Mentari Dalam Melody

Reads
1.3K
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
Penulis Genta Amethyst

Chapter 6

Ibu mengemasi semua barang-barang Tara. Anak itu, sedari tadi tak bereaksi. Hanya memandang kosong keluar jendela.
“Tara ... ikut Ibu, ya!” pinta ibu. Tara tidak menolak begitu ibu menggiringnya untuk masuk mobil. Di sana sudah ada ayah yang standby di tempat kemudi. Tara duduk di jok belakang. Matanya menyiratkan pertanyaan akan ke mana ini. Tapi anak itu tidak pernah menjalankan niatnya untuk bertanya. Sepanjang perjalanan Tara memilih menengok-nengok pemandangan yang dilalui. Dia menghindari melihat ayah. Melihatnya, hanya akan membuat Tara semakin sakit hati. Tara melalui depan sekolahnya. Terpampang jelas papan nama yang tertulis besar-besar melengkung di atas gerbang “SD GARDA MERDEKA”. Tara bahkan tidak pernah bisa mengingat jalan menuju sekolahnya. Terlalu ramai dan membingungkan baginya.
Dua jam perjalanan. Akhirnya ayah menepikan mobil di halaman gedung besar nan luas. Gedung hijau dengan cat-cat yang mulai mengelupas. Tidak terawat. Tara menurunkan kakinya dan menginjak rumput-rumput panjang itu. Dilihatnya ke arah lain. Beberapa anak laki-laki seusianya sedang mencabuti rumput. Ada juga yang memotongnya dengan menggunakan mesin pemotong rumput. Ibu juga melakukan hal yang sama. Mengamati setiap sisi yang mungkin baginya tidak layak huni.
“Yakin ini?” Ibu berbisik kepada ayah. Ayah mengangguk.
“Jangan dilihat luarnya. Tapi lihat dalamnya. Ini adalah panti rehabilitasi terbaik anak-anak bermasalah yang pernah ada,” ujar ayah. Matanya menerawang ke atas. Tulisan hitam besar yang terbuat dari batu granit hingga menimbulkan kesan klasik dan corak seni tinggi.
SELAMAT DATANG DI PANTI REHABILITASI SOSIAL GUNA BHAKTI
Ibu berusaha meyakinkan dirinya untuk ini. Bagaimana bisa dia membiarkan Tara untuk tinggal di tempat ini?
“Mari masuk!” Seorang lelaki tua setengah botak, berlari tergopoh membersihkan tangannya yang penuh tanah. Meletakkan peralatan menyapu dan gunting ruput. Ayah, ibu dan Tara mengikuti lelaki tua ini masuk. Menyusuri koridor sampai mencapai ruangan humas. Lelaki tua itu mengetuk. Membuat seorang wanita paruh baya mengangkat wajahnya.
“Mari, masuk!” Wanita itu mempersilakan dengan sangat ramah. Ayah memimpin lebih dulu, duduk di sofa yang langsung diikuti oleh Tara dan ibu. Tara bertanya-tanya. Sebenarnya di mana ia sekarang ini. Tempat asing. Dan dirinya mendapat firasat buruk. Cukup lama mereka berbincang-bincang. Tara bahkan tidak bisa mendengarkan mereka bicara apa. Otaknya terlalu bodoh untuk menangkap maksud yang mereka bicarakan.
“Mari, Tara. Ibu tunjukkan kamarmu!” Wanita itu berjalan memimpin. Tara yang otaknya tak mampu merespon cepat, kebingungan. Kamar? Apa maksudnya?
“Nah, ini dia kamar kamu. Selamat datang Tara ....” Tara semakin melongo. Ibu mengelus kepala anaknya itu lalu menciuminya. Tidak biasanya ibu melakukan ini. Seperti sebuah ciuman perpisahan. Sedang ayah, dia tampak datar seperti biasa.
“Baik-baik ya, Sayang.” Ibu berkata dengan mata berkaca-kaca. Tara membelalak.
