Bab 21 Perayaan Kemenangan, Dan Si Lelet Dari Mobil
Di ruang tamu rumah Pak Handoyo, kami duduk melingkar. Ada yang masih pake perban. Ada yang rambutnya masih bau asap drone. Dan ada saya, yang masih mikir gimana cara ngelepas lendir Wulan dari hoodie. Kayak lem korea.
Dolce berdiri di tengah. Gaya sok penting. Tangan dilipat. Kacamata naik turun karena terlalu longgar.
"Sekarang biar aku yang jelaskan... semua ini bisa terjadi karena KEJENIUSANKU.”
Kami serentak "Iya, iya, iya, lanjut aja, jangan nyombong…”
Dolce batuk kecil.
“Saat aku menyusup ke OSIRIS dengan Hoodie hologramku, aku melihat sesuatu...Rico. Aryo. Dani. Awalnya kupikir mereka mau jadi penjahat juga. Tapi ternyata mereka... bingung.”
Aku nyengir, “Ya iyalah, otaknya kan setengah matang.”
Dolce lanjut "Aku dekati mereka. Aku jelaskan semua. Aku buka rahasia kita. Aku ceritakan misi kita, kekuatan kalian, markas kita, bahkan... siapa yang pernah suka sama Cahyo.”
Sefia nyeletuk, “Hah?! Yang itu nggak perlu!”
Maya nambah, “Bisa bahaya buat psikologis mereka.”
Aku batuk pura-pura bangga.
Dolce melanjutkan sambil menyilangkan kaki seperti penjahat telenovela. "Mereka langsung sadar. Dan aku bekali mereka teknologi. Kaki besi untuk Rico. Lengan besi untuk Aryo. Sistem kontrol drone untuk Dani.”
“Yang Bagas pakai? Tiruanku. KW. Bajakan. HARAM DIKOLEKSI.” Lanjut Dolce.
Kami serentak “WOOOOOO!”
“Lalu aku pikir... kalau kita gagal? Kita butuh bantuan pamungkas. Maka aku hubungi…
Bu Ratna.”
Semua serentak "WAAAAAAAH…”
Maya matanya berkaca-kaca. “Ibu…”
Fredy “Gila… kamu jenius, Dol.”
Sefia “Kali ini… aku AKUI kamu luar biasa.”
Wulan “Kamu pinter juga ya…”
Evi “Jenius… ngeselin sih, tapi jenius…”
Dolce tersenyum seperti pahlawan yang baru menang pemilu. "Akhirnya kalian mengerti… pentingnya… DOLCE!”
Kami berdiri dan tepuk tangan.
Bahkan Pak Handoyo ikut manggut-manggut.
“Muridku ini memang nggak ada duanya. Kecuali baju-bajunya yang selalu ada kancing lima belas.”
Tiba-tiba…
Pintu depan terbuka pelan.
Ckreeeeeettt…
Semua menoleh.
Kami refleks siap bertarung.
Fredy pegang sendok.
Sefia telekinetis ambil galon.
Seseorang masuk dengan Hoodie hitam.
Langkahnya pelan.
Matanya sayu.
Mulutnya menguap.
“Heh… perang udah kelar, ya?”
DANI.
“Ternyata kamu… TIDUR DI MOBIL SELAMA PERTEMPURAN.” kataku.
Dia angguk pelan, “Eh... AC-nya adem... jadi keterusan.”
Hening.
Lalu tawa meledak.
“DANI MASIH LELET!”
“Nggak berubah!”
“Dia tidur pas dunia hampir kiamat!”
“Bener-bener superhero jam tidur!”
Kami semua tertawa.
Sampai air mata keluar.
Tertawa karena lelah.
Karena selamat.
Karena kami masih bersama.
Dan malam itu, di ruang tamu rumah Pak Handoyo, kami sadar...
Dunia boleh chaos.
Mutan boleh muncul.
Teknologi boleh gila.
Tapi yang bikin kita menang bukan kekuatan.
Tapi persahabatan, kepercayaan, dan satu orang lelet yang selalu terlambat.
