The Ridle

Reads
2.5K
Votes
0
Parts
13
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

Second Chance

Kesedihan setahun terbayar begitu saja dengan pengakuan Dirga yang sadar kalau memang Gema adalah yang terbaik dalam hidupnya, meskipun sekarang Tiara kembali ke sisinya. Nyatanya tetap Gema yang dianggap Dirga terbaik mengurus dirinya.
Tiara tidak bisa berlaku rapi seperti yang Gema lakukan, Tiara asyik dengan dirinya sendiri. Tidak pernah dia merapikan rumah Dirga dan membiarkan semua berantakan, bahkan tak pernah menyiapkan makan malam Dirga sepulang kantor.
Secara tidak langsung Dirga kerap membandingkan dengan keberadaan dirinya sewaktu bersama Gema.
Gema benar-benar membuat hidupnya tertib dan teratur. Merokok hanya sekali sehari dan minuman tidak disentuh sama sekali.
Tiara membiarkan dirinya yang merokok dan mabuk. Tiara tidak peduli dirinya sakit atau sehat.
Andai Tiara bisa bersikap seperti Gema, mungkin tidak perlu lagi Gema hadir kembali di kehidupannya, nyatanya Tiara tidak pernah berubah. Membuat Dirga menyesal telah mengecewakan Gema yang mencintai setulus hati, walau dia laki-laki tapi benar-benar penuh cinta. Sungguh Dirga merindukan sosok cinta yang keibuan itu.
Sekarang Gema sudah kembali dalam pelukan Dirga dan Dirga juga berbicara jujur kepada Gema kalau dia tidak bisa meninggalkan Tiara karena maminya yang tetap menginginkan untuk cepat menikah.
Gema sempat dilema saat Dirga berkata, “Ma ini mungkin berat bagi hubungan kita, bagaimanapun Mami terus mengawasi hubungan aku dan Tiara. Sementara hatiku merasa nyaman bersama dirimu... aku bingung menduakan kamu dan Tiara. Aku harus bagaimana? Saat ini aku tidak bisa membuat pilihan.”
Gema tahu Dirga bingung menentukan sikap. Dan Gema meskipun sakit hatinya karena diduakan tapi memang itulah posisi tersulit yang Dirga rasakan. Sementara hatinya merasa bahagia karena Dirga mengakui kalau dirinya merasa nyaman bersamanya dibandingkan dengan Tiara.
“Aku harus gimana Ma? Jangan tinggalkan aku, aku butuh kamu.”
Kali ini Gema benar-benar yakin kalau Dirga memang membutuhkan dirinya untuk dekat bersamanya. Tapi keberadaan Tiara juga membuat Gema bingung. Apakah dia harus rela berbagi cinta dan perhatian dengan Tiara?
“Ga, apakah Tiara tahu kalau hubungan kita sebenarnya dekat?” Gema menatap tajam Dirga.
“Sampai sekarang Tiara menganggap kita hanya berteman biasa dan normal saja,” Dirga menjawab jujur.
Memang tidak ada yang tahu kalau dirinya menyukai Gema, semua menganggap teman biasa, hanya orang-orang tertentu yang tidak dikenal yang memandang aneh bila mereka tampak terlalu mesra.
“Ma tolong bantu aku, jangan tinggalkan aku lagi… aku butuh kamu,” sekali lagi Dirga memohon dan memeluknya.
Kalau sudah begini Gema tidak bisa menolak dan nyatanya hatinya kembali luluh meskipun tahu jalan ke depannya dia harus lebih tegar berbagi cinta dengan Tiara. Harapannya adalah keajaiban kalau akhirnya cinta Dirga berpihak padanya.
“Ma jangan diam saja dong?” semakin erat Dirga memeluknya. “Aku... aku... sejujurnya masih mencintai kamu Ga...”
“Terima kasih Ma, tetaplah bersamaku sampai memang waktunya kita harus berpisah... dan aku harap itu hanya satu, adalah maut,” Dirga kembali menatap tajam Gema sembari memegang erat bahunya. Dan sekarang begitu lekat mereka bertatapan.
