Bab 14 Lendir, Kabar Penculikan Dan Mutan Baru
Pagi itu di ruang latihan, aku pikir kami akan mulai dengan senam ringan atau latihan respon cepat. Ternyata tidak. Pak Handoyo sudah berdiri di tengah ruangan dengan ekspresi serius dan seekor kodok hijau duduk tenang di atas alas yoga.
“Pak, ini latihan ninja, superhero... atau pawang amfibi?”
Pak Handoyo hanya menunjuk ke Wulan.
“Hari ini, kamu belajar kemampuan penyembuhan mutanmu.”
Wulan menelan ludah. “Dengan... menginjak kodok?”
Pak Handoyo. “Tenang. Kodok ini sudah sering jadi relawan. Namanya Supriyadi.”
“Pak... itu kayak nama pejuang.” kataku
“Betul. Karena dia juga pejuang. Pejuang ketahanan tubuh.”
Pak Handoyo memberi instruksi.
“Wulan, coba injak dengan kaki biasa, tanpa lendir dulu.”
Wulan pelan-pelan injak si Supriyadi.
PRUUT.
Kodoknya mencret.
Wulan langsung panik. “PAK! INI UJI COBA ATAU PENYIKSAAN?”
Pak Handoyo kalem. “Tenang. Itu artinya organ pencernaannya aktif. Tapi belum sembuh.”
Aku “Logikanya aneh, tapi ok.”
Lalu Wulan aktifkan lendir penyembuh dari telapak kakinya. Warna lendirnya oranye kehijauan.
“Maaf, Supriyadi…”
PLAK.
Kaki Wulan menempel di punggung kodok.
Kodok itu langsung berdiri. Melompat ceria. Bahkan bersiul.
“Tadi dia kayaknya mau mati, sekarang malah beatbox.” Aku menimpali.
Pak Handoyo senyum penuh misteri.
“Sekarang, injak Cahyo. Dia butuh uji coba.”
Giliran Aku? No, Thanks. Aku langsung protes.
“Pak, saya sehat, bahagia, tidak mencret. Nggak usah diinjak-injak juga!”
“Pak, kalau nggak ada luka gimana?” Wulan juga panik. Disuruh nginjak aku.
Pak Handoyo nyengir, “Coba aja. Mungkin hatinya yang perlu disembuhkan.”
“WOY!” Aku protes.
Eksperimen Sefia
Sefia masuk dengan santai, pakai sarung tangan putih.
“Coba aku bantu. Lendirmu bisa dikonversi jadi spray lewat sarung tanganmu.”
Dia arahkan tangan ke Fredy, yang lagi pilek dan makan keripik.
PSHHHHHTTT!!
Fredy kejang dikit, trus...
“Eh... pilekku ilang?”
Dia tiup hidung.
“Woy! Beneran sembuh! Gue bisa nyium aroma mie rebus lagi!!”
Kabar Buruk Datang
Di tengah keriuhan eksperimen lendir, ponselku bergetar.
Panggilan dari Rico.
“Yoo... Cahyo. Kacau bro. Ada kabar buruk.”
Aku berdiri tegak. “Kenapa?”
“Kelompok topeng parkour itu... kabur dari kantor polisi.”
“APA?!”
“Dan... mereka nyulik Evi. Kayaknya karena waktu itu dia yang bantu nganterin mereka ke kantor polisi.”
Seketika ruangan jadi senyap.
Wulan mengulang “Evi... diculik?”
Sefia sudah mengaktifkan sarung tangan dan hoodienya.
Maya keluar dari dapur sambil gigit tahu isi “Oke. Siapa yang kita hajar?”
Pak Handoyo melirik ke arah kami semua.
“Saatnya... operasi penyelamatan dimulai.”
Aku menarik napas panjang.
Dalam hati, cuma bisa bilang:
"Kelompok topeng... kalian nyentuh orang yang salah."
Jejak Bagas dan Cheetah Hitam
Malam itu, semua terasa hening di luar. Tapi di ruang kontrol rahasia milik Pak Handoyo, suasananya tegang seperti perut sebelum ujian Matematika.