“Apa maksud Ibu? Ibu tidak mau meninggalkan Tara di sini, kan?” Ibu terdiam tak mampu membalas tatapan Tara. Ia menunduk.
“Ibu jawab!” bentak Tara. Lagi-lagi ibu hanya bisa menunduk dan menangis.
“Maafkan Ibu, Sayang. Ini demi kebaikanmu.” Ayah membalikkan tubuh. Sama sekali tak ingin melihat kejadian haru itu.
“Cepat, Bu! Kita harus segera ke rumah sakit,” ujar ayah memperingatkan. Lalu berjalan dulu. Tara menggeleng. Perlahan, ibu melepaskan genggaman tangan Tara.
“Ibu ... tidaaak! Tara tidak mau di sini!” Ibu tak kuasa menahan tangis. Dengan hati berat, dilangkahkannya kaki. Tara mengejar.
“Ibuuu! Jangan tinggalin Tara di sini, jangaaan!” Tara berhasil menggapai tangan ibu. Membuat ibu menghentikan langkah, tapi sama sekali tak menoleh ke belakang. Atau ... dia semakin tidak tega meninggalkan anak bungsunya itu. Keributan di koridor utama membuat heboh para penghuni panti. Beberapa anak melongokkan kepala mereka dari jendela-jendela. Seorang lelaki muda keluar dari ruangan menyaksikan kejadian itu.
“Ibuuu ... kenapa Ibu setega ini sama Taraa! Kenapa? Ibu mau mengucilkan Tara? Ibu tidak mau lagi menerima Tara? Apa Ibu berniat membuang Tara? Tara berjanji, Bu. Tara berjanji jadi anak penurut. Tara janji nggak kelahi lagi. Tara janji, Bu. Asal Ibu jangan pernah tinggalin Tara. Tara mohon, Bu!” Tara menangis sekencang-kencangnya. Ibu terdiam. Sama sekali tak ingin menoleh.
Ayah yang langkahnya sudah jauh, dan merasa ibu tidak mengikuti langkahnya menoleh ke belakang. Dia berdecak.
“Anak ituuu!” Ayah berjalan cepat menuju mereka.
“Tolong, Bu! Beri Tara kesempatan!” Tara memeluk lengan ibunya. Tapi kemudian ayah menyentak pelukan anak itu sampai ia terdorong jatuh.
“Ayo, Bu. Yang cepat!” pinta ayah. Tara bangkit lagi. kali ini dia memeluk kedua kaki ibu. Menahan apa pun caranya agar mereka tidak pergi. Ayah sudah kehabisan kesabaran. Ia menarik paksa Tara hingga anak itu jatuh duduk lagi.
“Kalo kamu mau pulang, buktikan! Di tempat ini kamu bisa lebih baik!” bentak ayah. Yang segera menarik tangan ibu untuk pergi cepat-cepat. Tara mau bangkit lagi, tapi dua orang lelaki dewasa sudah memeganginya.
***
Tara kini berada di sebuah ruangan yang sangat asing baginya. Ia sendirian, tidak ada teman di sini. Seorang lelaki muda memasuki ruangan tersebut. Tara terlonjak. Matanya menatap penuh kewaspadaan.
“Jangan takut.” Pemuda itu duduk di ranjang Tara. Tersenyum ke arahnya.
“Perkenalkan, aku Raka. Kamu bisa panggil Mas Raka,” ujar pemuda itu lagi. seorang mahasiswa psikolog semester dua. Mas Raka memang senang menghabiskan waktunya di panti milik ayahnya. Di tempat ini ia bisa berbagi dengan anak-anak seperti Tara. Membantu mereka sekaligus melakukan kegiatan kemanusiaan yang lain. Mas Raka punya kelas khusus. Ia mengajar kelas kesenian dan keterampilan. Tidak menutup kemungkinan dia juga membantu anak-anak membaca dan menulis bagi yang belum bisa. Dia juga membuat dirinya sebagai tempat keluh kesah. Meski ada dokter khusus di sini yang lebih senior darinya, Mas Raka tak lepas tangan.