Pengakuan Bagas dan Rahasia Masa Lalu
Kami masih di ruang tamu markas, suasana penuh tawa usai Dani ketahuan tidur di mobil selama perang. Tapi suasana itu langsung berubah, jadi lebih tenang... ketika Bagas berdiri.
Dia menatap kami satu per satu.
Matanya tajam tapi... lelah. Bukan karena kekalahan, tapi karena beban panjang yang akhirnya ia buka malam itu.
“Aku... minta maaf. Ke semuanya.”
Kami diam. Bahkan Dolce nggak nyela, ini langka.
“Selama ini... aku cuma iri.
“Iri sama Dolce yang selalu dipuji, dianggap jenius, disayang Pak Handoyo…
Aku merasa kayak bayangan yang gak pernah dilihat…” kata Bagas kalem.
Dolce menunduk pelan. Pak Handoyo menatap Bagas dengan mata yang… aku nggak tahu, mungkin penyesalan, mungkin rasa sayang yang telat.
Bagas melanjutkan.
“Aku juga... sakit hati sama Bu Ratna. Dia selalu menganggap aku cuma alat. Dan...”
Bagas menggertakkan rahangnya.
“Yang paling dalam... aku sakit hati karena ditolak sama… Diana.”
Hening.
Nama itu… kayak petir menyambar kepalaku.
Aku langsung noleh.
“Diana? Itu… nama ibuku.”
Bagas menatapku.
“Iya. Aku suka dia waktu muda. Tapi dia… milih Saputra. Ayahmu.”
Otakku blank.
“Jadi… Ibu , dulu…"
“Sudah, Cahyo,” suara Pak Handoyo memotong lembut, tapi tegas. "Jangan ditanya sekarang. Suatu hari... ibumu sendiri yang akan cerita. Kalau dia siap.”
Aku diam. Pundakku ditap Pak Handoyo. Rasanya... berat. Tapi entah kenapa, Aku percaya.
Bagas menghela napas.
“Aku capek jadi orang jahat. Capek hidup dari rasa iri. Aku mau pergi. Jauh. Cari hidup yang lebih baik. Bukan jadi pahlawan, bukan jadi penjahat. Tapi… jadi orang biasa yang tahu diri.”
Semua diam.
Lalu... Dolce berdiri. Menyodorkan tangan.
"Kita mungkin beda... tapi kita pernah bareng di satu titik. Mulai sekarang... kita bukan saingan. Kita... temen.”
Satu per satu kami ikut berdiri.
Sefia. Maya. Wulan. Evi. Fredy. Bahkan Dani yang ngantuk.
Pak Handoyo pun berdiri paling akhir, dengan senyum tipis.
Bagas mengangguk pelan.
“Terima kasih… semuanya. Dan… selamat tinggal.”
Aku memandangi sosok itu berjalan ke luar markas.
Membawa ransel kecil, Hoodie lamanya, dan... mungkin satu hal yang belum pernah dia punya sebelumnya.
Pengampunan.
Kami semua kembali duduk.
Tapi kali ini... lebih hening.
Lebih dalam.
Aku melirik Pak Handoyo.
“Pak… Ibu saya dulu...”
“Sudah, Cahyo. Percaya aja. Nanti semuanya akan ada waktunya.”
Aku mengangguk.
Dan malam itu, langit begitu cerah di atas markas.
Tapi hati kami... justru lebih terang.
SUNYI SEBELUM FAJAR
Setelah pertempuran dahsyat itu, markas kami terasa... sunyi. Bukan karena sepi. Tapi karena semua orang kelelahan, penuh pikiran, dan mendadak sadar bahwa dunia nggak sesimpel lempar kelereng atau gelombang kejut.
Kami berpencar.
Fredy sibuk membersihkan lantai ruang pelatihan sambil mendengarkan lagu dangdut remix pakai headset sebesar galon.
Rico dan Aryo berdebat tentang siapa yang punya gaya landing paling keren saat duel.
Dani? Tidur. Sudah. Bahkan dia tidur sambil berdiri.
Sefia, Maya, Wulan, dan Evi—entah bagaimana caranya—masih sempat selfie dan menambahkan filter kuping kelinci.
