BAB 9: KEDALAMAN YANG RETAK
Pagi itu, laut tenang sekali. Permukaannya berkilau, matahari menyapukan cahaya keemasan yang membuat seluruh teluk seakan ditaburi serpihan kaca. Angin belum terlalu kencang. Hanya suara camar yang sesekali melintas, lalu hilang.
Maheisa berdiri di dermaga, masih mengenakan pakaian selam tipis yang dipinjamkan Arman.
Tangannya menggenggam masker yang sudah mulai berembun. Ia menunggu Selia yang sedang sibuk memeriksa tali pengaman dan papan pelampung.
“Ini kali ketiga kamu turun, kan?” suara Arman memecah hening. Ia membawa tabung kecil berisi pemberat. “Masih gugup?”
Maheisa tersenyum tipis. “Kalau aku jawab tidak, itu bohong.”
Arman tertawa. “Biasa itu. Selia juga dulu begitu. Bedanya, dia keras kepala. Sekali jatuh, tetap balik lagi sampai berhasil.”
Selia yang mendengar hanya melirik sebentar. “Dan lihat siapa yang sekarang bisa menahan napas lebih dari tujuh menit.” Nada suaranya datar, tapi senyum kecil di ujung bibirnya mengkhianati kebanggaan.
Arman mengangkat alis. “Tujuh menit untuk pemula sudah hebat. Jangan bikin aku minder, Sel.”
Beberapa anak desa yang sedari tadi bermain di tepi dermaga mendekat. Mereka penasaran dengan orang asing yang ikut latihan bersama Selia. “Kak, beneran ya Mas itu pianis?” tanya seorang anak perempuan berambut kepang.
Maheisa terkejut. “Kalian tahu dari mana?”
“Dari Nenek yang jual kue cucur di warung,” jawab si anak sambil cekikikan. “Katanya Mas itu dulu main piano di televisi.”
Anak-anak lainnya ikut ribut, menirukan gaya orang menekan tuts. “Teng-teng-teng!” Mereka tertawa riuh.
Wajah Maheisa memerah, setengah malu setengah bingung. Ia mengusap tengkuk, lalu mengangguk saja. “Iya… dulu.”
“Kenapa nggak main lagi?”
Pertanyaan itu menghentikan tawanya. Maheisa menunduk, mencari kata. Selia memperhatikan dari jauh. Ada sesuatu pada cara bahunya turun, seperti seseorang yang menahan beban yang terlalu lama dipikul.
“Karena sekarang aku sedang belajar mendengar cara lain,” jawabnya pelan.
Anak-anak saling pandang, tidak paham. Lalu mereka kembali tertawa dan berlarian, seolah jawaban itu tak penting.
Arman menepuk pundaknya. “Ayo, waktunya masuk air. Anak-anak bisa menunggu untuk mendengarkan ceritamu besok, sedangkan kamu sekarang harus mendengarkan laut.”
Hari itu mereka turun bergantian. Selia lebih dulu, tubuhnya meluncur mulus menembus permukaan, lalu hilang ke bawah. Tali pengaman bergetar halus saat ia menarik napas panjang terakhirnya.
Maheisa mengamati dari pelampung. Arman menjelaskan hal-hal teknis di telinga. “Fokus sama napas. Dengarkan detak jantungmu sendiri. Kalau panik, segera naik. Jangan coba paksakan.”
Maheisa mengangguk. Ia menaruh masker, mengambil napas dalam-dalam, lalu perlahan menunduk, tubuhnya masuk ke air.
Air laut menyambut dengan kesejukan yang langsung menusuk kulit. Dunia di bawah berbeda—warna biru yang makin gelap, cahaya yang patah-patah, dan keheningan yang nyaris sempurna. Tidak ada sorak penonton, tidak ada denting piano, tidak ada bentakan ayah. Hanya suara tubuhnya sendiri, ritme yang samar-samar terdengar dari dalam dada.
Detik berjalan lambat. Ia mengingat kata-kata Selia di latihan sebelumnya: “Jangan lawan laut. Dengarkan saja. Biarkan dia bicara dengan caranya.”
Ia menahan, menahan lagi, lalu akhirnya naik ke permukaan. Napasnya terengah. Air asin menetes dari rambutnya, matanya mencari Selia yang sudah menunggu.
“Lumayan,” ujar Selia singkat.
“Berapa lama?” tanya Maheisa, masih terengah.
“Tidak penting. Yang penting kamu tidak panik,” jawabnya, menatap lurus tanpa banyak ekspresi.
Namun tatapan itu terlalu jujur, seperti sedang membaca sesuatu di balik wajah Maheisa.
Siang harinya, mereka istirahat di pondok kayu dekat pantai. Beberapa teman Selia datang—para penyelam muda dari komunitas. Mereka membawa makanan sederhana: nasi bungkus, ikan bakar, sambal terasi.
