The Ridle

Reads
2.5K
Votes
0
Parts
13
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

Masa Kecilku

Mala tengah mengerjakan PR Matematika yang sulit, seharian tadi dia hanya bermain di lapangan sebelah rumah sehingga tidak konsentrasi belajar. Tiba-tiba terdengar suara yang memanggilnya dari luar rumah.

“Mala...Mala....”
Mala tahu itu suara Gema, Mala bergegas menuju teras dan melambaikan tangan. “Ayo masuk! Kenapa malam-malam, sih? Nanti mamaku marah, nih.”
Mala mengomeli Gema karena jam sudah menunjukkan pukul 20.30 dan dia masih bertamu. Tapi, melihat ada air mata di mata Gema, Mala jadi mengernyitkan dahi dan merasa iba. Gema pasti tengah menghadapi keadaan rumahnya yang sedang ‘perang’.
“La, aku boleh nggak ngungsi sebentar? Aku takut melihat bapakku marah-marah di rumah.”
“Hmmm... gimana ya?” Mala bingung tapi tidak tega melihat Gema yang tampak ketakutan, keringatnya mengucur deras, dan Mala kaget melihat darah yang mengalir dari dahi Gema.
Di saat yang bersamaan mamanya memanggil Mala. “La, suruh Gema masuk, jangan ngobrol di luar!”
“Iya, Mah. Ayo masuk! Dahi kamu berdarah, Ma... aku kompres, ya?” Mala menarik tangan Gema.
Mama Citra juga kaget melihat darah mengalir dari dahi Gema, dengan sigap dia mengambil waslap dan es batu lalu perlahan mengusap dahi Gema dan membersihkan darah yang mengalir.
Gema merintih, “Aduuuh... sakit-sakit, Tante...”
Mama Citra tahu Gema memang seperti anak perempuan dalam berperilaku, Mama Citra juga berusaha menenangkan Gema yang sedari tadi mendesis kesakitan. “Sabar ya Gema, ini sedikit perih, tapi kamu akan cepat sembuh,” kata Mama Citra lembut.
Setelah memberi obat merah dan menutup luka Gema dengan kain kasa, Mama Citra tersenyum sambil mengelus kepala Gema.
Mala merasa kasihan pada Gema, sebentar lagi pasti Gema akan bercerita kalau dia tengah berusaha melindungi ibunya yang sedang dipukuli bapaknya. Sementara dirinya sendiri juga kena sasaran amarah bapaknya, mungkin lemparan piring atau gelas yang mengenai dahinya hingga berdarah.
“Tante, boleh Gema bermalam di sini? Besok Gema pulang pagi-pagi sekali dan sekolah,” pinta Gema dengan sorot mata mengiba.
Mama Citra memandang Gema dan Mala bergantian. Kebingungan tersirat di wajah Mama Citra, apalagi di rumah hanya ada dirinya dan Mala karena papa Mala sudah meninggal waktu Mala masih TK. Tapi, melihat wajah Gema yang begitu pucat akhirnya Mama Citra mengizinkan Gema bermalam dan tidur di kamar Mala.
Gema sehari-hari memang sering menemani Mala. Mereka berdua seperti kakak adik saja. Ibu Elok, ibunya Gema, tahu kalau Gema akan selalu kabur ke rumah Mama Citra karena melihat kedekatan Gema dan Mala.
Walaupun kedua anak itu sangat dekat, Mama Citra harus tetap memberi tahu Bu Elok kalau putranya tengah mengungsi di rumah Mala. Mama Citra lega setelah menyuruh Mang Karyo, tetangganya yang kebetulan melintas di depan rumah, untuk mengatakan pada Bu Elok kalau Gema menginap di rumahnya.
Di kamar, Mala mendengarkan Gema bercerita tentang bapaknya yang baru saja mengamuk lagi gara-gara kalah berjudi. Dan seperti biasa, ibunyalah yang menjadi sasaran amukan, demikian juga Mbak Anis, kakaknya.
Gema berusaha melawan, tapi yang terjadi dirinya malah dibenturkan ke tembok oleh bapaknya. Untuk menghindari bapaknya yang semakin kalap, Gema yang sudah berdarah disuruh cepat kabur oleh ibu dan kakaknya.
Wajah Gema menyiratkan kesedihan saat bercerita pada Mala. Bapaknya pengangguran dan kerap mengamuk. Tidak hanya pada dirinya, tapi ibu dan kakak perempuannya, Mbak Anis juga kerap jadi ‘samsak’.
Sudah berkali-kali dan selalu berulang membuat Mala hafal sorot kebencian yang terpancar di wajah Gema saat menceritakan tentang bapaknya.
“Aku tidak suka Bapak! Aku benci sekali La, apalagi dia suka mengejek aku dengan panggilan banci! Banci! Padahal aku adalah darah daging beliau. Aku tidak mau seperti Bapak! Aku benci sekali, gara-gara Bapak, Ibu sangat menderita dan Mbak Anis juga tertekan.”
“Sabar Ma, bagaimanapun itu bapak kamu,” Mala menasihati. “Lebih baik nggak usah punya bapak sekalian, lebih baik jadi anak yatim sekalian seperti kamu, La.”
Mala hanya bisa diam dan mengerjapkan mata, tangannya mengelus punggung Gema agar Gema lebih tenang.
***
Malam semakin merambat dan Mala tidak bisa memejamkan mata. Gema yang tidur di kasur tingkat atas masih terisak.
Mala bangun dan naik ke atas. Lampu kamar sudah dimatikan, hanya lampu sorot dari luar yang membuat Mala bisa melihat Gema yang beruraian air mata.
“Sudahlah, Gema, jangan bersedih terus, Ibu kamu dan Mbak Anis baik-baik saja kok di rumah. Mama tadi sudah memastikan mereka tidak terluka dan sekarang mereka juga sudah tidur karena Bapak kamu sudah pergi lagi,” Mala menenangkan Gema.
Mala tidak menertawakan sosok Gema, kakak kelasnya, seorang laki-laki tapi cengeng. Mungkin kalau ada Aryo, Budi, atau Deni mereka akan mengejek Gema habis-habisan seperti biasa yang mereka lakukan saat Gema tidak bisa menendang bola, bukannya menendang malah berlari ketakutan saat ada bola mendekat.
Gema semakin terisak dan Mala memeluknya. Gema mulai tenang dan mereka malah bercerita berbagai hal, termasuk niat bermain kamping-kampingan besok di halaman belakang. Sepertinya apa yang baru saja terjadi pada Gema hilang seketika setelah Mala memeluk dan menghiburnya.
Mereka berdua tertidur di kasur tingkat atas dan terbangun ketika azan subuh. Suara azan yang keras dari surau di dekat rumah Mala menembus atap dan terdengar nyaring dari kamarnya.
“Sudah pagi Mala, bangun! Nanti Mama kamu marah lho, kamu tidur di tempat tidur atas dengan aku,” Gema membangunkan Mala.
Mala segera bangun dan menuruni tangga perlahan lalu menuju kamar mandi untuk berwudu dan melaksanakan salat subuh.
***

Other Stories
Dua Bintang

Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...

Perpustakaan Berdarah

Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...

Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

Suffer Alone In Emptiness

Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...

Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )

(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...

Download Titik & Koma