Dolce mengurung diri di lab. Katanya ingin menciptakan “hoodie yang bisa berubah jadi kasur.”
Aku?
Di atas atap markas.
Duduk diam. Hoodie masih sobek, tapi aku gak mau ganti. Luka di badan sudah disembuhkan Wulan, tapi... luka di kepala? Gak semudah itu.
Angin malam mengusap rambutku.
Langit gelap Dan aku termenung.
“Ibu pernah punya hubungan dengan Pak Handoyo…”
“Ayahku ternyata disukai oleh orang-orang yang terlibat dalam konflik ini…”
“Kenapa aku gak pernah tahu?”
“Kenapa semua terasa seperti... rahasia yang ditumpuk sejak aku lahir?”
Aku menarik napas dalam.
Aku pernah meledak, hampir jadi kodok permanen, melawan mutan, dikejar granat teleportasi, dan sempat jadi pahlawan TikTok.
Tapi gak ada yang lebih bikin sesak dari pertanyaan yang gak bisa dijawab.
Aku mencoba menenangkan diri.
"Cahyo, sabar. Mungkin semua akan terungkap. Mungkin tidak sekarang, tapi suatu saat."
Di bawah, dari jendela ruang tamu, aku bisa lihat semua temanku mulai tertidur di sofa.
Wulan bersandar di bahu Evi.
Rico dan Aryo beradu dengkuran.
Sefia ngetik-ngetik jurnal harian.
Fredy... entah kenapa tiba-tiba pakai sheet mask.
Aku turun perlahan dari atap.
Masuk ke kamar.
Baringkan tubuhku di kasur.
Dan sebelum mata ini menutup, hanya satu hal yang terus berputar di pikiranku...
“Siapa sebenarnya orang tuaku... dan apa hubungannya dengan semua ini?”
Aku menutup mata.
Tapi pikiranku belum berhenti.
Karena aku tahu...
Petualangan belum selesai.
Yang baru saja kita kalahkan adalah musuh pertama.
Tapi musuh sejati?
Mungkin... bukan dari dunia ini.
Dan mungkin... jawaban itu mengalir di dalam darahku sendiri.
Dolce berdiri di tengah. Gaya sok penting. Tangan dilipat. Kacamata naik turun karena terlalu longgar.
"Sekarang biar aku yang jelaskan... semua ini bisa terjadi karena KEJENIUSANKU.”
Kami serentak "Iya, iya, iya, lanjut aja, jangan nyombong…”
Dolce batuk kecil.
“Saat aku menyusup ke OSIRIS dengan Hoodie hologramku, aku melihat sesuatu...Rico. Aryo. Dani. Awalnya kupikir mereka mau jadi penjahat juga. Tapi ternyata mereka... bingung.”
Aku nyengir, “Ya iyalah, otaknya kan setengah matang.”
Dolce lanjut "Aku dekati mereka. Aku jelaskan semua. Aku buka rahasia kita. Aku ceritakan misi kita, kekuatan kalian, markas kita, bahkan... siapa yang pernah suka sama Cahyo.”
Sefia nyeletuk, “Hah?! Yang itu nggak perlu!”
Maya nambah, “Bisa bahaya buat psikologis mereka.”
Aku batuk pura-pura bangga.
Dolce melanjutkan sambil menyilangkan kaki seperti penjahat telenovela. "Mereka langsung sadar. Dan aku bekali mereka teknologi. Kaki besi untuk Rico. Lengan besi untuk Aryo. Sistem kontrol drone untuk Dani.”
“Yang Bagas pakai? Tiruanku. KW. Bajakan. HARAM DIKOLEKSI.” Lanjut Dolce.
Kami serentak “WOOOOOO!”
“Lalu aku pikir... kalau kita gagal? Kita butuh bantuan pamungkas. Maka aku hubungi…
Bu Ratna.”
Semua serentak "WAAAAAAAH…”
Maya matanya berkaca-kaca. “Ibu…”
Fredy “Gila… kamu jenius, Dol.”
Sefia “Kali ini… aku AKUI kamu luar biasa.”
