Chapter 2
Perjalanan melelahkan selama delapan jam di udara tanpa transit akhirnya selesai. Benny dan Renata masuk ke sebuah taksi menuju hotel dekat di dekat pantai Jumeirah. Sesampainya di kamar hotel, Renata menuju balkon yang langsung di sambut pemandangan indah. Sebuah laut berwarna hijau biru membentang, pasir putih seolah melambai-lambai ingin Renata segera berlarian di atasnya. Matanya dan mulutnya terbuka, terpesona dengan keindahan yang diciptakan Tuhan.
“Yang kemarin katanya nggak mau ke Dubai, nyatanya mulut nggak mau nutup juga. Terpesona, Mbak?” Benny berdiri di samping Renata dengan nada mengejek. Renata buru-buru menutup mulut, memasang tampang tidak suka.
“Siapa juga yang terpesona. Kalau enggak mikirin perasaan Mama, gue juga ogah kali.”
Benny tidak menanggapinya lagi, matanya menemukan bangunan yang akan membuat Renata menjerit. Tangan Benny menyentuh pipi Renata, mendorongnya hingga menoleh ke kiri. Sebuah bangunan megah menjulang, lagi-lagi renata takjub. Bangunan yang berada di ketinggian 321 meter di atas pulau buatan berbentuk segitiga itu sangat menawan. Dengan desain yang mirip dengan bentuk layar sebuah dhow[1] dan adanya helipad[2]dan restoran di dekat puncaknya membuatnya tampak menakjubkan. Burj al-Arab, itulah nama hotel yang lobi atrium hotelnya merupakan yang tertinggi di dunia.
“Itu apa?”
“Hotel mewah yang punya fasilitas segudang.”
Mata Renata tertuju pada Benny. “Kenapa kita nggak nginep di sana aja?”
Jari telunjuk Benny bergoyang ke kanan-kiri di depan wajah Renata. “No! Ngapain kita nginep di tempat mahal kalau lo nya aja ogah-ogahan gue ajak honeymoon ke sini.”
“Gue kan sekarang udah ada di sini, jadi apa bedanya sama gue mau?”
“Kita lihat nanti, ya. Kalau elo jadi istri yang nurut suami, gue akan pikirin lagi buat ke sana.” Benny meninggalkan Renata yang masih menatap hotel yang sering dikatakan sebagai hotel bintang tujuh, meski beberapa pakar pariwisata menyebutkan bahwa fasilitas yang ada menunjukkan hotel tersebut adalah hotel bintang lima.
Renata melirik jam tangannya yang menunjuk angka enam. Perbedaan waktu Indonesia dengan Dubai hanya tiga jam saja. Dengan mata yang mulai berat, Renata memilih mengistirahatkan indera penglihatnya sebelum melihat sunset.
Benny keluar dari kamar mandi dengan wajah segar, sangat bertolak belakang dengan Renata yang terlihat kucel. Melihat Renata yang menghempaskan tubuhnya ke kasur, Benny menghampirinya lalu melempar handuk basah ke wajah Renata.
“Mandi dulu lo. Nggak liat muka udah kucel? Badan juga udah bau gitu.”
“Entar ajalah, dirapel. Mau entar atau sekarang sama aja ini,” jawab Renata seraya melempar balik handuk basah di wajahnya tanpa mau membuka mata. Benny tidak protes lagi, laki-laki itu memilih untuk menikmati pemandangan dengan laptop di pangkuan.
***
Kalau ditanya siapa orang paling malas dan susah dibangunkan, Benny dengan yakin menjawab Renata. Benny sudah memasang alarm di sebelah Renata, namun dia tak kunjung membuka mata. Yang ada Renata malah marah-marah dengan mata terpejam dan tangan yang berusaha menutup telinga. Benny sampai dibuat geleng-geleng melihat kelakuan istrinya.
Melihat tidak ada pergerakan lagi, Benny mengambil ponselnya yang sudah terkoneksi dengan wi-fi hotel lalu mengetikkan sebuah nama. Ajrit Taneja, aktor yang berasal dari India yang begitu digandrungi oleh Renata. Sebuah video yang menampilkan Ajrit dia putar dengan volume kencang. Bingo, mata Renata langsung terbuka lebar. Sesaat setelah mendapati wajah puas Benny, Renata memukulnya dengan bantal yang digunakannya.
