The Ridle

Reads
2.5K
Votes
0
Parts
13
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

Sahabat Terbaik

Setelah salat subuh, Gema berpamitan pulang ke rumah karena harus sekolah. Gema dan Mala sepakat akan berangkat bersama.
Jarak sekolah dari rumah mereka kurang lebih 1 km dan Gema akan menjemput Mala untuk membonceng sepedanya. Setiap hari Gema selalu mengantar Mala sekolah karena Mama Citra sering sibuk dengan pekerjaan kantor dan berangkat lebih pagi ke Purwokerto.
Mama Citra percaya Gema dan keluarganya akan menjaga Mala. Demikian sebaliknya, Mama Citra juga menyayangi Gema walaupun Gema tidak seperti anak laki-laki lainnya. Malah, sikap Gema yang tidak seperti anak laki-laki lain yang suka berkelahi, mencuri tebu atau jambu membuat Mama Citra merasa lebih tenang anaknya bermain dengan Gema.
Tak terasa masa Sekolah Dasar terlewati dan Mala kelas tujuh sementara Gema kelas sembilan. Gema menjadi cowok yang lembut sementara Mala tumbuh menjadi gadis yang tomboi.
Sikap keperempuanan Gema semakin nyata sementara Mala tumbuh semakin macho saja. Beberapa kali Mala yang membela Gema saat teman-teman cowok mem-bully-nya.
Mala yang memegang sabuk hitam di karate pernah menghajar Aryo, Budi dan Deni yang sedari kecil sudah jadi musuh bebuyutan Gema. Otomatis bila mengganggu Gema maka berhadapan dengan Mala.
Dulu sewaktu masih kecil, Gema yang kerap melindunginya semakin dewasa sepertinya terbalik, Mala yang lebih melindungi Gema dari berbagai ejekan.
“Ma, ada baiknya kamu berlatih karate kaya aku! Biar kamu dianggap cowok!” Mala membersihkan luka pada lutut Gema yang baru saja jatuh karena dikejar-kejar Aryo, Budi dan Deni yang ingin menaruh ular di tangannya. Tentu saja Gema ketakutan dan lari terbirit-birit sampai jatuh, untung Mala pas lewat dan langsung menghajar ketiga cowok yang tidak bisa bela diri itu.
Mama Citra mengizinkan Mala untuk berlatih karate sejak naik kelas lima. Mama Citra juga menganjurkan Gema ikut sekalian, tapi baru dua kali latihan Gema malah sakit dan tidak mau latihan karate lagi.
“Aduh La, sakit, pelan-pelan dong kasih betadine-nya,” Gema merintih sembari meremas tangan kiri Mala.
“Iya ini juga udah pelan-pelan Ma, iih kamu nih benar-benar melebihi cewek deh!” Mala menggerutu, Mala sendiri wajahnya membiru karena tadi satu pukulan Deni tidak sempat Mala tangkis. Mereka bertiga main keroyokan tapi tetap Mala bisa mengalahkan cowok-cowok pengecut yang selalu menggoda Gema.
“Ma sampai kapan kamu akan bersikap seperti cewek? Kamu tuh laki-laki harus bersikap seperti laki-laki dong!” berkali-kali Mala selalu mengingatkan Gema agar menyadari kodratnya.
“Aku juga ingin seperti itu La tapi selalu susah! Aku nggak suka jadi cowok yang selalu bersikap keras seperti bapak, Aryo, Budi dan Deni. Mereka semua jahat! Hanya kamu yang selalu baik padaku, selamanya aku ingin selalu bersama kamu. Dan kuharap kamu memegang janji kita saat di tempat tidur tingkat untuk selalu bersama susah dan gembira.”
Mala jadi teringat kembali waktu tiga tahun lalu saat Gema mengungsi dan Mala berjanji akan selalu bersamanya agar Gema berhenti menangis setelah dahinya luka dan akhirnya mereka tertidur bersama berpelukan hingga azan subuh.
Ternyata Gema selalu mengingatkan seperti sebuah janji keramat. Mala sejujurnya juga merasakan hal yang sama, dirinya membutuhkan Gema untuk menjadi teman. Menjadi anak tunggal yang selalu ditinggal mamanya bekerja, kehadiran Gema membuat Mala tidak sendiri.
“Cukup kamu saja La yang bisa bela diri, toh aku sudah terlindungi dengan adanya kamu,” Gema meneguk es sirup mocca yang Mala buat.
Biasanya Gema yang sibuk membuat minuman dan cemilan, tapi kali ini dia yang tengah terluka memilih diam. Saat di rumah Mala, Gema suka sekali sibuk buat minuman dan panganan sendiri. Rumah Mala adalah rumah kedua setelah rumahnya sendiri atau malah rumah pertama karena Gema hampir setiap hari di rumah Mala
Bisa seharian Gema di rumah Mala melakukan aktivitas apa saja. Kadang Gema menjaga rumah Mala yang kosong karena Mala ada kegiatan di luar rumah sembari beberes dan masak.
Mama Citra tidak pernah melarang, apalagi rumah mereka memang tidak ada pembantu. Semuanya Mama Citra dan Mala kerjakan bahu membahu. Keberadaan Gema dianggap tidak mengganggu, malah sudah menjadi bagian dari keluarga.
