Kisah Cinta Super Hero

Reads
2.9K
Votes
0
Parts
22
Vote
Report
Kisah cinta super hero
Kisah Cinta Super Hero
Penulis Dwi Nurcahyono

Bab 20 Pengkhianatan Topeng


Kami menang.
Bagas tergeletak, napasnya berat. Tubuhnya gosong, tapi masih hidup. Wulan maju pelan, tangannya menyala lembut dengan lendir penyembuh.
“Kita nggak membunuh,” katanya.
“Kita nggak sejahat dia,” tambah Maya sambil narik napas.

Lalu…
BOOM!!
Teriakan membelah udara:
“SERBUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!!!”
Semua orang menoleh.
Dari atas kontainer-kontainer berkarat, dari balik gudang tua, dari pipa-pipa besi, muncullah ratusan—TIDAK, seribu lebih—anggota OSIRIS.

Dengan senjata, armor, helm, exo-suit, dan semua perlengkapan cosplay Star Wars edisi neraka. Dan di depannya… Topeng Darth Vader. Sang pengkhianatan Terungkap

“DIA LEMAH! BAGAS TELAH GAGAL!. OSIRIS MILIK KITA SEKARANG! UNTUK GENERASI BARU!”

Aku melotot. "Lho, bukannya kamu yang rencananya  tanding lawan aku? Nggak puas ya?”

[Cahyo,]kata Fredy dari balik senjatanya, [topeng Darth Vader bukan cuma petarung… dia juga pemimpin divisi teknologi militer OSIRIS. Dan… dia punya pasukan pribadi.]

Bagas setengah sadar. "Mereka… mengkhianatiku…”
“Iya, bro. Selamat datang di klub orang dikhianati.” kataku

Perang Seribu Lawan Delapan. Aku menoleh ke kanan. Ada Pak Handoyo, mukanya datar. Ke kiri, Dolce, lagi upload story di Instagram: “Terkepung. Tapi tetap glowing "

Fredy siaga di ketinggian, senapan menyala.
Sefia melayang, barang-barang mulai beterbangan.
Maya sudah siap dengan pedang plasmanya.
Wulan berdiri di depanku. Dan Bagas—walau terluka—mulai bangkit perlahan.
"Kita bertahan,” kata Pak Handoyo tenang. “Sampai drone-drone datang.”
“Drone siapa?” tanyaku
“Drone saya 2.0. Lebih kecil, lebih kejam, dan bisa nyanyi K-pop kalau situasi mendukung.”

DOR! DOR! BZZZTTT! BRAK!
Peluru mulai menghujani kami. Untung hoodie kami, meski koyak masih bisa menahan peluru.
Kacau Balau. Musuh menyerang kami tanpa koordiasi. Yang penting main gebuk aja!!!

Aku menyalakan listrik.
Maya melompat dan menebas dua penyerang bukan untuk membunuh tapi melumpuhkan.
Sefia mengangkat  mobil motor yang terparkir.. lalu membantingnya ke 6 orang.
Wulan berputar, menyemprot lendir ke sembarang arah. Satu musuh terpeleset dan jatuh ke generator, nyetrum sendiri.

Fredy dari jauh menembaki satu-satu dengan peluru pelumpuh.
Dolce berteriak dari belakang,
“SAYA BUTUH BACKUP!! HOODIE SAYA KESAYANGAN TERKOYAK!!”
Dia ambil ponsel, pencet satu tombol.
“Waktunya kita panggil teman-teman lama...”

Tiba-tiba langit dipenuhi drone kecil berbentuk kupu-kupu baja. Drone-drone menyerang balik pasukan OSIRIS.

Yang pakai pelontar granat, dilempar ke sungai.
Yang bawa senapan laser, diangkat ke langit dibuang ke sungai. Di kerubuti lele.
Yang mukanya mirip guru matematika saya… ya, dia tetap kena juga.
Tapi pasukan mereka banyak. Dan kami tetap terdesak.

Serangan Balik, Tangan Besi, Kaki Terbang, dan Ninja dari Langit

Kami terdesak. Listrikku makin lemah.
Sefia udah ngos-ngosan, tangan gemetar.
Fredy tinggal punya 2 peluru.
Wulan nempel di tembok karena kehabisan lendir.
Maya… masih kuat, tapi juga mulai goyah.
Bagas? Duduk di belakang sambil berusah bangun.
Dan tepat saat kami siap mundur…
“BOOOOOOOOOOMMMMMMMMMMM!!!”

