Chapter 1
“Ini nih calon penganten kita ....” Rendra merangkul Benny yang duduk di atas kasurnya dengan tatapan terarah ke layar televisi setelah meletakkan tas ranselnya di dekat ranjang. Benny seolah tak terganggu dengan kehadiran dua makhluk astral yang sebentar lagi akan merecoki sisa kesendiriannya.
“Gimana rasanya, Ben? Udah nggak sabar malam pertama pasti.” Dimas mengambil di sisi kanan Benny.
Benny menonjok lengan Dimas. “Kenapa? Ngiri, ya? Makanya nikahin tu si Rani, biar cepet bisa ngerasain yang enak-enak.”
“Halah, kaya elu udah ngerasain aja. Nikah aja belum udah sombong duluan. Gue doain elu nggak jadi nikah baru nyaho lu.” Sebuah pukulan di belakang kepala membuat Rendra mengumpat. Sedangkan Benny hanya tertawa di atas penderitaan laki-laki itu.
Rendra melepaskan rangkulannya, merebahkan tubuhnya ke kasur seraya berkata, “kalau si Dimas mah udah lancar jaya sama Rani. Kayak nggak tahu kelakuan bejatnya dia aja.”
“Heh, yang elu omongin di sini breng**k!”
Ketiganya tertawa terbahak. Benny ikut tertawa meski di dalam hatinya tak bisa meski sekadar tersenyum. Dirinya begitu takut untuk menghadapi hari esok. Hari ini adalah hari terakhirnya sebagai laki-laki tanpa tanggung jawab. Tapi besok, kehidupan yang sebenarnya akan dimulai.
“Mikirin apaa lo?” Rendra merangkul Benny yang terlihat tengah memikirkan sesuatu.
“Ah elo pake nanya, kan gue udah bilang kalau dia itu lagi mikirin malam pertama.”
Benny mengambil guling lalu memukulkannya ke kepala Dimas. Meski Dimas memiliki sifat mesum yang kalau ngomong nggak pernah disaring, Benny menyayanginya sebagai seorang sahabat yang selalu siap kapanpun dia butuh. Benny mengenal Dimas jauh lebih lama dibanding dia mengenal Rendra. Sekitar tujuh tahunan, sedangkan dia mengenal Rendra sejak enam tahun yang lalu. Meski begitu, ketiganya sangat akrab seolah mereka sudah saling mengenal sejak mereka masih kecil.
“Bisa nggak sih kadar kemesuman lo itu dikurangi? Jijik gue sama lo.” Rendra bergidik.
“Bacot lo itu yang harus dijaga!”
Lagi-lagi Benny hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan kedua sahabatnya. Mereka sekarang tengah bergulat di atas kasur Benny, membuat tempat tidurnya kusut dan bantal beserta selimutnya berjatuhan di lantai.
“Kalian kalau mau beradu nggak usah di kamar gue, ke ring sekalian sono. Kalau kalian mau gue bisa rekomendasiin tempat buat latihan MMA, biar bakat kalian nggak terbuang sia-sia.”
Dimas dan Rendra menghentikan aksi mereka, menatap nyalang Benny yang berdiri dengan kedua tangan di pinggang.
“Kenapa liat-liat? Dateng bukannya ngasih kado malah bikin rusuh di kamar orang aja.”
Benny berjalan ke pintu kamar, membuka pintu dan menatap kedua sahabatnya malas.Benny mengusir mereka dalam diam, membuat keduanya kelabakan. Dimas orang pertama yang turun dan langsung menatap Benny dengan mengedipkan mata. Rendra dan Benny geli sendiri dengan tingkah Dimas.
“Gue ada kado buat lo.”
Benny melepaskan Dimas yang masih bergelayut di lengannya, menghampiri Rendra yang mengulurkan sebuah amplop coklat. Dimas tidak mau kalah, dia meraih tasnya lalu mengeluarkan kotak kecil.
