Chapter 3
Benny baru saja masuk ke rumah, namun sudah mendapati Renata yang malas-malasan di depan televisi. Bahkan untuk menyambutnya saja perempuan ini malas. Hanya meliriknya sekilas lalu kembali ke layar 16 inch. Tidak benar orang mengatakan kalau sepulang kerja melihat wajah istri akan menghilangkan sedikit penat yang ada, karena Benny merasakan sebaliknya.
“Ren, nggak ada makanan?” Benny memegang perutnya yang berbunyi. Niatnya sepulang dari Jogja adalah bisa temu kangen dengan sang istri. Namun tampaknya Ajrit Taneja sudah mengambil alih Renata darinya.
“Delivery aja. Gue juga lapar nih.”
Seandainya mengumpat merupakan hal baik, Benny ingin mengeluarkan sumpah serapahnya saat ini juga. Dia sadar, sebelum menikah ia sering mengucapkan hal-hal yang tidak sepantasnya. Namun Benny ingin merubah kebiasaan buruknya itu, sebagai persiapan nanti ketika dia memiliki seorang anak.
“Elo tuh, suami dateng bukannya disiapin makanan, disambut hangat, malah selingkuh mulu sama film India.”
“Selingkuh sama mereka jauh lebih indah daripada liatin muka lo yang absurd kaya gitu.”
Benny menggeleng. Renata memang tidak pernah bisa serius kalau sudah menyangkut kesayangannya itu. Lonceng Cinta menjadi musuh bebuyutan Benny selama ini. Sudah ditahan-tahan tapi rasanya dia sudah tidak sanggup lagi.
“Makan tu lonceng cinta. Elo bisa kenyang, kan, liatin mereka.”
Sebuah mie instan sudah di genggaman. Lagi-lagi Benny hanya makan mie. Lupakan rendang atau sayur kangkung kesukaannya. Yang penting perutnya terisi dan mampu membuatnya bertahan hidup tanpa rasa lapar.
“Kalau bikin mie, gue dibikinin sekalian juga mau, Ben.”
Benny tidak mengeluh maupun membantah. Pria itu hanya memasak dalam diam. Tubuhnya sudah capai, sehingga tidak ada kekuatan untuknya mengucapkan sesuatu.
“Mana mie gue?” Iklan menginterupsi tayangnya film. Pantas saja Renata sudah berdiri di sebelah Benny di dapur.
“Ngapain ke sini? Nggak tahu apa kalau gue lagi ngambek?”
“Jangan ngambek lah, Ben. Ntar nggak ganteng lagi, lho ....”
Masa bodoh, Benny melewati Renata yang masih berusaha membujuknya. Benny masih sakit hati!
“Ayolah ....” Renata memegang lengan Benny. “Jangan ngambek lagi.”
“Balik aja sana sama pangeran khayalan lo itu. Ngapain sama gue yang nggak setinggi dan nggak seganteng mereka. Hidung gue juga nggak semancung mereka. Apasih salah emak gue sampai ngelahirin anak kaya gue?” Benny mulai mendramatisir.
Bibir Renata sudah mengerucut. Ia sudah tahu maksud perkataan Benny, laki-laki itu tidak mau mengalah padanya. “Benar juga. Kenapa gue bisa nikah sama orang yang nggak ada nilai plusnya kayak elo, ya? Udah pendek, item, jelek, pesek, perut one pack lagi.”
Garpu yang terlilit mie instan mengambang di udara. Mulut yang sudah terbuka kembali tertutup. Benny merasa telinganya mendadak tuli.
“Ada ya istri macem lo kayak gini. Ngehina suami seenak jidat.” Dengan sedikit membanting, Benny meletakkan mangkuk mie-nya. Rasa laparnya mendadak hilang, kenyang dengan rasa kesal yang membuncah.
“Makasih, my honey buddy sweety ....”
Benny hanya tersenyum melihat Renata makan dengan lahap. Ternyata rasa sayangnya selalu bisa mentolelir setiap kelakuan menyebalkan atau perakataan Renata yang menusuk ulu. Benny mengambil laptopnya, menemani Renata yang sudah kembali terfokus pada layar.
***
“Di Jogja kemarin gimana? Lancar?” Rendra sudah menahan pertanyaan ini sejak dua hari yang lalu.
“Iya,” jawab Benny tanpa menghentikan kegiatannya mengebor mouse, memasang mendeteksi detak jantung. Project-nya kali ini hanya iseng, karena dengan menghasilkan sesuatu-lah Benny dapat melepas stres.
