Chapter 4
Benny berpapasan dengan Renata yang memeluk snack. Tujuan Renata tentu saja untuk menikmati film kesayangannya. Benny membanting tasnya ke sofa di sebelah Istrinya. Yang seharusnya marah kali adalah Benny. Semuanya terjadi ketika Renata terus-terusan menampakkan wajah tidak sukanya ketika pertemuan keluarga kemarin. Bahkan dia berusaha menghindari keluarganya yang mendekat dan ingin mengajak ngobrol dengannya.
“Berhentilah marah nggak jelas, Ren.”
Renata meliriknya sekilas lalu kembali memfokuskan pandangannya ke layar televisi lagi. Penuh kesal, Benny mencabut aliran listrik hingga layar berwarna hitam.
“Apa-apaan, sih?”
“Kita butuh bicara sekarang.”
“Nggak ada yang perlu dibicarain lagi. Semuanya udah jelas kalau lo itu sengaja nyiksa gue kemarin. Jadi cowok kok nggak pekanya kebangetan!”
Tangan Benny memijit pelipisnya yang nyut-nyutan seraya menghembuskan napas. “Selama ini gue diem karena gue ngasih waktu buat lo bisa berubah. Gue pengen lo ngerti kalau lo sekarang udah punya suami, punya tanggung jawab untuk mengurus kebutuhan rumah tangga layaknya ibu-ibu yang lainnya.”
“Jadi lo nyuruh gue kayak babu? Yang harus nyiapin segalanya buat lo sama ngeberesin rumah?”
“Gue nggak nyuruh lo buat ngelakuin semua hal itu. Tapi seenggaknya lo bisa ngehargain gue sebagai kepala rumah tangga. Berhenti nonton Film India saat gue pulang, sambut gue layaknya manusia.”
“Kenapa jadi bawa-bawa film India, sih?”
“Karena acara nggak jelas itu bikin lo males ngapa-ngapain. Bahkan buat angkat pantat aja lo nggak mau. Gue nggak mau lo berubah drastis, tapi seenggaknya gue mau lo sadar dan mau belajar.” Benny mengamati Renata yang menatapnya sebal. Tidak mendapat jawaban, dia melanjutkan, “hidup gue sekarang hidup lo juga. Begitu juga sebaliknya. Keluarga gue juga udah jadi keluarga lo, keluarga lo udah pasti jadi keluarga gue. Apa susahnya kalau nggak suka disimpen dulu. Setidaknya hargai keluarga gue.”
“Kalau nggak suka ya udah nggak suka aja. Nggak usah bermuka dua kayak gitu.”
“Nah itu. Lo berarti belum bisa dewasa. Jadi nggak usah marah kalau lo dipanggil kayak anak kecil, karena emang kenyataannya kayak gitu. Setidaknya lo bisa ngehargain orang lain dengan sedikit menahan rasa nggak suka lo itu.”
“Jadi, lo nyesel nikah sama gue?”
Alis Benny naik sebelah. Dia kehilangan kata-kata. “Gue ngomong panjang lebar kayak gini lo ngambil kesimpulan kayak gitu?” Tangannya sudah menjambak rambutnya sendiri. Merasa kesal dengan kesimpulan negatif Renata.
“Ya emang gitu, kan? Lagipula dari awal gue udah nyuruh lo buat ceraiin gue.”
Dada Benny naik turun menahan amarah. Sebegitu mudahnya perempuan itu mengucapkan kata cerai. “Mulai sekarang lo harus masak apapun yang bisa lo bikin,” ucap Benny setelah amarahnya mulai turun.
“Kita kan bisa Deliv ....”
“Gue nggak butuh alasan apapun. Yang jelas, kalau gue pulang harus udah ada makanan di meja. Dan kalau lo sampai beli, jangan harap lo bisa lihat film India. Gue bisa matiin semua akses buat lo nonton itu film.” Setelah mengucapkan kalimat panjang itu, Benny bangkit dari duduknya. Dia melenggang meninggalkan Renata yang sudah membuka mulutnya karena kaget dengan sikap Benny yang tiba-tiba berubah.
