Sonata Laut

Reads
2.4K
Votes
0
Parts
17
Vote
Report
Penulis Ivoryfloome

BAB 2: LAUT YANG MEMANGGIL

Laut selalu punya cara bicara tanpa suara.
Kadang lewat debur ombak yang menghantam karang.
Kadang lewat desiran angin asin yang membawa aroma garam.
Kadang lewat keheningan di kedalaman, ketika dunia di atas terasa jauh, lenyap.

Bagi Selia Maris, laut bukan sekadar tempat singgah.
Laut adalah rumah kedua.

Sejak kecil ia terbiasa dengan air. Ayahnya seorang nelayan. Hampir setiap pagi, ia ikut berangkat meski hanya duduk di buritan perahu. Angin basah memukul wajahnya, sinar matahari memantul di permukaan air, dan suara dayung beradu dengan riak laut. Itu semua adalah lagu masa kecilnya.

Namun suatu hari, ayahnya tidak pernah kembali.
Perahu hilang ditelan badai.
Dan sejak saat itu, laut bukan hanya rumah, melainkan juga guru pahit yang mengajarkan kehilangan.

Kini, bertahun-tahun setelahnya, Selia menjadikan laut sebagai sahabat.

Ia adalah free diver—penyelam bebas tanpa tabung oksigen, hanya bergantung pada paru-paru dan keberanian.

Ritualnya selalu sama sebelum masuk ke air. Ia berdiri di dermaga atau di atas perahu kecil, menutup mata, menghitung napas: satuduatiga… Tarik panjang, buang perlahan. Tarik lebih panjang, buang lebih dalam. Ia membiarkan tubuhnya relaks, seolah semua otot diminta tidur.

Lalu ia menjatuhkan diri ke air.
Segalanya berubah.
Suara riuh desa lenyap.
Hanya ada detak jantung yang terdengar samar di dalam dada. Lub-dub. Lub-dub.

Selia menyelam lebih dalam. Cahaya matahari mulai pecah, menari di antara arus. Warna biru menjadi lebih pekat.

Di kedalaman, tidak ada siapa-siapa. Tidak ada yang bisa menolong selain dirinya sendiri.

Jika panik, selesai sudah.
Jika takut, habislah.
Dan anehnya, justru di sanalah ia merasa paling damai.

“Kenapa kamu suka menyelam tanpa alat?” tanya seorang teman, suatu kali.
Selia hanya tersenyum. “Karena di laut, aku belajar cara mendengar dengan cara berbeda.”

Mereka tidak paham maksudnya. Bagaimana mungkin laut yang sunyi bisa mengajarkan sesuatu? Tapi Selia tahu: ada musik yang tidak membutuhkan telinga. Ada bahasa yang hanya bisa dirasakan lewat kulit, lewat dada, lewat hati.

Laut mengajarkannya menerima hening.
Menerima kehilangan.



Sore itu, selepas menyelam, Selia naik ke dermaga. Rambutnya basah, meneteskan air asin. Ia duduk sejenak, mengatur napas, matanya memandang garis cakrawala.

Langit oranye, burung-burung camar berputar rendah. Ombak berkejaran ke pantai, berisik sekaligus menenangkan.

Bagi banyak orang, laut hanyalah bentangan air yang luas.
Bagi Selia, laut adalah buku harian. Setiap riak, setiap arus, adalah catatan tentang hidupnya. Tentang ayah yang hilang. Tentang ketakutan ibunya. Tentang dirinya yang selalu kembali, meski tahu laut bisa mengambil kapan saja.

Ia tahu, suatu hari nanti, laut akan mempertemukannya dengan seseorang yang juga sedang mencari arti sunyi.


Other Stories
Cerella Flost

Aku pernah menjadi gadis yang terburuk.Tentu bukan karena parasku yang menjaminku menjadi ...

My Love

Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...

Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...

Pemburu Darah

Manusia lemah bukan berarti tak berbahaya. Dunia mengenal Darah sebagai sumber kekuatan ...

Bunga Untuk Istriku (21+)

Laras merasa pernikahannya dengan Rendra telah mencapai titik jenuh yang aman namun hambar ...

Hold Me Closer

Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...

Download Titik & Koma