Berkecimpung di dunia Embended System sangat mengasyikkan, meski di awal terasa sangat berat. Mempersingkat coding agar dapat disimpan ke dalam prosesor yang hanya memiliki kapastitas beberapa kilobyte saja adalah sebuah tantangan tersendiri. Benny rela tidak tidur dua hari hanya untuk menyelesaikan apa yang sudah ia mulai.
Rendra sudah berada di sebelah Benny membantunya memegang mouse agar tidak bergerak. “Rasanya udah lama banget gue nggak ke sana.”
“Ya udah, tinggal ke sana aja kok repot. Lagian siapa suruh kemarin lo nggak dateng.” Pria berbadan agak gemuk itu mengambil mouse yang sudah di modifikasi menjadi sebuah alat pendeteksi detak jantung. Melihat tidak ada balasan dari Rendra, dia kembali berujar, “kalau lo pengen balik ke Jogja, ya balik aja. Kalau lo kangen yang ada di sana ngomong aja..”
“Siapa bilang gue kangen.”
Benny menghampiri laptopnya yang sudah me-running program untuk mendeteksi tingkat stres berdasarkan detak jantung dan beberapa kuisioner. “Jujur aja, lo kangen, kan?” tanya Benny seraya memasang kabel mouse ke slot laptop.
Rendra hanya menonjok pelan bahu Benny.
“Nggak usah nonjok-nonjok. Gue butuh elo buat nyoba ini.”
Rendra memosisikan jari telunjuknya ke mouse sebelah kiri, seperti mengoperasikan mouse seperti biasa. Bedanya, dia harus diam sampai grafik detak jantungnya muncul lalu baru bisa mengisi kuisioner multiple choices. Jika sudah selesai tinggal menunggu hasilnya keluar.
“Analisis lo nih masih salah.”
Pukulan bersarang di kepala Rendra. “Enak aja lo. Lo nya aja yang udah stres akut, pake nyalahin analisis gue yang salah segala.”
Meski Rendra menimpali dengan candaan, dia tetap melakukan pengecekan ulang pada analisis awalnya lalu mencocokkannya kembali dengan syntax program yang telah dibuatnya. Takut-takut dia salah ketika membuat program.
“Kalian ngapain kaya pasangan homo gitu?”
Dimas menyeruak di antara Rendra dan Benny yang tengah khusyuk menghitung manual.
“Lo kayak setan aja tiba-tiba muncul.”
“Sorry, Ren. Gue kan nggak kayak lo yang jomblo. Jadi ya gue yayang-yayangan dulu lah sama Rani.” Dimas mulai menyombongkan diri sekaligus menghina Rendra yang masih saja betah menjomblo di usianya yang sudah terbilang cukup matang.
“Menjomblo itu jauh lebih terhormat daripada mesum mulu tapi nggak nikah-nikah.”
“Itu mah alesan lo doang buat ngeles. Dasar jomblo!”
“Kalian berdua kalau udah ketemu bahasnya itu mulu. Kerjaan woy, dipikir. Website mana, Dim? Nggak kelar-kelar perasaan.”
Dimas hanya nyengir. “Sorry, Bro. Website kan gue doang yang bikin, ya kalau lama wajar. Yang kemarin minta ditambah forum diskusi siapa?”
“Sama aja lo, alesan doang.”
Senyum menghina terbit di bibir Rendra. Benny memang selalu menjadi penengah ketika mereka mulai beradu argumen untuk sesuatu hal yang tidak penting. Dia juga merupakan yang paling dewasa di antara mereka bertiga. Bahkan Rendra dapat menghitung dengan jari berapa kali Benny mengeluarkan amarahnya sejak mereka berteman di bangku kuliah semester empat.
Dengan mengendap, Dimas mulai undur diri sebelum mulutnya memulai pertengkaran lagi. Mereka bertiga fokus pada pekerjaannya masing-masing. Sesekali saling bertanya dan membantu. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam ketika Benny menutup laptopnya. Komputer juga sudah ia cabut aliran listriknya,
“Kita udah lama nggak makan bareng. Kita makan bareng yuk, Ben!” ajak Rendra dari tempatnya duduk di seberang meja Benny.
“Gue nggak bisa. Kasihan Renata ntar ....” Hatinya meringis. Memangnya sejak kapan Renata perlu dikasihani? Yang perlu dikasihani adalah dirinya yang tiap kali pulang tidak merasa dihargai.
“Dia kan udah punya bini, Mblo. Makan ya musti berduaan lah, biar romantis,” celetuk Dimas. Ia memasukkan laptop, mouse dan pen tablet kesayangannya ke dalam tas.
