Kirana Kecil
Terkadang kita pernah tahu takdir akan membawa kita kemana. Lahir dan bertumbuh di keluarga yang tidak baik-baik saja membuat Kinara kecil hidup dalam kondisi traumatis. Ia melihat dan mengalami banyak adegan kehidupan yang memaksanya untuk dewasa sebelum waktunya.
Perbedaan karakter antara kedua orang tuanya membuat Kinara menjadi korban dari rumah tangga yang broken home. Ia dan saudara kandungnya harus menelan pil pahit dari semua siksaan yang dialamatkan kepada sang ibu dan mereka sendiri.
Kirana kecil yang belum punya kekuatan hanya mampu pasrah untuk hidup dalam ketakutan. Dendam yang perlahan menggerogoti Kirana kecil membuat kebencian berakar kokoh pada diri gadis kecil itu. Ia selalu memandang sinis ke arah punggung sang ayah, mengumpat dalam diam.
Kirana kecil terus memendam perih saat melihat sosok yang seharusnya melindungi mereka, alih-alih menjadi momok yang menakutkan bagi gadis kecil itu. Ia sering melihat wajah sendu sang ibu dengan beberapa lebab di beberapa bagian tubuh wanita yang sudah melahirkannya itu.
Kirana hanya mampu menatap sang ibu dalam diam, tak ada kata yang bisa terucap dari bibir gadis mungil itu. Ia hanya bisa menangis dalam hati, saat melihat ibunya masih mampu mengulas senyuman hanya untuk menenangkan hatinya.
Acapkali kali, Kirana dan sang kakak harus menerima pukulan dan makian saat mereka melakukan kesalahan walau itu hanya sebuah kenakalan kecil akibat rasa ingin tahu yang sering muncul sebagai bagian tumbuh kembang mereka. Kirana kecil sudah terbiasa dengan semua itu, hingga terkadang ia tak lagi menangis saat harus menerima kekasaran yang berasal dari sang ayah.
Tak hanya sampai di situ, seorang Kirana juga harus melihat bagaimana arti kata cinta diselewengkan di depan mata mereka. Hancur sudah lukisan indah yang selalu gadis itu bayangkan tentang keluarga bahagia seperti halnya yang banyak digambarkan di cerita-cerita yang sering Kirana kecil baca.
Sebegitu pahit kehidupan yang harus ia rasakan saat ia masih belum memahami dengan benar apa itu arti kehidupan. Namun bersyukurnya sang ibu karena Kirana tidak tumbuh menjadi anak yang pembangkang dan suka membuat keonaran. Semua dendam yang memenuhi benak gadis kecil itu, ia olah menjadi amunisi untuk menunjukkan pada dunia dan sang ayah bahwa tekanan hidup takkan akan membuat ia terpuruk.
Kirana tumbuh menjadi gadis berprestasi dengan segudang bakat yang ia miliki. Ia sering menjadi juara kelas bahkan mendapatkan beasiswa selama ia duduk di sekolah dasar. Ia berusaha menjadi anak yang membawa kebanggaan buat sang ibu. Ia ingin membalas semua ketidaknyamanan hidup yang ibunya rasakan dengan menjadi yang terbaik yang ia bisa lakukan.
Uang beasiswa yang ia dapat selalu ia berikan untuk sang ibu. Ia dan ibunya akan pergi bersama ke kantor pos untuk mencairkan dana beasiswa yang Kirana terima, lalu sang ibu akan mengajaknya untuk makan ke warung bakso langganan mereka.
"Sayang maaf ya..., beasiswa Kira selalu Mama pakai...," ujar sang ibu dengan nada bersalah. Ia menatap putri kecilnya dengan wajah sendu yang membuat Kirana ikut bersedih. Kirana menyunggingkan senyum termanisnya agar sang ibu menjadi tenang.
"Gapapa Ma, Mama 'kan perlu...."
Sang ibu memeluk putri kecilnya sambil membisikkan kata "terima kasih". Bagi Kirana sang ibu adalah orang terpenting di hidupnya lebih dari siapa pun. Sang ibu mengajarkan banyak hal tentang hidup bagi Kirana. Sikap lembut dan pengasih yang dimiliki sang ibu membuat sang ibu membuat Kirana sangat menyayangi wanita muda itu.