“Namamu siapa?” Mas Raka menunggu jawaban dari Tara. Tara geming. Dia malah menatap kosong ke arah jendela. Mas Raka mengangguk-angguk. Butuh pendekatan personal untuk anak-anak seperti Tara. Mas Raka juga maklum, jika anak ini baru saja mengalami kekecewaan yang luar biasa. Dia pasti sedang kecewa pada keluarganya.
“Apa kamu marah kepada orangtuamu?” Tara tak bereaksi. Ia masih menatap kosong ke jendela.
“Percayalah! mereka menitipkanmu di sini, bukan berarti mereka membencimu. Mereka melakukan ini karena mereka menyayangimu. Demi kebaikanmu.” Mendengar kalimat Mas Raka, Tara langsung menoleh. Seolah bentuk protes. Mas Raka hanya melempar senyum.
“Mereka sangaaaat menyayangimu,” ulangnya. Yang akhirnya tidak mendapat respon lagi dari Tara.
“Mau cerita sesuatu pada Mas?” Mas Raka merangkul pundak Tara. Ini salah satu kelebihannya. Mas Raka selalu menjadikan dirinya teman di sini. Bukan seorang guru, atau mentor. Mas Raka tidak ingin memberi batas antara ia dengan anak-anak. Cukup lama ditunggunya Tara untuk bicara. Tapi anak ini sama sekali tidak bergumam.
“Ya sudah. Nanti, kamu panggil Mas ya, kalo butuh sesuatu.” Mas Raka permisi pergi. Tara masih memandangi jendela dengan pandangan kosong.
***
“Boleh lihat berkas-berkas anak baru?” Mas Raka meminta ke bagian administrasi. Dia mulai membuka map kuning itu. Dilihatnya dengan teliti riwayat hidup Tara.
“Briliantara Ega Putra.” Nama yang sangat indah. Briliantara. Pasti dari kata brilliant. Tentu orang tua Tara menghendaki anak ini tumbuh menjadi seseorang yang pintar. Tapi melihat raport Tara selama di SD, ini tentu tidak sesuai harapan kedua orang tuanya.
“Hei, Rak. Sedang apa?” Mas Raka dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang menepuk pundaknya.
“Eh, Dok. Ini, ada anak baru,” ujarnya menunjuk map yang sedang dipelajari.
“Kamu rajin sekali, Rak,” puji dokter. Mas Raka hanya tersenyum.
“Dokter Leo bisa saja,” sanggahnya.
“Apa yang kamu temukan darinya?” ditanya seperti itu, Mas Raka menghembuskan napas besar.
“Anak ini susah didekati. Dia tidak mudah menyatu dengan orang-orang. Sejauh ini aku melihat emosinya cukup labil. Bila aku berkata menyinggung sesuatu yang tidak ia sukai, anak ini memberikan respon negatif. Sepertinya dia juga mengalami trauma berat. Sejauh ini, itu yang aku dapatkan. Mungkin nanti ada yang lebih lanjut,” ujar Mas Raka. Fokus membolak-balik dokumen biodata Tara.
“Anak ini sering mengalami banyak masalah. Alasan terakhir dia dikeluarkan dari sekolah karena sebuah perkelahian,” ucap Mas Raka lagi. Membuat Dokter Leo mengangguk-angguk.
“Jika dia sudah mulai membuka diri, bawa dia padaku. Kita akan melakukan tes lebih lanjut,” Dokter Leo menepuk pundak Mas Raka lagi dan pergi.
***
Pagi hari, seorang lelaki tua memasuki kamar Tara.
“Nak, ini waktunya sarapan pagi,” ujar lelaki itu yang segera membuat Tara tergeragap bangun. Dia cukup kaget melihat tampang lelaki itu yang seluruh rambutnya memutih. Lelaki itu terkekeh.
