Sonata Laut

Reads
2.1K
Votes
0
Parts
17
Vote
Report
Penulis Ivoryfloome

BAB 11: RIAK YANG MENGENDAP

Pagi itu Maheisa duduk di teras rumah neneknya. Udara lembap bercampur aroma asin laut merayap ke hidung. Dari kejauhan, suara ayam jantan bersahutan dengan debur ombak yang tak pernah tidur. Neneknya sibuk di dapur, menyiapkan sarapan sederhana—nasi hangat, ikan bakar sisa semalam, dan sambal tomat.

“Kenapa bengong terus?” suara nenek terdengar dari balik pintu.

Maheisa menoleh, tersenyum tipis. “Nggak, Nek. Hanya menikmati pagi.”

Neneknya terkekeh kecil, lalu keluar membawa piring. “Sejak kecil kamu memang suka duduk diam begini. Tapi hati-hati, jangan sampai larut dalam diam. Orang bisa tenggelam di situ.”

Kata-kata nenek itu terasa lebih dari sekadar nasihat harian. Maheisa menunduk, lalu mengambil piring. “Aku coba, Nek. Aku coba.”

Siang menjelang, Selia datang menjemput. Ia tidak sendiri; ada dua rekannya—Damar dan Farah—yang ikut membantu membawa peralatan diving.

“Siap, calon penyelam?” Selia menyapa sambil mengangkat sebelah alis.

Maheisa berdiri, masih agak canggung. “Aku nggak tahu bisa disebut siap atau nggak.”

“Tenang. Hari ini kita coba hal baru.” Selia menepuk bahunya ringan. “Bukan cuma nahan napas. Kita akan belajar bermain dengan laut.”

“Bermain?” Maheisa menatap heran.

Selia tersenyum. “Kamu akan lihat.”

Perahu kecil membawa mereka ke sebuah teluk yang lebih sepi, jauh dari pantai tempat anak-anak biasanya berenang. Airnya lebih jernih, tenang, dengan karang-karang dangkal yang berwarna-warni. Begitu sampai, Selia memberi isyarat agar mereka bersiap.

Latihan dimulai dengan biasa: teknik pernapasan, relaksasi, lalu perlahan turun ke dalam air. Tapi kali ini, Selia membawa tambahan—seutas tali dengan kerang-kerang kecil yang diikat, membentuk semacam permainan sederhana.

“Ambil satu kerang, lalu bawa ke permukaan,” jelas Selia setelah muncul kembali ke atas air. “Tapi lakukan dengan tenang. Anggap saja ini bukan latihan, melainkan permainan anak-anak laut.”
Damar menambahkan, “Kalau bisa, ambil yang paling bawah.”

Maheisa menatap ke permukaan air yang berkilau. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya—seolah latihan ini bukan sekadar menahan napas. Ada unsur lain, sesuatu yang lebih ringan. Ia menarik napas dalam, lalu menyelam.

Di bawah sana, dunia terasa berbeda. Cahaya matahari menembus seperti jaring-jaring emas. Kerang-kerang diikat berderet, berayun pelan mengikuti arus. Maheisa mendekat, tangannya bergetar, tapi matanya fokus. Ia meraih satu kerang paling atas, lalu naik perlahan.

Begitu mencapai permukaan, Selia sudah menunggu. “Bagus,” katanya singkat.

Maheisa menghela napas, lalu tersenyum kecil. “Ternyata menyenangkan.”

Selia terkekeh. “Aku bilang apa? Laut nggak selalu tentang kedalaman. Kadang tentang hal-hal kecil yang kita temukan di sana.”

Latihan berlanjut dengan tawa kecil. Damar sengaja melemparkan kerang lebih jauh, membuat Maheisa harus berusaha keras mengambilnya. Farah malah sempat menggoda, “Eh, jangan-jangan kalau begini kamu bisa jadi penyelam sungguhan.” Dan sebagai tanggapan, Maheisa hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil tertawa kecil.

Sore itu, suasana terasa ringan. Tidak ada beban, tidak ada luka masa lalu yang mengekang terlalu kuat. Laut seakan memberi ruang bagi Maheisa untuk bernapas—ironis, karena justru di tempat tanpa udara ia merasa sedikit bebas.

Mereka kembali ke darat menjelang senja. Anak-anak desa sudah menunggu di pantai, berlarian sambil tertawa melihat Selia dan teman-temannya membawa peralatan.

“Selia! Selia! Ceritain dong ikan yang kamu lihat tadi!” teriak salah satu anak.

Selia tertawa, duduk di pasir, lalu mulai bercerita singkat tentang ikan kecil berwarna biru yang sempat lewat. Anak-anak mendengarkan dengan mata berbinar, seolah itu dongeng ajaib.

Di belakang kerumunan itu, Maheisa memperhatikan. Ada sesuatu yang berbeda dari Selia—ia bukan hanya ikon penyelam bebas yang sering muncul di poster, tapi juga seseorang yang bisa membuat anak-anak percaya laut adalah sahabat, bukan sekadar hamparan air luas.

Untuk pertama kalinya, Maheisa merasa ingin tahu lebih banyak tentang dirinya.

Dan ketika senja merambat turun, laut di hadapan mereka berubah keemasan. Maheisa sadar, ini bukan sekadar latihan. Ini awal dari sesuatu yang jauh lebih dalam.

Other Stories
Konselor

Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...

Cinta Kadang Kidding

Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada teman sekelas saat sedang menempuh pendidika ...

Sumpah Cinta

Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...

Jam Dinding

Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...

The Fault

Sebuah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Sebuah awalan selalu memiliki akhiran. ...

Rumah Malaikat

Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...

Download Titik & Koma