First Love Fall

Reads
409
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Penulis Lana Ra

He So Funny

“Chandra ke mana sih?” tanyaku penasaran.
“Bentar, gue WA dulu ya,” jawab Neva.
“Eh, dia kecelakaan. Dia minta izin di grup kelas,” sahut Mario.
Kami tidak ada yang berani menyentuh HP ketika jam belajar, apalagi ketika jam Pak Angga. Lagi pula selama pelajaran yang super duper serius tadi, otakku rasanya kram sampai tidak bisa memikirkan hal lain.
“Kita ke tempat Chandra, yuk. Pake mobil Rio aja, nanti setelah dari Chandra kita balik ke sini,” kata Neva.
Gadis mungil yang sedikit centil itu menghampiri Rio dan rupanya mendapat persetujuan. Setelah semua oke, kukirim pesan singkat ke WA Chandra.
Me: Kamu kecelakaan? Kok bisa? Masih hidup?
Beberapa saat kemudian dia membalas.
Chandra: Aku diserempet mobil kemarin
Chandra: Kaki aja yang bengkak, mayan buat alasan malas kuliah. Hehehehe
Me: Hahaha. Kasian mobilnya (emot menjulurkan lidah)
Chandra: Kenapa, kangen ya? (emot cium)
Me: Huekkk (emot muntah)
Me: Nanti kita jalan ke rumahmu. Minta alamat lengkap!
Chandra: Duh perhatian banget. Makasih (emot tangan bertangkup)
Chandra: Griya permata Dieng, Jalan Martadinata no. 15 rt 5 rw 3 Kelurahan Panjang Jiwa. Kecamatan Kepanjen. Kabupaten Malang 65163.
Me: Lengkap amat, kyk ngirim paket buat olshop aja
Chandra: Hehehhe
Me: Kita gak jadi datang.
Chandra: Napa?
Me: Kita kirim paket aja pake JNE, ongkir bayar di tempat. Hahahahha
Chandra: Wooo, dasar! (emot tinju)
Setelah jam kuliah berakhir, kami bertiga segera menuju mobil Rio. Setelah menyetting GPS, Rio membawa mobilnya melaju di jalanan. Jalan menuju rumah Chandra lumayan padat merayap, bahkan beberapa kali kami harus terjebak macet. Aku sedikit heran, ternyata beberapa titik di Kota Malang juga bisa macet pada jam-jam tertentu. Beruntunglah diriku yang selalu pulang pergi membawa motor matic.
Kucoba mengalihkan perhatian dengan memutar musik JOOX dan memasang headset di telinga. Beberapa lagu cukup membuatku rileks. Apalagi alunan musik Perfect by Ed Sheran yang easy listening, mampu membawaku ke dimensi lain yang tak terbayangkan.
Baby, I’m dancing in the dark, with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favorite song
When I saw you in that dress, looking so beautiful
I don’t deserve this, darling, you look perfect tonight
\"Reeeenaaa,” bisikan lembut itu terdengar samar, \"Reeenaaaa.\"
“Serenade,” panggil suara tanpa wujud itu lagi, tidak menakutkan dan membuatku penasaran. Rasanya aku seperti berada di tengah hamparan padang rumput hijau yang luas membentang. Suara itu seakan terbawa angin yang berhembus sepoi-sepoi dari arah belakang. Kubalikkan badan, tampak sebatang pohon besar dengan daunnya yang lebat dan berwarna kemerahan. Suara itu semakin jelas terbawa angin sampai ke telingaku.
“Rena,” semakin jelas, “Rena!” sangat jelas. Tubuhku terasa berguncang.
“Renaaa! Wooiii banguun! Kita udah nyampe.”
Mataku terbuka seketika. Sinar matahari dari ufuk barat menembus celah-celah dedaunan menyilaukan pandangan. Headset yang tadi kukenakan sudah terlepas dan ada di pangkuan. Aku bangkit dari sandaran jok belakang sambil mengerjapkan mata.