“Makannya buruan bangun sama mandi. Enggak mau lihat sunset?”
Mendengar kata sunset, mata Renata semakin melebar. Kali ini bukan melebar karena senang, melainkan kesal mendadak dibangunkan karena hal sepele.
“Kalau elo ngajak gue ke hotel mewah tadi, nggak usah elo suruh gue udah dandan dari tadi, keleus!” ketusnya.
“Kan gue udah bilang, gue bakal mempertimbangkan keinginan elo buat pergi ke sana kalau kelakuan elo bisa berubah. Nurut. Sama. Suami!” Benny menekankan tiga kata terakhir.
“Buruan mandi, sunset di sini jam setengah enam, gue enggak mau nyia-nyiain keindahan Tuhan karena nungguin elo yang kaya tante-tante mandi lama.”
Renata melihat jam dinding, tiga puluh menit adalah waktu yang sangat cukup untuk dirinya membasuh diri. “Iya, Bawel!”
Dua puluh menit kemudian, Renata keluar dengan kaos dan celana denim dengan rambut basah terurai. Memancarkan aura seksi yang membuat Benny menelan ludah. Tanpa kata Benny berjalan mendahului Renata, agak meninggalkan Renata di belakang yang sudah mencak-mencak. Salah sendiri jadi orang sok seksi banget! batin Benny tanpa mengurangi kecepatan jalannya. Namun dia terjebak di dalam lift, Renata langsung mendekat padanya ketika ada orang yang masuk ke lift. Benny ingin mendorong istrinya menjauh, namun dia mengurungkannya.
Sesampainya di lantai satu, Benny membiarkan Renata keluar terlebih dahulu untuknya menghembuskan napas lega. Namun tak lama, karena Renata sudah menghampirinya lalu menariknya keluar dengan senyum anak kecilnya. Meski terkadang menyebalkan, Renata selalu saja bisa membuat Benny melihatnya menjadi sosok yang menggemaskan.
Menginjak pasir putih lembut dengan bias warna orange sungguh memukau.Renata mengeluarkan ponselnya, merekam detik-detik tenggelamnya sang surya. Mata Benny tidak bisa lepas dari sosoknya yang begitu menarik.
Selama ini gue nggak ngerti alasan kenapa suka sama elo sampai berani melangkah sejauh ini. Mereka selalu bertanya apa gue sudah gila mau menikah sama perempuan yang kadang kadar gilanya nggak bisa gue ukur. Tapi hari ini gue sadar, elo ternyata cantik dan sangat menarik tanpa harus sengaja melakukan semua hal itu. Haruskah gue bilang kalau gue beruntung nikahin lo, Ren?
“Jadi kapan kita akan pindah ke hotel itu?” Setelah Renata memasukkan kembali ponselnya ke kantong celana, dia melihat Benny seraya telunjuk mengarah ke hotel yang kini lampu kuning di pembatas hotel dengan laut menyala. Pohon-pohon palm kecil yang tumbuh menambah kesan romantis. “Ben ....”
Seharusnya gue tarik kalimat tadi! dumelnya. “Lo matre banget sih, udah punya hotel juga, ngapain musti nyewa lagi. Buang-buang duit.” Tangan Benny menoyor kepala Renata sebelum meninggalkannya.
“Lo hobi banget sih hari ini ninggalin gue.”
“Salah sendiri elo ngeselin.”
Meski mengatakan begitu, sikap Benny tidaklah menunjukkan hal itu. Dia tetap menuruti Renata yang menyusuri pantai lalu menyusuri cafe dan restoran yang ada. Benny menggandeng Renata, membawanya ke arah Burj al-arab yang kini gedungnya memancarkan lampu berwarna biru muda, hijau, kuning, ungu dan merah yang indah.
“Kita beneran mau ke sana, Ben?”
“Menurut lo?”
Renata memeluk Benny erat. “Elo emang suami yang paling bisa diandelin.”
Tanpa diduga, Benny membawa Renata ke sebuah restoran Italy, tidak sesuai harapan Renata. Malah ini adalah sangat jauh dari yang dia inginkan.
“Siapa yang mau makan di sini? Lo kan udah janji kalau gue nurut sama elo, lo bakal ngajak gue ke hotel itu.” Renata mulai merengek meski waitress berjalan menghampirinya.