Aku, Sefia, Maya, Wulan, dan Fredy berdiri di belakang Dolce yang duduk menghadap 12 layar monitor, jari-jarinya menari lincah seperti DJ remix.
"Drone aktif. Target terkunci. Evi terdeteksi."
Layar memperbesar citra drone dan deg. Kami melihat Evi, diikat di kursi logam dalam sebuah bangunan tua, matanya tertutup, wajahnya pucat.
"Kita mulai," ucap Pak Handoyo.
"Misi penyelamatan. Kalian hati-hati. Aku dan Dolce pantau dari sini."
Fredy menyetir mobil seperti supir angkot dikejar razia. Setibanya di lokasi, drone-drone mini seperti kawanan capung digital berputar di atas bangunan.
Aku, Sefia, Maya, dan Wulan menyusup lewat pintu belakang. Dan boom, alarm senyap dalam topeng kami menyala.
[Mereka sudah tahu kita datang,] ucap Sefia.
Muncullah lima siluet bertopeng. Aku langsung mengenali mereka.
Topeng Badut meluncur ke arah kami dengan sepatu roketnya. Tendangannya hampir kena Wulan, tapi dia mengaktifkan gelombang kejut dari sepatunya, memantul ke atas dan meninju Topeng Badut hingga mental ke tembok.
Topeng Gorila maju dengan pukulan menggelegar, namun dihentikan perisai telekinetis Sefia. Maya berputar, membacok dengan pedang plasmanya, tapi terhalang oleh armor tangguh si Gorila.
Topeng Ghostface mengayun cambuk listrik ke arahku. Aku tangkis dengan bola listrik sambil teriak
"Main cambuk tuh di kebun tebu, Bang!"
Topeng Darth Vader menerbangkan dua perisai segitiganya, mengarah ke Maya. Tapi Maya dengan sigap melompat mundur dan melempar parfum peledaknya. Boom! Perisai terpental dan meledak ke udara.
Topeng Kantung McDonald's menembakkan cairan asamnya, dan berhasil melelehkan pagar logam. Aku melompat, melempar petir ke ranselnya, hingga selangnya putus.
Munculnya Sosok Misterius
Di tengah kekacauan itu, tiba-tiba kamera drone menangkap sosok setengah manusia setengah cheetah berjas hitam. Di tangannya, sebuah jarum suntik yang ia tancapkan ke leher Evi yang masih tak sadarkan diri.
Aku melihat semuanya dari layar kecil di topengku.
[ADA YANG NYUNTIK EVI!] aku berteriak.
Dolce di ruang kontrol memperbesar gambar.
Pak Handoyo menegang.
[...Itu... Bagas...]
[Muridku dulu. Tapi dia berubah... dia pakai serum mutasi cheetah...]
Mundur Teratur
Bagas yang sekarang setengah cheetah, setengah manusia, menatap ke arah salah satu drone. Matanya kuning menyala. Dia berbisik, dan tiba-tiba seluruh kelompok topeng mundur.
Topeng Badut ngebut kabur.
Topeng Ghostface melempar granat asap.
Dan si Bagas menghilang ke atap seperti bayangan.
Kami langsung menyelamatkan Evi. Nafasnya berat, tapi stabil.
Wulan menyemprotkan lendir penyembuh ke leher Evi, tapi tak bekerja sepenuhnya.
“Ada efek serum... tapi jenis baru,” kata Maya.
Kembali ke Markas
Di markas, Evi dibaringkan di ruang medis. Dolce memindai tubuhnya dengan alat seperti hairdryer alien.
“Serum ini bukan untuk membunuh... tapi mengubah,” gumamnya.
Pak Handoyo menatap kami semua.
“Bagas... bukan sekadar musuh. Dia punya rencana. Dan Evi mungkin kunci rencananya.”
Aku memandangi wajah Evi yang tidur gelisah.
Dan di balik semua kecemasan itu, aku merasa badai yang lebih besar baru saja mulai bergerak.
Evi masih pingsan di ruang medis. Tapi ada yang nggak biasa!