“Gue juga punya kado buat lo. Nggak usah diterima itu kado dari Rendra, palingan juga nggak bermutu. Mending punya gue, lo pasti butuh banget sama barang ini.”
Rendra menendang pantat Dimas yang berada di depannya.. “Palingan lo ngasih barang nggak jelas.”
Buru-buru Benny meraih kado dari keduanya sebelum terjadi pertumpahan darah. Dia membuka milik Dimas terlebih dahulu agar mulutnya berhenti mengoceh. Tetapi, sesaat setelah dia membuka bungkus kado, Benny langsung menyesal menerima kado dari Dimas. Dengan kesal dia melemparkan kembali kadonya pada si pemberi.
“Dikasih bukannya bilang makasih malah dilempar-lempar. Lo pasti butuh ini buat malam pertama sama buat entar pas honeymoon. Nggak asik kan kalau baru satu ronde lo langsung lemes.”
Sebuah sandal melayang mengenai pelipis Dimas. “Lo kira gue nggak ada tenaga sampai lo kasih obat kuat segala?”
“Ya kali aja.” Dimas memutar badannya dengan tangan mengelus pelipis.
“Lo nggak ngasih gue kartu ucapan doang, kan?” Kali ini Benny menatap Rendra yang masih tertawa akibat kelakuan Dimas.
Setelah meredakan tawanya Rendra menjawab, “sejak kapan gue ngasih hadiah nggak bermutu macam dia?” Rendra menepuk punggung Dimas.
“Kali aja lo udah ketularan gilanya si Dimas.” Setelah membuka amplop dan menemukan dua buah tiket pesawat Benny langsung menepuk bahu Rendra dengan senyum lebar. “Nah, yang kayak gini baru bisa dibilang kado.” Benny sengaja membuat Dimas kesal. “Jadi ini kenapa lo nggak bolehin gue buat nyari tiket buat honeymoon?”
Rendra mengangguk. “Tapi gue cuma bayarin tiket doang sih, urusan di sana lo yang ngurus.”
Dimas menatap Benny. “Itu kado apaan, nggak niat banget. Kalau mau ngasih tiket honeymoon tuh ya sekalian sama yang lainnya lah. Kaya gue nih.” Dimas kembali mengeluarkan kado yang dilempar Benny. “Ini sangat berguna dan ....”
Benny dan Rendra langsung mengeroyok Dimas tanpa memberi laki-laki itu kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya. Dimas berteriak meminta ampun namun tidak dihiraukan.
***
Rasa gugup semakin menyabotase ketenangan yang sering ditunjukkan Benny. Laki-laki itu tak henti-hentinya meminum air putih untuk menghilangkan rasa kering di mulut. Matanya tak lelah ke sana kemari melihat undangan yang hadir sebagai saksi pernikahan yang ditunggu-tunggu.
Setelah menjalin kasih sejak masih di bangku kuliah, akhirnya Benny dapat memiliki Rena seutuhnya. Pacaran dengan Rena merupakan rekor pacarannya yang paling lama. Biasanya ia hanya akan bertahan paling lama selama tiga bulan saja karena pihak wanita yang tidak tahan dengan waktunya yang hampir tidak ada di siang hari.
Bagi Benny, siang hari adalah waktu yang tepat untuknya mengistirahatkan badan dan otaknya. Sedangkan malam hari, di saat orang-orang terlelap dengan suara malam yang seakan meninabobokan, laki-laki itu berada di depan layar komputer dengan segala bentuk syntax yang mana sebagian orang tidak akan mengerti.
“Kirain aku kamu nggak akan pernah nikah sama orang, Ben.” Suara itu membuat Benny menoleh. Arisa, perempuan Jawa yang kini berstatus sebagai mantan pacarnya menatap Benny geli. “Aku pikir kamu akan nikah sama komputer kesayangan kamu itu.”
