The Fault

Reads
1.5K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
Penulis Airis

Chapter 7

Benny Azhari Ashad yang dahulu dikenal Renata sudah tidak lagi sama. Perempuan itu mengeluh dengan sikap tak acuh Benny. Terasa ada yang hilang ketika lelaki itu memilih menghabiskan waktunya di kantor dan tidak memerhatikannya lagi.
Ketika keberadaan orang itu tak lagi kamu lihat, kamu baru akan merasa kehilangannya. Merindukannya seperti orang pesakitan menahan rindu. Begitu juga yang dirasakan wanita yang tengah menelungkupkan tubuhnya di atas kasur. Acara India di laptopnya tidak lagi menarik. Dia hanya ingin Benny berada di sisinya meski laki-laki itu hanya tidur. Tidak masalah.
“Bahkan Ajrit udah nggak menarik lagi di mata gue, Ben. Kenapa Lo ngeganggu gue banget, sih?”
Bagi Renata India merupakan negara impian yang kini menyisakan luka di hati. Ia ingin memperbaiki semuanya andai waktu bisa diputar kembali ke saat sebelum pertengkaran itu terjadi.
Renata mengambil ponselnya, mengecek semua sosial media yang dipunyai Benny. Alih-alih tersenyum, dia kesal setengah mati karena tidak ada update-an terbaru dari Benny. Bahkan di website mereka-pun tidak menunjukkan keberadaan Benny.
“Sebenernya elo kemana sih, Ben?”
Sebuah ide terlintas. Renata menutup laptopnya lalu mengambil kardigan dan ponselnya.
“Tunggu aja lo, Ben. Mampus lo di tangan gue hari ini!” Penuh keyakinan, Renata melajukan mobil Xenia berwarna abu-abunya ke kantor Benny.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, Renata sampai di depan kantor. Dua buah mobil terparkir di depan kantor, salah satu yang dia kenali adalah milik Benny. Sebelum keluar, Renata mengecek tampangnya lalu mengumpat.
“Gara-gara dia gue sampai nggak pake make up.” Renata kembali menggerutu. “Nggak apa-apa, Ren. Lo nggak makeup pun udah cantik.” Kembali dirinya bergumam.
Renata mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Ketika masuk, bukan Benny yang menyambut, namun Dimas yang tengah bermesraan dengan Rani. Tanpa bertanya, Dimas sudah menunjuk sebuah ruangan kecil di pojok.
“Mereka ada masalah?” Pertanyaan Rani yang ditujukan untuk Dimas hanya dijawab anggukan. Dimas mengajak Rani keluar dan memberi privasi untuk Renata dan Benny. Renata berterimakasih akan pengertian yang ditunjukkan Dimas.
Ketika membuka pintu, Renata menemukan Benny yang menelungkup di sebuah kasur single. Kenangan ketika mereka masih pacaran dan masih sama-sama menempuh pendidikan di universitas kembali berputar. Benny yang tanpa kabar selalu tertidur tiap kali dia datang.
Rasanya tidak bosan melihat laki-laki itu menutup mata dengan nyenyak. Benny mempunyai kebiasaan berbicara tentang masalah yang sedang dihadapinya atau tentang flowchart[1] sebuah program ketika kelelahan. Seperti saat ini, Benny mulai berbicara ngalor ngidul. Renata tetap mendengarkan dengan sesekali tersenyum atau terkikik geli. Tetapi, satu kalimat yang baru saja terucap dari bibir Benny membuatnya mematung. Sebuah bogem menghantam hatinya. Sungguh menyakitkan.
Tanpa membuang waktu atau membangunkan Benny, Renata pergi dengan air mata yang sudah di pelupuk mata. Dulu dia tidak pernah merasa sesakit ini sekejam apapun Benny melontarkan kalimatnya. Apakah ada sesuatu yang salah pada dirinya?
Renata mengendarai mobil dengan air mata yang terus berjatuhan. Sesekali tangan kirinya memukul dadanya yang terasa sesak. Berhenti di lampu merah, Renata menelungkupkan wajahnya ke setir mobil, memenuhi mobilnya dengan suara tangisan.