Semua berakhir dengan pelukan dan Gema melewati kembali hari-hari indah yang sempat kelabu selama setahun. Bahkan Dirga semakin menunjukkan rasa cinta yang besar.
***
Pernah saat Gema beberes rumah, tiba-tiba Tiara datang, sepertinya ada kecurigaan terbersit di wajah Tiara kenapa Gema melakukan semua itu.
“Ma, kenapa sih kamu rajin beberes rumah Mas Dirga? Aku aja yang pacarnya paling nyuruh Bi Tina untuk bebenah,” kata Tiara santai sambil membersihkan mukanya dengan peralatan kosmetik yang dibawa ke mana-mana.
Gema tersenyum sesaat hanya dalam batin dia berkata, “Buat Dirga apapun aku akan kerjakan dengan senang hati, apalagi bila saat Dirga pulang kantor tampak wajahnya lelah tetapi ketika melihat rumahnya rapi dan hidangan tersaji membuat dia ceria kembali. Itulah kebahagiaan aku... dan setelah mandi, kita makan malam bersama... setelahnya Dirga akan memberikan pijatan di pundakku... kita berdua bisa bercerita apapun sampai larut malam.”
Tiara tidak tahu hati Dirga terbagi dengan Gema. Tiara benar-benar tidak peka, malah sebaliknya dia merasa senang berdekatan dengan Gema karena Gema ternyata sosok yang enak diajak bercerita.
Gema asyik-asyik saja mendengarkan Tiara bercerita, Gema jadi merindukan Mala karena biasanya hanya Mala kaum hawa yang menjadi teman berceritanya.
“Ma, menurut kamu Mas Dirga itu baik nggak sih? Aku sempat putus dengannya karena aku tergoda kembali pada pacarku, tapi ternyata aku pikir-pikir yang paling sabar menghadapi aku hanya Mas Dirga.”
Tiara bercerita kali ini sembari menggunting kuku tangan dan kaki lalu asyik mengusap dengan kutek berwarna merah tua.
Gema jadi ikutan menguteki Tiara karena Tiara meminta tolong untuk dikutekin yang kuku-kuku jari tangan kiri.
Dengan telaten Gema melakukannya dan berusaha keras untuk tidak cemburu dengan Tiara yang semakin tampak cantik dan seksi setiap hari.
Tiara tidak sekurus waktu setahun lalu dilihatnya di ulang tahun Dirga. Tiara semakin berisi dan semakin putih karena perawatan tubuhnya yang banyak. Pokoknya semakin cemerlang saja.
Tiara juga setengah tahun ini menjalankan usaha salon maka hanya sesekali ke rumah Dirga untuk sekedar menengok dan beberapa kali memergoki Gema yang rajin beberes tanpa perlu curiga bahkan cemburu, apalagi Gema kelihatan sangat macho menurut Tiara. Untuk apa cemburu dengan laki-laki yang menurut pandangan Tiara hanyalah sahabat baik Dirga dan tidak ada yang perlu dicurigai.
Dari sekian kali ngobrol dengan Tiara, Gema kerap hanya sebagai pendengar. Gema juga berusaha memperlakukan Tiara dengan baik, tidak mau menunjukkan kalau Tiara adalah rival memperebutkan cinta Dirga.
Saat Tiara putus dengan Dirga dan kembali pada cowok sebelumnya yang ternyata sangat pengatur dan banyak melarang ini itu, membuat Tiara sadar kalau Dirga adalah satu-satunya cowok yang sangat bertoleransi, maka saat ulang tahun Dirga tahun lalu Tiara memutuskan untuk kembali bersama Dirga.
Menyakitkan bagi Gema sebenarnya semua cerita Tiara akan hubungan dirinya dan Dirga. Tapi Gema memilih diam, tidak mau menambah kebingungan Dirga. Diam dan sadar kalau dirinya adalah orang ketiga hubungan cinta Dirga dan Tiara.