Wulan “Kamu pinter juga ya…”
Evi “Jenius… ngeselin sih, tapi jenius…”
Dolce tersenyum seperti pahlawan yang baru menang pemilu. "Akhirnya kalian mengerti… pentingnya… DOLCE!”
Kami berdiri dan tepuk tangan.
Bahkan Pak Handoyo ikut manggut-manggut.
“Muridku ini memang nggak ada duanya. Kecuali baju-bajunya yang selalu ada kancing lima belas.”
Tiba-tiba…
Pintu depan terbuka pelan.
Ckreeeeeettt…
Semua menoleh.
Kami refleks siap bertarung.
Fredy pegang sendok.
Sefia telekinetis ambil galon.
Seseorang masuk dengan Hoodie hitam.
Langkahnya pelan.
Matanya sayu.
Mulutnya menguap.
“Heh… perang udah kelar, ya?”
DANI.
“Ternyata kamu… TIDUR DI MOBIL SELAMA PERTEMPURAN.” kataku.
Dia angguk pelan, “Eh... AC-nya adem... jadi keterusan.”
Hening.
Lalu tawa meledak.
“DANI MASIH LELET!”
“Nggak berubah!”
“Dia tidur pas dunia hampir kiamat!”
“Bener-bener superhero jam tidur!”
Kami semua tertawa.
Sampai air mata keluar.
Tertawa karena lelah.
Karena selamat.
Karena kami masih bersama.
Dan malam itu, di ruang tamu rumah Pak Handoyo, kami sadar...
Dunia boleh chaos.
Mutan boleh muncul.
Teknologi boleh gila.
Tapi yang bikin kita menang bukan kekuatan.
Tapi persahabatan, kepercayaan, dan satu orang lelet yang selalu terlambat.
Pengakuan Bagas dan Rahasia Masa Lalu
Kami masih di ruang tamu markas, suasana penuh tawa usai Dani ketahuan tidur di mobil selama perang. Tapi suasana itu langsung berubah, jadi lebih tenang... ketika Bagas berdiri.
Dia menatap kami satu per satu.
Matanya tajam tapi... lelah. Bukan karena kekalahan, tapi karena beban panjang yang akhirnya ia buka malam itu.
“Aku... minta maaf. Ke semuanya.”
Kami diam. Bahkan Dolce nggak nyela, ini langka.
“Selama ini... aku cuma iri.
“Iri sama Dolce yang selalu dipuji, dianggap jenius, disayang Pak Handoyo…
Aku merasa kayak bayangan yang gak pernah dilihat…” kata Bagas kalem.
Dolce menunduk pelan. Pak Handoyo menatap Bagas dengan mata yang… aku nggak tahu, mungkin penyesalan, mungkin rasa sayang yang telat.
Bagas melanjutkan.
“Aku juga... sakit hati sama Bu Ratna. Dia selalu menganggap aku cuma alat. Dan...”
Bagas menggertakkan rahangnya.
“Yang paling dalam... aku sakit hati karena ditolak sama… Diana.”
Hening.
Nama itu… kayak petir menyambar kepalaku.
Aku langsung noleh.
“Diana? Itu… nama ibuku.”
Bagas menatapku.
“Iya. Aku suka dia waktu muda. Tapi dia… milih Saputra. Ayahmu.”
Otakku blank.
“Jadi… Ibu , dulu…"
“Sudah, Cahyo,” suara Pak Handoyo memotong lembut, tapi tegas. "Jangan ditanya sekarang. Suatu hari... ibumu sendiri yang akan cerita. Kalau dia siap.”
Aku diam. Pundakku ditap Pak Handoyo. Rasanya... berat. Tapi entah kenapa, Aku percaya.
Bagas menghela napas.
“Aku capek jadi orang jahat. Capek hidup dari rasa iri. Aku mau pergi. Jauh. Cari hidup yang lebih baik. Bukan jadi pahlawan, bukan jadi penjahat. Tapi… jadi orang biasa yang tahu diri.”
Semua diam.
Lalu... Dolce berdiri. Menyodorkan tangan.