“Maaf sudah mengagetkanmu. Ayo, makan! Teman-temanmu sudah menunggumu.” Lelaki itu segera pergi. Tara sama sekali tak menyahut. Meski dirasakan perutnya mulai lapar, Tara tidak memiliki nafsu makan. Tidak ada yang membuatnya ingin bertahan saat ini selain ....
“Lunaa ....” Tara bersuara lirih.
“Oh, Luna, ya. Siapa Luna?” Tara terkejut. Kali ini berganti. Si lelaki tua sudah pergi. Dilihatnya pemuda semalam sudah memasuki kamarnya membawa sebuah nampan.
“Karena kamu masih baru, makanya kamu istimewa. Mas bawakan kamu makanan ke mari. Tapi lain kali, kamu harus makan bersama-sama kami,” ujar Mas Raka menaruh makanan itu di atas meja belajar Tara.
“Oh, ya. Siapa Luna?” Kali ini Mas Raka menyinggung nama gadis yang tadi disebut Tara. Mas Raka memperhatikan reaksi Tara. Anak itu menatap jendela datar. Sepertinya, Luna bukan orang yang dibencinya. Respon yang ditunjukkan Tara berbeda ketika Mas Raka menyebut orang tuanya. Meski Raka tidak bisa menjamin, apakah Luna ini sosok yang disukai Tara atau tidak.
“Pasti dia sangat berarti bagimu.” Mas Raka memancing agar Tara mau bicara. Tapi lagi-lagi anak itu hanya diam. Matanya menerawang lepas ke jendela.
“Maafkan Tara ....” ucap Tara sangat lirih. Yang segera membuat Mas Raka membuka telinganya lebar-lebar. Tara merasa bersalah kepada anak perempuan bernama Luna. Dia harus mencari tahu siapa anak perempuan ini. Jika tidak, Tara akan terbelenggu dengan rasa bersalahnya.
“Luna pasti akan memaafkanmu,” celetuknya. Yang tak mendapat respon dari Tara. Tara membisu kembali. Mas Raka bergegas menuju ruangan administrasi meminjam telepon.
“Halo?” Suara berat lelaki di seberang membuat Mas Raka segera paham jika itu ayah Tara. Mas Raka segera memperkenalkan jika telepon itu dari panti rehabilitasi tempat Tara dirawat. Dia juga tanpa basa-basi menanyakan siapa Luna. Cukup lama ayah terdiam, lalu kemudian menjelaskan secara detail siapa Luna dan apa yang terjadi kepada mereka.
“Baik. Terima kasih atas bantuannya, Pak. Mohon untuk bersabar dalam menghadapi anak-anak seperti Tara. Selamat malam!” Mas Raka menutup teleponnya. Di seberang ayah terduduk. Matanya terlihat berkaca-kaca. Jauh di lubuk hatinya, ayah sebenarnya merasa bersalah kepada Tara. Tapi dia tidak ingin kehilangan wibawa di depan anak bungsunya. Ayah mempertahankan caranya untuk mendidik Tara.
“Maafkan, Ayah!” ujar laki-laki itu penuh penyesalan. Sejujurnya selama ini, ayah sangat mengkhawatirkan Tara. Ayah terlonjak dikagetkan oleh bunyi telepon dari saku kemejanya.
“Ya? apa? Gilang sadar?” Ayah merasa hatinya seperti dimasuki berton-ton oksigen. Ia bergegas mengambil kunci mobil, menuju rumah sakit.
***
Ini hari ketiga Mas Raka melakukan pendekatan dengan Tara. Dibawakannya mainan untuk Tara. Siapa tahu anak itu mau membuka diri kepadanya. Mas Raka memasuki kamar Tara. Lagi-lagi ditemukannya anak laki-laki itu tengah menatap jendela kaca.
“Dor!” Mas Raka berpura-pura menembakkan pistol mainan kepada Tara.