“Cari pembantu aja kalau gitu,” teriak Renata yang sudah sadar dari keterkejutannya. Benny yang sudah berada di ambang pintu ruang kerjanya berhenti dan menoleh. Senyum miring terbit.
“Yang dulu nolak pakai pembantu itu lo, Ren. Jadi sekarang nikmati aja. Gue nggak mau nanggung malu punya istri nggak bisa masak.”
Dengan wajah tanpa rasa bersalah, Benny menghilang di balik pintu. Meninggalkan Renata yang menyumpah serapahi dirinya. Tanpa Renata tahu, tubuh Benny meluruh ke lantai dengan tatapan penuh rasa bersalah.
“Gue nggak terlalu kasar, kan, ya?” tanyanya pada diri sendiri. Tangan Benny berada di depan dada, merasakan jantungnya yang berdegub kencang. Bersikap tegas seperti ini sesekali harus dilakukannya, seperti yang disarankan Dimas pagi tadi. “Dia nggak nangis, kan?” Benny menempelkan daun telinganya ke pintu, menajamkan telinga untuk mengetahui situasi di luar sana.
Setelah yakin Renata tidak menangis, Benny bangkit dari lantai, berjalan ke laptop yang masih menyala. Kini dia hanya tinggal menunggu bagaimana respon Renata.
***
Pagi ini Benny mencium bau masakan dari arah dapur. Dia yang belum tertidur sama sekali sejak semalam memegang perutnya yang mulai keroncongan. Membuka pintu, bau harum itu berubah menjadi sedikit bau gosong yang menyengat.
“Lhah?!” Benny melihat punggung Renata yang sibuk di dapur dengan tangan sibuk. Benny tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sepertinya ancaman semalam berhasil, lihatlah bagaimana sibuknya seorang Renata yang biasanya memilih untuk santai-santai di depan televisi dengan camilan di pangkuannya kini berubah menjadi sosok ibu rumah tangga yang berkutat di dapur.
Bau gosong kian menyengat, Benny masih setia berdiri di ambang pintu. Renata mematikan kompor lalu melepaskan apron berwarna birunya dan membantingnya ke lantai. Benny tahu persis bagaimana frustasinya istrinya itu, tapi tak ada niatan untuknya sekadar membantu. Laki-laki itu kembali ke kantornya dan berkutat dengan solder beserta teman-temannya.
Tak lama kemudian, sebuah ketukan membuat Benny mendongak. Renata berdiri dengan kepala menunduk. “Kita sarapan dulu, yuk, Ben. Gue udah masak.”
Benny berdiri, mencabut semua aliran listrik lalu menghampiri Renata. “Tumben. Udah sadar?”
Kalau lo nggak ngancem bakal matiin semua akses gue buat nonton India, gue juga ogah kali ngotorin kuku gue yang udah cantik bersih. “Iya, dong. Nyenengin suami kan dapet pahala, Ben.”
“Baguslah kalau gitu. Setidaknya gue ada harganya di rumah ini.”
Benny mendahului Renata tanpa tahu perempuan itu tengah meninju udara, membayangkan Benny-lah yang menjadi target pukulannya. Benny berdiri di meja makan yang penuh masakan layaknya seorang juri. Badannya condong untuk mengendus bau aneh.
“Kok kayak bau gosong, Ren?”
“Namanya juga pertama kali masak. Ya wajar dong kalau gosong-gosong dikit.”
Benny duduk di kursi lalu mengambil nasi dan lauk. Di sini sudah tersaji sayur kangkung kesukaannya, telur dadar dan tahu tempe goreng. Benny mencicipi telur dadar dan langsung mengeluarkannya lagi.
“Lo ngasih garamnya seberapa, sih? Satu centong?”
Wajah Renata sudah berganti muram. “Lo mah nggak bisa ngehargain orang yang bikin. Seenggaknya nyenengin kek komennya.”