“Coba elo inget-inget lagi, kayaknya elo salah denger deh, Ren. Gue bilangnya akan mempertimbangkan, bukan mengiyakan.” Merasa dibodohi, Renata cemberut hingga mereka mengosongkan piring.
***
Setelah semalam Renata marah karena Benny hanya mengerjainya, perempuan itu bangun dengan wajah penuh dendam. Benny yang meringkuk di atas sofa hanya berselimutkan jaket. Dengan sadis, Renata menurunkan suhu AC, membiarkan laki-laki itu tahu rasa dan kapok. Dengan bersiul Renata masuk ke kamar mandi.
Benny semakin meringkuk merasakan dingin yang menusuk hingga ke tulang. Dengan mata berat dia mencoba membuka mata, tidak menemukan sosok Renata di tempat tidur, Benny berjalan ke ranjang lalu menyelipkan tubuhnya di bawah selimut dari ujung kaki hingga ujung kepala. Beberapa saat setelah dia kembali memejamkan mata, teriakan disertai timpukan di bagian kepala membuatnya kembali bangun.
“Heh, pemalas, buruan bangun!”
Dengan mata sipit yang agak bengkak dan suara serak –khas orang yang kurang tidur, Benny memegang kepala. “Lo nggak bisa sekali aja biarin gue tidur nyenyak, ya? Hobi banget gangguin orang tidur.” Mata Benny terpaku pada jam dinding yang masih menunjukkan pukul delapan. “Kita pergi masih entar jam sepuluh, jadi biarin gue tidur bentar, bisa?”
“Ah elo mah enggak asyik. Gue udah nggak sabar banget nih,” ucapnya sambil menggoyangkan lengan Benny khas anak kecil. Benny mau tidak mau bangun juga sebelum Renata melakukan hal aneh lainnya. “Nah, kalau gitu kan jadi ganteng.”
“Udah dari sononya kali kalau ganteng.”
Perjalanan yang ditempuh dari daerah Burj Al-Arab hingga Uni Emirat Arab tidaklah memakan waktu lama dengan Taxi. Benny mengajak Renata makan makanan khas Dubai sebelum melanjutkan perjalanan. Mereka memasuki sebuah restoran dengan tampilan klasik namun elegan. Pertama kali membuka menu, Renata sudah mengeluarkan kata ‘wah’.
“Lo mau pesan apaan?”
“Ada nasi enggak?”
“Hah?” Dari banyaknya menu yang ada, Benny tidak menyangka akan mendapat pertanyaan itu. “Lo nanyain nasi di sini?”
“Lhah, kenapa emangnya?”
“Dasar Asia!”
“Ada yang salah sama Asia? Lo juga orang Asia yang nggak bisa hidup tanpa makan nasi kali. Jadi enggak usah menghina.”
Setelah memesan dan menunggu agak lama, pesanan mereka datang juga. Sepiring tabbouleh[3], Shawarma[4]berisi daging ayam dengan makanan penutup Mehalabiya[5] sudah menghiasi meja bundar di depan mereka. Renata yang tadinya ingin memakan nasi mengurungkan niatnya setelah melihat sepiring penuh berisi tabbouleh.
Mereka makan dalam diam, hanya iringan musik khas dubai dan suara orang yang tengah memesan menyelimuti mereka. Dua sejoli itu terlalu asyik dengan makanannya hingga tak ada obrolan sama sekali.
“Ah, akhirnya gue kenyang juga.”
Benny menegak air putih dari gelasnya sebelum berkomentar, “Kalau lo nggak kenyang keterlaluan. Pagi tadi lo kan udah makan di hotel.”
Renata hanya nyengir kuda. Setelah mengisi perut, Renata hanya pasrah diajak Benny berjalan menyusuri jalan-jalan yang penuh lalu lalang turis. Renata menghentikan langkahnya ketika bangunan yang dimaksud Benny sudah di depan mata.
“Kita ngapain sih ke sini?” Renata menatap Benny penuh kecemasan.
“Kan gue pernah bilang kalau lo nggak akan nyesel ikut gue ke sini.”
“Kata siapa gue nggak nyesel. Seharusnya gue tahu dari awal kalau niat lo bawa gue ke sini itu mau balas dendam, kan?”
“Lo masih inget nggak dulu pas jaman kuliah lo pernah bilang apa?”
“Apa?”
“Lo pengen sky diving meski cuma sekali sebelum lo mati.”