Tiara bersikeras akan menghabiskan waktunya dengan Dirga dalam sisa hidupnya. Tiara menunggu Dirga meminangnya apalagi mami Dirga juga sudah kerap meminta mereka meresmikan hubungan pacaran mereka. Sebenarnya Gema tidak tahan lama-lama menjadi pendengar setia Tiara.
“Gema aku sudah tidak sabar memakai gaun pengantin, aku ingin memakai gaun pengantin modern putih yang panjang... aku nggak mau pakai baju adat berkebaya dan bersanggul. Sekali menikah dengan lelaki yang memahami aku apa adanya dan mencintaiku tulus... aku hanya tinggal menunggu waktu itu datang dan Dirga menyunting aku dengan penuh kelembutan.”
“Huk! Huk!” Gema menjadi terbatuk, bukan disengaja tapi memang baru saja dirinya tersedak saat minum es sirup vanila.
“Minumnya pelan-pelan dong Ma... baru aku cerita ingin menikah kamu sudah tersedak, gimana kalau nanti aku ceritakan malam pertama aku dengan Dirga. Hihihi kamu bisa pingsan kali ya,” Tiara mengerlingkan matanya.
Gema benar-benar panas dingin nggak jelas, ini entah sudah ke sekian kali Tiara bercerita keinginannya untuk segera dipersunting Dirga.
Keinginan Tiara akan gaun, pesta kebun dan bulan madu di Eropa agar segera hamil dan mempunyai anak-anak yang lucu dari perkawinan mereka semakin membuat Gema merasa kalah telak. Gema sadar mana bisa dia memberikan Dirga anak-anak seperti Tiara.
“Aku akan melahirkan banyak anak dari Dirga karena menghabiskan hari demi hari dengan bercinta terus. Hahaha...” Tiara tertawa penuh kebahagiaan tanpa tahu kalau hati Gema semakin teriris-iris.
“Sudah hentikan! Diam! Aku tidak ingin dengar cerita kamu lagi!” teriak batin Gema yang semakin meruncing rasa cemburu di hatinya.
Semakin banyak Tiara bercerita akan keinginan dirinya membuat Gema semakin merasa terpuruk, bagaiaman mungkin dia berharap seperti Tiara inginkan menikah dengan gaun putih, bulan madu untuk memiliki anak?
Mana mungkin bisa lahir dari dirinya seorang anak. Anak yang sudah dinanti mami dan papinya Dirga yang ingin segera memiliki cucu yang nantinya akan menjadi penerus perusahaan keluarga yang dimiliki papi Dirga.
Walau Dirga memilih bekerja pada perusahaan lain sekarang, tapi tetap ke depannya cepat ataupun lambat Dirga harus kembali memikirkan usaha keluarga besar mereka. Sebuah perusahaan kimia yang memproduksi cairan kebersihan rumah yang berkembang pesat dan mempunyai omzet milyaran.
“Tiara aku pamit ya karena semua sudah rapi...”
Gema memutuskan lebih baik segera pulang dan besok-besok menghindar dari Tiara, karena ternyata hatinya merasa sakit setiap mendengarkan Tiara yang selalu bercerita dirinya dengan Dirga juga keluarga besar Dirga yang sudah dikenalnya. Menurut Tiara tinggal menunggu waktu saja dirinya dan Dirga bersatu resmi di pelaminan.
***
Gema selesai merapikan semuanya dan sudah berpamitan dengan Tiara untuk pulang. Tiara masih menunggu kepulangan Dirga dari kantor karena ada yang perlu dibicarakan katanya.
Gema memperhatikan baju yang dipakai Tiara kali ini begitu seksi agak transparan, jelas tampak siluet tubuh dan kulitnya yang putih bak pualam semakin bersinar, rambutnya yang dicat merah terang menambah keseksian wajahnya.