Sret.
Tiba-tiba… dia menghilang.
Literally. Hilang.
Kasur yang dia tidurin masih rapi. Tapi orangnya? Zonk.
“VI…?!”
Semua langsung panik. Dolce nyaris tumpahin kopi ke keyboard.
Lima detik kemudian, dari interkom dapur, terdengar suara blek-blek-blek prang–bunyi panci jatuh.
Kami berhamburan ke dapur. Evi, masih pingsan, tergolek di lantai… depan lemari es.
Sebelum sempat kami gotong balik ke ruang medis.
ZLOP.
Dia menghilang lagi.
Kini muncul di atap. Masih pingsan.
“Bro…” Fredy garuk-garuk kepala sambil nenteng drone mini. "Kita punya teleportasi tidur, sekarang?”
Akhirnya Sadar… dan Bikin Bingung
Saat akhirnya Evi sadar, dia duduk dengan ekspresi kosong, lalu melongo.
“Aku... barusan di dapur? Tapi aku baring di ruang medis…”
Kami semua bengong. Lalu mulai ngetes.
“Coba inget lokasi yang kamu tau. Coba bayangin kamu di ruang kontrol.”
Clep.
Dia ilang.
Lima detik kemudian, muncul di ruang kontrol.
Duduk di kursi Dolce, kaget liat tampilan grafik drone mutan.
“AKU TELEPORT?!”
Dolce tepuk tangan seperti MC seminar:
“Tepat sekali! Selamat! Kamu mutan teleportasi!”
Kemampuan Evi, Level Dewa
Evi bukan cuma bisa teleport ke tempat yang dia ingat.
“Vi, coba ambil sendalku di ruang latihan.”
CLEP. Sandal itu tiba-tiba udah di tangan Evi.
“Vi, kirim ini—” aku serahin botol air minum,
“—ke ruang tamu.”
CLEP. Botol itu hilang. Dan muncul bunyi tuk dari speaker CCTV.
Botol air mendarat di sofa.
Wulan melongo.
Sefia tepuk jidat.
Maya cemberut, terus nyeletuk “Vi… teleport aku ke Disneyland!”
Evi cengo.
“Ngga bisa. Aku belum pernah ke sana.”
Aku iseng.
“Kalau ke warung Bu Minah belakang sekolah?”
CLEP.
Evi dan aku muncul di belakang etalase, ditatap Bu Minah yang lagi motong tempe.
“YAAMPUN, CAHYO?! KAU NGESELIN DARI DULU YA!”
Kami balik lagi ke markas sambil bawa satu plastik cireng.
Dolce muncul dari ruang bawah tanah.
Hoodie-nya kali ini warna kuning, mencolok kayak spidol stabilo.
Tas slempang-nya penuh kelereng.
“Ini, Evi. Tas mutan kamu. Kelereng ini bisa meledak, atau bisa berubah jadi benda yang kamu pikirkan.”
Evi ambil satu kelereng, konsentrasi…
Blop!
Kelereng jadi kipas angin mini yang biasa nangkring di dapur.
Lalu satu lagi, blop!
Jadi popcorn yang fredy buat.
Dan di kantong kiri tasnya ada ketapel mungil canggih.
“Buat ngelempar kelereng mutan kamu,” jelas Dolce.
Aku mulai ngitung di kepala.
Maya = mutan
Sefia = mutan
Wulan = mutan
Evi = mutan
Dan keempat-empatnya pernah bilang suka ke aku.aku mau jadi superhero, bukan jadi peserta The Bachelor edisi mutan.
Fredy tepuk pundakku.
“Kamu nyadar nggak, Yo…? Cewek yang suka kamu itu kekuatannya makin absurd.”
Aku melongo.
Fredy jalan pergi, sambil nambah.
“Kamu kayak magnet mutasi. Hati-hati ntar ada yang berubah jadi Godzilla cuma gara-gara Kamu tolak.”
Other Stories
Egler
Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...
Breast Beneath The Spotlight
Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...
Cahaya Menembus Semesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Tea Love
Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...
Suara Dari Langit
Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...