Saling Mencinta
Apa yang jadi dugaan Gema benar, sejak bertemu dengan Mala, Mas Noval selalu banyak bertanya seputar Mala. Dan jelas tergambar rasa kecewa di wajah Noval karena Mala sudah mempunyai pacar.
Gema memberikan informasi sejujurnya akan Mala terhadap Noval walau dalam hatinya ada sedikit rasa kesal, karena perasaan yang muncul saat dia suka pada Dirga tidak bisa dibendungkan. Ini seperti dilema tapi yang Gema sendiri sudah tahu jawabannya.
Jawaban jelas kalau Noval itu seorang pria sejati walau dia terjun ke bisnis fitness dan senam yang bukan hal asing banyak gosip pergaulan sejenis. Tapi Noval berkata tegas, dia tidak setuju kalau bisnis yang dijalaninya adalah sumber pemicu hal-hal hubungan sejenis atau apalah. Bisnis adalah bisnis, dan untuk hal seperti itu bisa saja terjadi di manapun selama para pelakunya memang ada dan mau.
Gema jadi galau, baru kali ini dia merasa asing dan aneh. Rasa cinta Noval yang langsung dan terbuka pada Mala sementara hatinya antara menyukai Noval dan rasa debar waktu lalu saat memandang wajah Mala. Rasa debar terhadap lawan jenis yang hanya bisa dirasakan pada Mala. Ini sungguh membingungkan buat Gema.
Dan tentu saja sekarang dia tak bisa mencurahkan kegalauan hatinya pada Mala ataupun Noval. Keduanya adalah orang-orang yang amat Gema sayangi. Kalau mereka tahu perasaan yang tengah melanda hatinya, pasti semua akan menjauhinya.
“Sepertinya ada beberapa hal yang hanya bisa kita bicarakan dengan hati kita sampai akhir, hanya kita yang tahu. Bahkan selamanya hanya menjadi teka-teki hati.”
Sebuah rahasia hati yang selamanya tersimpan sampai akhir hayat. Saat percaya sepenuhnya hanya pada diri sendiri dan tidak bisa berbagi dengan orang lain.
***
“Ma... aku mau tanya deh, Mas Noval itu memang belum punya pacar ya?” tiba-tiba Mala yang tengah menyeruput kopi cokelat hazelnut yang bahannya dikasih dari Noval bertanya.
“Iya, aku heran lho La,” Gema menatap Mala. “Kenapa?” Mala jadi ingin tahu.
“Tahu nggak sih, Mas Noval itu orang yang sangat dingin dengan cewek tapi anehnya sama kamu dia langsung suka. Kamu pakai susuk ya?” Gema memancing Mala dengan menuduh memakai susuk segala.
“Ih apaan tuh susuk, emang aku sudah dari sononya keren,” ujar Mala sombong membuat Gema gemas dan mencubit paha Mala yang memang hanya memakai celana pendek.
“Auuuh, Gemaaaa sakit tau!” Mala membalas Gema dengan memukul kepalanya pakai guling.
“Sebal deh aku, padahal...” Gema nggak jadi melanjutkan kalimatnya, malah menutup bibirnya.
“Hai… padahal apa Ma? Ayoooo ngomong!” Mala melotot cantik. “Hmmm padahal sih teman kantorku namanya Rani suka. Tapi sudahlah, cinta nggak bisa dipaksain. Sekarang Mas Noval lagi sedih tuh, soalnya aku kasih tahu kalau kamu sudah punya cowok cakep dan mapan,” Gema memonyongkan bibirnya.
Sebuah kalimat yang terputus yang hanya bisa terucap dalam hatinya adalah, “Sebenarnya aku juga menyukai Mas Noval sekaligus juga aku mulai menyukai kamu La. Tapi kalian berdua sepertinya sehati, ada ketertarikan hati. Kalau Mas Noval memang jelas menyukai kamu dan kamu masih misteri...”
“La besok kamu Minggu nggak ada acara kan?” Gema bertanya pada Mala.
Gema memutuskan besok akan datang ke acara resepsi pernikahan Dirga dan Tiara dengan minta tolong ditemani Mala.
“Nggak kok, soalnya Mas Aras ada acara resepsi temannya juga katanya, nggak tahu sih di mananya. Biarin ajalah, teman-teman grup otomotif Mas Aras kan banyak. Kenapa emangnya Ma?” Mala balik bertanya.
“Iya, ada temanku juga menikah dan aku perlu teman, makanya satu-satunya sahabat terbaikku kan cuma kamu La. Mau dong temani aku ke acara resepsi?” Gema memohon.