“Lhah, apa yang harus gue puji dari masakan lo yang keasinan. Gue ngomong jujur karena gue mau lo ada kemajuan, bukan maksudnya mau menghina. Tolong otak lo itu di buka dikit, jangan apa-apa mikirnya negatif mulu.”
Merasa tidak dihargai, Renata meninggalkan meja makan. Perempuan itu masuk ke dalam kamar dan mengunci diri di dalamnya.
“Dasar cowok nggak punya perasaan, bisa kali bohong buat nyenengin gue yang mau masak. Biasanya di sinetron-sinetron kalau masakan pacar atau istrinya seenggak enak apapun pasti tetap bilang enak meskipun di belakang ngedumel karena rasa masakannya ancur. Punya suami satu kok nggak jelas macam dia.”
Kryuukkk
Suara perut itu menyadarkan Renata kalau dirinya juga merasa lapar. Nasi sudah menjadi bubur, dia tidak lagi bisa keluar tanpa merasa malu. Aroma masakan masuk melalui celah-celah pintu dan ventilasi. Renata memegang perutnya yang kian tidak bisa diajak kompromi.
“Harusnya kalau dia nyuruh gue masak itu ya dibantuin, bukannya asal nyuruh terus pas rasanya enggak enak protes dan nggak mau makan.” Renata bergulung di kasurnya. Berkali-kali menutup hidung, menghalau bau harum yang menggugah selera.
Setelah satu jam mengurung diri di kamar, Renata keluar diam-diam setelah yakin kalau Benny sudah berada di alam mimpi. Renata mendapati masakan yang sama dengan buatannya tersaji di atas meja. Sebuah notes kecil ditempelkan di sana.
Rasakan masakan ini dan lo bakal tahu apa perbedaannya.
“Katanya nggak ngehina, tapi ini nyatanya ngerendahin sampai disuruh rasain perbedaannya.”
Tanpa merasakan masakan Benny, mengabaikan rasa laparnya, Renata kembali ke kamarnya dan mengambil ponsel, dompet serta kunci mobilnya. Dia membutuhkan sosok yang siap menampung keluh kesahnya. Satu-satunya pelarian yang paling aman adalah kembali ke orang tuanya.
“Mama ....” rengeknya begitu bertemu dengan Rosalina.
“Lhoh, kok kamu sendirian, Sayang? Benny enggak ikut?”
“Nggak usah ngomongin laki nggak becus itu deh, Ma. Dia tu ngeselin banget, Rena udah nggak betah hidup sama dia.”
Rosaline atau yang sering di panggil Rose itu merangkul Renata dan membawanya ke ruang tengah. Keadaan rumah sepi, hanya ada tukang kebun dan Bi Sarti yang membantu Rose mengurus rumah tangga.
“Kamu ada masalah sama Benny?”
Mata Renata sudah berkaca-kaca. “Renata enggak mau balik ke rumah itu lagi. Rena mau tinggal sama Mama aja.” Kepalanya kini sudah berada di pangkuan Rose. Dengan lembut Rose membelai rambut Renata. Rose tidak heran dengan kelakuan manja anaknya itu, karena dia tahu anaknya itu tetap akan menjadi anak kecil untuk dirinya. Terlebih lagi Renata adalah anak bungsu yang tentu paling banyak mendapatkan kasih sayang dari mana saja.
“Dia ngebentak kamu?”
“Dia ngerendahin aku coba, Ma. Dia juga menghina masakanku, lagian kan salah dia sendiri maksa Rena buat masakin dia.”
“Dia bilangnya gimana?”
“Emmm ...,” Renata berpikir sambil menatap Rose. “Ah, paling Mama bakalan bela Benny.”
“Lho kok bisa menyimpulkan kayak gitu?”
“Ya udah ketebak aja kalau Mama akan lebih memilih berada di pihak dia daripada di pihakku.”