Cahaya menyilaukan meledak di tengah arena.
Semua musuh berhenti. Kami juga kaget.
Dari kabut cahaya, muncul  sosok  bertubuh kekar. Baju  Hoodie army. Lengan  dari logam tebal.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA—DOR!”

melompat ke kerumunan musuh dan menghantam dengan tinju besi. memutar tubuh, menyapu musuh dengan pukulan logam.
Belum selesai kami mencerna.
SESEORANG MELAYANG DARI LANGIT!
Dengan Hoodie biru laut dan sepatu boots besi yang nyala-nyala. Di tangannya, pistol plasma yang kalau ditembakkan bikin lawan lemas kayak abis donor darah 2 liter.

“HAHAHAHA! KEJUTAN!!!” kata Dolce muncul dari balik tumpukan drone yang meledak.
“Cahyo! Tebak siapa mereka?” sambung Dolce.

“Hmm... Aryo, Rico... DAN DANI? Dani mana?" tanyaku.
“YESSSSSSSS! Aryo dan Rico pakai hoodie Tangan Besi dan Kaki Besi-ku! Dan Dani... yang kamu sebut si lelet itu…” Dolce menunjuk langit.

SERIBU DRONE menyerbu dari segala arah.
Dengan suara nyaring dan lampu kedip-kedip kayak lampu disko kampung.
“DANI YANG KAMU EJEK ITU SEKARANG MENGONTROL DRONE PENYERANG PALING MEMATIKAN DI INDONESIA!”

Aku  tercengang.
“Oh my good… kita harus ngasih dia penghargaan"

Aryo mendekat.
“Halo," katanya santai, "Ada yang butuh bantuan?"

Belum sempat aku jawab, dia sudah lompat, memukul satu pasukan dengan tangan kanannya. Tubuh si pasukan terpental, NEMBUS TEMBOK, bro!
Lalu Aryo bergerak lincah, seperti manusia setengah tank. Dia lompat ke arah gerombolan musuh dan mulai—
PRRAAAAKK!!
Satu orang mental ke atap gudang.
BUGHH!
Dua orang ditampar pakai lengan baja sampai mental ke forklift dan nabrak klakson.
"Ini baru punching bag!" teriak Aryo, wajahnya sumringah. “Aku udah ngumpet di balik drum dua babak ini!”

Dia melempar satu musuh seperti lempar bantal, dan tubuh itu mengenai tiga musuh lainnya. Domino efek. Mereka tumbang seperti konvoi sepeda mini yang diseruduk truk.

Aku melihat ke arah Dolce. "Lengan besinya kuat juga."

Dolce nyengir bangga. "Dulu saya desain buat angkat kulkas. Sekarang dipakai buat lempar orang."

Aryo semakin menggila. Dia muter, lengan besi berputar seperti baling-baling. Siapa pun yang kena, langsung terlempar. Ada yang nyangkut di lampu, ada yang nempel di dinding, ada yang terjepit rak besi.
Tiba-tiba dari belakang muncul musuh dengan palu listrik.
DUGGG!!
Aryo menahan pukulan itu dengan satu tangan. Dan tanpa ragu...
DUAANGG!!!
Balas meninju perut musuh. Musuh itu tersungkur. Pingsan. Sepertinya pingsan dengan perasaan menyesal pernah bangun pagi hari ini.

"Ayo semangat dong! Aku baru panas nih!" Aryo tertawa sambil melompat lagi, menendang dua orang sekaligus.

Kami yang tadinya hampir tumbang... sekarang mulai bangkit. Semangat kembali.
Karena... kadang kemenangan itu bukan tentang siapa yang terkuat. Tapi siapa yang muncul... saat semuanya hampir runtuh. Dan malam ini, pahlawan itu bernama Aryo. Si Lengan Baja.

Lalu...
Ayo dong, kapan gantian?"
Suara itu datang dari atas.

Kami mendongak.
Rico.
Dengan Hoodie biru kehijauan dan kaki besi roketnya, berdiri di atas crane tua setinggi tiga lantai. Di tangannya pistol plasma.
"Awas kepala!" teriaknya.
ZRAAATTT! ZRAAATTT!!
Tembakan plasma meluncur dari pistolnya, mengenai musuh yang baru datang. Suara letusan plasma menggelegar, menghasilkan ledakan kecil dan percikan cahaya.
Musuh panik. Sebagian tiarap. Sebagian langsung mengarah senjata ke atas. Tapi sebelum mereka sempat menembak—
BOOOMM!!
Rico loncat dari atas crane.
Melayang dengan sepatu  roketnya seperti versi murah Iron Man—tapi justru karena murah, jadi lebih absurd dan lebih berani.
"Ada yang mesen tendangan spesial hari ini?!" teriak Rico.
DUGG!!
Satu musuh ditendang pas di dada. Terlempar seperti balon udara pecah.
BRAGGG!
Yang lain kena tendangan salto. Senjatanya mental.
Rico mendarat. Kakinya mengeluarkan semburan kecil—“PSSHHHH!!”—seperti knalpot motor drag tapi versi elegan.
"Siapapun yang nyentuh temenku... siap-siap digetok pakai kaki seberat 30 kilo ini!" katanya sambil mulai berlari, melayang rendah di atas tanah.