“Ya ampun cuma minta ditemanin kondangan kamu memintanya begitu amat kaya mau minta uang satu milyar aja! Ayolah Ma, aku temani.” Mala tersenyum santai.
“Tapi aku pakai baju apa ya? Duh bingung nih kalau acara resepsi, koleksi baju resepsi aku udah berkali-kali pakai.” Mala mengerutkan dahinya.
“Nggak apa-apa, hmmm kamu pakai baju yang itu lho… hijau kekuningan yang bahannya dari serat pisang. Kamu cantik deh pakai kebaya itu, lalu bawahannya batik tulis panjang.
“Baiklah Gema, buat kamu apa sih yang gak aku lakukan? Besok aku nge-blow di salon depan saja.”
Gema tersenyum lega karena Mala tidak bertanya banyak siapa itu Dirga dan Tiara, cukup menginformasikan teman baik saja Mala sudah mengerti.
***
Minggu sore Mala mandi dan siap-siap ke Salon Lily yang berada tidak jauh dari rumahnya untuk merapikan rambutnya yang sebahu.
Gema sudah muncul dengan baju batik yang juga tampak gagah. “Wow cepat banget datangnya, aku tinggal nge-blow dan langsung kita jalan. Pakai mobil aku saja Ma.”
Gema mengekor saja, memang hanya lima belas menit nyalon dan Mala yang menyetir mobil ke sebuah gedung Bina Mulya.
Jujur hati Gema berdetak keras saat mulai masuk ke parkiran gedung, tapi dikuatkan. Bagaimanapun untuk terakhir kali dia tidak mau jadi pengecut yang tidak berani menerima kenyataan orang yang telah menjadi cinta pertamanya akhirnya melepas lajang sesungguhnya.
Gema menggaet tangan Mala. Kaget juga Mala akan perilaku Gema yang tidak biasanya, ditambah tangan Gema sangat dingin dan berkeringat. Tapi Mala memilih diam, tiba-tiba ingatannya kembali empat tahun lalu saat dirinya jadian dengan Aras dan Gema juga sepertinya terlibat percintaan dengan seorang pria yang kini Mala yakini pria itu sedang berdiri di pelaminan dengan seorang gadis cantik. Ya, pria yang empat tahun lalu Mala lihat tengah berciuman dengan Gema.
Mala tersadar kalau Gema tengah melawan rasa emosinya dan Mala menggenggam erat tangan Gema untuk memberikan kekuatan.
Mala pura-pura tidak peduli saat Gema dan mempelai lelaki tengah bersalaman. Semua terjadi begitu cepat, ternyata Gema memang sudah siap untuk hatinya.
Gema tidak menunjukkan rasa emosi, semua begitu datar dan Mala menarik Gema untuk menikmati hidangan yang sangat mewah.
“Ayo makan, rugi nih pesta yang sangat glamour. Aku mau coba semuanya!” Mala mencoba bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa dengan perasaan Gema. Mala tidak mau bertanya banyak karena dari Gema jadian dengan cowok tadi tidak sedikitpun cerita mengalir dari mulut Gema, padahal Mala menunggu agar Gema mau berbagi apapun termasuk mungkin cinta sejenisnya.
Mala menghormati kalau Gema tidak mau berbagi hal yang satu ini. Bukankah setiap manusia memang mempunyai rahasia hati.
***
Gema menikmati zuppa soap hangat, hatinya lega sudah tadi sekilas dia sempat berbisik untuk terakhir kalinya kata yang cukup pedas untuk Dirga. Gema ingat saat hatinya hancur kedua kalinya, Noval menyarankan kalau ada kesempatan ketemu terakhir kali saat itulah kamu tumpahkan amarahmu.
Dan tadi Gema sempat berbisik pada telinga Dirga saat memberikan selamat, “Hmmm ternyata hanya segitu saja cintamu, kamu nggak bisa merasakan cinta sejati!”
Jelas wajah Dirga memerah tadi atas sindiran Gema yang langsung berlalu begitu saja setelah menyalami Tiara setengah hati.
Tiba-tiba melintas seorang cowok yang memang lama tidak bersua tapi Gema tahu persis itu Aras. Dan saat bersamaan ternyata Mala juga melihat. Hampir bersamaan Mala dan Gema menyebut namanya.
“Mas Aras?”
“Aras...”
Gema tertegun, demikian juga Mala karena Aras tengah menggandeng seorang cewek yang sangat cantik dan tentu saja itu bukan sekedar teman biasa. Melihat Aras yang tidak sadar kalau Mala dan Gema melihat perilakunya dan gadis cantik yang tengah menggelayut manja di pundaknya saat difoto oleh temannya.
