Mentari Dalam Melody

Reads
1.3K
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
Penulis Genta Amethyst

Chapter 7

Tara sangat antusias dengan musik. Ia selalu meminta Mas Raka untuk memainkannya.
“Tara, ayo sini! Kamu ikutin gerakan jariku,” pinta Mas Raka. Mas Raka memainkan musik tingkat dasar. Tara dengan cepat menirunya.
“Bagus,” kata Mas Raka. Ia menekan tut piano lagi. Tara mampu menirunya dengan sangat baik.
“Wow. Oke sekarang Mas kasih tingkat medium,” ujar Mas Raka memainkan sebait nada. Lagi-lagi Tara bisa menirukannya dengan lancar tanpa jedah. Mas Raka tak percaya dengan apa yang dilihatnya ini.
“Tara, apa kamu sebelumnya pernah les piano?” Tara menggeleng.
“Tapi kenapa kamu bisa dengan mudah menirukanku?” takjubnya tak percaya. Sepertinya Tara memiliki bakat alamiah di sini. Terlebih Tara memiliki minat yang tinggi dengan musik. Bakat dan rasa sukanya ini, tentu akan mampu membantu Tara berkembang.
***
Hari ini, Tara mulai masuk kelas. Bertemu pelajaran adalah hal yang membosankan. Apalagi pelajaran membaca. Gurunya pun berbeda. Bukan lagi Mas Raka. Tapi seorang lelaki paruh baya. Melihatnya saja, Tara sudah ngeri duluan.
“Ayo maju, Tara. Tuliskan kalimat : Ibu Budi pergi ke pasar,” pinta guru itu sebagai test awal. Ingin tahu sejauh mana kemampuan Tara. Tara maju mengambil spidol hitam dan menuliskan di whiteboard.
Idu Dubi pegi ke dasar
Seketika kelas menjadi ramai. Mereka mentertawakan tulisan Tara.
“Tolong semuanya harap tenang. Tara! Apa kamu tidak bisa membedakan antara b dan d?” tanya guru. Ia lalu meminta Tara untuk menuliskan huruf b dan mengikuti pelafalannya. Tara pun menulis serupa. Tapi ketika ditanya dia bilang itu d.
“Tara! Saya ngomong belum satu menit. Tapi kamu sudah lupa. Ayo ulangi lagi sampai bisa!” Tara mulai jenuh. Guru ini mengajarnya tidak asik. Anak itu akhirnya berdiri di depan kelas. Mas Raka yang tak sengaja melintas di depan kelas Tara melihat kejadian itu. Setelah kegiatan belajar mengajar selesai, Mas Raka menghampiri guru tadi.
“Dia tidak bisa membedakan antara b, d, dan p,” lapor guru itu. Ketika dia mengganti huruf lain, lagi-lagi Tara tidak bisa membedakan antara huruf M dan W. Selalu terbalik-balik. Mas Raka manggut-manggut.
“Sepertinya, Dok. Melihat gejala yang ditampakkan Tara, dia menderita diksleksia,” ujarnya saat menemui Dokter Leo.
“Kamu bawaTara ke sini. Kita akan melakukan test lebih lanjut.”
***
Ayah yang memang mengkhususkan hari ini untuk di rumah menemani Gilang, mendapat telepon dari panti. Memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi.
“Saya hanya ingin menginfokan kepada Bapak. Tara positif menderita disleksia. Penyakit gangguan saraf pada otak yang menyerang anak lahir prematur atau kekurangan oksigen saat baru lahir. Di mana pengidapnya kerap tak bisa menghafal, membaca, juga menulis. Seperti mengingat rute jalan, atau bahkan nama seseorang dia bisa lupa. Jadi kami mohon, agar Bapak sekeluarga bersabar dalam menghadapi putra Bapak. Kami akan mengusahakan yang terbaik.” Raka menutup teleponnya. Di seberang ayah terduduk lemas. Matanya basah. Ibu yang baru saja keluar dari dalam bertanya-tanya. Ayah langsung menceritakannya.
“Anak kita ternyata berkebutuhan khusus, Bu,” ujar ayah. Ibu mengernyit saat ayah mengatakan istilah yang asing di telinganya.
