Sonata Laut

Reads
2.1K
Votes
0
Parts
17
Vote
Report
Penulis Ivoryfloome

BAB 14: MEMORI SUP IKAN

Aroma sup ikan memenuhi ruangan sederhana itu. Dari dapur, bunyi sendok beradu dengan panci, diselingi suara lembut nenek Maheisa yang bersenandung pelan lagu lawas. Selia duduk di ruang tamu, menatap tuts piano yang baru saja mereka tinggalkan. Jemarinya masih terasa bergetar—bukan karena kesulitan memainkan nada, tapi karena sesuatu yang lebih halus, lebih sulit dijelaskan.

Maheisa muncul dari dapur sambil membawa tiga mangkuk sup di atas nampan. “Nenek nggak mau biarin kamu pulang tanpa makan,” katanya sembari meletakkan mangkuk-mangkuk itu di meja makan kayu yang sudah agak usang, tapi masih kokoh.

“Terima kasih,” jawab Selia sopan. “Aku jadi merepotkan, ya.”

Nenek datang menyusul, membawa piring berisi ikan goreng dan sambal terasi. “Ah, sama sekali tidak. Kamu malah bikin rumah ini lebih ramai.” Wajahnya berkerut tapi teduh, ada rasa syukur yang terselip di senyumnya.

Mereka bertiga duduk bersama. Selia sempat kikuk, tapi tatapan hangat nenek membuatnya cepat merasa nyaman.

“Selia ini tadi sempat belajar piano dari Heisa?” tanya nenek sambil menyendokkan sup.

Selia mengangguk. “Iya, Nek. Baru nada dasar. Tapi rasanya seperti menyelam di laut versi lain.”

Nenek terkekeh, menoleh pada cucunya. “Dengar itu, Heisa. Ada yang bisa menyamakan lautmu dengan musikmu.”

Maheisa hanya menggeleng, mencoba menyembunyikan senyum yang terselip. “Dia memang suka cari perbandingan aneh-aneh.”

Percakapan itu membuat meja makan terasa lebih ringan. Selia menikmati sup ikan hangat, sementara nenek bercerita sedikit tentang masa kecil Maheisa. Bagaimana ia dulu sering duduk di kursi piano sampai larut malam, memainkan melodi tanpa henti.

“Waktu kecil, Heisa selalu main piano kalau lagi kesal,” kenang nenek. “Kalau aku marah karena dia pulang terlalu malam dari sekolah, dia nggak pernah membantah. Diam saja, lalu main piano sampai tangannya pegal. Kadang aku baru sadar, begitulah caranya bicara.”

Selia menoleh pada Maheisa. Pemuda itu menunduk, pura-pura sibuk dengan supnya.

“Sekarang beda,” katanya pelan. “Aku nggak main piano sebanyak dulu.”

Nenek tersenyum tipis, matanya menatap cucunya penuh pengertian. “Mungkin, karena dulu kau main untuk menutup sesuatu. Sekarang kau sudah punya orang untuk berbagi. Itu jauh lebih sehat.”

Ucapan itu membuat suasana hening sejenak. Selia menatap meja, merasa dadanya hangat sekaligus berat. Ia tidak tahu harus menanggapi bagaimana.

Tapi ada sesuatu di balik kata-kata nenek yang menancap dalam, seperti mengikat benang halus antara dirinya dan Maheisa.

Untuk memecah keheningan, Selia berusaha tersenyum. “Sup ini enak sekali, Nek. Rasanya beda sama yang biasa aku makan di rumah.”

Nenek tertawa kecil. “Rahasia sup ikan itu sederhana, Nak. Harus dimasak dengan sabar. Sama seperti manusia. Kalau terburu-buru, rasanya hilang.”

Selia mengangguk, merasa kalimat itu bukan sekadar resep dapur.

Makan malam berlanjut dengan obrolan ringan. Sesekali nenek menanyakan kehidupan Selia, sekolahnya dulu, keluarganya. Selia menjawab dengan tenang, walau tidak membuka terlalu banyak. Namun, ia merasa heran pada dirinya sendiri—mengapa ia begitu cepat merasa diterima di rumah ini?

Usai makan, mereka kembali duduk di ruang tamu. Nenek mengeluarkan teh hangat, sementara di luar, suara jangkrik mulai menggema.

“Besok kalian latihan lagi?” tanya nenek sambil menyeruput teh.

Maheisa menoleh pada Selia, seakan memberi isyarat ia yang harus menjawab.

“Mungkin iya, Nek. Tapi kayaknya latihan bukan cuma soal menyelam lagi.” Selia tersenyum samar, menatap piano di sudut ruangan.

Nenek menatap keduanya bergantian, lalu tertawa kecil. “Bagus. Hidup memang begitu. Jangan hanya kenal satu sisi laut, kenali juga daratannya.”



Malam itu, sebelum Selia pulang, nenek sempat menepuk bahunya lembut. “Terima kasih sudah menemani Heisa. Dia jarang sekali membuka dirinya. Kalau dia bersedia berbagi denganmu, artinya kamu punya tempat khusus di hatinya.”

Selia terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya menunduk, merasakan dadanya bergetar halus.

Di luar, udara malam terasa lembut. Jalan setapak menuju dermaga diterangi cahaya lampu kuning redup. Maheisa berjalan di sampingnya, tanpa banyak bicara. Tapi bagi Selia, keheningan itu justru penuh.

Malam itu Selia sadar, ia tidak hanya belajar mengenal dunia Maheisa lewat piano. Ia juga perlahan mengenal orang-orang yang membuatnya bertahan, yang menjaganya tetap utuh. Dan entah bagaimana, ia merasa mulai terikat pada dunia itu—sebuah dunia yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan akan masuk ke dalam hidupnya.

Other Stories
Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

Nina Bobo ( Halusinada )

JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...

Takdir Cinta

Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...

Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

Aparar Keparat

aparat memang keparat ...

Susan Ngesot Reborn

Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...

Download Titik & Koma