***
Benny berdiri di depan pintu mahoni berwarna cokelat. Pikirannya berkecamuk setelah mendengar cerita Dinas kalau Renata tadi mengunjunginya. Ada perasaan yang membuatnya takut untuk membuka pintu yang tidak dia ketahui. Jujur saja Benny merasa sedikit bahagia perempuan itu merindukannya, karena dirinya juga merasakan hal yang sama. Rasanya sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan Renata.
Tapi lo udah ngelakuin kesalahan fatal, Ben! Sudut hatinya berteriak, memukulnya telak. Rasa bersalah kembali menyergap, membuat pria itu memilih duduk di teras guna menenangkan hati.
Setelah dirasa cukup, Benny membuka pintu. Semua ruangan gelap, hanya kamar yang menyorotkan lampu. Apa Renata belum tidur? pikirnya. Dengan langkah seperti pencuri dia membuka pintu.
“Masih sadar kalau punya rumah?” Pertanyaan itu yang menyambut Benny sedetik setelah membuka pintu. “Gue kira lo udah lupa kalau punya rumah dan istri.”
Benny menggaruk tengkuk. “Kenapa belum tidur?” Benny melangkahkan kaki menghampiri Renata yang bersandar di kepala ranjang.
“Kenapa lo balik?”
“Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.”
Renata memicing.
“Oke. Gue denger dari Dimas lo tadi siang datang ke kantor. Ada apa?”
Njiirr! Ini pasti ulah si Dimas! Awas aja tu orang kalau ketemu, gue pites juga. Terlanjur ketahuan, Renata memperbaiki duduknya. Tangannya terlipat di depan dengan dagu diangkat. Arogan. “Emangnya gue nggak boleh datang ke tempat kerja lo? Takut kalau gue datang lo lagi selingkuh?”
Kerongkongan Benny mendadak kering. Suhu tubuhnya mendadak meningkat. Bahkan matanya tanpa sadar menghindari tatapan Renata yang tertuju padanya. Renata melihat kilatan takut di mata Benny yang tertangkap retina matanya.
“Kenapa diem? Seriusan elo selingkuh?”
Mata Benny membelalak. Dia menggelengkan kepala terlalu kuat hingga berakhir dengan leher yang terasa mau patah.
“Kalau nggak selingkuh, nggak usah gitu juga kali reaksinya.” Renata tertawa. Setelah puas, dia menepuk kasur di sebelahnya.
“Tumben ….”
Meski begitu Benny tetap menurut. Dia duduk di sebelah Renata dengan perasaan campur aduk. Sedetik setelah kakinya diselonjorkan, kepala Renata terjatuh di pangkuannya. Mata bulat itu memandangi wajah Benny, membuat laki-laki itu jengah.
“Baru sadar kalau laki lo ganteng?”
“Iya, ganteng banget. Apalagi kalau udah lama nggak ketemu. Gantengnya makin nambah.”
Hembusan napas lega keluar dari mulut Benny. Dalam pikirannya, rahasia masih aman. Tanpa tahu kalau Renata sedikit banyak sudah mengetahuinya.
“Kita awal ketemu kapan, sih, Ben?”
Benny tampak berpikir. Menghitung. “Entah. Semester lima?”
“Saat itu lo suka sama gue karena apa?”
“Karena apa? Nggak tau juga kenapa gue bisa suka sama elo. Kalau lihat mantan-mantan gue sebelumnya, lo kalah cantik. Kalau ngomongin baik, lo minus.”
“Terus aja ngehina.” Renata menepuk perut Benny kencang. Kesal dengan kejujuran laki-laki itu. “Gue nggak ada baik-baiknya ya di mata lo, Ben?” Nada suara Renata mendadak sendu. Benny mengelus rambut Renata sayang.
“Enggak juga. Kalau lo nggak ada baiknya di mata gue, nggak mungkin gue nikahin lo dodol!” Sentilan mendarat di kening Renata. “Kenapa lo jadi nggak pedean gini, sih? Biasanya masa bodoh sama omongan orang.”