“Disleksia? Apa itu, Yah?” Ibu menaruh jus di depan ayah. Gilang yang baru keluar kamar dengan alat penyangga kaki, mendengar percakapan kedua orangtuanya. Gilang segera melakukan pencarian di google. Ingin tahu, apa yang sedang diderita adiknya. Lalu menunjukkan hasil pencarian kepada kedua orang tuanya. Ayah semakin ditekan rasa bersalah.
“Ayah macam apa aku ini! Aku bahkan tidak tahu apa yang diderita oleh anakku. Selama ini, aku selalu mengatainya bodoh!” Ayah mulai menangis. Ibu meratapi penyesalan. Kenapa dia tidak pernah memiliki pikiran untuk memeriksakan Tara?
“Tara memang terlahir prematur. Saat usia kandunganku 7 bulan, sudah melahirkannya. Seharusnya aku konsultasi apa saja akibatnya ini,” sesal ibu. Bergumam sendiri. Gilang terlebih. Dia juga merasakan dirinya teramat tega kepada adiknya sendiri. Bahkan kemarin tega-teganya dia tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya. Tangis sesal pecah di ruangan itu.
***
“Kita akan melakukan test IQ untuk Tara,” ujar dokter Leo.
“Mungkin melakukannya dua kali. Kamu bilang, Tara sangat antusias dengan musik?” Mas Raka mengangguk.
“Mungkin itu bisa membantunya. Kita buat perbandingan. Test pertama tanpa musik. Test kedua diringi musik.” Mas Raka segera menyetujui. Lalu melakukan test. Tara mengeluh. Dengan menggerutu, mau tidak mau dia harus melakukan test ini. Test yang sangat membosankan sekaligus memusingkannya. Mereka sengaja memilih musik klasik mozart, yang lembut dan teratur seperti instrumentalia. Musik-musik seperti ini, dipercaya mampu mempengaruhi distraksi, pengalihan pikiran dari cemas ke hal-hal menyenangkan. Relaksasi, membawakan ketenangan. Menyebabkan pernapasan menjadi lebih rileks dan menurunkan denyut jantung. Membuatnya lebih santai. Juga menciptakan rasa nyaman jika mereka mendengar musik yang mempunyai arti bagi mereka.
Dua jam kemudian, Dokter Leo memanggil Mas Raka dan membacakan hasil test Tara.
“Hasilnya luar biasa,” ujar Dokter Leo hampir memekik. Mas Raka melihat hasilnya, takjub tak percaya.
“Wow. IQ Tara lebih tinggi sepuluh poin dari Einstein!” seru Mas Raka.
“Ini menakjubkan. Kita harus segera memberitahu keluarganya.”
***
“Hallo, Pak. Kami telah melakukan test IQ kepada Tara. Dan hasilnya sangat menakjubkan. Tara memiliki IQ 170,” ujar Raka. Ayah membelalak.
“Jangan main-main Anda. Ini tidak mungkin!” sangkal ayah.
“Bapak bisa datang kemari untuk melihat hasilnya.”
“Baik, saya akan segera ke sana!” Ibu yang melihat ayah menerima telepon segera menghampiri.
“Dari panti ya, Yah. Ada apa?” tanya ibu tak sabar. Ayah menatap wanita itu.
“Mereka mengatakan hasil test IQ Tara yang tidak mungkin,” ayah menggeleng. Ini mustahil baginya. Bahkan jauh melebihi Gilang yang memiliki IQ 145.
“Aku tidak percaya. Ayo kita ke sana, Yah!” Gilang yang baru saja muncul segera menawarkan diri.
“Gilang ikut!”
***
Ayah geleng-geleng tak percaya dengan hasil yang dilihat. Saat ini ia sedang menghadap Dokter Leo.
“Ini mustahil!” Ibu merebut kertas di tangan ayah. Gilang juga ikutan melongok.
“Aku tidak menyangka Tara sejenius ini,” pekik Gilang. Antara haru dan sedikit perasaan iri tumbuh di hatinya. Tapi dia coba mengabaikannya. Bagaimanapun Tara telah berjasa menyelamatkannya. Bagaimanapun Tara adalah adiknya.
Ayah merenung. Tampak jelas dari raut mukanya rasa penyesalan yang tidak kunjung usai. Malah semakin merasa hancur.
