karena ke-suggest.
Aku ngelus dada.
“Makasih, Maya…”
Dia cuma senyum sambil bilang.
“Kadang... cinta memang bikin orang kuat. Tapi hipnotis juga bisa bantu kalau darurat.”
Aku... nggak tahu harus senyum atau panik.
Pertarungan berlangsung 40 menit.
Atau kalau menurut jadwal sekolah, pas banget sesi pelajaran Sejarah sampai jam istirahat.
Dengan semangat aroma terapi Maya, satu sekolah berhasil bantu ngalahin para mutan.
Sekolah selamat.
Tapi… bukan berarti nggak ada kerusakan.
Setelah pertempuran, kami semua duduk di belakang sekolah.
Sefia duduk di sebelah saya, Maya di sebelah lainnya.
Dua-duanya... mulai tegang.
Sefia nyerocos duluan.
“Kamu makin deket ya sama Maya? Kamu lupa siapa yang pertama nemenin kamu lawan ember peluru?”
Maya kalem, tapi... tajem.
“Aku juga gak minta jadi mutan. Tapi kalau ini cara aku bantu Cahyo, aku akan lakukan. Dan... mungkin... aku juga mulai suka sama dia.”
Saya beku
Sefia panas
Maya berbunga bunga tapi ada durinya
Mereka mulai saling tatap.
Saya mulai doa diam-diam semoga meteor jatuh dan saya bisa kabur atau pura-pura pingsan.
Tapi suasana tegang itu pecah… karena Rico, Aryo, dan Dani datang bawa es krim dan semangka.
“Eh, bro. liat cewek-cewek sekolah? Mereka semua naksir kamu sekarang!” kata Rico.
“Kayaknya karena aroma Maya tadi...” pikirku
“GILA BRO. hari ini seru banget” seru Aryo.
"Ini sekolah kita ada apa ya? amburadul banget" Dani masih nggak ngeh!!
Saya dan Maya lalu ke markas.
Ketemu Pak Handoyo.
“Pak. Bisa gak buat penawar aroma itu? Biar anak-anak sekolah balik normal.”
"Hmm… bisa. Tapi efeknya akan bikin semua hilang ingatan tentang peristiwa tadi'
Saya mikir.
Terus ngangguk.
“Gak papa, Pak. "
Pak Handoyo senyum.
“Kamu mirip ayahmu dulu.”
Saya terkejut “Saya belum pernah ketemu ayah saya, Pak.”
“Oh. Yaudah abaikan yang tadi.”
Beberapa jam kemudian, Pak Handoyo semprotkan cairan penetral ke seluruh sekolah. lewat drone.
Besoknya, suasana sekolah balik normal.
Aryo balik jadi galak.
Dani balik lambat.
Rico... balik ke 3 cewek lamanya.
Dan saya?
Saya kira Maya akan marah karena pengaruh aromanya saya netralisir.
Tapi...
“Cahyo..
“Kalau perasaan ini bisa muncul tanpa aroma... mungkin aku memang beneran cinta kamu.
Aku gak apa-apa jadi yang kedua. Kalau... memang kamu udah milih yang pertama.”
Saya bingung.
Siapa yang pertama?
Sefia?
Wulan?
Evi?
Saya ngelus kepala.
Capek, Bro. Lebih capek dari ngelawan mutan.
Other Stories
Sinopsis
hdhjjfdseetyyygfd ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...