Metafora Diri

Reads
445
Votes
6
Parts
6
Vote
Report
Metafora diri
Metafora Diri
Penulis Othsha

Metafora Diri

Pergumulan panjang dalam hidup seseorang hanya akan berakhir saat kita masing-masing sudah berpulang. Kirana yang sejak kecil bergumul dalam pedihnya hidup, terkadang mengalami banyak keputusasaan dalam hidup.

Sejak kecil, Kirana hidup dirundung duka yang panjang, hingga terkadang ia mempertanyakan keadilan Tuhan untuk kehidupan keluarga mereka. Kirana kecil yang malang yang ditempa sedemikian rupa hingga menjadi anak yang hidup dalam bayang-bayang trauma. Kirana kecil yang pantang menyerah, ia berusaha untuk melawan nasib dengan tubuh mungilnya.

Prinsip hidup yang dipegangnya sedari kecil adalah "aku akan buktikan bahwa anak broken home tidak harus menjadi anak yang rusak". Ia membuktikannya dengan menjadi anak yang bisa dibanggakan kedua orang tuanya dengan prestasi yang ia raih selama ia mengenyam pendidikan.

Kirana bertumbuh remaja, dengan semua ketakutan yang ia rasakan. Berulang kali, ia memilih menaklukan ketakutan itu dan berjuang sekeras yang ia bisa untuk mempertahankan apa yang sudah ia raih selama ini. Bukan hal yang mudah, karena dalam perjalanan itu berulang kali juga semangatnya dipatahkan oleh tindakan sang ayah yang membuat luka dalam diri Kirana semakin menganga. Kirana hidup dalam kebencian dan ketakutan terhadap lawan jenisnya.

Ia tumbuh menjadi gadis yang ingin membuktikan bahwa perempuan bisa berdiri di atas kakinya sendiri dan ia bisa menang dari laki-laki. Saat itu, ia merasakan tak membutuhkan kehadiran laki-laki dalam kehidupannya. Ia bahkan berpikir untuk tidak menikah dan memiliki anak agar tak ada yang sengsara baik dirinya ataupun anak yang mungkin akan ia lahirkan kelak.

Kirana akhirnya mencapai fase dewasa, dimana ia tidak menyangka bahwa ia masih bisa bertahan hidup di tengah derita yang datang silih berganti di sepanjang hidupnya. Ia tidak pernah bermimpi bahwa ia akan mengalami fase dimana ia akhirnya membuka hati dan mencintai seorang laki-laki dalam hidupnya bahkan bersedia untuk mencicipi penderitaan akibat hubungan yang mereka jalani. Ia juga tidak pernah menyangka akan menikah dan memiliki anak di tengah semua keterbatasan mereka. Sekali lagi, Kirana telah berhasil mengalahkan ketakutan dan traumanya dan memilih apa yang diyakininya.

Kehilangan yang datang silih berganti, nyatanya membuat seorang Kirana terus bertumbuh menjadi wanita yang kuat. Ia tak menyangka pengalaman pahit yang ia alami selama ini, menjadi bekal yang sangat penting dalam perjalanan hidupnya. Ia mengalami proses panjang dalam metafora diri yang membuat ia menjadi seperti saat ini.

Kirana menyadari bahwa Tuhan telah membuat skenario terbaik, sesuai rencana-Nya agar Kirana mampu melihat hidup dengan lebih bijak. Kirana menyadari bahwa mungkin bila ia hidup dalam buaian kasih sayang dari orang tua, ia tak akan cukup kuat menghadapi badai kehidupan yang semua orang tak akan pernah tahu seberapa kuat dan kencang saat badai itu menghantam diri kita. Seberapa jauh kita terpental, saat badai itu mengamuk dan memporak- porandakan kehidupan kita.

Kirana lugu, yang dipaksa dewasa oleh keadaan, sudah menjadi dewasa sepenuhnya. Kirana sudah sampai di fase menjadi seorang ibu, seperti ibunya dahulu. Kirana hanya berharap bahwa ia mampu memikul tanggung jawab besar itu. Ia tidak ingin menjadi momok mengerikan bagi anak-anaknya, ia tidak ingin menjadi sama dengan kedua orang tuanya. Ia akan mengambil apa yang baik dari didikan kedua orang tuanya. Bukan hal yang mudah, tetapi bagi Kirana itu harus ia lakukan, agar anak-anaknya tak lagi hidup dengan kualitas yang sama dengannya.

Ia dan sang suami mungkin tak sehebat sang ayah dalam urusan finansial, tetapi Kirana ingin menjadi orang tua yang hadir dalam tumbuh kembang buah hati mereka. Kirana kini sudah berada dalam fase menua dengan indah. Ia belajar untuk terus hidup penuh dengan syukur walau bukan pekerjaan ringan, terlebih saat hidup sedang tidak baik-baik saja.

Kirana memilih mengambil waktu untuk memaknai hidupnya. Ia tidak akan tahu kapan badai datang lagi, kapan kesedihan atau kehilangan akan muncul kembali. Namun, ia mengetahui bahwa amunisi yang Tuhan sudah sediakan akan memampukan dirinya menghadapi dan menerima semuanya. Fase demi fase kehidupan sudah Kirana rasakan, prinsip hidup yang masih ia pegang dan yang sudah ia lepaskan juga sudah menghiasi hari-harinya. Penyesalan demi penyesalan yang memenuhi benaknya sebagian besar juga sudah ia relakan.

Ia memahami waktu tak bisa kembali, ia hanya perlu menerima masa lalu dan berbenahi diri dalam menjalani hari ini dengan memaknai hidup secara penuh, agar penyesalan tak lagi menghampiri, lalu menatap masa depan dengan penuh harap.

Kirana kecil tak lagi sama, Kirana dewasa telah merengkuh gadis kecil itu. Kehidupan mereka tak lagi sama. Keduanya sudah berhasil menaklukkan hidup dan akan berjalan bersama hingga kelak mereka dipanggil untuk kembali pulang ke Rumah Terindah.


- Hadapi badai dalam hidupmu dengan senyuman, dan bertahanlah di dalam badai itu. Pegang tangan Penciptamu, berjalanlah bersama-Nya dan rasakan bahwa bersama Dia, engkau akan selalu dipenuhi damai sejahtera -



T A M A T








Other Stories
Just Open Your Heart

Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...

Final Call

Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...

Aparar Keparat

aparat memang keparat ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

2r

Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...

Download Titik & Koma