“Apa Bapak dan Ibu tidak ingin melihat Tara?” tanya Dokter Leo. Ayah tergeragap. Lalu menggeleng.
“Saya masih ingin Tara fokus, Dok,” ujar ayah. Ia juga memohon agar tidak ada satu pun anggota keluarganya yang menampakkan diri di depan Tara.
***
Tara membawa tempat sampah dan sapu lidi. Hari sabtu, adalah hari bersih. Semua anak dibimbing untuk saling bergotong royong membersihkan seluruh ruang dan halaman. Tara kebetulan kebagian halaman depan. Matanya terkejut saat dilihat sebuah mobil yang begitu familiar baginya.
“Ayah!” teriaknya saat beberapa orang itu keluar dari lobi utama.
“Ayaaah! Ibuuu!” Ayah terperanjat. Dia melihat Tara melempar sapu dan tempat sampahnya lalu berlari ke arahnya.
“Gawat. Ayo cepat!” pinta ayah. Membantu langkah Gilang agar lebih cepat mencapai mobil.
“Ayaah! Tungguuu! Tungguuu!” Dokter Leo segera berlari mengejar Tara.
“Ayaaaaaahhh!” Tara berteriak sampai pita suaranya nyaris putus. Dia menangis. Dokter Leo dibantu orang-orang dewasa lain menghalaunya.
“Ayaaah! Ayaaah!” Tara berontak. Mas Raka segera datang. Dan hanya dia satu-satunya orang yang bisa menenangkan Tara.
***
“Kenapa mereka meninggalkan aku?” Mas Raka menoleh pada anak yang masih sesenggukan itu. Ia menatap prihatian.
“Karena Ayah Tara ingin Tara lebih baik lagi.”
“Tapi kenapa harus tinggal di sini? Aku ingin pulang!”
“Bener pengen pulang?” Mas Raka mengerling ke arah Tara. Tara mengangguk sungguh-sungguh.
“Oke. Kalo begitu Tara harus semangat. Mas akan bantu Tara supaya cepat pulang.”
“Benarkah?” Mata Tara berbinar-binar. Mas Raka mengangguk mantap.
“Tara harus berubah. Tara harus mau berusaha lebih baik lagi!” Mas Raka menepuk pundak anak itu. Seketika semangat Tara langsung surut.
“Aku bodoh. Kalo Ayah hanya ingin kepintaran dariku, aku tidak bisa memberi itu,” katanya putus asa.
“Kok nyerah? Katanya mau pulang?” Tara terdiam.
“Tara ada sesuatu buat kamu.” Entah dari mana datangnya, Dokter Leo tiba-tiba muncul membawa sebuah kotak merah. Tara meraihnya dan membuka. Sebuah surat dan Ipod pemutar musik beserta pelantang telinga.
Tara membuka kertas itu. Tapi dia kesulitan membaca isinya.
“Bisa bantu?” pintanya pada Mas Raka.
“Baca sendiri, dong! Kan itu suratmu,” ujarnya menggoda. Tara merengut.
“Bacaku lama,” keluhnya. Mas Raka mengaitkan pelantang telinga pada satu telinga Tara. Lalu memutar MP3 dari ipod.
“Sekarang, coba kamu baca,” pinta Mas Raka. Tara mencoba membacanya.
“Ini surat dari Luna!” Matanya langsung melebar antusias. Lekas-lekas Tara membacanya.
From : Luna
Tara, bagaimana kabarnya? Baik-baik aja, kan? Luna di sini juga baik-baik aja. Tara jangan khawatirin Luna lagi ya. Luna sekarang sudah baikan. Tara jangan lagi merasa bersalah. Oh, ya. Luna kangen banget sama Tara. Kapan-kapan kita main lagi, yuk. Tapi sayangnya Tara di panti. Luna padahal pengen banget ketemu Tara. tapi nggak mungkin Luna ke sana. Luna harus mengikuti terapi. Biar udah divonis lumpuh seumur hidup, Luna nggak akan nyerah. Luna percaya, kalo Allah selalu punya keajaiban. Dan tidak ada kerja keras yang sia-sia. Oh, iya Tara ... Aldan, Fiki dan Rey sekarang sudah dikeluarkan dari sekolah. Gara-gara bohong. Dan anak SMP itu, sekarang sudah masuk panti rehabilitasi Narkoba. Sama. Mereka juga di drop out dari sekolah. Jadi, Kak