Bagi Mala, Gema adalah sahabat terbaik dan bagi Gema dengan diizinkannya dia memasuki rumah Mala dengan bebas, Gema merasa terlindungi dari kekerasan yang kerap dilakukan bapaknya.
Hanya saja mama Citra kadang melarang Gema tidur di kamar Mala karena mereka berdua sama-sama sudah beranjak remaja, walau Mama Citra tahu kalau Gema tidak sempurna menjadi laki-laki bahkan sebaliknya Gema lebih menyerupai cewek.
Mama Citra pernah terang-terangan berkata pada Mala, “Sangat disayangkan sekali La perilaku Gema, padahal kalau diperhatiin dia tuh keren, tubuhnya tinggi besar, kenapa harus seperti cewek? Wajahnya juga ganteng sekali ya La?”
“Hmmm iya sih Mah, sebenarnya banyak lho temen-temen cewek di sekolah yang naksir Gema, bahkan mengira kalau Mala adiknya makanya banyak yang titip salam. Tapi awalnya saja Mah, lama-kelamaan mereka tahu kalau Gema sikapnya lemah gemulai, akhirnya semua cewek yang tadinya naksir yang ada malah pada kabur. Gema juga nggak mau sama cewek sih Mah, tapi dengan cowok juga nggak! Makanya Mala nggak tahu deh Gema mau sama siapa bertemannya?”
Mala bercerita, di SMU Seroja banyak adik kelas sepuluh suka pada Gema yang kini tengah duduk di kelas dua belas.
“Mama yakin banget kalau Gema cowok sejati, dia bisa lho jadi foto model. Lihat wajahnya, ganteng banget dan badannya tinggi besar, bahkan jadi pacar kamu juga keren,” Mama Citra menggoda Mala.
“Hah, Mala jadi pacar Gema! Nggak mungkin bangetlah Mah! Kalaupun Gema nggak seperti cewek, Mala yakin kalau Gema memang pas buat kakak, bukan pacar. Kalau pacar dia akan jadi pacar yang sangat cerewet Mah. Lihat saja dia suka ngatur-ngatur Mala dari cara Mala jalan, berpakaian, bersepatu dan mulai suka ngajar-ngajarin berias dan bahkan sekarang ada cowok lagi deketin Mala yang kayaknya kebakaran jenggot Si Gema.”
Mala nyerocos sampai keceplosan kalau saat ini ada cowok yang tengah mendekatinya dan membuat mamanya terbelalak.
“Uppppsssss...” Mala menutup bibirnya tapi terlambat mamanya sudah menaruh curiga.
“Wah… bagus dong kalau Gema mengingatkan kamu seperti cewek, Mama juga senang Gema malah mengajari kamu berias dan hmmm... siapa cowok yang sedang naksir kamu La?” Mama bertanya serius, ada degup di jantungnya.
Tiba-tiba Mama Citra merasa sudah semakin tua dan sadar kalau gadis kecilnya sudah tumbuh menjadi gadis remaja.
Mala mendadak pucat dan grogi. Tapi tidak ada pilihan kalau dia harus bercerita dengan satu-satunya orang tua yang dimiliki.
“Eeeee temannya Gema... satu kelas Mah, namanya Kak Aras.”
Mala tidak bisa menutupi lagi dan memang dia berniat terbuka pada mamanya..
Mama Citra memasang wajah serius, dia pernah bilang pada Mala untuk izin berpacaran saat umur dia sudah memasuki tujuh belas tahun. Dan juga izin untuk menyetir mobil dan motor.
“Hmmm Gema nggak apa-apa kalau kamu suka dengan teman sekelasnya La? Mama takut Gema merasa tersaingi atau cemburu, apalagi dia sahabat kamu dari kecil,” Ada sebersit rasa khawatir dalam hati Mama Citra akan perasaan Gema yang akan merasa kehilangan atau sakit hati gara-gara Mala punya pacar nantinya.
Entah kenapa Mama Citra mengkhawatirkan cowok kemayu yang telah lama menjadi sahabat putrinya itu.
“Nggaklah, Gema itu selalu menjadi sahabat terbaik Mala sampai kapanpun. Kita sudah berjanji akan selalu menjadi sahabat baik dalam suka dan duka. Mama nggak usah khawatir Gema akan marah kalau Mala sebenarnya juga naksir Kak Aras,” Mala menenangkan mama yang mengkhawatirkan Gema.
“Ya bagaimanapun Gema sudah mengenal kamu dari kalian kecil, tapi memang suatu hari kalian juga akan ketemu orang lain yang singgah di hati,” Mama mengelus rambut Mala yang sebahu.
Mala tersenyum, matanya berbinar indah, ternyata mama tidak mempermasalahkan hatinya yang suka pada seseorang, hanya saja beliau juga mengkhawatirkan Gema.
***

Other Stories
Cahaya Menembus Semesta

Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...

Menolak Jatuh Cinta

Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Curahan Hati Seorang Kacung

Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...

Download Titik & Koma