“Ma, ayo kita pulang!” ternyata air mata Mala sudah mulai menetes. Gema jadi panik melihat Mala yang sangat tomboi menangis, karena biasanya dirinya yang kerap menangis.
Saat Mala menarik paksa Gema, sempat Aras melihat kehadiran mereka berdua. Dengan wajah yang sangat kaget Aras berusaha mengejar Gema dan Mala, tapi jelas tangan yang sedang memegang erat gadis cantik menjadi penghalang.
Gema hanya sempat mengacungkan jari tengah tinggi-tinggi ke muka Aras dari jarak beberapa meter.
***
“Laaa… aduh jangan ngebut-ngebut nyetirnya! Aku takuuut, sumpah deh!” Gema ketakutan di samping Mala yang mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, sementara dari bibirnya keluar sumpah serapah akan Aras.
“Aku sudah duga kalau Mas Aras memang nggak pernah bisa setia Ma. Sebenarnya beberapa waktu lalu aku juga sempat melihat Mas Aras dengan cewek tadi di sebuah rumah makan, tapi dia menyangkal hanya menemani. Aku masih terima. Kemudian Ria, teman satu kost malah melihat mereka berdua di sebuah hotel. Aku memang tengah mencari kebenaran dan sekarang aku sudah melihat kebenaran itu.”
“Laaaa sabar dong, bawa mobilnya sampai sini saja La. Berhentiiiii!” Mala melirik Gema yang sikap kewanitaannya keluar, Gema sangat ketakutan dan pucat saat dirinya memacu kencang mobilnya.
“Ciiit!” Mala mengerem kasar setelah menepikan mobilnya di pinggir jalan.
“Hadoh, aku serasa dikejar malaikat maut,” Gema mengelus-elus dadanya sementara dahinya berkeringat, meskipun AC menyala dingin.
“Mas Noval tolong dong kemari, naik taksi saja ya Mas.”
“ ... ”
“Iya aku sama Mala, panjang ceritanya.”
“...”
“Deket restoran Bougenvile...”
“...”
“Iyaaa ini aku ketakutan banget! Jangan pakai lama ya Mas.”
Gema tidak ada pilihan, satu-satunya orang yang bisa dimintain tolong hanya Mas Noval dan Mala tampaknya memilih acuh dengan menelungkupkan wajahnya di setir.
Gema hanya bisa mengelus-elus punggung Mala.
“Aduh harusnya aku yang histeris karena aku yang mengalami kepedihan mantan cinta pertamaku tengah menikah di depan mataku, eeh ini nggak diduga malah Mala jadi tahu kalau Aras memang sudah berselingkuh lama,” laras hati Gema.
Untung lima belas menit kemudian Noval datang, turun dari taksi dan berjalan dengan wajah tetap tenang.
Noval langsung mengetuk jendela mobil dan Gema merasa sangat lega. Mala masih menelungkupkan wajahnya di setir mobil.
“La, biar aku yang bawa mobil kamu ya,” kata Noval lembut. Mala menurut saja dan bergeser ke jok samping, sementara Gema langsung ke belakang.
Sepanjang menyetir sesekali Noval memperhatikan Mala yang tampak kacau, make up naturalnya luntur dan maskara hitam mulai mengotori sekitar matanya. Sungguh tampak kacau.
“La maafin aku ya... sungguh aku nggak tahu kalau ada Aras dan ceweknya di acara perkawinan Dirga dan Tiara,” Gema memajukan badannya di tengah-tengah Mala dan Noval yang menyetir dengan sikap tenang.
“Nggak apa-apa Ma, ini bukan salah kamu, malah aku berterima kasih karena aku jadi tahu semuanya.” Mala mulai bisa mengatur dirinya dan wajah kacaunya mulai diusap dengan tisu.
“Ke rumah aku aja ya, aku tadi belanja banyak sayur dan daging juga buah. Hari ini kulkas penuh. Ada juga es krim kopyor, pasti kalian suka deh,” saran Noval.
“Wahhh, tapi aaahhh pasti kamu bakalan nyuruh aku yang masak lagi kan Mas?” Gema memukul jidatnya, sadar kalau dirinya yang bakalan jadi korban untuk selalu jadi koki.
“Pastinya! Memang siapa lagi?” Noval mengedipkan sebelah mata pada Gema yang menatapnya dari spion tengah.
Sejenak Gema terpana, tapi kembali sadar kalau arti kedipan Mas Noval itu sejujurnya adalah sebuah kesempatan Noval untuk mengambil hati Mala yang tengah hancur lebur.