“Ya kita lihat dulu dong alasannya. Kalau misalnya dia memang salah ya Mama akan mati-matian bela kamu. Tapi kalau misalnya kamu yang salah ya Mama bakal ngasih tahu kamu, bukan membela dia.”
“Sama aja kalau gitu.” Rena bangun dari paha Rose. Mengerucutkan bibir menuju dapur. “Bi Sarti, bisa tolong bikinin saya nasi goreng?”
“Eh ada Non Rena. Apa kabar, Non? Lama nih Bibi enggak liat Non Rena.”
“Baik, Bi. Kalau bisa cepet, ya, Bi. Aku lapar.”
Renata mengunggu makanannya dengan duduk di sofa, melihat Anandhi yang sudah mulai tayang. Akhirnya kalian kembali, ucapnya dalam hati girang. Rasanya Renata sudah tidak makan masakan Bi Sarti untuk waktu yang lama, setelah piring berisi nasi goreng seafood kesukaannya berpindah tangan, tangan serta mulutnya tidak berhenti bekerja. Renata tidak perlu lagi mengkhawatirkan kesehatan perutnya karena selama dia di sini tidak akan pernah kelaparan. Dia juga tidak diharuskan memasak, dia bisa makan apa saja yang diinginkannya.
Suara Benny bergema bersamaan dengan denting piring yang diletakkan Renata di meja kaca. Kepala Renata berputar cepat, menemukan sosok yang sangat ingin dia hindari, Renata buru-buru memakai sandal rumahnya. Tapi langkahnya kalah gesit, Benny sudah memegang lengan Renata.
“Kenapa lo pergi nggak pamit? Nggak tahu kalau gue nyariin elo sampai pusing?”
“Ngapain nyariin gue segala? Gue kan enggak berguna, bahkan buat masak masakan sederhana aja gue nggak bisa. Kenapa lo nggak nyari cewek yang punya kelebihan itu?”
“Gue ke sini bukan ngajak lo ribut, ya.”
Renata melepaskan pegangan Benny. Tangannya kini ia lipat di depan dada dengan menaikkan ujung dagunya. Menantang. “Kalau enggak ngajak ribut ngapain lo ke sini?”
“Kita pulang dan bicarain masalah ini baik-baik. Nggak baik kalau ada masalah dikit langsung balik ke rumah orang tua.”
“Terserah gue dong mau balik ke sini atau enggak. Punya hak apa lo ngelarang-ngelarang gue buat pulang ke rumah orang tua gue. Lagipula orang tua gue juga nggak akan ngusir gue.”
Kepala Benny sudah sakit mendengar jawaban seperti anak kecil yang dilontarkan Renata. “Gini ya, gue nggak ngelarang elo buat balik ke rumah orang tua lo. Mereka masih punya hubungan darah sama lo, jadi gue nggak mungkin ngelakuin hal sekeji itu. Tapi, gue cuma mau kalau kita ada masalah lo jangan lari gitu aja. Apa salahnya kita obrolin dulu di rumah.”
“Lo datang ke sini malah bikin gue makin pusing. Lebih baik lo pulang aja sana! Jangan sampai lo bikin tekanan darah gue naik.”
Benny sudah akan mengejar Renata namun terhenti dengan panggilan lembut Rose. “Ben ....”
Dia menghembuskan napas terlebih dahulu sebelum menjawab. “Iya, Ma?”
“Biarkan dia sendiri dulu, nanti Mama akan coba buat ngomong sama dia. Tolong maklumi anak Mama yang manja sama masih kayak anak kecil, ya.”
Benny hanya mengulum senyum seraya mengangguk.
“Kamu udah makan?”
“Sudah.”
Rose menepuk bahu Benny, memberinya kekuatan untuk bertahan. Benny hanya tersenyum sambil memasrahkan Renata selama di rumah.
Meninggalkan kediaman Wintarto, Benny melajukan mobilnya ke kantornya. Di sana dia hanya menemui Dimas. Saat ini dia membutuhkan tempat berbagi kisah, namun sosok yang selama ini selalu mendengarkah keluh kesahnya sedang tidak ada. Rendra tengah menghadiri acara pernikahan salah satu kerabatnya di Jambi.