Rendra mengerucutkan bibir. “Biar tim makin solid kan perlu sesekali makan bareng. Atau lo undang kita aja gimana, Ben? Gue juga pengen kali makan masakan rumahan. Kalau kayak gini jadi keinget emak di Semarang.”
“Bukannya gue nggak mau ngundang. Gue cuma nggak mau berbagi.” Apanya yang mau dibagi kalau gue aja belum pernah makan masakannya dia walau sekadar mie rebus atau nasi goreng, batin Benny merana.
“Lo makin pelit sekarang. Sama saudara sendiri juga gitu.” Dimas memeluk Benny, merajuk.
“Najis lo!” Benny geli sendiri dengan tingkah konyol sahabatnya yang terkadang kelewatan.
“Nggak sudi gue punya saudara kayak elo.”
Bertolak belakang dengan Rendra yang terbahak, Dimas mengeluarkan nama-nama semua jenis binatang berkaki empat. “Apa salah orang tua gue ketika ngelahirin gue sampai-sampai sahabat sendiri aja nggak mau menganggap gue sebagai sahabatnya. Kita udahan aja, Ben!”
“Kayak anak perawan aja lo!” Rendra terbirit-birit ketika Dimas sudah mulai berteriak memanggil namanya.
Benny mengambil tasnya lalu mematikan lampu sebelum mengunci pintu kantor kecil yang mampu membuatnya melupakan sejenak masalah hidup yang begitu mencekik.
***
Dua bulan sudah berjalan sejak Benny mengucapkan ijab qabul. Orang tuanya sudah membombardirnya dengan pertanyaan kapan Renata hamil. Tapi bagaimana mau hamil kalau disentuh sedikit saja Renata sudah mengeluarkan jurus karatenya. Bukan karate sebenarnya, tapi lebih ke menendang, memukul dan meninggalkan memar.
Gluduk
Ini sudah untuk kesekian kali pinggangnya menyentuh lantai. “Kenapa sih lo kok kayak jijik banget sama gue? Jangankan cuma megang, gue mau grepe-grepe juga udah halal kali.”
“Gue udah bilang, sebelum kita bulan madu satu minggu ke India, jangan harap lo bisa nyentuh gue. Senggol, gue bacok lo!”
“Bukannya minta maaf malah mencak-mencak. Buruan mandi lo, kita ke rumah Mama sekarang.”
Renata masih menggelundung di atas kasur. “Bisa nggak kita absen aja? Kalo di sana gue ntar bisa ketinggalkan serial India.”
Selimut yang digunakan Renata untuk menutupi tubuhnya hingga sebatas leher dibuang Benny. Kali ini laki-laki itu tidak bisa mentolelir alasan Renata untuk mangkir dari temu keluarga yang selalu dilakukan oleh keluarganya.
“Wi-fi ada, laptop punya. Tinggal streaming aja kan bisa, Ren. Zaman udah canggih, jangan kayak manusia yang hidup dipedalaman yang untuk mendapat pasokan listrik aja susah. Lo tinggal di jantungnya Indonesia, jadi nggak mungkin lo nggak bisa streaming kecuali ada banjir.”
“Lo mah nggak bisa ngertiin istri.”
“Nggak ngertiin gimana lagi sih, gue? Kurang sabar apa gue ngadepin lo yang masih kayak bocah gitu.”
Renata turun dari ranjang. Matanya menatap nyalang Benny yang juga menatapnya kesal. Seraya mengarahkan telunjuknya ke dirinya sendiri, Renata bertanya, “lo bilang gue kayak bocah?”
Bukannya menjawab, Benny memilih membalikkan badan dan keluar kamar. Menuruti emosinya yang sejak semalam hanya akan memperkeruh keadaan. Keributan adalah hal terakhir yang paling tidak ingin dilakukannya.
***
Keluarga besar Benny sudah berkumpul ketika Benny dan Renata sampai. Arinda menyambut anak semata wayangnya dengan senyum lebar. Perempuan itu menyapa Renata setengah hati.
“Kenapa kalian lama sekali? Semua orang sudah menunggu kedatangan kalian.”
“Maaf, Ma. Aku ada urusan sedikit tadi.” Lagi-lagi Benny melindungi Renata dari amukan Mamanya yang sejak awal tidak begitu menyukainya. Awalnya Benny tidak mengerti alasan Arinda bersikap seperti itu, tapi sekarang dia mulai memahami bahwa insting seorang Ibu lebih banyak benarnya. Tapi kini Renata adalah istrinya, yang artinya kini menjadi tanggung jawabnya untuk merubah persepsi Arinda kalau Renata yang sekarang sudahlah bukan sosok yang dulu tidak disukainya.
