First Love Fall

Reads
408
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
first love fall
First Love Fall
Penulis Lana Ra

Prolog

 “Sudahlah, Dek. Mau saja,” sahut Bu Ratri di sebelahku.
Aku hanya tersenyum memandang beliau. Jika bukan karena dia, mungkin es teh yang ada di meja sudah kusiram ke muka laki-laki di hadapanku ini. Rasa dingin mengalir ke tangan ketika kugenggam gelas itu erat-erat. Untuk menahan amarah yang sudah memuncak ke ubun-ubun, kusesap sedikit es teh dari sedotan dengan perlahan. Setelah air es yang dingin itu sukses meluncur ke dalam lambung, kuletakkan gelas es teh di meja. Udara panas yang menyesakkan dada, kuembuskan perlahan lewat mulut.
“Maaf, Mas. Sejujurnya saya tidak punya perasaan sama sampeyan. Jadi tidak usah lagi mengejar saya!”
Aku berdiri perlahan sambil tersenyum sopan pada Bu Ratri dan teman-teman yang ada di sini. Wajah Mas Rudi tertunduk dan aku sama sekali tidak peduli.
“Maaf, hape saya tertinggal di tas. Saya permisi dulu,” ujarku pada audiens yang tampak kecewa.
Kutinggalkan kantin dengan langkah mantap. Biar saja mereka menganggapku kejam. Memangnya siapa mereka mengatur-atur ‘acara nggak penting’ seperti ini? Apalagi memaksaku menerima Mas Rudi, seperti tidak ada cowok lain saja di dunia ini.
Plis deh!
Bukannya sok cantik atau pilih-pilih, tapi mereka sudah melanggar wilayah pribadiku. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan ulah teman-teman, apalagi Bu Ratri. Memang sih, Mas Rudi sudah berulang kali memberikan sinyal suka padaku. Tapi aku kan tidak suka sama dia. Bukan karena fisiknya yang tidak seberapa ganteng, tapi memang aku tidak merasa cocok dengannya. Jadi wajar saja kalau kutolak mentah-mentah ajakannya. Lagipula aku bukan orang yang pandai berpura-pura. Bukannya kejujuran itu lebih baik daripada harapan palsu?
Intinya, he is not my tipe!
Memang sih, aku belum pernah jatuh cinta selama 28 tahun hidupku ini. Kalau naksir-naksir pasti pernahlah. Soalnya selama sekolah dan kuliah dulu, temanku kebanyakan cowok. Mereka sangat menyenangkan dan melindungi, jadi wajar saja jika aku tidak butuh spesial person. Bagaimanapun juga, aku juga ingin jatuh cinta. Merasakan debaran yang katanya membuat lumpuh logika. Aku pun ingin menikah, sama seperti orang lain. Dia haruslah orang yang tepat dan mau mengerti diriku. Pernikahan adalah hal yang sakral bagiku, cukup sekali seumur hidup dan berbahagia hingga akhir hayat bersama orang yang ditakdirkan untukku.
Who is he? Where is he? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.
Kuputar kenop pintu ruangan. Udara dingin AC menyentuh kulitku, membawa sensasi yang cukup menenangkan. Kuseret kursi lalu duduk dan bersandar dengan malas. Pikiranku masih sedikit kacau akibat peristiwa tadi.
Oh iya, hape!
Aku menunduk untuk membuka lemari bawah meja, mengeluarkan tas selempang hitam yang selalu menemaniku ke kantor. Kuletakkan tas kulit itu di meja dan membuka resletingnya. Tanganku mengobok-obok mencari benda kotak yang hampir tidak pernah jauh dariku. Hari ini aku harus berterima kasih padanya karena tertinggal di tas. Memberiku alasan untuk meninggalkan emak-emak rumpi dan Mas Rudi yang merana di kantin.
Bibirku mengembang ketika tanganku berhasil menemukannya. Kugeser layar dan memasukkan pola untuk membuka kunci. Terpampang gambar anime dan jam digital di sudut layar yang menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas menit. Masih ada 45 menit lagi waktu untuk istirahat.