Benny mengulum senyum. “Cukup kencannya aja sama komputer, jangan sampai nikahnya sama dia. Nggak keluar anak ntar.”
“Halah, dulu aja bilangnya software itu ibarat anak yang sangat berharga. Gitu banget, ya, pengaruh Renata buat kamu.”
“Hahaha. Dia nggak punya sesuatu yang bisa bikin gue terpengaruh, dia hanya rada gila karena mau nikah sama gue.”
“Ben, semuanya sudah siap.”
“Ris, ayo masuk!” ajak Benny yang kemudian diikuti Arisa.
Bagi Arisa, Benny masihlah sosok yang ia cintai. Melihat punggungnya yang kini berjalan tegap mengingatkannya akan hangatnya punggung itu ketika dia berada digendongannya. Sayangnya sebentar lagi laki-laki itu akan menjadi milik orang lain, bukan dirinya seperti yang selama ini ia impikan. Ada perasaan menyesal ketika dia meminta mengakhiri hubungan mereka. Dulu, dengan percaya diri Arisa yakin kalau Benny akan memohon untuk dirinya mengerti dengan kesibukannya, namun nyatanya pria itu tanpa pikir panjang mengiyakannya.
Arisa ikut duduk di samping ibunda Benny. Raut perempuan itu sangat bahagia ketika menyadari kehadiran Arisa. Arinda –Ibu Benny– sejak dahulu memang ingin suatu saat nanti Arisa-lah yang akan menjadi pendamping hidup Benny dan menjadi menantunya.
“Apa kabar, Tante?”
Jemari yang mulai keriput itu meraih tangan Arisa. “Seharusnya yang ada di samping Benny itu kamu, Ris.” Mata Arinda menatap calon menantunya sebal.
“Maunya saya begitu juga, Tante. Tapi mau bagaimana lagi, si Benny sudah nggak mau lagi sama saya.”
“Tante bisa kok gagalin pernikahan mereka kalau kamu bener-bener mau nikah sama Benny. Sekali lihat saja aku sudah nggak suka sama Renata. Dari dulu cuma kamu yang bisa menarik hati Tante.”
Kesempatan ini, Ris! teriak hati Arisa. Namun sejenak gadis itu merenung, mungkinkah dia tega menggagalkan pernikahan mantan pacarnya yang tinggal menghitung detik? Rasanya tidak etis jika dia harus menuruti kata hatinya yang kejam.
“Bagaimana?”
Gila ini orang. Bagaimana bisa ibunya sendiri yang ingin menghancurkan pernikahan anaknya dan membuat keluarganya sendiri malu? Kalau misalnya aku yang berada di posisi Renata pasti .... Arisa bergidik. Tanpa sadar ia meremas tangan Arinda dan membuat perempuan paruh baya itu menjerit.
“Aww! Kamu kenapa, Ris? Setuju sama usul Tante?”
Semua orang menatap mereka berdua. Ayah Renata yang sudah ingin menjabat tangan Benny mengurungkan niatnya. Fokusnya kini ada pada calon besannya.
“Ada apa, Bu?”
“Ini, si Arisa mau saya menggagalkan pernikahan ini.”
Mata Arisa melotot, mulutnya mengaga dan telinganya mendadak tuli. Ide yang awalnya di lontarkan Arinda kini dilemparkan padanya. Seperti bom yang siap meledak, Arisa menggeleng. Wajahnya memerah karena tatapan heran dan kasihan yang dilayangkan padanya. Jika tidak mengingat umur Arinda yang jauh di atasnya, dia ingin memukul dan menutup mulut wanita itu.
“Elo masih suka sama Benny?” Pertanyaan Renata membuat Arisa gelagapan. Mau mengiyakan takut salah paham, mau bilang tidak sama saja membohongi perasaannya. Ia hanya mampu menatap Arinda meminta bantuannya.
“Kenapa lihatin Tante seperti itu, Ris? Bilang aja kalau kamu masih mencintai Benny. Jujur itu lebih baik. Kali aja Benny mau balikan sama kamu lagi, kan?”