“Eh, ini pianis kota itu, ya?” salah seorang teman Selia, Dara,, membuka obrolan. Gadis itu ceria, berbeda sekali dari Selia yang cenderung pendiam.
Maheisa hanya mengangguk, tersenyum seadanya.
“Kamu beruntung bisa belajar sama Selia,” lanjut Dara. “Banyak yang ngantri, lho. Dia ikon freediving kita. Bahkan sponsor dari luar negeri aja masih suka kontak dia.”
Selia mendengus pelan. “Jangan mulai, Dara.”
“Tapi bener, kan? Kalau kamu mau, nama kamu bisa sebesar atlet internasional. Cuma ya itu, kamu keras kepala.”
Percakapan beralih ke topik lain, tawa-tawa ringan. Maheisa mendengarkan, sesekali ikut menimpali. Dari situ, ia baru sadar: Selia bukan sekadar penyelam. Ia pusat orbit bagi orang-orang di sekitarnya.
Dan di sela tawa itu, Selia sesekali melirik Maheisa, seakan diam-diam mengukur siapa sebenarnya pria ini.
—
Sore menjelang. Saat teman-temannya sudah pulang, hanya tersisa Selia dan Maheisa di dermaga. Angin laut makin dingin, warna langit mulai jingga.
“Kamu tahu,” kata Selia tiba-tiba, menatap ke arah cakrawala, “di laut, aku merasa tidak perlu membuktikan apa-apa. Semua orang sama. Mau kamu penyelam berprestasi atau orang asing yang baru belajar, laut tidak peduli.”
Maheisa menoleh, mendengarkan.
“Kamu pianis, kan?” Selia melanjutkan, kali ini lebih lembut. “Aku belum pernah lihat orang main piano. Tapi rasanya, caramu bicara tentang laut mirip seperti aku bicara tentang kedalaman.”
Maheisa terdiam cukup lama. Lalu ia berkata pelan, “Mungkin karena baik laut maupun musik sama-sama tentang sunyi.”
Selia menoleh sejenak, ada sesuatu di matanya—campuran heran, penasaran, dan rasa iba yang tidak ingin ia tunjukkan.
Matahari perlahan tenggelam. Ombak mengempas ringan di bawah dermaga. Dan di sana, dua dunia yang berbeda—seorang pianis yang perlahan kehilangan pendengaran dan seorang penyelam yang bersahabat dengan hening—mulai menemukan irama yang sama.
Maheisa berdiri di dermaga, masih mengenakan pakaian selam tipis yang dipinjamkan Arman.
Tangannya menggenggam masker yang sudah mulai berembun. Ia menunggu Selia yang sedang sibuk memeriksa tali pengaman dan papan pelampung.
“Ini kali ketiga kamu turun, kan?” suara Arman memecah hening. Ia membawa tabung kecil berisi pemberat. “Masih gugup?”
Maheisa tersenyum tipis. “Kalau aku jawab tidak, itu bohong.”
Arman tertawa. “Biasa itu. Selia juga dulu begitu. Bedanya, dia keras kepala. Sekali jatuh, tetap balik lagi sampai berhasil.”
Selia yang mendengar hanya melirik sebentar. “Dan lihat siapa yang sekarang bisa menahan napas lebih dari tujuh menit.” Nada suaranya datar, tapi senyum kecil di ujung bibirnya mengkhianati kebanggaan.
Arman mengangkat alis. “Tujuh menit untuk pemula sudah hebat. Jangan bikin aku minder, Sel.”
Beberapa anak desa yang sedari tadi bermain di tepi dermaga mendekat. Mereka penasaran dengan orang asing yang ikut latihan bersama Selia. “Kak, beneran ya Mas itu pianis?” tanya seorang anak perempuan berambut kepang.
Maheisa terkejut. “Kalian tahu dari mana?”
“Dari Nenek yang jual kue cucur di warung,” jawab si anak sambil cekikikan. “Katanya Mas itu dulu main piano di televisi.”
Anak-anak lainnya ikut ribut, menirukan gaya orang menekan tuts. “Teng-teng-teng!” Mereka tertawa riuh.
Wajah Maheisa memerah, setengah malu setengah bingung. Ia mengusap tengkuk, lalu mengangguk saja. “Iya… dulu.”
“Kenapa nggak main lagi?”
Pertanyaan itu menghentikan tawanya. Maheisa menunduk, mencari kata. Selia memperhatikan dari jauh. Ada sesuatu pada cara bahunya turun, seperti seseorang yang menahan beban yang terlalu lama dipikul.
“Karena sekarang aku sedang belajar mendengar cara lain,” jawabnya pelan.
Anak-anak saling pandang, tidak paham. Lalu mereka kembali tertawa dan berlarian, seolah jawaban itu tak penting.