Pikiran Gema jadi macam-macam, penampilan Tiara seperti jebakan buat Dirga yang sengaja Tiara ciptakan dengan penampilannya menjelang malam ini. Jujur Gema tidak sanggup membayangkan bila Dirga harus jatuh ke pelukan Tiara malam ini.
“Gema mau ke mana?” tiba-tiba suara berat mengagetkan, ternyata Dirga muncul dari pulang kantor.
“Lho Ga, sudah pulang kantor?” yang menjawab malah Tiara dan langsung menyambutnya dengan ciuman pipi.
Gema memilih mengalihkan penglihatan, menghindar tatapan tajam Dirga yang sepertinya juga merasa tidak enak karena Dirga tahu persis pastilah Gema tengah dibakar cemburu dan tengah susah payah memendamnya.
Gema tidak mau membuat keributan dengan Tiara, apalagi kalau sampai memukul Tiara karena tidak bisa menahan lagi rasa cemburu yang sudah ditahan-tahan dari dua minggu ini. Tiara kerap datang ke rumah Dirga pada akhirnya seperti mandor yang menyuruh dia dan beberapa tukang untuk beberes rumah Dirga. Jujur sebenarnya lebih enak bila tidak ada Tiara yang bersikap seperti bos.
Tapi Gema tidak ada pilihan, sesekali dia harus bertemu dengan Tiara dan mendengarkan cerita-cerita Tiara sekaligus perintah-perintah pengaturan rumah.
Dulu sewaktu putus dengan Tiara, rumah Dirga seberantakan dan sekacau apapun Gema bisa atasi, tapi sekarang Gema harus berkompromi dengan kemauan Tiara mengatur rumah Dirga yang menurut versi Tiara terbaik. Padahal belum tentu cocok bagi Gema yang mengerti selera Dirga.
“Ma kamu jangan cepat-cepat pulang, kita bisa makan malam bersama, bukan begitu Tiara?” Dirga meminta persetujuan pada Tiara.
Tampak wajah Tiara menyiratkan keberatan, Tiara kali ini benar-benar menginginkan hanya dirinya saja bersama Dirga. Tapi barusan mendengar Dirga menahan Gema untuk makan malam bersama juga membuat dirinya agak kesal dan berpikir lain kali saja untuk makan malam hanya berdua.
Sebaliknya Tiara yang sudah mengenakan baju seksi transparan memilih pamit dengan alasan ditunggu mamanya.
“Sepertinya aku harus pulang saja Ga, mama menunggu aku untuk makan malam bersama juga. Ada Gema juga bisa menemani makan malam kamu... mungkin saja kalian lama tak bertemu saling kangen.”
Tiara berucap tanpa prasangka dan segera berlalu karena Dirga pun tidak menahannya.
Dirga melihat tatanan ruang tamu... Dirga tahu kalau ruang tamu yang barusan ditata bukan versi Gema, “Pasti ini Tiara yang memindah dan mengatur ruangan tamu?”
“Iya ...”
Gema menjawab pendek. Jujur hatinya merasa sebal juga dengan tatanan Tiara yang tidak simple tapi tentu saja dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Hmmm Tiara sok mengatur-ngatur tapi ya gini terlalu rame dan nggak praktis,” Dirga juga mengeluhkan dan hati Gema melonjak riang. Tangannya gatel ingin merubah apa yang sudah Tiara atur tapi ditahannya karena Dirga juga tidak memberikan perintah dirinya merubah.
Hati Gema bergetar tiba-tiba Dirga menggenggam tangannya dan kebahagian Gema kembali meletup-letup.
Tanpa kata dan janji, hanya yakin kalau hati Dirga sebenarnya, sepenuhnya untuk Gema. Entah sampai kapan tak tahu akan ke mana hubungan ini dibawa. Gema hanya mengikuti kata hatinya dan mengiyakan kemauan Dirga untuk tetap bersamanya, entah sampai kapan.