“Njiiirr, kapan gue ngomong kaya gitu. Jangan mengada-ada ya.”
Benny merangkul Renata yang mulai menjauh darinya. “Nggak usah sok lupa kaya gitu. Gue udah pernah janji buat ngajak lo sky diving suatu saat nanti. Dan hari inilah suatu hari nanti itu.” Senyum polos terbit di bibir Benny.
Salah gue ngomong sama orang yang selalu ingat sama hal-hal kecil yang cuma dianggap angin lalu kalau sama orang lain. Dengan langkah berat Renata masuk ke sebuah bangunan yang di atasnya tertulis SKYDIVEDUBAI dengan huruf kapital yang begitu mencolok. Sampai di dalam, Renata dan Benny diminta mengisi formulir lalu diukur berat dan tinggi badan mereka.Semoga berat badan gue enggak mencukupi. Begitu batin Renata yang terus menerus dia ulangi.
Mendapat stempel lolos uji fisik, Renata duduk di kursi tunggu dengan perasaan takut dan tegang. Benny menatapnya kasihan namun juga senang. Melihat tangannya yang bergetar, Benny mendekatinya lalu mengambil tangan Renata untuk digenggam.
“Lo nggak akan kenapa-napa, Ren. Kenapa jadi takut kaya gitu, sih?”
“Siapa yang tahu gue bakal kenapa-napa atau enggak. Kalau pengamannya lepas terus gue jatuh gimana?”
“Jangan parnoan kaya gitu.”
Lo sih nggak tahu gimana rasanya jantung berdegub enggak normal. Ngebayangin gue jatuh dari ketinggian tiga belas ribu kaki udah bikin pikiran gue campur aduk.. Cuma orang gila yang enggak akan ngerasa takut, ya macam si Benny ini, pikir Renata kalut.
Melihat Benny yang memakai alat pengaman, membuat Renata semakin ketakutan. Dia seperti anak kucing yang kehilangan induknya. Renata semakin mengeratkan pelukannya di lengan Benny ketika akan naik ke pesawat yang akan membawanya ke udara. Para instruktur yang akan terjun bersamanya naik setelah Benny dan Renata berada di dalam pesawat. Pesawat mulai lepas landas, wajah Renata sudah mulai pias.
“Relax ....” ucap seorang instruktur yang berada di sebelahnya.
Renata hanya membalasnya dengan senyum dipaksakan. Semua wajah yang berada di pesawat semringah, kecuali Renata.
“Lo nggak akan kenapa-kenapa entar, Ren. Kalau lo berhasil lewatin tantangan ini, gue punya hadiah buat lo.”
Lupakan hadiah yang membuat Renata penasaran, perempuan tu lebih memilih mundur daripada mati mengenaskan. Tapi senyum meremehkan Benny membuatnya tidak ingin mundur. Tangannya saling terkait dengan erat, sampai kedua telapak tangannya seolah mati rasa. Keringat dingin semakin banyak keluar dari pori-pori kulitnya seiring dengan pesawat yang semakin meninggi.
Instruktur yang duduk di sebelah kanan Benny dan berada di dekat pintu keluar melihat ke arah jam yang melingkar di lengan kiri, mengecek apakah ketinggian mereka sudah cukup atau belum. Dengan perlahan badan kecil itu berjalan menuju pintu, dengan tangan berpegangan pada pegangan di bagian atas pintu, dia mengintip ke bawah untuk memastikan mereka berada di tempat yang tepat. Setelah di rasa tempatnya sempurna, instruktur itu melompat tanpa ragu diiringi suara jeritan Renata yang langsung disambut gelak tawa.
“Lo pengen terjun duluan?”
Renata menolak dengan tegas pertanyaan Benny.Benny dan instrukturnya terjun terlebih dahulu, meninggalkan Renata dengan instrukturnya yang masih duduk di kursi pesawat.
“Are you ready?” tanya sang instruktur.
Dengan suara bergetar Renata menjawab, “I’m ready.” Setelah itu Renata mulai berjalan menuju pintu. Wajahnya terkena sapuan angin kencang, membuat kakinya kembali goyang. Kacamata bening yang dipakainya menghalau angin agar membuat matanya tetap terbuka. Dengan posisi kepala yang didongakkan dan tangan memegang self belt, Renata beserta instrukturnya melompat pada hitungan ke tiga. Awalnya Renata ngeri melihat betapa tingginya keberadaannya kali ini.
