Chapter 8
Benny mencari Arisa di rumahnya, tapi dia tidak menemukannya. Rumahnya bahkan terlihat kosong dibandingkan dua jam yang lalu dia berada di sini. Seorang tetangga memberitahunya kalau Arisa tadi buru-buru keluar dengan membawa koper dan masuk ke dalam taksi. Benny mencoba menghubungi Arisa namun handphone-nya tidak aktif. Otaknya berputar mencari kemungkinan-kemungkinan tempat yang akan dituju Arisa. Fungsi peluang yang pernah dipelajarinya cocok untuknya mencari hasil tempat yang memiliki peluang besar untuk dikunjunginya, tapi dia tidak memiliki waktu. Dan ini bukanlah situasi yang tepat untuknya menuliskan berbagai macam rumus dan angka untuk mencari keberadaan Arisa.
Laki-laki itu merogoh kantong celananya. Menghubungi Rendra yang terdengar baru saja bangun tidur. “Kenapa?”
“Buruan lacak keberadaan Arisa. Retas semua CCTV yang ada. Ini darurat.”
“Gila lo, ah. Gue baru aja tidur ini. Lagian kenapa sih sama Arisa?”
“Dia hamil anak gue dan dia pergi tanpa pamit.”
“What?” Rendra terperanjat dari duduknya. Matanya yang tadi terpejam dan kepalanya yang pusing mendadak hilang. “Gimana bisa?”
“Ceritanya entar aja, Bego. Sekarang, cepetan!”
Benny si tukang perintah sudah kembali. Laki-laki itu masuk ke dalam mobil. Sambil menunggu Rendra melacak keberadaan Arisa, Benny mengurus surat perceraiannya dengan Renata. Dia tidak mau menunda-nunda. Dia sudah yakin untuk tetap bersama dengan Arisa. Dia semakin yakin setelah Renata dengan serius mengungkapkan ingin bercerai darinya.
Arinda yang mendengar Benny akan becerai dengan Renata menyambut baik, apalagi setelah mendengar bahwa dia akan mengejar Arisa untuk dijadikan istri. Arinda terlalu menyukai Arisa hingga tidak menanyakan alasan detail kenapa mereka memilih berpisah.
“Ren, gue udah ngurus surat perceraian kita. Nanti lo bisa tanda tangani. Dan gue minta tolong, tolong elo yang jelasin ke pihak keluarga lo, ya. Makasih udah ngasih gue kesempatan untuk memperbaiki hubungan gue sama Arisa.”
“Oke, sukses ya buat kalian.”
Benny menjawabnya yakin, “pasti!”
Renata tidak tahu harus merasa sedih atau bahagia. Benarkah ini yang diinginkannya? Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalanya. Rasanya seperti mimpi, dia ingin bangun dan berharap perceraian itu hanyalah mimpi. Perempuan mana yang menginginkan sebuah perceraian dalam rumah tangga? Tentu saja tidak ada, mereka pasti menginginkan pernikahansekali untuk seumur hidup. Begitu juga dengan Renata, dia ingin mempertahankan rumah tangga mereka, tetapi dia tahu rumah tangganya tidak dapat diselamatkan lagi.
Renata berdiri di depan rumahnya tanpa berniat untuk masuk. Dirinya terlalu malu untuk pulang dengan membawa berita buruk semacam ini. Melihat Mamanya kecewa adalah sesuatu yang sangat dia hindari.
“Non Rena kok hanya berdiri di sini saja?”
“Bi Sarti. Mama ada?”
“Ada Non. Mari.” Bi Sarti membantu Renata membawa koper. Pembantu yang sudah bekerja di keluarga Renata itu bingung dengan berat koper. Apalagi majikannya itu terlihat datang sendiri.
“Lhoh, Renata? Mana Benny?”
“Ma ....” Renata memeluk Rose erat.
“Kamu ada masalah lagi sama Benny?”
Renata mengangguk.
“Kamu kabur lagi dari rumah?”
Kali ini Renata menggeleng.
“Terus apa itu kamu sampai bawa-bawa koper segala?”
“Aku sama Benny pisah, Ma.” Renata tercekat ketika menyampaikan berita itu. Rose tidak bertanya lagi, perempuan paruh baya itu hanya memeluk Renata dan menenangkannya.
“Maafkan aku yang selalu aja nyusahin Mama sama Papa.”
“Enggak sayang. Kamu enggak nyusahin Mama sama Papa. Kamu anak kesayangan Mama mana mungkin nyusahin kita berdua?”