“Kata siapa gue nanya karena ada selentingan orang? Gue cuma penasaran aja. Jadi, apa yang ada di diri gue yang elo anggap baik?” Kali ini Renata bangun, menyilangkan kaki, siap mendengar jawaban Benny.
“Emmm …, lo bisa ngertiin posisi orang lain.”
“Enggak, gue nggak bisa ngertiin posisi orang lain kalau nggak ada penjelasan yang bisa bikin gue paham dan memaklumi.” Renata tidak melepaskan pandangannya.
“Berhenti liatin gue kayak gitu.” Benny melempar bantal yang digunakannya untuk bersender, mengenai wajah Renata telak. “Gue tahu lo cinta mati sama gue, tapi gue gerah kalau lo liatin terus kayak gitu.”
Tanpa sadar Benny menarik Renata ke dalam dekapannya. Pertanyaan yang ingin dia dengar menguap sudah. Dengan begini saja Benny sudah merasa bahagia meski sakit juga terus menyiksa.
***
Benny bangun dengan senyum yang menghilang. Renata tidak ada di sebelahnya. Seingatnya, tadi malam Renata tertidur dalam pelukannya. Rasa was-was kembali menghampiri. Dia ingat betul bagaimana sifat Renata yang masih seperti anak kecil yang kalau ngambek langsung pulang ke rumah orang tuanya. Seperti yang terjadi beberapa bulan lalu.
Tarikan napas lega dilakukan Benny ketikamenemukan Renata yang asyik berkutat di dapur.Dia mendekat dan duduk di kursi tempat makan, mengamati bagaimana Renata kini yang sudah bisa memasak. Bahkan dia memasak tanpa harus Benny minta atau paksa. Benny sangat berterimakasih dengan usaha yang dilakukan Renata. Tapi semuanya terlambat. Ya. Terlambat. Renata terlambat melakukan semua hal itu karena Benny sudah melakukan sebuah kesalahan fatal.
“Benny, sejak kapan kamu di sini?”
“Uh?” Benny merasa telinganya salah dengar.
“Aneh ya gue ngomong aku-kamu?” Renata bertanya karena melihat wajah Benny yang terkejut.
“Enggak. Ngapain lo ngomong pake aku-kamu segala?”
“Persiapan aja kalau misalnya kita udah punya anak kan nggak mungkin manggil lo gue. Mau jadi apa ntar anak kita.”
Benny menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rasanya tidak biasa mendengar Renata mengatakan aku-kamu. Aneh dan geli?
“Emangnya elo udah mau kalau kita punya anak?”
Sebuah gulai ayam tersaji di atas meja. Bau harum membuat perut Benny keroncongan.
“Ya nggak sekarang-sekarang ini, sih. Nanti.”
Ada raut kecewa yang ditunjukkan Benny namun segera dihapusnya. Digantinya raut kecewa itu dengan wajah senang dan penuh terimakasih.
“Kalau lo terus-terusan masak kayak gini kan gue nggak perlu takut bakal kelaparan.”
“Makannya sering-sering di rumah biar gue bisa masakin lo apa aja. Gue udah oke sekarang kalau cuma disuruh masak.”
“Semoga kerjaan nggak ngeganggu nyita waktu gue, ya.”
***
Arisa memegang ponsel, menimbang-nimbang apakah dia harus menghubungi Benny atau tidak. Mengumpulkan kekuatan, Arisa memencet tombol hijau pada layar ponsel. Nada tunggu berulang-ulang sampai suara operator yang menyahut. Arisa mencoba lagi namun masih tidak ada jawaban.
“Kamu di mana sebenarnya?”
Kaki kecil itu terus mondar-mandir di dalam kamar. Bibirnya mulai terkelupas karena saking kuatnya dia menggigit. Rasa asin di dalam mulutnya dia abaikan. Kebiasaan yang tidak pernah bisa hilang ketika dia merasa khawatir atau gugup. Panggilan balasan dari Benny langsung diangkatnya.
“Ben, kita harus ketemu sekarang.”
“Tapi ....”
“Ini penting, Ben.” Suara sumbang karena terlalu lama menangis membuat Benny khawatir.
“Lo di mana?”
“Di rumah. Tolong cepat ke sini.”