“Don’t spread your legs. Just relax ...”
Renata mengikuti instruksi yang diberikan. Kakinya dia tekuk dan mulai menikmati keindahan yang ada di bawah sana. Pemandangan palm Jumairah sangat menakjubkan hingga Renata tidak bisa berkata-kata. Beberapa saat kemudian instruktur membuka parasut dan terjun santai dimulai selama lima menitan.
Benny sudah terlihat sampai di zona landasan yang langsung disusul oleh Renata. Setelah mendarat dengan sempurna dan tali parasut sudah dilepaskan, Renata berlari menghambur ke dalam pelukan Benny. Dia merasakan kebahagiaan yang meluap-luap.
“Gue nggak nyangka akan ngelakuin hal ini. Gue kira ini akan jadi impian yang nggak akan terlaksana.”
Benny tersenyum senang. “Masih ada kejutan buat lo lagi, Ren. Siap-siap lo jatuh cinta sama gue.”
Setelah mengucapkan terima kasih, Benny mengajak kembali. Mengambil tas ranselnya untuk melanjutkan perjalanan.
“Gimana tadi di atas?”
“Nggak bisa digambarin dengan kata-kata. Ternyata rasa ngeri cuma pas kita mau lompat aja, abis itu terbayar semua sama keindahan yang disuguhkan.”
“Lo bakalan lebih terkagum-kagum lagi abis ini.” Ada senyum misterius yang diperlihatkan Benny. Renata tidak menyadarinya karena tengah menebak-nebak apalagi kejutan yang sudah disiapkan Benny untuknya. Apakah akan lebih gila dari ini atau tidak, Renata sangat menunggunya.
***
Siang ini Benny mengajak Renata ke Dubai Miracle Garden selepas mereka makan. Dubai Miracle Garden yang terletak di kawasan Dubailand arena dan jauh dari pusat kota adalah sebuah taman yang sangat indah dengan berbagai macam bentuk bunga dan berbagai macam warna. Tanaman yang tumbuh di atas pasir tentu sangat tidak memungkinkan, tapi mereka mampu menumbuhkan beribu-ribu bunga di sana. Keajaiban, seperti namanya, begitu juga seperti yang dirasakan Benny pada Renata. Renata adalah sebuah keajaiban untuk Benny, bahkan orang tuanya juga berpikir begitu. Hanya Renata yang mampu menggerakkan hati Benny hingga seperti ini.
“Selamat datang di dunia baru yang akan bikin elo jatuh cinta.”
Renata membaca tulisan Dubai Miracle Garden yang dipasang di atas bunga-bunga kecil berwarna kuning. Di sebelah kirinya terdapat bunga yang dibentuk menjadi bentuk hati tiga pasang berwarna merah, merah muda dan merah. Sangat indah. Mata Renata menjelajah dengan tatapan kagum karena sejauh mata memandang, yang ia temui adalah warna warni bunga yang ditata sedemikian rupa.
“Ini adalah yang terbaik dari yang paling terbaik yang elo kasih ke gue.”
Benny tertawa dengan pemilihan kata yang digunakan Renata. Terlalu banyak kata yang dalam satu kalimatnya.
“Jadi gimana, gue udah romantis belum?” Benny menggodanya dengan menyenggol bahu Renata dengan bahunya.
“Ben, lihat itu burung meraknya!”
Benny mendesah kecewa tidak mendapat tanggapan. Renata sudah berlari menghampiri burung merak yang membuka ekornya. Padu padanan warna bunga yang digunakan benar-benar bagus. Benny mengikuti Renata tanpa protes. Mereka melewati jalan yang di sebelahnya terdapat pot yang memuntahkan bunga berwarna merah hingga menjulur ke jalan. Ada beberapa, tapi semakin menjauh semakin banyak bentuk-bentuk unik yang ditemui. Seperti bentuk bintang, binatang, mobil, bahkan rumah juga ada.
Mereka sampai di sebuah terowongan yang berbentuk hati. Renata menyerahkan kameranya ke Benny dan meminta laki-laki itu untuk menjadi juru kameranya. Benny tetap menerimanya, namun langsung meminta tolong ke pengunjung lain untuk memfoto mereka.
“Gue kan mau foto sendiri, Ben.”