Arman menepuk pundaknya. “Ayo, waktunya masuk air. Anak-anak bisa menunggu untuk mendengarkan ceritamu besok, sedangkan kamu sekarang harus mendengarkan laut.”
Hari itu mereka turun bergantian. Selia lebih dulu, tubuhnya meluncur mulus menembus permukaan, lalu hilang ke bawah. Tali pengaman bergetar halus saat ia menarik napas panjang terakhirnya.
Maheisa mengamati dari pelampung. Arman menjelaskan hal-hal teknis di telinga. “Fokus sama napas. Dengarkan detak jantungmu sendiri. Kalau panik, segera naik. Jangan coba paksakan.”
Maheisa mengangguk. Ia menaruh masker, mengambil napas dalam-dalam, lalu perlahan menunduk, tubuhnya masuk ke air.
Air laut menyambut dengan kesejukan yang langsung menusuk kulit. Dunia di bawah berbeda—warna biru yang makin gelap, cahaya yang patah-patah, dan keheningan yang nyaris sempurna. Tidak ada sorak penonton, tidak ada denting piano, tidak ada bentakan ayah. Hanya suara tubuhnya sendiri, ritme yang samar-samar terdengar dari dalam dada.
Detik berjalan lambat. Ia mengingat kata-kata Selia di latihan sebelumnya: “Jangan lawan laut. Dengarkan saja. Biarkan dia bicara dengan caranya.”
Ia menahan, menahan lagi, lalu akhirnya naik ke permukaan. Napasnya terengah. Air asin menetes dari rambutnya, matanya mencari Selia yang sudah menunggu.
“Lumayan,” ujar Selia singkat.
“Berapa lama?” tanya Maheisa, masih terengah.
“Tidak penting. Yang penting kamu tidak panik,” jawabnya, menatap lurus tanpa banyak ekspresi.
Namun tatapan itu terlalu jujur, seperti sedang membaca sesuatu di balik wajah Maheisa.
Siang harinya, mereka istirahat di pondok kayu dekat pantai. Beberapa teman Selia datang—para penyelam muda dari komunitas. Mereka membawa makanan sederhana: nasi bungkus, ikan bakar, sambal terasi.
“Eh, ini pianis kota itu, ya?” salah seorang teman Selia, Dara,, membuka obrolan. Gadis itu ceria, berbeda sekali dari Selia yang cenderung pendiam.
Maheisa hanya mengangguk, tersenyum seadanya.
“Kamu beruntung bisa belajar sama Selia,” lanjut Dara. “Banyak yang ngantri, lho. Dia ikon freediving kita. Bahkan sponsor dari luar negeri aja masih suka kontak dia.”
Selia mendengus pelan. “Jangan mulai, Dara.”
“Tapi bener, kan? Kalau kamu mau, nama kamu bisa sebesar atlet internasional. Cuma ya itu, kamu keras kepala.”
Percakapan beralih ke topik lain, tawa-tawa ringan. Maheisa mendengarkan, sesekali ikut menimpali. Dari situ, ia baru sadar: Selia bukan sekadar penyelam. Ia pusat orbit bagi orang-orang di sekitarnya.
Dan di sela tawa itu, Selia sesekali melirik Maheisa, seakan diam-diam mengukur siapa sebenarnya pria ini.
—
Sore menjelang. Saat teman-temannya sudah pulang, hanya tersisa Selia dan Maheisa di dermaga. Angin laut makin dingin, warna langit mulai jingga.
“Kamu tahu,” kata Selia tiba-tiba, menatap ke arah cakrawala, “di laut, aku merasa tidak perlu membuktikan apa-apa. Semua orang sama. Mau kamu penyelam berprestasi atau orang asing yang baru belajar, laut tidak peduli.”
Maheisa menoleh, mendengarkan.
“Kamu pianis, kan?” Selia melanjutkan, kali ini lebih lembut. “Aku belum pernah lihat orang main piano. Tapi rasanya, caramu bicara tentang laut mirip seperti aku bicara tentang kedalaman.”
Maheisa terdiam cukup lama. Lalu ia berkata pelan, “Mungkin karena baik laut maupun musik sama-sama tentang sunyi.”
Selia menoleh sejenak, ada sesuatu di matanya—campuran heran, penasaran, dan rasa iba yang tidak ingin ia tunjukkan.
Matahari perlahan tenggelam. Ombak mengempas ringan di bawah dermaga. Dan di sana, dua dunia yang berbeda—seorang pianis yang perlahan kehilangan pendengaran dan seorang penyelam yang bersahabat dengan hening—mulai menemukan irama yang sama.
Other Stories
Nona Manis ( Halusinada )
Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...
Kala Kisah Tentang Cahaya
Kala, seorang gadis desa yang dibesarkan oleh neneknya, MbahRum. tumbuh dalam keterbatasan ...
Turut Berduka Cinta
Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...
Kelabu
Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. A ...
Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik
Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...