Mala Jauh Dihati
“Ihhh asyiiikk... makasih ya Ma,” Mala langsung membuka bungkusan pink yang Gema bawa sepulang sekolah dan sekuntum mawar merah yang terbungkus.
Gema melihat kelakuan Mala yang kesenangan mendapat bunga mawar merah dan kado yang dibungkus dengan kertas merah muda penuh dengan gambar hati.
Kalau bukan karena Mala yang juga agak kegenitan menurut Gema, karena ikutan menaksir Aras yang terkenal playboy tadinya Gema akan menolak titipan Aras untuk Mala.
Sepertinya rasa suka Mala disambut dengan suka cita oleh Aras, buktinya baru beberapa kali, Mala titip salam kembali setiap Aras titip salam. Bodohnya Gema selalu menyampaikan salam jika Aras dan Mala saling titip salam lewat dirinya, padahal dalam hati dia nggak rela sekali kalau Mala jadian dengan Aras.
Aras sudah langsung menembak Mala dengan sekotak cokelat, diary dan bunga mawar merah yang dititipkan pada Gema.
Mala tersenyum bahagia ternyata dia tidak salah kalau menerima Aras yang berwajah cakep dan banyak digandrungi teman-teman cewek kelas sepuluh.
“Ih norak cuma dikasih gitu doang udah mau terima cintanya, murahan ah!” Gema mengejek Mala.
Mala kaget juga karena selama ini Gema tidak pernah meributkan masalah cowok yang Mala taksir atau cowok yang sebaliknya menaksir Mala.
“Oh tentu saja Gema jutek! Pasti dia takut aku melupakan dirinya!” Mala berpikir cepat.
“Ma, kamu kok gitu sih, kamu takut aku jadian dengan Aras trus melupakan dirimu ya?” Mala balik menggoda Gema yang tengah cemberut sambil memotong kukunya yang lentik.
“Kamu jadian dengan Aras beneran ya La? Hmmm aku sebenarnya kurang setuju kalau kamu dengan Aras. Jangan cepat- cepat La jadian dengan Aras, tunda dulu barang setahun biar kamu tahu Aras yang sebenarnya,” saran Gema.
“Memangnya Aras kenapa Ma? Dia keren dan pintar! Hmmm aku tahu sih gosipnya dia playboy, banyak ceweknya, tapi kemarin dia bilang ke aku kalau cewek-cewek itu yang mengejar dirinya jadi bukan salah dia dong seharusnya,” Mala membela Arasyang tengah memenuhi hatinya sekarang ini.
“Iya-iya kamu pasti habis didoktrin ama playboy itu, kemarin kamu ketemuan ya? Pantesan aku ajak ke toko buku nggak mau ternyata kamu lagi ketemuan ama si Aras. La kamu mulai suka bohong ya sama aku! Hmmm bagus! Besok-besok kamu pasti akan semakin banyak deh bohongin aku!”
Gema benar-benar marah. Mala jadi serba salah dan malu ketahuan kemarin membohongi Gema, sore-sore kemarin dirinya memang tidak bisa menemani Gema ke toko buku karena janjian dengan Aras di restoran Asia untuk ketemuan.
“Maaf Ma, aku memang bohong kemarin tapi aku nggak akan bohong lagi deh padamu. Janji! Sudahlah aku juga nggak akan pacaran di umur enam belas tahun karena belum dapat izin mama. Aku sudah janji kalau umur tujuh belas tahun, pas kelas sebelas tahun depan baru deh aku berani punya pacar,” wajah Mala memelas.
“Jadi kamu tolak dong permintaan Aras jadi pacar kamu sekarang?” mata Gema langsung berbinar-binar.
“Sepertinya iya karena aku memang belum seratus persen jatuh hati sih, terutama mama juga belum kasih izin berpacaran,” Mala tersenyum.
“Iya aku setuju! Kamu lihat dulu lah Aras setahun ini, kalau dia memang serius suka dengan kamu maka dia tidak akan jadi playboy lagi. Memang sih dia cakep, tapi La cari pacar sebaiknya yang buat hati adem sajalah.” Gema sok menasihati.
“Alaaa kamu Ma sok menasehati, kamu sendiri gimana, perasaan kamu beneran sama sekali nggak ada suka untuk cewek? Atau kamu sudah ketemu seseorang yang memang menarik hati dan kamu nggak mau berbagi denganku?” Mala menatap tajam sekaligus curiga terhadap Gema yang kini asik memencet-mencet komedo di hidungnya.