“Main, yuk!” ajaknya. Yang sama sekali tak mendapat respon dari Tara. Mas Raka duduk di kursi menghadap anak itu.
“Tara apa yang kamu sukai? Kita main bagaimana? Robot-robotan? Atau gunting batu kertas? Yang kalah menjadi monyet?” Mas Raka berusaha membujuk. Tara masih tak mempedulikan pemuda itu.
“Sepertinya kamu tidak tertarik main, ya? Bagaimana kalo kamu cerita tentang Luna saja?” pinta Mas Raka. Yang seketika membuat raut muka Tara sedih. Jika anak ini terus-terusan diam, bagaimana bisa Mas Raka mengambil hatinya? Setelah cukup lama dikacangin, akhirnya Mas Raka memutuskan untuk keluar saja. Dia harus mencari sesuatu yang sekiranya disukai Tara.
***
“Gilang, Nak!” Ayah segera menggenggam tangan anak sulungnya.
“Kamu bagaimana? Baik-baik saja?” dikecupnya kening Gilang. Anak laki-laki itu mengernyit ketika merasakan nyeri di kakinya.
“Apanya yang sakit, Sayang?” Ibu kini terlihat panik.
“Kaki Gilang, Bu. Sakit banget,” keluhnya. Ayah mengelus kening anaknya.
“Sabar, ya, Nak. Ini ujian terhadapmu. Kamu pasti bisa melewati ini semua.” Ayah berusaha menguatkan. Gilang mengangguk. Sejak ia bangun semalam, tak dilihatnya Tara. Ke mana anak itu? Untuk pertama kalinya Gilang peduli dengan keberadaan Tara.
“Yah ... ke mana Tara?” Ayah dan ibu saling pandang.
“Nanti Ayah ceritakan. Tapi sekarang, Ayah pikir ada baiknya kamu nggak usah mikir apa pun termasuk Tara.” Gilang terdiam. Dari kalimat yang dibicarakan ayah, sepertinya terjadi sesuatu pada anak itu. Semoga saja, Tara baik-baik saja.
***
Tara mulai jenuh dengan kamarnya. Ini hari ke 5 Tara di sini. Tak ada yang bisa ia lakukan. Tak ada pula yang bisa menghibur dirinya. Kecuali Mas Raka yang repot-repot setiap hari mendatanginya. Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Tara memutuskan untuk keluar kamar, menikmati udara segar. Saat Tara melintas di salah satu ruangan, Tara mendengar bunyi seseorang sedang memainkan alat musik.
“Musik ini?” Tara terkejut. Itu mirip lagu mozart yang sering ia dengarkan dari kotak musik Luna. Tara bergegas menuju pintu ruangan itu, mendorongnya hingga menjeblak terbuka. Seketika si pemuda yang tampak punggungnya saja, dan menghadap ke piano itu menghentikan permainannya.
“Kamu?” Mas Raka terkejut melihat kedatangan Tara.
“Mainkan lagi musiknya,” pinta Tara. Mas Raka terbengong. Tapi begitu sadar, ia langsung memainkannya. Mas Raka melihat ketertarikan dari wajah Tara. Ia mendekat.
“Musik ini ....” Mata Tara berbinar-binar.
“Kamu ingat sesuatu, Tara? Ayo ceritakan pada Mas.” Mas Raka menantangnya. Tara terduduk di sisi Mas Raka. Menggelengkan kepalanya ke kanan ke kiri, mengikuti alunan mozart lewat sentuhan tangan Mas Raka.
“Luna .... Luna!” Mas Raka semakin mempercepat permainannya. Tapi ketika dia melihat Tara yang semakin frustrasi, segera Mas Raka menghentikan permainannya.
“Lunaa! Tidaaak! Lunaaa! Maafkan akuuu!” Tara berlari keluar ruangan.
“Tara!” Mas Raka panik dan segera mengejarnya. Tara berlari menerobos apa saja yang ada di depannya. Bahkan dia tidak begitu peduli ketika kakinya menabrak pot bunga, dan tong sampah. Tara juga menerobos tanaman pagar.