Dia menghantam pasukan satu demi satu. Tendangan-tendangannya presisi. Kombinasi ninja dan Jet Li. Bahkan sempat dia lompat ke tembok, meluncur miring, menendang dua orang sekaligus seperti dalam film laga kelas festival film tarkam.
[Aku sih cukup puas,]komentar Evi sambil teleport dari samping. [Tapi agak lebay.]
[Dia kayak tokoh utama anime yang salah masuk skrip,] kata Maya.
Fredy yang masih di menara sniper ikut komentar, [Keren. Tapi kalau jatuh dan nyangkut di genteng, jangan minta dijemput, ya.]

Rico makin menjadi.
Dia muter di udara dan menghujani musuh dengan tembakan plasma. Setelah amunisinya habis, dia turun dengan gaya slow motion (yang gak slow sebenarnya, tapi pakai efek asap dari sepatu rocket-nya yang mirip vape moge).
Lalu menendang satu musuh terakhir ke arah forklift.
"GOOOOOOOLLL!!!!" teriaknya.
Semua terdiam.

Lalu...
[Daniiiii... kamu beneran gak pengen bantu apa-apa?] teriak aku dari bawah.
[Sebentar... lagi ngantuk nih. Aku jagain mobil…] jawab Dani dari interkom.
Rico mendarat tepat di sebelah Aryo yang sedang memeluk tiga musuh jadi satu.
[Kita duet keren, Ar]
Aryo mengangguk. “Tapi kamu tetap kalah gaya. Gaya rambutmu kayak sapu ijuk.”
Dan mereka tertawa.
Aku ikut tertawa.
Kami semua tertawa.

Di tengah serangan.
Di tengah musuh.
Karena tahu...
Kita gak sendirian.
Dan yang lebih penting...
Kita punya teman yang gila... dan kaki besi.
Lalu……

BZZZZZZZZZZZZZ!!!

Aku mendongak. Langit penuh drone. Seribu lebih.
Mereka kecil, lucu, bentuknya kayak campuran antara lalat dan keyboard mini. Tapi kalau mendekat, bisa bikin alis kebakar dan harga diri musuh hancur.

[Dani mulai bergerak,] kata Fredy dari menara sniper.
Dan benar. Dari earcom kami terdengar suara khas Dani:
[Perhatian... seribu drone akan segera melakukan intervensi... dan prank kecil-kecilan. Hehe.]
DUAK!
Satu musuh tiba-tiba kena lempar mie instan mentah dari drone.
PLUK!
Drone lain nyemprot wajah musuh pakai semprotan merica.
“INI APAAN?!” teriak salah satu pasukan elite OSIRIS sambil ngelap mukanya yang putih kayak abis kena masker wajah.
Drone-drone Dani mulai melakukan hal-hal aneh tapi efektif:
Drone 1–100 menyebarkan sabun cair ke lantai—musuh selip berjamaah kayak lomba balap sandal hotel.
Drone 101–200 nyemprot bau busuk ke kerumunan musuh. Efeknya muntah massal dan hilang motivasi hidup.
Drone 201–300 menyetel suara yang bikin kuping ngerasain soundhoreg (Yang ini bahkan bikin aku stres.)
Drone 301–500 nyemprot air yang bikin musuh gatal.
Drone 501–600... mulai semprotin gas tidur.

"INI FITNAH!!" teriak topeng Darth Vader dari tengah kerumunan.
Sementara itu, drone 601–800 menyebar gas warna warni bikin suasana meriah.
Sedangkan drone 801–999 punya misi spesial:
menangkap selfie dengan musuh yang sedang KO dan langsung upload ke akun media sosial rahasia Dani:
@drone_pembasmi
Drone ke-1000?
Nah ini spesial.
Drone ke-1000 masuk ke tengah gudang, membawa speaker kecil dan mulai mutar  music komedy agar suasana jadi meriah.
Musuh panik.
Beberapa mulai lari.
Yang lain mulai menangis.
Yang sisanya mulai nanya "INI APA SIH INI?!"

Kami?
Kami berdiri di tengah semua itu, antara kagum dan... agak khawatir.
Fredy tertawa. [gak nyangka, Dani yang paling lelet bisa bikin OSIRIS kayak lomba 17-an gagal.]

Aku membuka interkom.
[Dani... ini gila. Bagus. Tapi gila.]
Dani menjawab dengan kalem, dari mobil, masih pakai bantal di paha.
[Yo. Kalau gak bisa bantu dengan kekuatan, bantu pakai keanehan. Itu prinsip hidupku.]
Dan kami semua tersenyum.
Karena sekarang...
musuh bukan cuma takut dengan kekuatan kami.
Tapi juga... absurditas kami.
Dan itu lebih berbahaya dari apapun.
Apalagi kalau dikontrol Dani.