***
Menjadi mahasiswi semakin membuat Mala sibuk dengan dunianya, Mala tidak lagi tinggal terus menerus di rumah karena harus kost agar dekat dengan kampusnya.
Jarak Purwokerto - Purbalingga butuh waktu tiga puluh sampai empat puluh lima menit dengan mobil. Makanya Mala memilih kost dan Sabtu - Minggu pulang ke Purbalingga untuk ketemu Mama Citra dan Gema.
Tapi Gema juga mempunyai kehidupan sendiri sejak jadian kembali dengan Dirga untuk kedua kalinya, ternyata Gema merasakan lebih bahagia. Dirga juga dirasa bersikap adil memperhatikan dirinya walau ada Tiara di sisinya.
Sungguh Gema merasa bingung dengan pilihan hati yang dijalani sekarang, menjadi orang ketiga dalam hubungan yang sebenarnya sempurna antara Dirga dan Tiara. Rasa sakit hati menusuk-nusuk juga menyaksikan saat harus melihat Tiara bergelayut manja pada Dirga dan Dirga juga baik-baik saja tidak ada sikap penolakan.
Tetapi setelah Tiara pergi dia juga akan melakukan hal yang sama memanjakan Gema dan memujanya. Ini membingungkan tapi Gema tidak bisa membohongi dirinya menikmati setiap kebersamaan bersama Dirga.
“Ma, gimana kerjaan kamu?” Di suatu malam Minggu kali ini Mala tidak pergi dengan Aras yang sedang business trip di Bali.
Aras sudah lulus kuliah dan bekerja di perusahaan kontraktor dan sekarang tengah mengadakan meeting di Bali.
Tidak terasa Mala sudah memasuki semester dua, hubungan Aras dan Mala dalam pacaran mereka sudah melangkah tiga tahun.
Mama Citra sudah beberapa kali menyindir Aras untuk serius dalam hubungan mereka walau masih panjang juga jalan menuju perkawinan. Hanya saja Mama Citra menginginkan setelah Mala lulus kuliah, Aras siap berkomitmen ke jenjang pernikahan. Dan Aras juga tampak tidak keberatan.
Mereka berjanji pada Mama Citra setelah Mala selesai wisuda dan dapat kerjaan juga karier Aras di bidang keuangan perusahaan kontraktor swasta juga baik, tidak lama-lama untuk mereka berdua melepas lajang.
“Aku baik-baik saja La, kerjaan aku di kantor tidak ada masalah. Sehari-hari masih seperti biasa ngurus rumah, apalagi setelah Mbak Anis pindah ke Kalimantan di bawa suaminya cuma aku dan ibu di rumah. Ibu sudah tua, ya akulah yang urus dari beberes rumah, masak, mencuci dan semuanya makanya aku nggak ada waktu main ke kostan kamu. Bayangkan setiap harinya aku sudah cape,” terang Gema beralasan karena Mala mengomplain dirinya yang selalu sibuk dan tidak ada waktu untuk dirinya.
“Yah Ma kamu sibuk sekali ya, kadang aku kangen lho dipijatin kamu kalau lagi pegal-pegal,” Mala tersenyum setengah merengut.
“Iiih… ya sudah sini aku pijitin. Alasan saja, dari tadi bilang kek minta dipijit, pakai alasan memojokkan kesibukan aku. Kamu tuh yang sibuk pacaran mulu dengan Aras!” Gema membela diri sambil tangannya sudah memijit-mijit bahu Mala. Sementara mata Mala terpejam menikmati enaknya pijitan Gema.
Memijat Mala membuat Gema tersenyum, dirinya ingat saat Dirga dipijat, dia juga akan memejamkan mata dan menikmatinya hingga akhirnya terlelap tidur. Dan saat itu adalah waktu yang paling tepat Gema kabur karena kalau terbangun yang ada berlanjut acara memijitnya.