Bagaimana tidak hancur lebur, sudah empat tahun pacaran dengan Aras yang merupakan cinta pertama dan harus kandas karena perselingkuhan. Padahal Mama Citra sudah yakin kalau Aras akan menyayangi Mala sampai ke pelaminan. Nyatanya hanya sampai segini saja.
Lagi-lagi Gema harus berkompromi dengan hatinya karena harus melihat sekarang Noval yang tengah menghibur Mala dengan mengajak berbicara di ruang keluarga, sementara dirinya disibukkan dengan memasak capcay kuah dan ayam goreng kesukaan Noval dan Mala juga.
“Aku nggak nyangka kepercayaanku selama ini disia-siakan begitu saja oleh Mas Aras,” kata Mala tampak kesal di hadapan Noval.
“Sudahlah, sekarang kamu punya satu pengalaman kalau memang cinta itu ada di tangan Tuhan, sebagaimanapun kita menjaga cinta yang kita anggap sempurna bila Tuhan berkehendak lain kita bisa apa! Tapi percayalah teka-teki Tuhan itu selalu baik adanya. Jadi tetap berprasangka baik pada-Nya,” Noval berusaha bicara bijak dan ternyata cukup ampuh buat menenangkan Mala, buktinya sekarang malah Mala sudah bisa tersenyum.
“Iya benar Mas Noval, Mas Aras bukan jodohku dan Tuhan sudah kasih isyarat-Nya. By the way makasih ya Mas sudah mengingatkan aku,” Mala tersenyum tipis.
“Hai! Hai! Capcay kuah dan ayam goreng tepung ala Chef Gema datang, ayoo santap,” Gema membuat suasana agar ceria.
Dan ternyata Mala langsung menyantap capcay dan ayam goreng tepung buatan Gema dengan lahap, sepertinya Mala kelaparan karena kebanyakan menangis.
Noval geli melihat Mala dan Gema yang habis dari acara resepsi bukannya kekenyangan malah sebaliknya.
Dalam waktu lima belas menit capcay kuah dan ayam goreng tepung ludes. Dan jujur Gema ikut lega karena Mala sudah mulai tenang dan Noval juga tampaknya semakin antusias dengan keberadaan Mala.
Noval melarang Gema yang akan membangunkan Mala karena tertidur melihat DVD film Eat Pray Love yang memang belum selesai ditonton waktu lalu keburu malam dan harus pulang.
“Sudah biarin dia menginap di sini saja! Kamu juga Ma bermalam di rumahku, besok pagi-pagi aku anterin deh ke kantor sekalian antar Mala,” Noval berkata tanpa beban.
“Aduh, Ibu aku gimana dong Mas Noval di rumah sendirian?” Gema bimbang.
“Oh ya aku lupa, ya udah kamu pulang aja deh naik taksi. Biar Mala menginap di sini, kasihan lagi cantik-cantiknya… eh maksud aku lagi nyenyak-nyenyaknya,” Noval tersenyum malu membuat Gema sadar kalau Noval memang jatuh cinta pada sahabatnya. Dan sadar kalau semua hati wanita lain sudah tertutup buatnya.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 23.00, di dalam taksi Gema menyaksikan lampu-lampu jalan gemerlap dan tampak lengang.
Gema memikirkan hatinya yang terasa asing, dan entahlah besok-besok gimana rasanya melihat Noval yang pasti semakin agresif mendekati Mala dan tampaknya Mala juga mulai menyukai Noval.
Sudah kelihatan dari pertemuan pertama mereka sepertinya memiliki chemistry dan keadaan mendukungnya. Noval yang lajang dan mapan tengah mencari cinta sejatinya, lalu bertemu Mala. Dan Mala juga sekarang tengah kosong karena sudah pasti Mala dan Aras putus.
Perasaan hatinya yang menyukai Noval sudah tertutup dan ingin mencoba melanjutkan getaran aneh terhadap Mala juga tertutup sudah. Bagaimana mungkin dirinya tega merebut Mala dari tangan Noval yang terus terang mencintai Mala sejak pertemuan pertama. Dan Mala juga mana ada cinta di hati untuk dirinya, mengingat mereka sudah seperti kakak adik saja.
Gema yakin sekali cinta pertama selalu jujur dan kuat, apa yang Noval bilang secara jujur membuat Gema tidak ingin mengusiknya. Biarlah perasaan hatinya hanya akan menjadi teka-teki dan rahasia hati selamanya.
***
Other Stories
Bayangan Malam
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Keikhlasan Cinta
6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...
Sebelum Ya
Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Nyanyian Hati Seruni
Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...