“HIIIIIAAAAAHHHHHHH!”
Puluhan NINJA meloncat dari atap-atap bangunan tua.
Dengan pedang menyala dan seragam hitam-emas.
Diikuti oleh sosok perempuan berselendang merah dan bertubuh anggun.

“MAYA! IBU SELALU MENJAGAMU!”
“IBU?!”

Bu Ratna!
Profesor eksentrik dan mantan kekasih Pak Handoyo, yang kini malah jadi pemimpin Klan Ninja Aromaterapi.

Aksi Para Ninja
Dalam 10 detik, semuanya jadi blur . Dua ninja melempar bom asap ke tengah pasukan OSIRIS. Tiga ninja lainnya berlari di atas tembok, melompat dari satu punggung musuh ke musuh lain seperti main jungkat-jungkit.

Beberapa ninja bersenjatakan senar laser yang kalau diputar menghasilkan suara “NGIIIIING” seperti nyamuk robot tapi mematikan. Lalu satu ninja, perempuan, entah dari mana, menari sambil melempar jarum ke arah drone OSIRIS yang masih tersisa. Sekali lempar, drone jatuh satu-satu kayak snack yang kedaluwarsa.

Satu ninja bahkan menyelamatkan aku dari sabetan senjata musuh, lalu bisik:
“Jaga maya baik-baik. Atau lidahmu aku jepit pakai chopstick titanium.”
Aku “Noted, Mbak…”

Aksi Ibu Ratna
Ibu Ratna sendiri maju ke garis depan. Jubahnya melambai. Dia gak bawa senjata. Karena... dia sendiri adalah senjata. Dengan satu ayunan tangan, dia melempar serbuk mutasi penetralisir ke musuh—langsung pingsan seperti habis nonton drama 100 episode dalam sehari.

Lalu dia mendekati salah satu penyerang OSIRIS, hanya menatap matanya, dan orang itu... tersungkur.
"Mentalnya remuk kena tatapan," bisik Fredy.
Pak Handoyo di sampingku cuman geleng-geleng.
"Ya, dulu aku mutusin dia. Dan sampai sekarang aku masih takut."

Penutup Aksi Ninja
Dalam waktu 5 menit, pertarungan berubah total. Pasukan OSIRIS sisa-sisa mulai melarikan diri.
Yang tersisa pingsan, memeluk lutut sendiri, atau... pura-pura mati.

Ibu Ratna mendekat ke Maya.
"Kau baik-baik saja?"
Maya mengangguk.
Tapi yang mengejutkan, Maya malah memeluk ibunya.
Sekilas saja.
Tapi cukup untuk bikin aku dan Sefia saling pandang dan bilang. "WOY INI MOMEN!”
Lalu Ibu Ratna menoleh ke kami semua.
"Kalian semua hebat. Tapi ingat. Ini baru permulaan."
Seketika para ninja menghilang satu per satu, seperti bayangan yang memudar.
Dan Ibu Ratna, dengan senyum tipis, menghilang terakhir, hanya menyisakan suara:
“Aku akan selalu mengawasi kalian… dari kegelapan.”

Aku menoleh ke Fredy. "Serem tapi elegan ya..."
Fredy mengangguk." Kalau ibuku nyuruh bersihin kamar juga kayak gitu, aku pasti bersihin tiap hari."
Kami semua tertawa.

Pertarungan berubah total.
Musuh yang tadinya bikin kita terpojok, kini malah pontang-panting.
Aryo menghajar 6 orang sekali pukul.
Rico nendang musuh sambil nyanyi.
Dani? Dia ngontrol drone sambil makan cilok. di mobil.
[Aku bantuin di sini Yo]

Aku, Maya, Sefia, Wulan, Fredy, dan Bagas pun kembali maju.
Kami bertarung bersama.
Nggak ada yang jago sendirian.
Kami menang karena saling tutupi kelemahan satu sama lain.
Akhirnya…
Semua musuh tumbang.
Topeng-topeng lepas.
Senjata berserakan.
Dan... kami berdiri, meski ngos-ngosan, tapi menang.
Kami kembali ke markas.
Membawa luka, peluh, tawa, dan... kemenangan.
Polisi datang lima menit kemudian. Tapi semua musuh sudah auto-pingsan, tinggal mereka kumpulkan kayak ngambil laundry.

Dan malam itu Aku duduk di markas.
melepas lelah
Mikir.
"Ternyata hidupku nggak berubah jadi lebih gampang setelah punya kekuatan... Tapi satu hal yang pasti...”
“Aku nggak sendirian.”




Other Stories
Nestapa

Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...

First Snow At Laiden

Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...

Losmen Kembang Kuning

Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...

Download Titik & Koma