BAB 6: SUNYI DIBAWAH PERMUKAAN
Pagi itu, laut seperti cermin. Permukaannya tenang, berkilau terkena cahaya matahari yang baru saja naik. Burung-burung camar berputar rendah, sesekali menukik, lalu terbang lagi.
Selia sudah lebih dulu tiba di dermaga. Ia duduk di sisi perahu kayu kecil, sedang memeriksa peralatan sederhana: masker, snorkel, dan fin. Tidak ada tabung oksigen, tidak ada perlengkapan rumit. Ia seorang freediver sejati—mengandalkan paru-parunya, kekuatan tubuh, dan ketenangan pikiran.
Maheisa datang beberapa menit kemudian.
Langkahnya agak ragu. Ia mengenakan kaos hitam tipis dan celana panjang yang digulung sampai lutut. Jemarinya bermain di saku celana, tanda kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Selia menoleh sebentar, tersenyum singkat. “Kamu datang juga.”
Maheisa berdiri kaku, menatap laut yang terbentang. “Aku tidak tahu apa aku bisa melakukannya.”
“Tidak ada yang perlu dipaksa,” jawab Selia sambil memasang masker ke kepala. “Aku hanya ingin kamu tahu, ada dunia lain di bawah sana. Dunia yang lebih sunyi daripada dermaga yang kamu suka.”
Ia berdiri, lalu berjalan ke tepi perahu. “Naiklah. Kita tidak akan pergi jauh. Hanya ke teluk kecil di ujung sana.”
Maheisa akhirnya menurut. Ia naik ke perahu, duduk agak jauh dari Selia. Perahu kecil itu digerakkan dengan dayung. Selia mendayung dengan tenang, seperti sudah menyatu dengan ritme laut. Setiap kayuhan membuat air beriak, meninggalkan jejak di belakang mereka.
“Kenapa kamu suka sunyi?” tanya Selia tiba-tiba, masih menatap depan.
Maheisa terdiam beberapa saat sebelum menjawab. “Karena aku terbiasa hidup dalam bising. Sejak kecil, rumahku tidak pernah benar-benar tenang.”
Selia tidak memandang, tapi nada suaranya berubah lembut. “Bising apa?”
Maheisa menatap air di sisi perahu, melihat wajahnya yang bergoyang di permukaan. “Ayahku, bukan orang yang lembut. Suaranya selalu keras. Bentakan, benturan benda, kursi yang digeser paksa. Ibuku sering menjadi sasaran. Dan aku—aku tumbuh dengan semua suara itu. Sampai akhirnya aku, kehilangan sebagian pendengaranku.”
Dayungan Selia melambat. Ia menoleh sekilas, ada kilatan iba di matanya, tapi ia tidak mengatakan “aku turut sedih” atau kalimat-kalimat klise lainnya. Ia hanya menatap, lalu kembali fokus mendayung.
“Mungkin itu sebabnya kamu bisa memainkan piano dengan begitu dalam,” ucap Selia akhirnya. “Karena kamu selalu mencari bunyi yang berbeda dari rumahmu.”
Maheisa menghela napas, samar tersenyum. “Mungkin.”
—
Perahu berhenti di teluk kecil. Airnya biru jernih, dasar laut terlihat bahkan dari atas. Karang-karang berwarna pucat menghiasi, ikan-ikan kecil berenang dalam kelompok, seperti awan yang bergerak perlahan.
Selia berdiri. Ia melepaskan kemeja putih tipis, memperlihatkan pakaian selam sederhana di baliknya. Ia mengenakan fin, lalu satu set memberikan perlengkapan yang sama kepada Maheisa— yang diketahui, Selia meminjam perlengkapan tersebut dari temannya, Arman.
“Kamu tidak perlu menyelam dalam. Cukup ikuti aku, sebatas kamu bisa. Rasakan saja.”
Maheisa menelan ludah. “Kalau aku panik?”
“Angkat kepala. Laut akan selalu membiarkanmu kembali ke permukaan.”