"Kita mungkin beda... tapi kita pernah bareng di satu titik. Mulai sekarang... kita bukan saingan. Kita... temen.”
Satu per satu kami ikut berdiri.
Sefia. Maya. Wulan. Evi. Fredy. Bahkan Dani yang ngantuk.
Pak Handoyo pun berdiri paling akhir, dengan senyum tipis.
Bagas mengangguk pelan.
“Terima kasih… semuanya. Dan… selamat tinggal.”
Aku memandangi sosok itu berjalan ke luar markas.
Membawa ransel kecil, Hoodie lamanya, dan... mungkin satu hal yang belum pernah dia punya sebelumnya.
Pengampunan.
Kami semua kembali duduk.
Tapi kali ini... lebih hening.
Lebih dalam.
Aku melirik Pak Handoyo.
“Pak… Ibu saya dulu...”
“Sudah, Cahyo. Percaya aja. Nanti semuanya akan ada waktunya.”
Aku mengangguk.
Dan malam itu, langit begitu cerah di atas markas.
Tapi hati kami... justru lebih terang.
SUNYI SEBELUM FAJAR
Setelah pertempuran dahsyat itu, markas kami terasa... sunyi. Bukan karena sepi. Tapi karena semua orang kelelahan, penuh pikiran, dan mendadak sadar bahwa dunia nggak sesimpel lempar kelereng atau gelombang kejut.
Kami berpencar.
Fredy sibuk membersihkan lantai ruang pelatihan sambil mendengarkan lagu dangdut remix pakai headset sebesar galon.
Rico dan Aryo berdebat tentang siapa yang punya gaya landing paling keren saat duel.
Dani? Tidur. Sudah. Bahkan dia tidur sambil berdiri.
Sefia, Maya, Wulan, dan Evi—entah bagaimana caranya—masih sempat selfie dan menambahkan filter kuping kelinci.
Dolce mengurung diri di lab. Katanya ingin menciptakan “hoodie yang bisa berubah jadi kasur.”
Aku?
Di atas atap markas.
Duduk diam. Hoodie masih sobek, tapi aku gak mau ganti. Luka di badan sudah disembuhkan Wulan, tapi... luka di kepala? Gak semudah itu.
Angin malam mengusap rambutku.
Langit gelap Dan aku termenung.
“Ibu pernah punya hubungan dengan Pak Handoyo…”
“Ayahku ternyata disukai oleh orang-orang yang terlibat dalam konflik ini…”
“Kenapa aku gak pernah tahu?”
“Kenapa semua terasa seperti... rahasia yang ditumpuk sejak aku lahir?”
Aku menarik napas dalam.
Aku pernah meledak, hampir jadi kodok permanen, melawan mutan, dikejar granat teleportasi, dan sempat jadi pahlawan TikTok.
Tapi gak ada yang lebih bikin sesak dari pertanyaan yang gak bisa dijawab.
Aku mencoba menenangkan diri.
"Cahyo, sabar. Mungkin semua akan terungkap. Mungkin tidak sekarang, tapi suatu saat."
Di bawah, dari jendela ruang tamu, aku bisa lihat semua temanku mulai tertidur di sofa.
Wulan bersandar di bahu Evi.
Rico dan Aryo beradu dengkuran.
Sefia ngetik-ngetik jurnal harian.
Fredy... entah kenapa tiba-tiba pakai sheet mask.
Aku turun perlahan dari atap.
Masuk ke kamar.
Baringkan tubuhku di kasur.
Dan sebelum mata ini menutup, hanya satu hal yang terus berputar di pikiranku...
“Siapa sebenarnya orang tuaku... dan apa hubungannya dengan semua ini?”
Aku menutup mata.
Tapi pikiranku belum berhenti.
Karena aku tahu...
Petualangan belum selesai.
Yang baru saja kita kalahkan adalah musuh pertama.
Tapi musuh sejati?
Mungkin... bukan dari dunia ini.
Dan mungkin... jawaban itu mengalir di dalam darahku sendiri.
Other Stories
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir
Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...
Jam Dinding
Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...
Hantu Kos Receh
Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Horor
horor ...