“Aku memaksa Mama sama Papa buat setuju nikah sama Benny. Tapi pada akhirnya aku sama dia pisah, bahkan pernikahan kami belum genap satu tahun.”
“Tapi kalian pisah secara baik-baik.”
Renata mendongak. “Bagaimana Mama bisa tahu?”
“Wajah kamu mengatakan semuanya.”
***
Keesokan harinya Benny mendapatkan pesan dari Rendra kalau Arisa berada di Yogyakarta. Dia pulang ke rumah orang tuanya. Mendapat kabar begitu, tanpa berpikir panjang dia mencari tiket pesawat melalui koneksinya. Perjalanan dari Jakarta sampai Yogyakarta terasa sangat jauh karena dirinya tidak sabar untuk bertemu dengan Arisa. Dengan taksi Benny dibawa ke kediaman Arisa.
Benny melihat Arisa yang tengah menjemur pakaian. Tiba-tiba saja dirinya menjadi melankolis, air mata langsung bercucuran ketika mata itu menatapnya kaget.Benny menghampiri Arisa dan memeluknya erat.
“Jangan ngilang gitu aja. Gue hampir gila karena nyariin lo.”
“Kamu ngapain ada di sini, Ben? Bagaimana dengan Renata?”
“Gue udah daftarin perceraian kami.”
Arisa melepaskan pelukan Benny. “Kamu nyeraiin Renata?”
“Em.”
“Jangan bohong, Ben. Aku nggak bisa kamu tipu kayak gitu.”
Benny mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan formulir pendaftaran perceraiannya dengan Renata. “Sekarang gue mau lo balik ke Jakarta.”
“Aku nggak bisa. Aku nggak mau jauh-jauh dari orang tuaku.”
Benny menghela napas. “Aku akan meminta ijin.”
“Aku akan kembali kalau pengadilan sudah memutuskan perceraian kalian. Aku malu untuk bertemu dengan Renata. Aku sudah tidak memiliki muka untuk itu.”
“Justru Renata yang menyarankan kami untuk bercerai dan menyuruhku untuk mengejarmu.”
Mendengarnya membuat Arisa menangis terisak. “Renata sangat mencintaimu ....”
“Enggak.”
Renata memotong. “Aku perempuan, dan aku kalau menjadi Renata tidak akan pernah mau melepaskanmu untuk orang lain. Tetapi karena dia terlalu mencintaimu, maka dia berani mengambil keputusan yang sangat berat itu. Dia tidak ingin kamu dicap sebagai laki-laki tidak bertanggung jawab. Dia mengorbankan dirinya untukku, Ben. Aku tidak pantas bersamamu.”
“Semuanya mengatakan tidak pantas untukku, lalu aku pantas untuk siapa?”
Benny bingung dengan jalan pikiran wanita. Dia tidak mengerti karena dia tidak memiliki pikiran itu. Dia tidak mengerti kenapa Renata dapat dikatakan sangat mencintainya hanya diukur dengan keputusan yang diambil olehnya.
“Kamu hutang penjelasan sama aku, Ben.”
“Apa?”
“Bagaimana bisa Renata memintamu untuk menceraikannya dan bagaimana kamu bisa sampai di sini.”
“Tapi lo harus jawab pertanyaan gue dulu.”
“Apa?”
“Lo mau nggak nunggu gue sampai sidang perceraian gue sama Renata kelar? Dan lo juga bersedia nikah sama gue dan ngebesarin anak kita bersama-sama, nggak?
Hanya satu jawaban yang diinginkan keduanya. Ya. Ariska mengangguk, mengiyakan pertanyaan Benny. Dia sudah pernah mengatakan kalau dirinya mampu menunggu laki-laki itu selama apapun. Dia juga tidak keberatan dengan membesarkan anak-anaknya bersama dan mereguk bahagia. Arisa selalu memimpikan hal ini sejak dia berada di bangku kuliah. Gayung bersambut, perasaannya disambut dan diterima dengan tangan terbuka.
“Gue cinta sama lo, Ris.”
Arisa hanya tersenyum mendengarnya.
“Kenapa nggak dibales?”
“Nanti, kalau kamu udah sah jadi suami aku. Aku akan mengatakan kalimat itu sebanyak apapun yang kamu mau.”
***
Other Stories
Cahaya Menembus Semesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
The Pavilion
35 siswa 12 IPA 3 dan 4 guru mereka, sudah bersiap untuk berangkat guna liburan bersama ke ...
Cinta Di Balik Rasa
memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...
Hold Me Closer
Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...
Bumi
Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...