Mas Raka terus mengejarnya. Entah ke mana larinya Tara. Tak ditemukan jejaknya. Tapi setahunya, Tara berlari ke arah menuju taman.
Matanya menatap liar ke sekeliling. Tak lama kemudian matanya menangkap seorang anak terduduk memeluk lutut di bawah pagar. Pelan-pelan, Mas Raka mendekat.
“Tara ....” Didekatinya anak itu pelan-pelan.
“Kenapa? Ayo cerita sama Mas,” ujarnya. Tak ada jawaban dari Tara. Yang terdengar hanya suara isakan tangis.
***
“Tara terus memanggil-manggil nama Luna, Bu,” ujar ayah. Gilang yang pura-pura tertidur mendengar jelas percakapan mereka malam ini. Sebenarnya Gilang penasaran, apa yang terjadi pada adiknya itu. Kenapa ayah dan ibu menunda memberitahu pada dirinya. Gilang masih pura-pura terlelap. Dan memilih untuk mendengar diam-diam.
“Dia terus-terusan merasa bersalah kepada Luna.” Ayah menarik napas besar. Gilang semakin ingin tahu. Luna? Jangan-jangan anak perempuan dengan rambut kepang dua itu. Yang sempat mendapat peringatan darinya agar jauh-jauh dari Tara.
“Sebenarnya Ayah berat mengirim Tara ke panti rehabilitasi.” Gilang hampir saja memekik. Kalau saja dia tidak ingat dirinya sedang pura-pura tertidur, Gilang pasti sudah berteriak dan membesarkan bola matanya kaget. Apa? Tara dikirim ke panti?
“Ibu apalagi, Yah. Tapi sekolah mana yang mau menerima Tara dengan catatan merah sebanyak itu. Tara dikeluarkan gara-gara kejadian itu. Membuat Gilang dan Luna celaka.” Gilang semakin melebarkan matanya. Luna? Pasti yang ibu maksud kejadian pengeroyokan itu. Gilang menyesali sebagian dari ingatannya hilang. Dia benar-benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Gilang pingsan saat itu.
“Iya, Bu. Tara memang keterlaluan. Coba saja dia tidak melakukan itu, semua pasti akan baik-baik saja.” Tunggu dulu! Gilang merasa ada sesuatu yang tidak beres terjadi di sini. Tara keterlaluan? Bukannya Tara yang berusaha menolongnya? Tapi kenapa ibu dan ayah malah seperti kecewa pada Tara? Gilang kembali mengingat kejadian itu. Ia menghembus napas berat. Sepertinya mereka semua salah paham. Tapi, haruskah Gilang menjelaskan semua ini?
Tara bodoh pun, ayah masih juga menyayanginya. Gilang sering memergoki ayah tengah malam ke kamar anaknya hanya untuk membenarkan selimut Tara. Mencium keningnya. Ayah juga kerap kali diam-diam memperhatikan Tara belajar dari jauh. Dan tentu itu semua tanpa sepengetahuan Tara.
Ayah kadang tengah hari sempat-sempatnya meluangkan waktu pergi ke SD Tara hanya untuk melihat anak kesayangannya. Sedang Gilang, tidak pernah membuatnya sampai seperti itu. Ayah adalah orang paling perhatian dan sayang kepada Tara. Gilang mengingat kejadiannya yang dulu. Tara hadir dan merusak segala kebahagiaannya.