“Ya ampuun. Lu kalau tidur kayak kebo, ya. Susah banget dibangunin,” kata Neva dari luar jendela. Dia sudah turun dari mobil. Sementara Rio turun dari kursi sopir sambil tertawa melihatku.
“Apaan sih bawa-bawa kebo segala?” sungutku.
“Kamu juga, ngapain ketawa!” teriakku pada Rio.
“Sorry-sorry. Abis kamu juga sih, masa macet bentar aja langsung molor. Hahahaha,” kata Rio sambil bergegas keluar menghindari tinjuku.
“Macet apaan? Kamu aja yang nggak bisa baca GPS, nyari jalan malah masuk gang gak jelas!” jawabku nggak mau kalah.
“Udaahh. Jangan bertengkar mulu. Gue udah WA si Chandra, kita disuruh segera masuk,” kata Neva.
Mario dan Neva berjalan duluan sementara aku keluar mobil. Sambil mengamati keadaan rumah Chandra yang asri kurapikan jilbab. Halamannya sangat luas dengan beberapa pepohonan rimbun di beberapa tempat. Di depan rumahnya terdapat taman bunga mini yang mengelilingi sebuah kolam ikan. Di tengah kolam itu ada air mancur yang keluar dari mulut patung ikan. Di tepian kolam, tertata rapi batu-batu berbentuk datar yang digunakan sebagai tatakan pot bonsai.
Aku tidak mengerti mengapa orang-orang suka menyiksa tanaman seperti itu. Maksudku diikat-ikat, ditaruh dalam pot, lalu menggunting daun serta dahan tanaman demi bentuk yang mereka anggap sempurna. Mereka mengatakan hal itu sebagai seni yang penuh estetika. Well, dulu Ibuku juga pecinta tanaman. Tapi beliau memelihara dan menyayangi mereka dalam bentuk aslinya.
Aku tertegun memandangi bangunan rumah utama yang berlantai tiga dengan dinding berwarna dominan cream. Sangat kontras dengan rumah sekitar yang rata-rata hanya berlantai satu. Sangat terlihat jelas jika Chandra berasal dari keluarga yang cukup berada. Dinding bagian depan dihiasi batu alam yang tertata seperti mozaik. Aku melangkah masuk ke teras yang berbentuk joglo dan takjub pada tiga pilar penyangga yang berukuran cukup besar. Satu set meja dan kursi dari kayu jati ditempatkan di sudut teras tidak jauh dari tempat kami berdiri.
Neva sudah berada tepat di depan pintu ganda yang terbuat dari kayu berukir. Dia memencet bel yang menempel di bagian kanan pintu. Tidak berapa lama kemudian pintu itu terbuka. Chandra berdiri dengan senyum khasnya yang usil.
“Waahhh, akhirnya kalian nyampe juga. Nggak kesasar ‘kan?”
“Mayan,” jawab Rio sambil nyengir ke arahku.
“Ayo masuk-masuk!”
Kami bertiga mengekor Chandra yang berjalan ke dalam ruang tamu sambil terpincang-pincang.
“Kejadiannya bagaimana? Kok bisa sih, sampe kecelakaan gitu? Trus kata dokter gimana? Nggak apa-apa ‘kan, ya?” Neva mencecar Chandra dengan banyak pertanyaan begitu kami berempat sudah duduk di ruang tamu.
“Woi, woi, woles dong! Nggak sabaran amat sih jadi orang,” kata Rio sambil terkikik.
“Emang sih, Chan. Neva paling heboh waktu denger kamu kecelakaan,” sahutku.
“Udah, aku nggak apa-apa kok. Lagian itu salahku sendiri juga,” Chandra memperbaiki duduknya, lalu mengangkat kakinya yang bengkak dan meletakkannya di kursi ekstra. “Permisi ya, harus ditaruh begini kata dokter biar nggak bengkak.\"
\"Its okey, Bro,\" timpal Rio.