Masa bodoh, Benny memosisikan diri di samping Renata. Meraih pinggang gadis itu lalu memamerkan deretan giginya yang rapi. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka melewati lorong itu dengan bergandengan tangan. Suasana romantis ini sangat alami. Benny menekan kedua tulang pipinya.
“Kenapa?”
“Sakit gara-gara daritadi nggak berhenti senyum.”
Renata mendadak melepaskan tautan mereka lalu menjauh dari Benny. “Lo gila?”
“Gue bahagia.”
Renata memasang wajah mengejek. Benny hanya menanggapinya dengan senyum seraya merangkul Renata. Menyusuri tiap lorong dengan bentuk berbeda menghasilkan perasaan yang berbeda pula. Ketika melewati lorong hati, mereka seperti sedang dalam nuansa romantis. Tapi berubah ketika mereka melewati lorong dengan dinding yang dipenuhi dengan pot-pot bunga dan di atasnya banyak payung di buka diletakkan secara acak. Rasa sejuk dan aman karena dapat terhindar dari paparan sinar matahari sangat menenangkan mereka. Sedangkan ketika mereka melewati lorong dengan bentuk lingkaran, itu seperti menggambarkan hidup mereka. Naik turun hubungan mereka seperti tergambarkan di sana.
“Kita wajib balik ke sini lagi kalau udah balik ke Indonesia.”
***
Setelah menghabiskan waktu hingga sore hari, Renata dan Benny keluar dari Miracle Garden. Perjalanan mereka kali ini, tentu saja sesuai kemauan Benny karena dia yang sudah mempersiapkan segalanya.
“Kita bakal tidur di mana?”
“Di emperan pun jadi.”
Renata meninju lengan Benny. “Gue serius, nih. Punggung gue udah capek bawa tas berat ini.”
“Salah sendiri udah gue masukin ke koper elo pindah ke tas ransel. Lo mau tukeran?”
“Enak aja.”
Sebuah taksi pesanan mereka sudah datang, Renata masuk terlebih dahulu dengan napas lega. Akhirnya kakinya bisa beristirahat juga.
“Seharusnya kita lebih lama lagi di sana.”
“Ya udah kalau elo mau di sana ya nggak apa-apa. Turun, gih.”
“Asem banget sih lo. Nggak bisa lihat gue bahagia dikit aja.”
“Gue udah ngasih kebahagiaan tapi elo ngerasa kurang mulu. Terserah, lah.” Benny membuat badannya senyaman mungkin dengan kursi mobil. Membayangkan tubuhnya lurus di atas kasur sungguh menggoda. Tapi ini adalah acara terakhir yang bisa berikan di Dubai. Dia sudah menyiapkan hal ini dan dia tidak ingin merusaknya.
Melihat Benny yang mulai memejamkan mata, Renata ikut memejamkan mata dengan bersender di bahu Benny. Kali ini taksi membawa mereka ke sebuah bangunan yang menjulang tinggi di antara bangunan-bangunan tinggi yang lain. Tapi mereka berhenti di Dubai Mall yang berseberangan dengan bangunan megah yang kini berkerlap kerlip. Renata yang baru saja bangun terkejut dengan apa yang dilihatnya.
“Ben!” Renata tanpa sengaja memukul lengan Benny hingga laki-laki itu melonjak. Melihat telah sampai di tempat tujuan, dia melihat argo yang berada di taksi lalu mengeluarkan uang. Setelah transaksi selesai, Benny dan Renata keluar dari mobil. Banyak orang yang berjalan di sana.
“Itu Burj Khalifa?” tanya Renata ketika benny sudah berada di sebelahnya.
“Iyap.”
“Yang ada di Mission Impossible?”
“Iya, Renata.”
“Woah, ini beneran nyata, kan, Ben? Coba cubit gue.” Lengannya dia sodorkan ke Benny. Dengan tampang polos Benny mencubitnya. “Duh duh duh, sakit, Ben.”
“Udah sadar kalau ini bukan mimpi?”
Renata mengangguk.
“Sebelum kita makan malam, gue mau nunjukin sesuatu yang lebih indah dan nggak akan terlupakan kayak tadi.”
“Serius? Ada lagi?”
Anggukan Benny membuat Renata senang.