“Idiiiih aku, ketemu seseorang?”
Gema malah pura-pura berpikir keras lalu tertawa keras-keras. “Ha ha ha dor! Aku nggak bisa jatuh hati dengan cewek La. Jujur aku jauh lebih suka merhatiin cowok, sayangnya aku juga belum ketemu cowok yang pas dan baik! Kalau cewek nggak ada niat sama sekali buat suka!” ungkap Gema blak-blakan.
“Ma, kenapa sih kamu nggak suka cewek? Apa kerena kamu merasa diri kamu seorang cewek?” Mala bertanya serius.
“Aduuuh La, kamu nggak bosan-bosan ya tanya masalah kepribadian aku. La kamu sahabat dari kecil dan kamu tahu persis aku kan tidak pernah tertarik pada cewek untuk soal cinta, tapi kalo teman okelah, jadi please jangan tanya-tanya dan memastikan lagi. Yang pasti aku nggak bisa suka cewek karena aku merasa aku juga seorang cewek, aku nggak mau jadi laki-laki apalagi seperti bapakku yang kejam. Laki-laki itu kejam dan sangat suck! Jadi inilah aku” Gema mengungkapkan sejujurnya pada Mala.
Mala mengangguk-angguk dan tidak mau berdebat lagi dengan Gema. Sudah pasti kalau Gema memang memilih dirinya sebagai seorang cewek walau terkadang dia mengelak juga.
Ya kadang-kadang Gema mengelak kalau Mala iseng mengganggu dirinya yang tengah bersikap seperti cewek. Aneh saat iseng diganggu di depan mama atau teman lain Gema suka kesal dan mengatakan dirinya normal. Tapi barusan Gema mengatakan yang sebenarnya kalau saat ini dia menganggap dirinya cewek dan entah nanti-nanti.
***
Mala menemui Aras yang sekarang tampak kecewa karena Mala tidak segera membalas pernyataan cintanya.
Dan ternyata inilah kenyataannya, “Kak Aras, aku... aku belum bisa menjawab untuk jadian karena...”
“Karena Gema kan? Pasti dia memengaruhi kamu dengan menjelek-jelekkan aku, apalagi dia sangat dekat dengan kamu. Kamu hati-hati Mala, kali saja dia bersikap seperti perempuan selama ini hanya untuk menutup kedok dirinya agar leluasa dekat dengan kamu!”
“Kak Aras ini nggak ada pengaruhnya dari Gema kok, memang mamaku melarang aku pacaran sebelum aku berumur tujuh belas tahun dan tahun depan aku baru berumur tujuh belas, izin berpacaran dari mama baru aku dapat,“ kata Mala berusaha menjelaskan yang sebenarnya, walau sebenarnya saran Gema juga memengaruhinya. Tapi Mala tidak mau Gema bertambah musuh setelah Aryo, Budi dan Deni dan sekarang Aras yang sudah mencecar Gema sebagai penyebab mereka tidak bisa jadian.
“Tapi La, aku suka kamu dan kamu juga suka aku kan? Kenapa kita tidak bisa jadian sih?” Aras memasang wajah memelas.
“Kalau kamu memang suka aku, kamu harus bersabar. Buktikan kamu bukan playboy seperti yang aku dengar saat-saat ini dan buktikan kamu akan setia menunggu aku!” kata Mala bijaksana. Dan kata-kata Mala membuat Aras terdiam.
“Baiklah akan aku buktikan kalau aku menyayangi kamu Mala. Aku akan menunggu kamu sampai kapanpun bahkan tidak hanya setahun,” Aras menatap tajam Mala.
Sungguh Mala menyukai mata elang Aras yang menatapnya tajam. Hati Mala berdegup kencang, pesona Aras sebagai kakak kelas yang banyak diidolakan benar-benar membuat dirinya ingin menerimanya sebagai pacar sekarang juga sebenarnya.
Tapi janji dan saran mamanya harus diutamakan dengan memendam satu rasa yang baru saja muncul dalam masa remajanya, Mala terdiam.
“Tujuh belas tahun segeralah datang, aku benar-benar jatuh cinta pada Aras Pramudya...” bisik hati Mala, sementara wajah Aras terus berpendar dalam pikirannya.
Dan malam membuat Mala gelisah setelah sore tadi menolak cinta Aras untuk bersabar setahun menunggunya.
***
Other Stories
Tes
tes ...
Luka
LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...
Nyanyian Hati Seruni
Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
Kehidupan Yang Sebelumnya
Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...