Selia lalu menyelam. Gerakannya ringan, seperti tubuhnya memang diciptakan untuk air. Dalam sekejap, ia sudah berada beberapa meter di bawah permukaan, rambutnya melayang indah, tubuhnya meluncur di antara ikan-ikan.
Maheisa menatap dari atas. Ada sesuatu yang aneh: rasa takut bercampur kagum. Perlahan, ia menarik napas dalam, lalu menunduk. Air dingin menyambut tubuhnya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Maheisa melihat dunia bawah laut tanpa penghalang kaca. Semuanya hening. Tidak ada teriakan, tidak ada bentakan. Hanya suara detak jantungnya sendiri, berdentum keras di telinga.
Ia mencoba mengikuti Selia. Awalnya canggung, gerakan kakinya tidak seanggun gadis itu. Tapi perlahan, ia berhasil menahan napas, tubuhnya terbawa arus ringan, matanya terpaku pada keindahan yang terbentang.
Di kedalaman dangkal itu, Selia menoleh. Matanya bertemu dengan mata Maheisa. Ia memberi isyarat dengan tangan: “Tenang. Ikuti ritme tubuhmu.”
Maheisa mengangguk sedikit, gelembung kecil keluar dari hidungnya. Saat itu, untuk pertama kali sejak lama, ia merasa benar-benar damai. Tidak ada panggung, tidak ada penonton, tidak ada ayah yang membentak, tidak ada diri yang hancur karena kehilangan pendengaran. Hanya dirinya, laut, dan seorang gadis yang memimpin jalan.
Mereka naik ke permukaan hampir bersamaan. Selia melepas masker, tertawa kecil. “Bagaimana?”
Maheisa terengah, menyingkirkan air asin dari bibirnya. “Sunyi, tapi tidak menakutkan.”
“Ya,” Selia mengangguk. “Sunyi yang mengajarkan kita mendengar sesuatu yang lain.”
Mereka saling menatap, senyum samar muncul di wajah masing-masing. Ada sesuatu yang belum bisa diucapkan, tapi keduanya tahu: laut telah menyimpan rahasia kecil di antara mereka.
Selia sudah lebih dulu tiba di dermaga. Ia duduk di sisi perahu kayu kecil, sedang memeriksa peralatan sederhana: masker, snorkel, dan fin. Tidak ada tabung oksigen, tidak ada perlengkapan rumit. Ia seorang freediver sejati—mengandalkan paru-parunya, kekuatan tubuh, dan ketenangan pikiran.
Maheisa datang beberapa menit kemudian.
Langkahnya agak ragu. Ia mengenakan kaos hitam tipis dan celana panjang yang digulung sampai lutut. Jemarinya bermain di saku celana, tanda kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Selia menoleh sebentar, tersenyum singkat. “Kamu datang juga.”
Maheisa berdiri kaku, menatap laut yang terbentang. “Aku tidak tahu apa aku bisa melakukannya.”
“Tidak ada yang perlu dipaksa,” jawab Selia sambil memasang masker ke kepala. “Aku hanya ingin kamu tahu, ada dunia lain di bawah sana. Dunia yang lebih sunyi daripada dermaga yang kamu suka.”
Ia berdiri, lalu berjalan ke tepi perahu. “Naiklah. Kita tidak akan pergi jauh. Hanya ke teluk kecil di ujung sana.”
Maheisa akhirnya menurut. Ia naik ke perahu, duduk agak jauh dari Selia. Perahu kecil itu digerakkan dengan dayung. Selia mendayung dengan tenang, seperti sudah menyatu dengan ritme laut. Setiap kayuhan membuat air beriak, meninggalkan jejak di belakang mereka.
“Kenapa kamu suka sunyi?” tanya Selia tiba-tiba, masih menatap depan.
Maheisa terdiam beberapa saat sebelum menjawab. “Karena aku terbiasa hidup dalam bising. Sejak kecil, rumahku tidak pernah benar-benar tenang.”
Selia tidak memandang, tapi nada suaranya berubah lembut. “Bising apa?”