“Kenapa lo kusut banget kayak gitu?”
“Menurut lo gue masuk kriteria suami yang baik enggak, sih, Dim?”
Dimas menggaruk dagunya yang tidak gatal. Menimbang-nimbang jawaban apa yang harus dia berikan. Dengan pikiran usil Dimas menjawab, “elo? Tentu aja elo bukan suami yang baik. Lo kan taunya ngabisin waktu sama benda mati.”
Benny semakin murung. Melihat reaksi yang ditunjukkan Benny, Dimas mulai merasa bersalah.
“Gue cuma bercanda, Ben. Kenapa? Lo ada masalah?”
“Tapi omongan lo ada benernya juga, Dim. Gue emang bukan suami yang baik.”
“Kenapa sih? Nggak usah mendadak mellow gini, deh.”
Benny menghempaskan tubuhnya di sofa sebelah Dimas. “Gue udah ngikutin saran lo buat bersikap tegas sama Renata. Gue ngancem kalau gue bakal matiin semua akses untuknya nonton India, tapi nyatanya itu malah jadi bumerang buat gue. Renata ngambek dan balik ke rumah orang tuanya. Gue harus gimana, nih, Dim?”
“Emang lo nyuruh dia ngapain sampai ngambeknya kaya gitu?”
“Gue cuma nyuruh dia masak doang.”
Dimas kaget dengan jawaban Benny. “Lo nyuruh anak manja itu buat masak? Lo gila apa gila?”
“Itu sama aja lo ngatain gue gila, Bego!”
“Ya emang lo gila. Seumur-umur dia kan nggak pernah masak. Anak mami kaya dia mana mau masuk dapur. Nggak inget dulu jaman masih kuliah, megang pisau aja dia nggak becus.”
“Kenapa lo jadi ngehina istri gue?”
“Gue kan ngomong kenyataan, Ben. Maksud gue tegas ya nggak gini juga kali. Itu sih lo maksa dia namanya. Trus gimana tanggepan orang tua Renata?”
“Mamanya nyuruh gue buat biarin Renata di sana dulu. Dia bakal bantu bicara katanya.”
Suara getaran ponsel membuat keduanya menoleh. Benny terlihat kecewa karena yang berbunyi bukanlah ponselnya. Dimas mengangkat telepon sambil terus melirik Benny yang murung. Setelah mematikan telepon, dia menatap Benny saksama.
“Rani ngajak clubbing, nih. Lo mau ikut kita-kita apa mau di sini?”
“Gue bukan dalam posisi yang bisa seneng-seneng, Dim.”
Dimas merangkul Benny. “Gue bukan ngajak lo seneng-seneng, tapi gue ngajak lo buat ngelupain sejenak masalah lo. Kalau lo ikut gue, gue jamin beban lo akan terangkat sedikit.” Dimas mengambil jaketnya lalu memakainya. “Lo masih ingat client kita? Pak Herjunot, dia juga punya masalah kaya lo gini. Dia bahkan sudah hampir gila karena di usia mereka yang nggak muda lagi dan umur pernikahan mereka yang udah tujuh tahun. Tapi kelakuan istrinya masih saja sama, hanya karena masalah beda pendapat aja dia milih balik ke rumahnya. Tiap kali dia pulang pasti ke klub buat ringanin beban. Jadi, gue saranin lo ikutin cara dia aja.”
“Banyak cewek di sana, malesin.”
“Ya emangnya lo berharap di sana cuma ada cowok doang? Cari aja sana klub khusus kalau maunya kayak gitu.”
Benny tidak memikirkan kemungkinan terburuk dari keputusan yang diambilnya.
***
Other Stories
Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat
Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...
Hantu Kos Receh
Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...
Mendua
Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Menolak Jatuh Cinta
Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...
Aku Bukan Pilihan
Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...