Benny membawa Renata berjalan menuju sebuah pembatas berwarna hitam, mendekatkan mereka ke bangunan tertinggi di dunia dengan tinggi yang mencapai 829,8 meter. Bangunan yang memiliki 203 lantai itu hanya membutuhkan satu menit untuk sampai ke lantai 124, yang mana lantai 124 adalah lantai teratas untuk wisatawan. Sebuah danau memisahkan mereka dengan Burj Khalifa.
“Sampai entar kita mau di ....”
Belum selesai Renata bertanya, lampu dimatikan lalu sebuah laguTime to say goodbye mulai mengalun keras diingi dengan air mancur yang mulai menyembur ke atas dengan ketinggian 150 meter. Air mancur pertama berbentuk lingkaran, yang ketika turun lingkaran lain muncul.Air mancur tertinggi di dunia ini meliuk dengan indah. Pertunjukan yang disebut “Dubai Fountain Show” ini selalu menarik turis untuk melihat dan membuat mereka berdecak lidah.
Lima lingkaran berbeda bentuk muncul silih berganti seperti bunga lotus yang sedang mekar. Renata sudah akan berbalik ketika tidak ada air mancur lagi tiba-tiba sebuah semprotan dari ujung memanjang sampai kira-kira 275 meter melewati lingkaran-lingkaran bunga lotus. Pertunjukan di tutup dengan semua air mancur dinyalakan. Bahkan dari bangunan Burj Khalifa juga menyemprotkan air mancur yang begitu indah sampai ke puncak.
Renata masih tidak bisa melepaskan pandangannya dari danau yang kini sudah kembali tenang. Benny menatap Renata yang masih belum kembali ke dirinya. Pikirannya masih jauh tertinggal di acara barusan.
“Lo suka?”
Renata mengagguk.
“Elo bahagia?”
Lagi-lagi dia hanya mengangguk.
“Apa yang bikin elo bahagia selama di Dubai?”
Kali ini Renata menjawab sambil menatap mata Benny. “Elo.”
Singkat namun Benny puas akan jawaban itu.
“Sayangnya gue harus bilang kalau malam ini adalah malam terakhir kita di Dubai.”
“Hah?”
“Gue harus balik buat ketemu client di Yogyakarta.”
“Kenapa mendadak gini?”
“Ini sebenarnya project sebelum kita nikah, Ren. Nggak mungkin gue lepas tanggung jawab gitu aja.”
“Kan ada Dimas sama Rendra. Kenapa nggak mereka aja yang datang ke sana?”
“Kita cuma bertiga, Ren. Banyak persiapan yang harus dilakukan sebelum meng-install alatnya di sana. Kita belum pernah lihat secara langsung kondisi lapangan.”
“Salah kalian dong kalau gitu.”
“Makannya itu gue juga harus hadir di sana.”
“Jalan-jalan doang ini namanya, bukan Honeymoon.”
“Emang elo mau yang lebih dari jalan-jalan?”
Renata menginjak kaki Benny hingga laki-laki itu mengaduh. “Ogah lah. Kan gue udah ngomong kalau gue nggak mau elo sentuh sebelum kita ke India.”
“Elo nggak inget siapa tadi siang yang lari-larian langsung meluk gue pas kita abis sky diving? Nggak inget siapa yang ngegandeng gue ketika kita di Miracle Garden? Dan elo juga nggak inget siapa yang tadi tidurnya nyender-nyender di bahu gue?”
Renata mengeluarkan tatapan garangnya. Bukannya takut, Benny lagi-lagi tertawa karenanya.
“Nyesel gue nikah sama elo.”
“Kok nyesel, tadi katanya bahagia karena gue.”
Renata mengumpat sebelum meninggalkan Benny dengan menghentakkan kaki.
***
[1] Kapal layar tradisional dengan satu atau lebih tiang, memakai layar lateen dan digunakan di wilayah laut merah dan Samudra Hindia
[2] Landasan untuk helikopter
[3] Salad berbahan tomat, daun bawang dan mentimun yang dibumbui min segar dan air lemon
[4] Berbahan daging kambing/ayam yang dilengkapi sayuran, kentang goreng, acar dan saus bawang
[5] Kombinasi rosewater dan pistachios
Other Stories
The Truth
Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...
Rumah Rahasia Reza
Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...
Kesempurnaan Cintamu
Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...
Suffer Alone In Emptiness
Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...
Cinta Di Ujung Asa
Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...