Dulu, ayah sangat menyayangi Tara. Gilang tidak pernah ia pedulikan. Gilang berusaha keras untuk mendapatkan perhatian ayah. Melakukan segala cara, agar ayah merasa bangga kepadanya. Gilang berjuang keras belajar habis-habisan, agar ia berprestasi. Agar ia bisa mendapat kasih sayang yang sama seperti kasih sayang ayah kepada Tara. Keberuntungan pun berpihak kepadanya. Tara ternyata bukanlah saingan yang berat. Setelah ayah tahu Tara bermasalah dalam hal belajar. Raport-raportnya merah, beralihlah kasih sayang itu perlahan. Gilang merasa senang. Kerja kerasnya tidak sia-sia. Tapi tetap saja, meski ayah keras pada Tara, lelaki itu masih juga menyayangi Tara sama seperti yang dulu. Tapi ayah tidak menunjukkan terang-terangan. Melainkan melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Kalau sekarang Gilang memberitahu yang sebenarnya, Gilang sangat takut. Gilang takut jika ayah akan berpaling lagi pada Tara.
***
Seperti biasa, Mas Raka memasuki kamar Tara. Membawakannya makanan.
“Hai Jagoan! Ayo makan dulu!” Mas Raka menaruh makanan itu di tempat biasa. Dia juga duduk di sisi Tara. Tara masih memandangi jendela dengan tatapan kosong.
“Tara, ayo makan!” pinta Mas Raka sekali lagi.
“Setelah makan, kita ke ruang musik. Mas akan mainkan piano untukmu.” Seketika Tara langsung menoleh ke arahnya.
“Benar?”
“Tentu. Ayo cepat makan.” Mas Raka mengambil nampan itu dan memberikannya kepada Tara.
“Kau sudah besar, kan? Tidak perlu disuapi lagi?” goda Mas Raka. Tara memandang dan tersenyum tipis. Mas Raka mengacak-acak rambut anak itu. Sejak kejadian malam itu, akhirnya usaha keras Mas Raka sudah mulai tampak. Tara sedikit demi sedikit mulai membuka diri padanya.
***
Mesin bantu pendeteksi napas berbunyi memenuhi ruangan sunyi itu. Seorang anak perempuan tak bergerak di atas ranjang rawat dengan baju pasiennya. Luna. Yang perlahan-lahan jari telunjuknya bergerak-gerak. Mama Luna yang baru saja masuk ke ruangan, menaruh buah di atas almari kecil terkejut begitu mendengar erangan Luna.
“Ta ... ra.”
“Luna?” Mama Luna langsung teriak-teriak memanggil dokter. Jika Luna telah sadar.
***
“Apa? Luna sudah sadar, Jeng?” Ibu Tara hampir tak bisa berkata-kata. Hari ini, tepat hari kepulangan Gilang di mana mereka berkemas, adalah hari sadarnya Luna. Ayah dan Gilang saling tatap. Mereka tersenyum bahagia.
“Ayo cepat kita ke ruangan Luna,” pinta ibu usai mematikan teleponnya. Ayah mendorong kursi roda Gilang.
***
Di ruangan itu, Luna sedikit aneh dengan kakinya. Kakinya tidak berasa apa-apa.
“Mama, kenapa kaki Luna tidak bisa digerakin?” ujarnya merengek. Mama langsung saja menangis. Papa Luna tak bisa berkata-kata. Tak tega jika harus menjelaskan tentang kaki anaknya. Luna mengalami cidera berat pada sum-sum tulang belakang. Akibat benturan keras saat kecelakaan yang membuat kakinya lumpuh permanen.
“Apa? Luna lumpuh?” Seketika tangis haru di ruangan itu pecah. Ibu, ayah dan Gilang baru saja datang. Mereka hampir saja tidak masuk. Tidak tega melihat penderitaan yang harus ditanggung keluarga Luna akibat perbuatan Tara. Tapi Luna keburu melihat kedatangan mereka.
“Ke mana Tara?” teriak Luna. Yang membuat kedua orang tuanya pun menyadari kedatangan keluarga Tara. Ibu Tara akhirnya memutuskan untuk masuk, diikuti ayah yang mendorong kursi roda Gilang.
“Tara ke mana, Tante? Apa dia baik-baik saja? Apa Tara tidak terluka? Seingat Luna kepalanya bocor?” cecar Luna. Bahkan dia telah lupa dengan kesedihan yang tengah menimpanya. Luna sangat menyayangi Tara. Luna tidak ingin Tara kenapa-napa. Bahkan kalaupun ia harus mengorbankan kakinya, Luna rela. Asal Tara selamat.