Suatu hari, setelah pertengkaran yang kembali terjadi di antara kedua orang tuanya, Kirana duduk sambil memeluk sang ibu. Lama mereka duduk sambil terisak karena perih yang dirasakan baik di tubuh sang ibu dan di hati mereka berdua.
"Ma, Papa 'kan jahat! Kenapa kita engga pergi aja?" tanya Kirana diantara isakannya.
Sang ibu menghela nafas panjang sebelum ia menjawab pertanyaan dari sang putri yang membuat hatinya terasa semakin hancur.
"Sayang, kalo kita pergi nanti kalian gimana? Kalian masih harus sekolah. Mama gapapa kok, nanti juga sakitnya hilang!" bisik sang ibu sambil memeluk tubuh Kirana yang kecil dengan lebih erat. Kirana kecil mengepalkan tangannya sambil membalas pelukan sang ibu.
Kebenciannya kepada sang ayah semakin meningkat waktu demo waktu. Hal itu membuat jarak di antara mereka membentang semakin jauh. Gadis kecil yang harusnya masih ditimang dengan sayang, menjadi gadis yang memendam dendam yang teramat dalam kepada sang ayah.
Jika ia melihat sang ayah, ia lebih memilih diam di dalam kamar sembari membaca buku. Ia juga suka menghabiskan waktunya dengan bermain keluar rumah agar tidak bertemu dengan sang ayah. Namun, semakin ia beranjak remaja, ia semakin menenggelamkan diri di kamarnya karena ia takut meninggalkan rumah. Ia takut tak ada yang menjaga sang ibu bila sang ayah kembali membuat ulah di rumah.
Terkadang, manusia tak pernah tahu jalan kehidupannya. Tak ada manusia yang memilih untuk lahir di keluarga yang tidak bahagia. Namun, terkadang Tuhan mengijinkan manusia merasakan kepahitan itu, bukan untuk membuat manusia mengalami keputusasaan, tetapi agar kita belajar kuat.
Begitu pun Kirana kecil, yang harus menerima takdir kehidupannya. Air mata yang terlalu sering mengalir, membuat Kirana merasakan ketidakbahagiaan yang selalu menghantuinya. Namun, Kirana kecil tak berhenti melangkah, walau terkadang nafasnya tercekat setiap kali melihat pemandangan menyedihkan yang tersaji di depan matanya, akibat pertengkaran kedua orang tuanya.
Perbedaan karakter antara kedua orang tuanya membuat Kinara menjadi korban dari rumah tangga yang broken home. Ia dan saudara kandungnya harus menelan pil pahit dari semua siksaan yang dialamatkan kepada sang ibu dan mereka sendiri.
Kirana kecil yang belum punya kekuatan hanya mampu pasrah untuk hidup dalam ketakutan. Dendam yang perlahan menggerogoti Kirana kecil membuat kebencian berakar kokoh pada diri gadis kecil itu. Ia selalu memandang sinis ke arah punggung sang ayah, mengumpat dalam diam.
Kirana kecil terus memendam perih saat melihat sosok yang seharusnya melindungi mereka, alih-alih menjadi momok yang menakutkan bagi gadis kecil itu. Ia sering melihat wajah sendu sang ibu dengan beberapa lebab di beberapa bagian tubuh wanita yang sudah melahirkannya itu.
Kirana hanya mampu menatap sang ibu dalam diam, tak ada kata yang bisa terucap dari bibir gadis mungil itu. Ia hanya bisa menangis dalam hati, saat melihat ibunya masih mampu mengulas senyuman hanya untuk menenangkan hatinya.
Acapkali kali, Kirana dan sang kakak harus menerima pukulan dan makian saat mereka melakukan kesalahan walau itu hanya sebuah kenakalan kecil akibat rasa ingin tahu yang sering muncul sebagai bagian tumbuh kembang mereka. Kirana kecil sudah terbiasa dengan semua itu, hingga terkadang ia tak lagi menangis saat harus menerima kekasaran yang berasal dari sang ayah.
Tak hanya sampai di situ, seorang Kirana juga harus melihat bagaimana arti kata cinta diselewengkan di depan mata mereka. Hancur sudah lukisan indah yang selalu gadis itu bayangkan tentang keluarga bahagia seperti halnya yang banyak digambarkan di cerita-cerita yang sering Kirana kecil baca.