Selera makanku sudah hilang. Untungnya cadangan cokelat batangan yang ada di dalam tas sisa sebiji. Kugigit ujungnya sambil berjalan menuju dispenser untuk mengambil air minum. Setelah kembali ke meja, kubuka serial Webtoon sambil membuat gigitan ke dua, nyamm.
“Serenade, kamu dipanggil Pak Setiaji.”
Mbak Retna yang tiba-tiba muncul mengagetkanku.
“Eh, ada apa ya, Mbak?”
“Nggak tahu, tapi kayaknya penting deh. Buruan ya,” jawabnya sambil duduk setelah menghempaskan tumpukan berkas di meja.
Wanita beranak dua itu melewatkan waktu istirahat karena harus menyelesaikan beberapa berkas SPJ. Rupanya dia baru saja dari ruangan Pak Setiaji untuk minta tanda tangan.
“Ya udah, aku ke sana dulu Mbak,” pamitku sambil meninggalkan ruangan.
“He-em, bentar lagi aku juga mau ke kantin,” sahutnya.
Koridor kantor memang lengang di waktu istirahat seperti ini. Suasana yang hampir sunyi membuat detak jantungku terdengar lebih keras dari biasanya. Belum lagi suara hak sepatu pantofel yang beradu dengan lantai, menjadi backsound ribuan pertanyaan yang muncul di benakku. Tidak mungkin Kepala Bagian memanggil staf sepertiku jika tidak ada masalah.
Aku berhenti di depan pintu ruangan Pak Setiaji. Kuatur napas sebelum mengetuk pintu kaca yang tertutup itu.
“Masuk,” jawab dari dalam.
Kudorong pintu perlahan, lalu masuk ke ruangan yang full AC itu. Daun pintu menutup otomatis di belakangku.
“Bapak memanggil saya?” sapaku.
Pak Setiaji yang sedang berdiri di dekat lemari berkas menoleh.
“Oh, Rena. Silakan duduk.”
Kudekati meja beliau dan duduk di kursi. Pak Setiaji mengambil sebuah amplop cokelat yang telah terbuka kemudian menyodorkannya padaku.
“Selamat ya, permohonan beasiswa tugas belajarmu disetujui,” kata Pak Setiaji.
Aku buru-buru menarik kertas putih yang ujungnya menyembul dari dalam amplop.
“Alhamdulillah.”
Rasanya dadaku hampir meledak karena tak percaya. Kubaca sekali lagi surat itu.
“Terima kasih banyak, Pak,” ucapku tanpa bisa menutupi kebahagiaan. Mungkin jika tidak ada di tempat lain, aku akan meloncat-loncat kegirangan.
“Sebenarnya saya agak keberatan kamu mengambil beasiswa itu. Kamu staf muda yang sangat rajin dan pintar, Bu Ratri pasti akan kesulitan jika kamu cuti.”
Pak Setiaji berhenti berbicara sambil menatapku dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.
“Tapi, bagaimanapun juga ini adalah kesempatan yang sangat berharga. Jadi, manfaatkan sebaik-baiknya. Semoga nanti kamu bisa memberikan kontribusi lebih setelahnya.”
Kali ini wajah Pak Setiaji tampak sumringah dan tersenyum lebar.
“Baik, Pak. Terima kasih sekali lagi,” jawabku dengan semangat. Jujur aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku kali ini. Aku benar-benar sangat gembira dan lega.
\"Ya sudah, silakan kembali beristirahat.\"
Aku berdiri menyambut uluran tangan beliau untuk bersalaman. Terburu-buru berjalan ke luar ruangan untuk meredam euforia yang memenuhi dadaku, ingin berteriak saja rasanya. Kulemparkan kaki dengan riang menyusuri koridor kantor, entah bibirku tersenyum atau tidak. Sepertinya hari-hari selanjutnya akan sangat jauh berbeda. Selamat tinggal deadline laporan, selamat tinggal excel, selamat tinggal kantin, selamat tinggal nyonya-nyonya rumpi yang centil dan selamat tinggal Mas Rudi.
Yiiihaaa!
Aku tidak kembali ke ruangan, tidak juga ke kantin. Langkahku mantap menuju mushola kantor di lantai dua. Aku ingin segera bersujud untuk berterima kasih kepada Sang Pemilik Takdir, yang telah memberiku kesempatan untuk melarikan diri. Semoga perubahan ini membawa kebaikan bagiku. Apalagi aku sudah tidak tahan dengan segala rutinitas kantor dan omongan nyinyir orang-orang yang tidak menyukai kehadiranku. Terutama setelah peristiwa di kantin tadi.