Ponselnya sudah mati, Arisa bersimpuh di lantai dengan perasaan campur aduk. Tak lama suara mobil terparkir di luar halaman. Arisa berjalan cepat menuju pintu. Pintu terbuka, menampilkan sosok Benny yang pucat. Tubuh mungil itu berlari dan langsung memeluk Benny erat, tangisnya kembali pecah hingga Benny tidak tahu harus melakukan apa selain balas memeluk dan menenangkannya.
“Kita masuk dan lo ceritain semuanya.”
Benny membawa Arisa kembali ke kamarnya di lantai dua. Rumah yang kecil itu hanya dihuni oleh Arisa seorang. Arisa dan Benny duduk bersebelahan di kaki ranjang. Jendela di sebelah tempat tidur itu terbuka, membuat angin menerbangkan rambut Arisa yang terurai.
“Sekarang lo bisa cerita ke gue.”
Jemari kecil itu meraih tangan Benny. Tangan Arisa yang bergetar dapat Benny rasakan. Ada banyak ketakutan dalam manik mata yang kini mulai mengucurkan air mata lagi. Dengan lembut tangan Benny melingkupi punggung tangan Arisa, memberi perempuan itu kekuatan.
“Kamu berjanji tidak akan marah?”
“Gue?”
“Katakan kalau kamu tidak akan marah.”
“Gue nggak akan marah.”
“Kamu berjanji tidak akan meninggalkanku setelah ini?”
“Untuk apa ini semua, Ris?”
Arisa mulai sesenggukan. “Jawab saja.”
“Oke, gue janji nggak akan ninggalin lo. Sekarang katakan kenapa lo bisa sekacau ini.”
“Aku hamil,” ucap Arisa lirih dengan kepala menunduk.
“Hah?”
“Aku hamil, Ben. Anak kamu.”
“Tapi ....”
Benny menarik tangannya tetapi ditahan oleh Arisa. Sekarang tidak hanya tangannya yang bergetar, tubuh Arisa juga bergetar hebat ketika Benny berusaha melepaskan tangannya.
“Aku juga nggak tahu kenapa aku bisa hamil. Aku sudah berusaha untuk meminum obat pencegah kehamilan sejak kita melakukan itu, tapi ....”
Benny hanya membuang napas. Tidak percaya dengan kenyataan yang terlalu mendadak. Dia tidak siap.
“Tolong jangan tinggalin aku. Kamu sudah berjanji, Ben.”
Melihat Arisa yang tidak berdaya, Benny memeluknya. Menenangkannya. Tetapi pandangan matanya bertemu dengan manik coklat yang sangat dia kenal. Tubuhnya menegang, jantungnya berpacu dengan cepat. Godam menghantam hatinya saat air mata Renata meluncur di kedua pipinya. Dia ingin menjelaskan semuanya pada Renata, tapi dia tidak mungkin meninggalkan Arisa.
“Renata ....” Benny tidak sadar mengucapkan nama itu ketika Renata kembali masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mesin itu dengan kecepatan tinggi.
Arisa langsung mendorong Benny mendengar nama Renata disebut. “Masih sempat-sempatnya kamu mikirin orang lain di saat ada perempuan lain yang tengah mengandung anakmu. Kamu benar-benar jahat, Ben. Aku benci denganmu!” Arisa mendorong Benny sampai laki-laki itu pergi dari rumahnya. Hatiku seperti diiris sembilu mengetahui kenyataan kalau dirinya bukanlah apa-apa dibandingkan dengan Renata.
Hati mana yang tidak sakit ketika kau mengandung anak dari laki-laki itu tapi pikiran dan hati laki-laki itu masih pada perempuan yang bahkan untuk disentuh saja tidak mau. Arisa hancur. Bahkan Benny sama sekali tidak membujuknya untuk membuka pintu dan berbicara. Lelaki itu lebih memilih meninggalkannya untuk mengejar Renata.
“Semuanya sudah berakhir, Ris. Nggak usah berharap pada laki-laki itu lagi.”
***
Renata mengendarai mobilnya dengan air mata yang terus mengalir. Rasa tidak percaya dan sakit hati tidak pernah dia rasakan, tapi sekalinya merasakan itu membuatnya ingin mati. Klakson mobil dan motor karena mobilnya yang dia bawa ugal-ugalan tidak dia hiraukan. Dia hanya ingin menghilangkan rasa sakit yang setiap detiknya semakin menyiksa.