Maheisa menatap air di sisi perahu, melihat wajahnya yang bergoyang di permukaan. “Ayahku, bukan orang yang lembut. Suaranya selalu keras. Bentakan, benturan benda, kursi yang digeser paksa. Ibuku sering menjadi sasaran. Dan aku—aku tumbuh dengan semua suara itu. Sampai akhirnya aku, kehilangan sebagian pendengaranku.”
Dayungan Selia melambat. Ia menoleh sekilas, ada kilatan iba di matanya, tapi ia tidak mengatakan “aku turut sedih” atau kalimat-kalimat klise lainnya. Ia hanya menatap, lalu kembali fokus mendayung.
“Mungkin itu sebabnya kamu bisa memainkan piano dengan begitu dalam,” ucap Selia akhirnya. “Karena kamu selalu mencari bunyi yang berbeda dari rumahmu.”
Maheisa menghela napas, samar tersenyum. “Mungkin.”
—
Perahu berhenti di teluk kecil. Airnya biru jernih, dasar laut terlihat bahkan dari atas. Karang-karang berwarna pucat menghiasi, ikan-ikan kecil berenang dalam kelompok, seperti awan yang bergerak perlahan.
Selia berdiri. Ia melepaskan kemeja putih tipis, memperlihatkan pakaian selam sederhana di baliknya. Ia mengenakan fin, lalu satu set memberikan perlengkapan yang sama kepada Maheisa— yang diketahui, Selia meminjam perlengkapan tersebut dari temannya, Arman.
“Kamu tidak perlu menyelam dalam. Cukup ikuti aku, sebatas kamu bisa. Rasakan saja.”
Maheisa menelan ludah. “Kalau aku panik?”
“Angkat kepala. Laut akan selalu membiarkanmu kembali ke permukaan.”
Selia lalu menyelam. Gerakannya ringan, seperti tubuhnya memang diciptakan untuk air. Dalam sekejap, ia sudah berada beberapa meter di bawah permukaan, rambutnya melayang indah, tubuhnya meluncur di antara ikan-ikan.
Maheisa menatap dari atas. Ada sesuatu yang aneh: rasa takut bercampur kagum. Perlahan, ia menarik napas dalam, lalu menunduk. Air dingin menyambut tubuhnya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Maheisa melihat dunia bawah laut tanpa penghalang kaca. Semuanya hening. Tidak ada teriakan, tidak ada bentakan. Hanya suara detak jantungnya sendiri, berdentum keras di telinga.
Ia mencoba mengikuti Selia. Awalnya canggung, gerakan kakinya tidak seanggun gadis itu. Tapi perlahan, ia berhasil menahan napas, tubuhnya terbawa arus ringan, matanya terpaku pada keindahan yang terbentang.
Di kedalaman dangkal itu, Selia menoleh. Matanya bertemu dengan mata Maheisa. Ia memberi isyarat dengan tangan: “Tenang. Ikuti ritme tubuhmu.”
Maheisa mengangguk sedikit, gelembung kecil keluar dari hidungnya. Saat itu, untuk pertama kali sejak lama, ia merasa benar-benar damai. Tidak ada panggung, tidak ada penonton, tidak ada ayah yang membentak, tidak ada diri yang hancur karena kehilangan pendengaran. Hanya dirinya, laut, dan seorang gadis yang memimpin jalan.
Mereka naik ke permukaan hampir bersamaan. Selia melepas masker, tertawa kecil. “Bagaimana?”
Maheisa terengah, menyingkirkan air asin dari bibirnya. “Sunyi, tapi tidak menakutkan.”
“Ya,” Selia mengangguk. “Sunyi yang mengajarkan kita mendengar sesuatu yang lain.”
Mereka saling menatap, senyum samar muncul di wajah masing-masing. Ada sesuatu yang belum bisa diucapkan, tapi keduanya tahu: laut telah menyimpan rahasia kecil di antara mereka.
Other Stories
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...
Dear Zalina
Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...
Nina Bobo ( Halusinada )
JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...
Mozarella (bukan Cinderella)
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseora ...
The Ridle
Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...