Gilang aman sekarang. Tidak akan ada lagi anak-anak bandel yang ganggu dia. Bagaimana hubungan Tara dan Kak Gilang? Kalian harus baikan, lho, ya! Luna nggak suka kalian bertengkar. Kalian itu saudara. Udah ya, Tara. Luna mau siap-siap nih terapi. Luna belum diizinin pulang sama dokter. Hah ... padahal Luna udah bosen di rumah sakit. Tapi demi kesembuhan Luna, nggak papa deh. Biar kita bisa main lagi kayak dulu. Tara ayo! Tara harus buktikan kalo Tara bisa. Luna tunggu Tara pulang, lho. Makanya harus semangat. Biar kita cepat ketemunya. Oh iya. Itu ipod dan headsetnya dikasih ayah Tara. ayah Tara minta maaf sama Tara. Karena udah ngancurin kotak musiknya. Tara baik-baik ya di sana. Kami semua menunggumu. Luna akan mengirim surat setiap minggu. Biar Tara merasa nggak kesepian lagi. Bye-bye.
Membaca surat dari Luna, Tara hampir saja melompat kegirangan. Mas Raka senyum-senyum melihat Tara yang ceria. Tidak pernah sebelumnya dilihat Tara sebahagia ini. Rupanya, gadis kecil bernama Luna itu benar-benar obat bagi kesedihan Tara.
“Mulai sekarang, aku mau berjuang keras! Mas Raka, aku pengen jadi pianis,” ucapnya tanpa ragu-ragu. Mas Raka melongo.
“Tentu. Kenapa tidak? Kamu bahkan bisa lebih dari itu Tara.”
***
Akhir-akhir ini, ada banyak hal yang menggembirakan bagi Tara. Selain surat dari Luna, ada hal lain yang membahagiakan hatinya. Luna bilang pelantang telinga yang dipakainya saat ini itu, adalah pemberian ayah. Tara senyum-senyum sendiri. Itu berarti ayah mulai memperhatikannya. Tara sangat antusias.
“Bagaimana Tara? Sudah siap?” Kali ini Mas Raka datang membawa properti.
“Ya, siap. Kita mau latihan piano kan?” Mas Raka menggeleng. “Siapa bilang? Kita akan belajar membaca. Membacamu masih kurang lancar. Ayo!” Tara menatap sebagai bentuk protes.
“Lho? Bukannya Mas Raka mau ngajarin main piano?”
“Kalo kamu masih belum bisa membedakan mana b, p, dan d. Aku tidak akan mengajarimu main piano. Nanti kalo kamu bisa, itu bonusnya.” Raka mengangkat sebelah alis.
“Curang!” Tara berjalan cemberut mengikuti langkah Mas Raka. Mas Raka akan melakukan latihan multisensorik untuk Tara. Sebuah cara mengajar yang melibatkan lebih dari satu indera dalam satu waktu. Dia juga memutarkan musik untuk Tara. Musik sangat membantu kerja otaknya.
Mula-mula Mas Raka menyodorkan gambar macam-macam binatang yang sedang dipegangnya.
“Lihat dan tirukan!” Tara mengangguk. Mas Raka menunjuk salah satu gambar.
“Beruang!” Ia membaca sangat lantang dan nyaring. Tara mengikutinya.
“Apa namanya Tara?” Tara menyebutkan gambar apa itu sesuai apa yang dikatakan Mas Raka tadi. Raka kemudian meletakkan pasir di atas meja.
“Sekarang kamu tulis nama hewan tadi!” titahnya. Mas Raka memberi contoh di papan tulis. Tara menirukannya. Menulis dengan jari di atas pasir.
“Sambil dieja!” perintah Mas Raka. Tara mengejanya.
“Baca sekaligus. Apa Tara?”
“Beruang,” ujarnya. Mas Raka mengacungkan jempol. Sekarang ia menghapus contoh di papan tulis. Dan meminta Tara juga merusak tulisan jarinya di atas pasir. Hingga rata kembali.
“Sekarang, kamu tulis lagi.” Tara kembali menggoreskan dengan jarinya sambil mengeja. Kegiatan ini melibatkan indra penglihatan, sentuh, gerakan, dan suara. Itu akan membantu ingatannya.
“Be-ru-ang,” ucap Tara. Tapi tulisan yang ia tulis salah : deruang.