Ingin bercerita tentang Dirga pada Mala kalau dirinya juga tengah merasakan jatuh cinta yang tidak ada jedanya pada sosok Dirga, walau sempat setahun membuatnya merasa mati rasa. Tapi kini Dirga menebusnya dengan segenap rasa. Hubungan yang merupakan kesempatan kedua kali yang membuat Gema sangat bahagia, walau hanya jadi orang kedua.
“La, hubungan kamu baik-baik saja kan dengan Aras, dia bersikap baik dengan kamu kan?” Gema mulai memijat-mijat punggung Mala dengan lembut.
“Aras baik Ma... yah walau kadang-kadang ada juga nyebelinnya. Seperti saat sudah janjian tiba-tiba batal karena ada meeting lah, ketemu client lah tapi so far hubungan kita baik-baik saja.”
Mala benar-benar menikmati pijatan Gema yang sudah lama tidak dirasakannya.
“Ma kamu sendiri gak ada teman dekat?” Sebenarnya Mala ingin tahu tentang lelaki yang di waktu lalu begitu mesra mencium Gema yang sampai detik ini Gema tidak pernah mau berbagi cerita dengannya. Sudah satu setengah tahun dan Gema tak mau menceritakan apapun tentang pria itu. Apakah Gema masih dekat dengan pria tersebut? apakah Gema benar jadian ataukah malah sebaliknya Gema mempunyai pacar cewek?
Saat Mala bertanya tentang teman dekatnya, Gema sejenak menghentikan pijatan, ingin sekali bercerita tentang Dirga.
Dirga yang saat Mala jadian dengan Aras juga menembaknya, tapi kemudian tiga bulan mereka putus. Setahun Gema ingin menghapus tentang Dirga nyatanya tak bisa sama sekali dan sekarang sudah tiga bulan kembali jalan bersama.
“Ma, jangan-jangan kamu dekat dengan cewek teman kantor tapi nggak mau cerita-cerita nih...” Mala melanjutkan pertanyaannya.
“Mala masih berharap aku mempunyai teman dekat cewek berarti dia masih berharap aku menjadi cowok normal, ah lebih baik aku nggak usah cerita-cerita tentang cintaku atas Dirga,” Gema bicara dengan hatinya sendiri.
***
Mala terlelap dalam pijatan Gema, apalagi dia baru saja menyelesaikan ujian semester tiga yang melelahkan.
Gema bertahan atas hubungan yang sebenarnya tidak pasti dengan Dirga, tapi harapanlah yang membuat Gema bertahan, harapan akan sebuah kepastian Dirga akan memilih dirinya selamanya.
Tiara juga terus berusaha untuk mengikat Dirga lebih cepat karena usia mereka yang pas juga untuk menikah. Tetapi Dirga berkata pada Tiara belum siap dalam waktu dekat, dia masih butuh waktu dan beralasan juga agar Tiara memantapkan bisnis salonnya dulu agar tidak menyesal setelah menikah tidak bisa pegang full, karena harus terbagi dengan urusan keluarga.
Alasan Dirga yang tampak manis membuat Tiara setuju-setuju saja. Semua hanya bisa berlaku dengan kapasitas lakunya. Entah sampai kapan.
Mala dan Gema sibuk dengan aktivitas hidup dan cinta mereka. Setelah terakhir Gema memijat dirinya dan kesibukan sulit kembali mempertemukan mereka. Gema seakan bertarung dengan second chance.
Kesempatan kedua untuk meraih cinta Dirga yang sempat meninggalkannya hingga waktu akan memutuskan sebuah perjalanan hidup.
***

Other Stories
Sweet Haunt

Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...

Viral

Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...

Aroma Kebahagiaan Di Dapur

Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...

Yume Tourou (lentera Mimpi)

Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...

Puzzle

Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...

Download Titik & Koma