Sebegitu pahit kehidupan yang harus ia rasakan saat ia masih belum memahami dengan benar apa itu arti kehidupan. Namun bersyukurnya sang ibu karena Kirana tidak tumbuh menjadi anak yang pembangkang dan suka membuat keonaran. Semua dendam yang memenuhi benak gadis kecil itu, ia olah menjadi amunisi untuk menunjukkan pada dunia dan sang ayah bahwa tekanan hidup takkan akan membuat ia terpuruk.
Kirana tumbuh menjadi gadis berprestasi dengan segudang bakat yang ia miliki. Ia sering menjadi juara kelas bahkan mendapatkan beasiswa selama ia duduk di sekolah dasar. Ia berusaha menjadi anak yang membawa kebanggaan buat sang ibu. Ia ingin membalas semua ketidaknyamanan hidup yang ibunya rasakan dengan menjadi yang terbaik yang ia bisa lakukan.
Uang beasiswa yang ia dapat selalu ia berikan untuk sang ibu. Ia dan ibunya akan pergi bersama ke kantor pos untuk mencairkan dana beasiswa yang Kirana terima, lalu sang ibu akan mengajaknya untuk makan ke warung bakso langganan mereka.
"Sayang maaf ya..., beasiswa Kira selalu Mama pakai...," ujar sang ibu dengan nada bersalah. Ia menatap putri kecilnya dengan wajah sendu yang membuat Kirana ikut bersedih. Kirana menyunggingkan senyum termanisnya agar sang ibu menjadi tenang.
"Gapapa Ma, Mama 'kan perlu...."
Sang ibu memeluk putri kecilnya sambil membisikkan kata "terima kasih". Bagi Kirana sang ibu adalah orang terpenting di hidupnya lebih dari siapa pun. Sang ibu mengajarkan banyak hal tentang hidup bagi Kirana. Sikap lembut dan pengasih yang dimiliki sang ibu membuat sang ibu membuat Kirana sangat menyayangi wanita muda itu.
Suatu hari, setelah pertengkaran yang kembali terjadi di antara kedua orang tuanya, Kirana duduk sambil memeluk sang ibu. Lama mereka duduk sambil terisak karena perih yang dirasakan baik di tubuh sang ibu dan di hati mereka berdua.
"Ma, Papa 'kan jahat! Kenapa kita engga pergi aja?" tanya Kirana diantara isakannya.
Sang ibu menghela nafas panjang sebelum ia menjawab pertanyaan dari sang putri yang membuat hatinya terasa semakin hancur.
"Sayang, kalo kita pergi nanti kalian gimana? Kalian masih harus sekolah. Mama gapapa kok, nanti juga sakitnya hilang!" bisik sang ibu sambil memeluk tubuh Kirana yang kecil dengan lebih erat. Kirana kecil mengepalkan tangannya sambil membalas pelukan sang ibu.
Kebenciannya kepada sang ayah semakin meningkat waktu demo waktu. Hal itu membuat jarak di antara mereka membentang semakin jauh. Gadis kecil yang harusnya masih ditimang dengan sayang, menjadi gadis yang memendam dendam yang teramat dalam kepada sang ayah.
Jika ia melihat sang ayah, ia lebih memilih diam di dalam kamar sembari membaca buku. Ia juga suka menghabiskan waktunya dengan bermain keluar rumah agar tidak bertemu dengan sang ayah. Namun, semakin ia beranjak remaja, ia semakin menenggelamkan diri di kamarnya karena ia takut meninggalkan rumah. Ia takut tak ada yang menjaga sang ibu bila sang ayah kembali membuat ulah di rumah.
Terkadang, manusia tak pernah tahu jalan kehidupannya. Tak ada manusia yang memilih untuk lahir di keluarga yang tidak bahagia. Namun, terkadang Tuhan mengijinkan manusia merasakan kepahitan itu, bukan untuk membuat manusia mengalami keputusasaan, tetapi agar kita belajar kuat.
Begitu pun Kirana kecil, yang harus menerima takdir kehidupannya. Air mata yang terlalu sering mengalir, membuat Kirana merasakan ketidakbahagiaan yang selalu menghantuinya. Namun, Kirana kecil tak berhenti melangkah, walau terkadang nafasnya tercekat setiap kali melihat pemandangan menyedihkan yang tersaji di depan matanya, akibat pertengkaran kedua orang tuanya.
Other Stories
Kucing Emas
Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Coincidence Twist
Kejadian sederhana yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Sera menyeretnya pada hal-h ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...
Kepingan Hati Alisa
Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...