Ini seperti ditonjok di tempat yang sama. Arisa menatap Benny memelas, meminta pertolongan pada laki-laki itu agar dia tidak semakin malu. Namun seperti keluar dari kandang macan dan masuk kandang singa, pertanyaan Benny semakin membuatnya ingin seperti jangkrik yang membuat lubang di tanah sebagi tempatnya hidup.
“Lo masih cinta sama gue? Kenapa baru bilang pas gue mau nikah, sih?”
Sebuah pukulan melayang. “Elo masih ngarepin dia?”
Benny nyengir. “Ya enggak dong, cintaku cuma buat kamu, Ren.” Tangan Benny melingkari pundak Renata dengan senyum gulali.
“Kenapa nggak dilanjutkan ijab kabul-nya? Sebelum Benny benar-benar saya ajak nikah lho, Om.” Anggap saja Arisa gila karena berkelakar di situasi yang menyudutkannya. Tapi hanya dengan cara inilah dia dapat sedikit menyelamatkan wajahnya yang sudah memerah.
Tangan ayah Renata kembali menjabat tangan Benny. “Saya nikahkan engkau, Benny ....”
“Nggak sama kawinnya, Om? Kan biasanya saya nikahkan dan kawinkan?”
“Yang penting sah, kan?”
Benny mengangguk.
“Ya udah, ngikut aja.”
“Tapi yang bener Om nikahinnya. Kalau nggak bener terus ujung-ujungnya nggak sah kan rugi akunya.”
“Iya, bawel banget.” Ini sudah ketiga kalinya mereka berjabat tangan. Kali ini Ayahnya Renata sudah bertekad untuk tidak menggubris lagi ucapan calon menantunya itu.
“Wahai Benny Azhari Ashad bin Eko Ashad, saya nikahkan ....”
“Dan kawinkan.” Tanpa bersuara Benny mengucapkan dua kata itu agar ayah Renata tidak salah lagi.
“Dan kawinkan engkau kepada anak saya, Renata Abelia Husna binti Wintarto dengan maskawinnya seperangkat alat shalat dan uang tunai sebesar enam juta rupiah dibayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya putri bapak, Renata Abelia Husna binti Wintarto dengan maskawin tersebut, tunai.”
“Bagaimana saksi, sah?” Benny tersenyum girang menanti jawaban para saksi yang hadir.
“Sah....”
Setelah mengucapkan hamdalah dan Al-Fatihah, Benny langsung memeluk Renata. Dimas dan Rendra yang melihat kelakuan norak sahabatnya itu hanya saling sikut. Karena sikutan Rendra terlalu kencang, Dimas menatap kawannya itu sengit.
“Lu ngode minta gue peluk?”
“Njiiirrr!” Dimas mengambil jarak. “Masih doyan cewek gue-nya.”
“Oh, kirain gue orientasi seksual lo udah berubah.” Nada Dimas datar ketika mengatakannya.
“Siapa yang udah berubah?” Tahu-tahu Benny sudah berada di depan mereka.
Rendra membungkam mulut Dimas agar tidak memberitahukan apa yang dikatakannya tadi. Jika Benny sampai tahu, habislah riwayatnya. Dia akan menjadi sasaran bulan-bulanan sahabatnya sampai mereka bosan.
“Dengan lo kayak gitu, gue jadi tahu kalau lo sekarang udah doyan pisang.” Dengan santai Benny melenggang, meninggalkan Rendra yang sudah melayangkan pukulannya pada Dimas yang mengaduh.
***
Setelah jam-jam penyiksaan berakhir, Renata dan Benny masuk ke kamar yang sudah di dekorasi dengan suasana romantis. Lampu redup dengan bau ruangan yang terkesan seksi tidak membuat dua sejoli yang baru saja mengikrarkan sumpah setia itu menikmati waktu berdua mereka. Benny memilih menelungkupkan badannya di sofa, sedang Renata duduk di depan meja rias untuk melepaskan pernak-pernik riasan yang menempel padanya. Tubuhnya sudah gatal dan tidak sabar untuk cepat-cepat membersihkan diri.
