Sonata Laut

Reads
2.1K
Votes
0
Parts
17
Vote
Report
Penulis Ivoryfloome

BAB 16: PARTITUR LAUT

Pagi itu rumah nenek Maheisa dipenuhi cahaya lembut. Jendela besar di ruang tengah terbuka lebar, mengizinkan udara segar masuk. Dari dapur, terdengar bunyi sendok beradu dengan wajan.

“Sa, kamu sudah bangun? Sarapan dulu sebelum latihan,” suara neneknya memanggil.

Maheisa muncul sambil merapikan kaus polos yang sedikit kusut. Rambutnya masih acak-acakan, tapi wajahnya segar. “Iya, Nek. Biar aku bantu dulu.”

Nenek terkekeh, mengibaskan tangan. “Kamu kalau sudah pegang wajan, malah bikin dapur berantakan.”

Maheisa tersenyum tipis, duduk di kursi kayu dekat meja makan. Ia mengambil pensil kecil dari saku, menorehkan beberapa garis di lembaran partitur yang semalam belum selesai ia coret. Kebiasaannya: menyisipkan nada di antara aktivitas sederhana, seakan musik adalah napas yang tak pernah berhenti.

Tak lama kemudian, suara pintu pagar terbuka. Seorang tetangga—Pak Darwis, lelaki paruh baya yang sehari-hari berdagang ikan di pelabuhan—masuk sambil membawa sekeranjang sayur.

“Assalamualaikum, Bu,” sapa Pak Darwis, suaranya lantang. “Ini ada bayam sama kacang panjang lebih. Daripada kebuang, mending buat sarapan.”

“Waalaikumsalam, terima kasih, Pak,” jawab nenek hangat. “Selalu saja bawa lebih.”

Pak Darwis menoleh pada Maheisa. “Kamu itu jarang kelihatan di pelabuhan, Sa. Anak muda sekarang lebih sibuk sama piano ya, daripada bantu angkat-angkat?”

Kalimat itu ia lontarkan sambil bercanda. Maheisa tersenyum singkat, lalu menulis sesuatu di kertas kecil, mendorongnya ke arah Pak Darwis:

Pagi ini aku latihan. Mungkin besok aku bisa ikut bantu.

Pak Darwis membaca, lalu mengangguk. “Heh, latihan terus. Baguslah. Kalau ada acara kampung, jangan nolak kalau diminta main, ya.”

Mereka tertawa kecil bersama.

Di sisi lain kota, Selia masih merasakan sisa percakapan dengan Nayla dan Dira semalam. Pagi ini ia menyiapkan perlengkapan menyelam di ruang latihan komunitas. Beberapa anggota baru sibuk mengutak-atik masker dan fin.

“Selia, bisa bantu lihat tali pengamannya?” tanya salah satu anggota, seorang pemuda bernama Raka.
Selia mendekat, memeriksa detail kecil di pinggangnya. “Tuh, harus lebih kencang. Kalau terlalu longgar bisa bahaya.”

Raka manggut-manggut. “Kamu selalu teliti banget.”
“Laut nggak bisa ditawar-tawar,” jawab Selia, nada suaranya datar tapi penuh penekanan.

Nayla muncul, menyodorkan botol minum. “Lihat, bahkan setelah semua yang kamu alami, kamu masih bisa kasih energi ke orang lain.”

Selia menatap Nayla sebentar, lalu meneguk air. “Kalau bukan aku, siapa lagi?”

Sore harinya, setelah latihan komunitas, Selia menerima pesan singkat. Hanya beberapa kata sederhana dari Maheisa:

Latihan hari ini sampai mana?

Selia tersenyum samar. Ia balas singkat:

Cukup jauh. Capek. Kamu?

Tak lama kemudian, layar ponselnya bergetar. Sebuah foto masuk—tuts piano dengan partitur penuh coretan. Ada catatan kecil di pojok kertas:

Hari ini aku gagal mengulang nada keempat. Besok coba lagi.

Selia menatap foto itu lama. Entah kenapa, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Sederhana, tapi nyata. Dunia lelaki itu benar-benar lain: bukan laut, bukan arus, bukan desau napas di kedalaman. Tapi kejujuran yang sama-sama menuntut kesabaran.



Malam menjelang. Selia berbaring di ranjangnya, sementara suara ombak terdengar samar dari kejauhan. Ia teringat obrolan bersama sahabatnya, juga pesan singkat dari Maheisa. Dua dunia yang sama sekali berbeda—laut dan piano—perlahan mulai terasa tidak begitu jauh.

Sementara itu, di rumah nenek, Maheisa masih duduk di depan piano. Lampu meja kecil menyinari partitur yang penuh coretan. Jari-jarinya berulang kali menekan nada yang sama, meski salah, meski goyah. Ia mengulanginya terus, dengan kesabaran keras kepala.

Seolah-olah, dengan caranya sendiri, ia sedang menunggu seseorang yang mau ikut memahami musik di dalam kepalanya.

Other Stories
Sweet Haunt

Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...

Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

O

o ...

Tiada Cinta Tertinggal

Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...

Metafora Diri

Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...

Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat

Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...

Download Titik & Koma