“Salah. Ulangi lagi!” Mas Raka menghapus tulisan pasir Tara. Tara mencobanya lagi.
“Nah, bagus. Seperti itu.” Mas Raka menerapkan kegiatan ini berulang-ulang pada Tara. Untuk memperkuat ingatannya. Sekarang, dia berganti metode lagi.
Mas Raka menyuruh Tara menulis di udara yang akan memperkuat hubungan suara dan setiap huruf melalui memori otot. Ia meminta Tara menggunakan dua jarinya. Jari telunjuk dan jari tengah untuk membuat huruf imajinasi di udara, sambil menjaga siku dan pergelangan tetap lurus. Setiap kali Tara membuat satu huruf di udara, Mas Raka meminta Tara untuk mengeja bunyi huruf tersebut dengan keras. Aktivitas ini akan membantu Tara untuk membayangkan bentuk huruf yang Tara tulis. Mas Raka meminta Tara melakukan berulang-ulang. Sekarang dia berganti ke metode lain. Mas Raka mengambil balok mainan warna-warni berbentuk huruf, dan menyuruh Tara menyusun dan mencarinya dari balok-balok itu, untuk membentuk kata beruang. Tara dapat melalui ini dengan mudah. Dia sudah bisa membedakan mana b dan d. Masih banyak metode-metode lain yang Mas Raka lakukan. Dia juga mencoba banyak kata selain beruang. Juga durian, pena, dan buku. Tara merasa lelah. Tapi perlahan, ia mulai tahu dan bisa membedakan.
“Lelah?” tanya Mas Raka yang melihat Tara mulai jenuh.
“Mas Raka boleh minum?” tanyanya.
“Kita sudahi belajar hari ini. Kita lanjutkan besok. Mas tunggu jam dua di ruang musik,” ujar Mas Raka menepuk bahu Tara.
“Beneran, Mas?” Mas Raka mengacungkan jempol tanpa menoleh ke belakang.
“Awas jangan telat!”
“Yeay!” Tara melompat kegirangan berlari menghambur ke ruang makan.
***
Tara sudah mulai menyatu dengan teman-temannya. Kemajuan yang sangat pesat. Dalam waktu sebulan saja, Tara sudah menjadi sangat cemerlang. Dia mampu menjawab dengan cepat perhitungan, membaca sangat lancar, dan mampu mengajari teman-temannya. Tara juga berhasil bermain piano cukup memukau di acara pentas seni yang digelar tertutup hanya untuk keluarga besar Guna Bhakti. Luna juga tak pernah berhenti mengiriminya surat. Kali ini, Tara menerima surat ke empatnya. Ia membuka surat berwarna merah itu, yang didapatnya lagi-lagi dari Dokter Leo.
From: Luna
Hai, Tara. Hari ini Luna seneng deh, pas dikasih tau kalo Tara mau ikut lomba musik. Wah. Kereen. Luna nggak nyangka Tara bisa berkembang secepat ini. Tapi sayang banget. Di saat yang bersamaan, Luna harus pergi Tara ... hiks. Luna sedih. Itu berarti, Luna nggak bisa lagi kirim surat buat Tara. Luna mau keluar negeri cari pengobatan buat kaki Luna. Tara jangan sedih, ya. Luna pasti kembali nanti. Luna minta maaf. Luna nggak bisa liat Tara lomba nanti. See you.
Tubuh Tara bergetar membaca itu. “Lunaaa!!!”
***
Hari itu tiba ....
Tara deg-deg-an setengah mati. Dia akan tampil sebagai peserta ketiga. Tara mengenakan tuksedo yang dipadu dengan celana hitam dan kemeja putih. Rambutnya juga disisir klimis. dengan nomor urut tiga di dada sebelah kirinya.
Mata Tara terus mencari-cari orang yang dia kenal. Berharap menemukan wajah keluarganya di tengah-tengah kerumunan orang yang hadir. Sayangnya tak ada. Hanya ada Mas Raka yang duduk mendampinginya.
“Mereka masih dalam perjalanan. Tenanglah, Tara,” pinta Mas Raka. Yang melihat Tara dari tadi seperti gugup. Tara menggerak-gerakkan tubuhnya untuk menghilangkan grogi. Sampai akhirnya, dia melihat ayah, ibu dan kak Gilang yang masih menggunakan alat bantu untuk berjalan tiba.