***
Aku belum bertemu Ayah sejak sampai di rumah jam empat sore tadi. Beliau pasti masih sibuk di lapangan mengurus dengan bisnis property yang baru dirintisnya setelah pensiun. Sudah hampir isya, pasti sebentar lagi beliau datang.
Surat dari HRD masih kutimang-timang sambil scrolling di Instagram ketika suara mobil ayah terdengar memasuki garasi. Kuletakkan hape dan bergegas turun. Biasanya kalau beliau pulang setelah magrib, pasti sudah makan di luar sehingga langsung masuk ke kamar dan istirahat. Aku tidak bisa menunggu sampai besok pagi untuk memberi tahu kabar ini. Bisa-bisa aku terjaga semalaman dengan rasa tidak karuan. Ayah masuk ke ruang tengah ketika aku sampai di pertengahan tangga.
“Ayah sudah pulang,” tegurku hati-hati.
“Ada apa, Rena?”
Kebiasannya yang to the point selalu membuatku nervous setiap kali bicara pada beliau. Kutarik napas dalam-dalam sebelum menghabiskan anak tangga dan menghampiri beliau. Ayah sudah menyandarkan tubuhnya di sofa sambil menyalakan TV ketika aku sampai di sana. Kusodorkan surat beramplop cokelat yang pinggirannya sedikit basah. Beliau mendongak sejenak dengan alis bertaut.
“Permohonan beasiswa S-2 Rena disetujui, Ayah. Rena dapat penempatan di Kampus Malang,” kataku hati-hati sambil duduk di sebelahnya.
Beliau mengeluarkan kacamata baca dari saku kemejanya. Kemudian diterimanya amplop itu dan mengeluarkan kertas putih di dalamnya. Ayah membaca surat itu dengan cermat. Suara iklan di TV mencairkan kebekuan di antara kami.
“Jadi kapan kamu berangkat?”
“Hah! Ayah setuju? Aku nggak salah dengar?”
“Emm, Rena punya waktu dua minggu sampai penutupan daftar ulang.”
“Ya sudah, nanti Ayah antar kamu.”
Aku sangat gembira ayah menyetujuinya.
“Tapi, Ayah ingin mengingatkan kamu,” beliau berhenti sejenak sambil meletakkan surat itu di meja,” jangan hanya memikirkan karier. Segera cari pendamping hidup, apalagi kamu cewek. Cari laki-laki yang tepat, sebelum Ayah menyusul Ibumu.”
Aku hanya bisa mengangguk.
“Kamu harus memperhatikan bibit, bebet dan bobot calon suamimu. Usahakan pendidikannya setara, dari keluarga terhormat, dan memiliki kemapanan financial. Meskipun kamu punya pekerjaan sediri, tapi sudah kewajiban seorang suami untuk menafkahimu.”
Kenapa wejangannya jadi begini? Tapi semua gejolak hatiku hanya bisa kutelan. Manut saja, pasti aman. Jika membantah, aku khawatir tidak diizinkan kuliah lagi. Sebenarnya aku sangat tergiur untuk mendapatkan beasiswa ke Jogja atau ke luar negeri. Tapi kupilih kampus Malang sebagai tempat belajar karena mempertimbangkan sifat ayah yang sedikit protektif.
“Ibumu pasti bangga, Nduk,” kalimat ayah membuyarkan monolog di otakku. “Meskipun Ayah masih sanggup membiayai kuliahmu, tapi kamu meraih peluang itu dari usahamu sendiri,” lanjutnya.
Air mata tiba-tiba menggenangi pelupuk mataku. Ah, Ibu. Kami sangat merindukanmu. Seketika itu rasanya aku ingin memeluk Ayah.
“Ya wes, Ayah mau istirahat dulu,” ujar Ayah memecahkan keheningan sesaat tadi.
Aku ikut berdiri ketika beliau beranjak dari sofa. Ditepuknya bahuku sambil berkata, “Selamat ya, Serenade Senja. Belajar yang rajin dan jangan lupa pesan Ayah.”
“Iya, Yah.”

Other Stories
Viral

Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...

Cerella Flost

Aku pernah menjadi gadis yang terburuk.Tentu bukan karena parasku yang menjaminku menjadi ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Rembulan Di Mata Syua

Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Pintu Dunia Lain

Wira berdiri di samping kursi yang sedari tadi didudukinya. Dengan pandangan tajam yang ...

Download Titik & Koma