“Lo mandi dulu, gih!”
“Bentar, capek banget gue dari tadi mondar mandir ketemu client.”
Renata menggerutu, “salah siapa resepsi ngundang client. Dikira acara nikahan tempat rapat?” Perempuan itu menarik tusuk sanggulnya lalu mengaduh karena beberapa helai rambutnya ikut terlepas. Setelah membersihkan wajah, Renata langsung masuk kamar mandi, meninggalkan Benny yang sudah mulai masuk alam mimpi.
Sekembalinya Renata, Benny sudah seperti orang pingsan. Dengan tangan yang masih memegang handuk untuk mengeringkan rambut, Renata menghampiri Benny dan menendang kakinya. Benny terperanjat dengan segala macam umpatan.
“Buruan mandi, jangan molor mulu. Ada yang musti gue omongin.”
“Bisa kali bangunin orang jangan gaya bar-bar gitu. Romantis dikit kek. Dicium misalnya.” Meski mengomel, Benny tetap menuruti perintah istrinya juga. Dengan langkah yang diseret dan mata yang setengah terpejam dia masuk ke kamar mandi.
Renata mengangguk, bangga akan Benny. Dalam waktu sepuluh menit, Benny sudah kembali dengan rambut basah. Semakin menggoda dengan tatapan nakalnya. Tak tertarik, Renata malah memasang tampang judes. Merasa gagal, Benny naik ke tempat tidur dan duduk di depan Renata.
“Kenapa Dubai?”
“Hah?” Merasa mendapat pertanyaan yang tidak jelas, laki-laki itu menggeleng. “Ngomong tu yang lengkap.”
“Kenapa honeymoon-nya ke Dubai? Gue kan udah bilang kalo gue maunya ke India.”
Merasa mendapat pertanyaan yang tidak penting, Benny melempar handuk basah ke keranjang baju kotor lalu merebahkan badan. “Kirain apaan. Sama aja mau ke Dubai atau India.”
“Ya jelas bedalah. Di mana lagi gue bisa lihat cowok-cowok macho dan tampan kayak mereka?”
Benny bangun. “Elo nggak sadar kalau sekarang udah punya cowok macho nan ganteng yang ngalahin orang India?”
Perempuan itu memicing. “Siapa? Elo?”
“Iyalah. Siapa lagi emangnya.” Kedua alis Benny naik turun. Bangga dengan ketampanannya yang pas-pasan.
“Pokoknya gue maunya ke India. Kalau elo nggak mau, kita nggak usah honeymoon aja,” ucap Renata sebal.
“Ya udah kalau nggak mau. Gue bulan madu sendiri juga bisa.”
Memang dasar Benny bukanlah orang yang mudah mengalah, jawabannya malah semakin membuat Renata ingin memukul kepala suaminya itu agar berubah layaknya orang normal lainnya. Laki-laki memang selalu tidak peka dan tidak memiliki perasaan. Mereka tidak mengerti bagaimana perasaan perempuan untuk dapat datang ke tempat impian. Lagipula, apa susahnya menuruti keinginan istrinya yang ingin menginjakkan kaki dan menghirup udara yang sama dengan sang Idola?
“Ya udah, elo honeymoon aja sendiri. Ntar bikin anak sendiri, hamil sendiri, ngelahirin sendiri. Ceraiin aja gue sekarang!”
Benny menoyor kepala Renata. “Kalau ngomong itu dipikir dulu. Baru juga nikah udah minta cerai aja. Dewasa dikit, Oon!”
“Biarin. Sebelum elo ngapa-ngapain gue ini. Kali aja kalau kita udah cerai gue bisa nikah sama laki-laki India. Mas Ajrit Taneja ..., Aim Kamiiing!”