“Ayaaah!” Tara berlari. Ayah merentangkan tangannya lebar. Tara melompat dan memeluknya. Sudah lama Tara tidak pernah merasakan ini. Ia rindu dengan ayah yang dulu.
“Maafkan, Ayah, Sayang!” Ayah mengelus kepala Tara yang gendong kepadanya. Muncul setitik air dari matanya. Gilang yang melihat itu menunduk. Dia berpikir, mungkin dunianya akan kembali seperti dulu. Tapi kemudian ia tersenyum begitu seseorang merangkulnya dan mengecup keningnya juga secara bergantian antara Gilang dan Tara.
“Dua jagoan Ayah yang luar biasaaa! Ayah bangga pada kalian. Mulai sekarang, jangan ada lagi yang merasa paling tidak disayangi. Ayah sayang kalian berdua. Kalian adalah anak-anak Ayah. Kebanggaan Ayah. Jadi mustahil Ayah tidak menyayangi salah satu di antara kalian.” Mereka berpelukan erat. Tara tersedu. Gilang juga mengusap air matanya. Ibu sendiri melihat pemandangan langka ini sambil menangis haru. Tapi kemudian mendekat, menyatu dengan mereka.
“Hey, hey, hey! Sekarang bukan saatnya menangis haru. Acara segera dimulai.” Raka pura-pura marah menunjuk jam tangannya. Mereka semua tertawa lalu lekas-lekas mengambil tempat duduk di barisan paling depan. Tara duduk tepat di samping Gilang. Awalnya mereka berdua canggung. Tapi Gilang memulai dulu merangkul Tara. Tara mendongak melihat kakaknya yang duduk lebih tinggi darinya. Lalu tersenyum. Dia balas merangkul Gilang.
“Kamu luar biasa, Tara! Aku bangga padamu!” ujarnya. Sembari tangan yang satu mengacak-acak rambut adiknya.
“Jangaan! Nanti rusak!” protes Tara yang segera disambut kekeh oleh Gilang. Mata Tara tak sengaja melihat ke sudut lain. Dua orang bocah bertubuh gendut yang pada saat itu tak sengaja juga menatap dirinya. Aldan dan Niko! Tara mendelik.
“Heran. Bagaimana di tempat sekelas ini ada anak itu?” Niko menunjuk dengan dagunya. Tangannya bersedekap.
“Wah. Kenapa bisa ada dia? Si Bodoh itu?” Aldan menyahuti. “Aku ingin memukulnya! Gara-gara anak itu, aku dikeluarkan dari sekolah!” Aldan menggebu. Tapi Niko segera menahan.
“Jangan! Aku liat dia juga pake nomor peserta. Berarti dia juga ikut lomba ini,” pikir Niko.
“Kita liat aja nanti. Siapa yang akan jadi pemenangnya. Aku ingin menyaksikan semua orang di auditorium ini menertawainya nanti saat manggung.” Aldan dan Niko tertawa. Tara hanya mengawasi mereka tidak mengerti. Sepertinya mereka sedang membicarakan dirinya.
“Hahahaha. Iya, kamu benar. Aku sudah tidak sabar ingin menyaksikannya. Kita liat aja nanti.” Aldan terkekeh. Niko mengangkat jempolnya ke atas lalu membalikkan ke bawah. Aldan dan Niko mengejek dari kejauhan. Tara hanya menanggapi dengan senyuman. Dia sudah terlalu bahagia. Baginya tidak peduli lagi pada mereka. Dia sudah mendapatkan orang-orang yang mencintai. Tidak penting lagi pandangan orang lain terhadapnya.

Other Stories
Luka

LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...

Lam Biru

Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...

Suara Cinta Gadis Bisu

Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...

Agum Lail Akbar

Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...

Awan Favorit Mamah

Hidup bukanlah perjalanan yang mudah bagi Mamah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa kepastian sia ...

Download Titik & Koma