“Luna, Luna yang tenang, ya.” Mama memperingatkan.
“Tara tidak apa-apa, Sayang. Hanya mengalami beberapa jahitan di kepalanya dan kehilangan banyak darah. Tapi, Tara sudah sembuh. Kamu jangan khawatir, ya.”
“Terus, Taranya sekarang di mana, Tante?” Ibu dan ayah Tara saling pandang.
“Tara sudah diamankan, Sayang. Dia ... dia kami kirim ke panti rehabilitasi. Maafkan atas kenakalannya. Tara memang anak yang nakal.” Luna membuka mulutnya kaget.
“Kenapa harus minta maaf? Tara nggak salah, Tante. Luna ikhlas mau nyelametin Tara.”
“Tapi kamu malah jadi korbannya.” Luna cepat-cepat menggeleng.
“Enggak, Tante. Mungkin ini udah kehendak Allah. Luna jadi cacat seperti ini, mungkin juga teguran dari Allah. Karena Luna kurang bersyukur.” Gilang menarik napas besar. Luna pasti akan menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Gilang tidak bisa mengendalikan keadaan ini. Ia bahkan tidak menyangka, jika Luna akan sadar begitu cepat setelahnya. Luna menjelaskan kronologi kejadiannya. Orang-orang satu ruangan itu, saling tatap. Penjelasannya sama sekali berbeda dari apa yang mereka peroleh.
“Luna ... Luna jangan coba menutupi kesalahan Tara. Aldan sudah bersaksi untuk itu.” Ayah Tara menyela.
“Apa? Aldan?” Luna menjelaskan lagi siapa Aldan. Bahwa Aldan adalah sepupu Niko dan bermaksud membalaskan dendamnya kepada Tara.
“Tolong semuanya percaya sama Luna!” Luna mulai ngeyel. Meski mereka beranggapan jika Luna hanya ingin melindungi Tara saja. Mereka mengangguk mengiyakan.
“Kak Gilang, bener kan Kak yang Luna bilang?” Gilang langsung berkeringat dingin. Dia tidak bisa berbohong. Tidak pernah bisa. Ayah selalu mengajarkan kejujuran kepada anak-anaknya. Semua kini menoleh kepada Gilang. Gilang sunyi, dia menunduk.
“Maafkan Gilang, Yah. Gilang seharusnya menjelaskan ini sejak pertama Gilang sadar. Sebenarnya, apa yang dibilang Luna itu benar. Yang dikeroyok Dody itu bukan Tara. Tapi Gilang.” Kali ini seluruh orang di ruangan itu menatap Gilang tak percaya.
“Tidak mungkin, Gilang. Kamu tidak pernah terlibat perkelahian sebelumnya. Tolong jangan lindungi Tara dari kesalahannya.” Gilang mengambil ponselnya. Menunjukkan foto-foto Dody yang masih tersimpan rapi. Serta menceritakan kronologi kejadiannya.
“Ya Allah!” Ayah merasa tubuhnya lemas. Ibu membawanya untuk duduk di sofa. Bukan hanya itu, Luna juga menjelaskan perihal keinginan Tara yang begitu kuat dalam hal belajar.
“Tara itu bukan pemalas. Luna sering membantunya.” Untuk ini, ibu mengiyakan apa yang dibilang Luna. Tara bahkan jauh lebih rajin daripada Gilang. Makin bertumpuklah rasa bersalah dalam diri ayah.

Other Stories
Suara Dari Langit

Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...

Bangkit Dari Luka

Almira Brata Qeenza punya segalanya. Kecuali satu hal, yaitu kasih sayang. Sejak kecil, ia ...

Bagaimana Jika Aku Bahagia

Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...

Aku Pulang

Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...

The Museum

Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...

Download Titik & Koma