\"Jadi ceritanya gini, tuh mobil potong jalurku. Ketemu lagi pas dia berhenti di lampu merah. Sebel aja sih, aku tendang bempernya. Kebetulan posisiku agak di depan mobil itu. Nah, waktu lampu udah ijo aku nggak perhatian. Jadi kaki yang masih menyangga motor terlindas ban mobil sialan itu. Awalnya sih cuman nyeri. Eh nyampe rumah kok malah bengkak, hahahha,” jelasnya.
“Parah kamu Chan,” ujarku spontan. Dia hanya tertawa.
“Eh, gila lu ya. Untung aja nggak jatoh atau kenapa-kenapa,” timpal Neva.
“Retak dikit sih jempolnya. Bentar lagi juga bakalan sembuh. Sementara ini nggak boleh pake motor ke kampus,” imbuh Chandra.
“Kamu lihat orangnya nggak, yang melindas kakimu?” tanya Rio.
“Iya, aku ingat banget wajahnya. Familier, kayak pernah lihat di mana gitu,” rahang Chandra menegang seketika, terlihat seperti menyimpan dendam.
“Sudah-sudah, yang penting jangan emosian lagi. Nggak bagus buat kesehatan,” tukasku.
Beberapa saat kemudian pembantu Chandra datang membawa minum dan makanan kecil. Kami menikmatinya sambil bercanda, lebih tepatnya Neva dan Chandra ngobrol seru. Sementara aku dan Rio hanya menimpali sesekali saja. Mereka berdua terlihat sangat serasi. Chandra yang pipinya chubby dan berperawakan tegap bersanding dengan Neva yang cantik dan imut. Kombinasi sempurna seperti pasangan di kartun-kartun manga.
“Kalian berdua klop banget deh,” komentarku usil.
“Eh, masa sih? Habisnya, gue kuatir banget tau. Setelah ketemu sama Chandra jadi lega liat dia nggak kenapa-napa,” katanya tiba-tiba.
“Ecieee, kuatir apa kangen?” godaku.
“Kamu naksir Chandra, ya Nev?” tanya Rio to the point.
“Ya gitu, deeeh. Habis, dia kocak banget,” jawab Neva polos.
“Padahal kenal juga baru seminggu, hahahaha,” timpal Rio usil. Aku hanya tertawa saja melihat Neva yang menoyor kepala Rio.
“Yeee, maap ya Nev. Aku sudah laku,” jawab Chandra tiba-tiba.
“Oh, ya?” tanya Neva sambil berusaha menyembunyikan kekagetannya.
“Biasalah, dijodohin ortu,” jawab Chandra santai.
“Ooohh,” ujarku sambil manggut-manggut.
Setelah ngobrol sebentar tentang tugas, kami bertiga meninggalkan rumah itu setelah jam 5 sore. Neva yang berangkat tadi terlihat sangat gembira, saat pulang malah terlihat badmood. Kelihatan jelas jika dia kecewa setelah mengetahui Chandra sudah dijodohkan. Tapi aku malah ingin tertawa melihatnya seperti itu.
Tiga puluh menit kemudian kami sudah sampai kampus. Rio menurunkanku di parkiran pascasarjana, sementara Neva nebeng Rio pulang. Beberapa menit kemudian mahasiswa yang kuliah malam berhamburan keluar dari gedung. Suasana sore yang hampir gelap tidak terlalu menakutkan, justru terlihat sangat romantis. Lampu-lampu sepanjang jalan sudah menyala. Langit yang hampir berubah kelam menandakan waktu salat magrib hampir tiba. Aku segera mengambil si matic dan membawanya melaju menuju masjid kampus untuk salat magrib sebelum pulang.

Other Stories
Puzzle

Ros yatim piatu sejak 14 tahun, lalu menikah di usia 22 tapi sering mendapat kekerasan hin ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...

Cahaya Menembus Senesta

Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...

Cinta Di Balik Rasa

memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Melinda Dan Dunianya Yang Hilang

Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...

Download Titik & Koma