“Kenapa harus dengan Arisa, Ben?”
Memarkir mobil asal-asalan, Renata langsung masuk ke dalam rumah dan memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. Tak lama kemudian Benny menyusul dan menghentikan kegiatan Renata.
“Stop, Ren! Gue bisa jelasin.”
“Apa yang perlu lo jelasin lagi? Semuanya udah jelas kalau lo itu selingkuh sama Arisa. Gue udah menduga dari elo yang ngelindur soal minta cerai agar dia nggak terluka. Gue tau lo masih ada rasa sama dia. Terus kenapa lo nikahin gue kalau akhirnya lo cuma bisa nyakitin gue kayak gini?”
“Renata.”
“Kenapa lo bikin gue jatuh cinta sama lo kalo pada akhirnya lo cuma mau ngeduaiin gue?” Renata menatap Benny tidak suka.
“Gue nggak sengaja.”
“Nggak sengaja? Mana ada selingkuh nggak sengaja?”
“Gue stres waktu itu karena lo kayak anak kecil yang karena masalah sepele aja pulang ke rumah orang tua. Gue bingung dan gue butuh pelampiasan.”
“Ah ... jadi udah selama itu lo bohongin gue? Udah sejauh mana hubungan kalian? Grepe-grepe doang atau malah udah sampai tahap bikin anak?”
Suara Benny tercekat mendengar pertanyaan terakhir Renata. Dia tidak berani melihat langsung ke mata Renata. Terlalu banyak kesalahan yang telah dia lakukan. Dan dia sadar kalau dia tidaklah pantas mendapatkan maaf dari Renata.
“Dia hamil?” Renata menebak dengan tepat. Melihat Benny yang langsung bergerak-gerak gelisah sudah cukup membuktikan kalau tebakannya kali ini benar. “Lo tega banget ya, ngekhianati gue kayak gini. Gue kira diam lo selama ini karena lo bener-bener nunggu gue siap, ternyata lo udah punya tempat untuk menyalurkan hasrat, ya.”
“Jaga omongan lo, Ren.” Suara Benny agak meninggi. “Jangan ngehina orang yang nggak lo kenal benar.”
“Tanpa kenal dia luar dalam pun gue udah bisa nyimpulin, dia itu cuma sekadar cewek gatel yang suka godain suami orang.”
Sebuah tamparan melayang. Benny menyesal, namun tak ada kesempatan untuknya mengulang.
“Waaahh, Jalang itu hebat banget, ya, sampai bisa bikin lo nampar gue. Selain tubuh dia lo dikasih apalagi sampai berubah sedrastis ini?”
“Jaga omongan lo, Ren!”
“Omongan gue? Nggak usah dijaga karena gue ngomong berdasarkan fakta. Elo yang harusnya bisa jaga kemaluan lo buat istri lo, bukannya diumbar ke sana ke sini.”
“Lo nggak tahu apa-apa.”
“Gimana gue bisa tahu kalau lo nggak ada ngomong apa-apa.”
Benny menenangkan dirinya yang sudah mulai terpancing emosi. Dengan pelan dia meminta Renata untuk duduk. Dia duduk di sebelahnya.
“Mama udah ngebet banget pengen kita cepet-cepet punya anak. Tapi lo selalu bilang sebelum kita honeymoon ke India lo nggak mau gue sentuh. Bahkan lo minta gue buat nggak tidur satu ranjang sama lo. Lo tentu inget gimana kejamnya lo saat lo nendang gue dari atas kasur. Apa selama ini gue mempermasalahkan itu? Enggak, kan?” Renata hanya diam, mendengarkan. “Lo waktu itu milih buat pulang ke rumah cuma karena gue nyuruh lo buat masak. Itu buat siapa? Itu buat kebaikan lo. Seenggaknya lo nggak akan malu kalau keluarga gue tiba-tiba nyuruh lo buat bantuin mereka masak saat ada acara kumpul keluarga.”
Benny menelisik raut wajah Renata. Dia menemukan penyesalan di sana.
“Lo gue minta buat balik tapi lo selalu aja minta cerai dari gue. Gue selalu bertanya-tanya, lo beneran cinta sama gue atau cuma menganggap main-main pernikahan ini? Gue nggak pernah ngerti sama jalan pikiran lo.”