Para sepupu Benny sedang memanggang daging dan beberapa keponakannya sudah bermain di kolam renang. Seorang gadis kecil berkuncir dua berlari ke arah Benny dan langsung masuk ke dalam gendongannya. Gadis kecil bernama Maudy itu menciumi wajah Benny, membuat laki-laki itu terkikik geli.
“Udah isi belum, Ren, kamu?” Mama Maudy –Fitri– bertanya pada Renata yang masih mematung dengan wajah ditekuk.
“Hah?”
“Lihat tuh si Benny, udah pengen anak gitu. Jadi, kamu udah hamil belum?”
Renata menggeleng. “Belum, Mbak. Belum dikasih.”
“Kalian nggak ada rencana buat nunda punya momongan, kan?”
Ada, Mbak. Gue nggak mau punya anak sebelum ketemu pangeran impian. Kalau udah punya anak kan nggak seru banget nge-fangirl. Kalimat itu hanya terucap dalam hati. Mulutnya mengeluarkan kalimat yang sangat bertolak belakang dengan kenyataan.
“Enggaklah, Mbak. Ngapain nunda-nunda.”
“Bagus kalau gitu. Tante Arin kasihan juga, dia udah pengen buru-buru gendong cucu. Kalian entar malem nginep sini, kan?”
“Aku sih pengennya juga nginep sini, Mbak. Tapi ya gitu, si Benny musti kerja.”
“Tinggal sama workaholic kaya dia kamu betah juga, ya. Mbak kira dia nggak akan pernah bisa nikah selamanya karena sikap dia yang selalu masa bodoh dengan orang lain saat kerja.”
Renata mengiyakan soal bagaimana workaholic-nya si Benny. Laki-laki itu lebih memilih tidak tidur untuk menyelesaikan tugasnya dibanding bergelung di bawah selimut yang hangat. Namun untuk pendapat Fitri yeng ke dua Renata kurang setuju. Terkadang laki-laki itu memilih membawa pekerjaannya ke rumah. Menghabiskan waktu bersamanya meski dalam diam. Rela meletakkan laptopnya ketika dia menangis tiba-tiba karena jalan cerita film yang menyedihkan.
Rangkulan Benny mengagetkan Renata yang langsung membentuk bibirnya seperti bunga kuncup.
“Jangan pasang wajah minta dicium kayak gitu kalau mau balik.”
Bukannya takut, Renata memilih mencubit perut Benny yang berlemak sebelum meninggalkan laki-laki itu mengaduh tanpa menoleh lagi. Renata menarik bibir lebar-lebar sebelum membantu Arinda menyiapkan sambal dan lalapan.
“Udah nggak usah bantuin. Kamu duduk aja di sana.” Arinda mengambil mangkuk berisi sayuran dari tangan Renata. “Aku nggak mau ngerepotin tamu.”
Hah? Tamu? Gue menantu di sini, woy! Renata tetap memasang senyum dipaksakan. Perempuan itu mengambil piring kosong yang masih menumpuk di atas counter dapur. “Aku bukan tamu, Ma, di sini.”
Alis Arinda naik sebelah. “Ngakunya menantu tapi dateng telat,” ucap Arinda seraya melenggang.
Dengan hati dongkol Renata tetap ikut bantu-bantu sekadarnya. Keinginannya untuk tetap tinggal di rumah ternyata memang tepat. Seharian ini Renata harus menelan pahit-pahit ketidaknyamanan yang menggelayuti. Memohon Benny untuk mengeluarkannya dari penjara dunia ini sia-sia. Laki-laki itu selalu beralasan tidak enak pergi paling awal. Padahal Renata yakin laki-laki itu mau balas dendam atas kelakuannya yang semena-mena.
Terima saja lah, Ren. Nanti lo bisa balas dendam kalau udah di rumah. Sudut hatinya yang lain bersuara.
***
Other Stories
Cerella Flost
Aku pernah menjadi gadis yang terburuk.Tentu bukan karena parasku yang menjaminku menjadi ...
Kk
jjj ...
The Labsky
Keyra Shifa, penggemar berat kisah detektif, membentuk tim bernama *The Labsky* bersama An ...
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...
Puzzle
Ros yatim piatu sejak 14 tahun, lalu menikah di usia 22 tapi sering mendapat kekerasan hin ...