“Ngimpi aja terus sono.”
“Semuanya, kan, berawal dari mimpi.” Renata menendang Benny yang sudah kembali membanting tubuhnya ke kasur. Benny merasa tulang pinggangnya patah karena terjatuh dengan posisi miring. Ia mengaduh namun Renata seperti tidak mau ambil pusing. “Kata siapa elo boleh tidur di sini?”
“Hah?”
“Pokoknya gue nggak mau tidur sama elo sebelum elo pindah honeymoon-nya ke India.”
Dengan memegang pinggang, Benny bangun dari lantai dengan wajah meringis. “Tadi nyuruh gue honeymoon sendiri, pake minta cerai segala. Sekarang elo nyuruh gue buat tidur sendiri? Elo sengaja nyiksa gue? Ini malam pertama, lho.”
“Apa bedanya malam pertama sama malam-malam yang lain. Pokoknya gue nggak mau deket-deket, apalagi sampai elo sentuh-sentuh.”
Benny memasang wajah memelas. “Elo tega banget sama gue, Ren. Tau gini mah gue nggak mau nikah. Nikah sama enggak sama aja.”
Sebuah bantal melayang mengenai wajah Benny. Beristri wanita bar-bar ternyata tidak semenyenangkan yang dipikirkan. Mengatakan apa yang ingin dikatakan, tak perlu bermanis-manis atau melakukan hal romantis seperti kebanyakan orang. Menjadi diri sendiri lebih utama, namun mendapatkan hal tidak menyenangkan seperti ini sedikit melukai harga diri Benny.
“Salah sendiri mau nikahin gue.”
Serba salah. Dengan hati dongkol Benny memosisikan diri di sofa. Dengan niat kalau sudah agak malam dia bisa menyusup ke sebelah Renata.
***
Rencana tinggal rencana. Benny terbangun dengan badan pegal-pegal karena terbatasnya ruang gerak ketika tidur semalam. Dan yang lebih menyedihkannya lagi, dia tidur tanpa selimut. Sungguh kejam memang istri barunya itu.
Meregangkan tubuh sebelum keluar kamar, dia mendapati Renata yang berada di kamar mandi. Otak isengnya kembali. Rasa ingin membalas dendam bergelayut. Dengan mengendap, Benny masuk ke dalam kamar mandi yang tidak terkunci. Terbitlah senyum penuh kemenangannya.
Renata tengah membenarkan handuk yang melilit tubuhnya ketika Benny berujar, “pantes nggak mau tidur bareng gue. Ternyata lo minder ya sama badan lo yang kerempeng.”
“Aaa!” Sebuah sikat gigi melayang seiring dengan teriakan nyaring yang dikeluarkan Renata. Masih terbahak, Benny keluar meninggalkan Renata yang sudah mulai memaki.
Malam nanti adalah jam keberangkatannya ke Dubai. Benny sudah tidak sabar menginjakkan kaki ke tempat-tempat romantis yang sangat terkenal itu. Lupakan Renata yang tidak mau ikut. Karena dirinya yakin perempuan itu akan tetap ikut meski dengan mulut mangap.
Perasaan senang karena akan berada jauh dari pekerjaan semakin melebarkan senyum Benny. Dia akan mengubah pandangan Renata kalau Dubai jauh lebih indah dan lebih romantis daripada India. Berbekal keyakinan, ia mengepak baju-baju Renata ke koper. Sedangkan untuk bajunya, Benny lebih memilih memasukkannya ke tas ransel.
“Operasi meluluhkan hati akan segera dimulai,” ucapnya girang.
***
Other Stories
Keikhlasan Cinta
6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Itsbat Cinta
Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...
Dengan Ini Saya Terima Nikahnya
Hubungan Dara dan Erik diuji setelah Erik dipilih oleh perusahaannya sebagai perwakilan ma ...
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...