“Gue nggak pernah ada niat buat nolak lo. Gue nggak mau lo sentuh karena gue malu, gue takut kalau gue gak bisa melebihi apa yang lo harapkan. Gue takut bakal ngecewain lo.” Renata mulai buka suara meski dengan suara lirih. “Gue juga nggak tahu kenapa, tapi gue selalu ngerasa gue nggak pantes buat lo.”
“Kenapa harus malu? Gue nikahin lo enggak berharap lo bakalan jadi istri yang sempurna. Tapi gue mau kita saling melengkapi untuk menutupi kekurangan masing-masing. Hidup tenteram dan bahagia itu udah sempurna buat gue.”
“Tapi nyatanya gue jauh dari kata sempurna.”
“Seharusnya lo ngomong dari awal permasalahan yang ada. Kita bisa cari solusi bareng-bareng. Dan berhenti bilang lo nggak sempurna.”
Renata menatap Benny lembut. “Ben, kali ini gue serius. Cerain gue dan kejar Arisa.”
“Hah?”
“Gue nggak mau jadi perempuan yang merebut ayah dari seorang anak yang tidak tahu menahu tentang masalah ini. Gue mau lo besarin anak itu sebagai ayah kandung yang diakui negara. Gue nggak mau anak itu tidak memiliki ayah.”
“Ren ....”
“Gue serius. Kejar kebahagiaan lo dan gue akan mengejar kebahagiaan gue sendiri.”
Renata terus mendorong Benny untuk mengejar Arisa sebelum semuanya terlambat. Sepeninggal Benny, air mata yang sedari tadi ditahannya luruh juga. Rasanya begitu sakit ketika harus merelakan orang yang kau cintai untuk mengejar cinta yang lain.
Lo udah ngelakuin yang bener, Ren. Lo udah ngelakuin hal yang bener. Lo bener. Keputusan yang tepat, batinnya berkecamuk.
Tangisan tak ada gunanya karena tidak akan membawanya ke masa lalu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada. Tapi dengan menangis akan sedikit mengangkat beban yang terasa sangat berat. Rasa sesak di hati juga mulai berkurang saat Renata berusaha untuk mengikhlaskan. Kekecewaan serta kemarahan yang begitu memuncak sedikit demi sedikit mulai berkurang.
Belajar mengikhlaskan tidak semudah membalik tangan. Meski mulut terus mengucapkan kalau sudah ikhlas, tetapi dalam hati Renata masih sedikit kesal. Dia tidak memungkiri kalau dirinya masih menginginkan Benny untuk tetap bersamanya. Namun selama beberapa bulan mereka bersama, dia mengakui kalau dia tidak bersikap baik padanya. Sudah sewajarnya dirinya menerima ganjaran yang setimpal dengan apa yang telah dilakukannya.
Foto pernikahan berukuran besar di dinding kembali membuatnya menangis. Foto itu tidak akan lama lagi berada di sana. Renata berjalan menuju foto itu lalu mangelus pigura. Perasaan bahagia yang dia rasakan beberapa bulan yang lalu masih dapat dia rasakan dengan jelas. Kebahagiaan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
“Sekarang saatnya mengucapkan selamat tinggal untuk rumah ini.” Renata mengedarkan pandangannya ke tiap penjuru kamar. “Semoga kalian punya tuan rumah yang jauh lebih baik dari gue.”
Renata melanjutkan mengepak barang-barangnya dalam diam. Sesekali air matanya keluar namun tidak menghentikannya.
Doakan gue bahagia, Ben.
***
[1] Bagan dengan simbol-simbol yang menggambarkan urutan proses secara mendetail dalam hubungan suatu proses (instruksi) dengan proses lainnya

Other Stories
Bali Before Sun Set

Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...

Rumah Malaikat

Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...

Ryan Si Pemulung

Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Love Of The Death

Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...

Cinta Dibalik Rasa

Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...

Download Titik & Koma