Prolog
Rani sekarang berada di depan gudang yang ada di Kasih Bunda Hospital. Ia tak habis pikir, dari sekian banyak tempat yang ada di Jakarta, entah mengapa sahabatnya itu memilih gudang ini untuk dijadikan tempat diskusi mengenai kesembuhan Andhina.
“Sorry, gue telat datang. Tadi gue ketiduran,” Rani mendengar suara cowok di sebelahnya. Dari suaranya sudah tak asing lagi di telinga Rani. Sepertinya pemilik suara itu tak lain dan tak bukan adalah Radith. Ia pun menoleh ke samping. Dan ternyata dugaannya benar.
“Dith, lo ngapain ke sini?”
“Gue ke sini disuruh Adel, katanya ada yang mau dibicarain ke gue tentang kesembuhan Andhina.”
Rani mendengus kesal. Lagi-lagi ia harus berhadapan dengan Radith. “Gue heran ma Adel, udah tau gue benci setengah mampus sama Radith, eh sekarang dia ngundang Radith juga. Apa sih yang bakal diomongin Adel?”
“Sekarang Adel-nya mana?” tanya Radith.
“Nah, gue sendiri juga nggak tau di mana Adel. Soalnya dari tadi gue nggak liat batang hidungnya sama sekali.”
Untuk memastikan di mana keberadaan Adelia, Rani mengambil HP dari dalam tas. Ia pun mengetik sebuah SMS.
Del, lo ada di mana? Gue sama Radith sudah ada di depan gudang yang ada di Kasih Bunda Hospital nih!
“Apa Adel sudah ada di dalam gudang ini untuk menunggu kedatangan kita ya?” tanya Radith lagi.
“Hemmm… bisa jadi sih. Coba lo buka pintu gudangnya!”
Radith membuka kenop pintu gudang. Lalu melangkah maju memasuki gudang. Tak lama kemudian Rani mengikuti langkah Radith memasuki gudang ini, “Del, lo ada di dalam kan? Gue sama Radith udah datang nih,” ucap Rani.
Hening, sama sekali tak ada jawaban dari Adelia. “Aneh, Adelia ke mana sih? Dia yang minta gue datang ke sini, masa sekarang dia nggak ada di tempat? Atau jangan-jangan Adel pingsan di gudang ini makanya dia nggak bisa menjawab pertanyaan gue.”
Pikiran buruk mulai bersarang di otak Rani. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu Rani terus melangkah maju, mencari keberadaan Adelia. Di sebelah Rani ada Radith yang mendampinginya mencari Adelia. Namun tiba-tiba…
Brak!
Pintu gudang tertutup dengan sendirinya. Rani dan Radith berlari menghampiri pintu gudang, lalu tangan mereka menggedor-gedor pintu gudang. “Woy, siapa di luar? Iseng banget sih ngunciin gue di gudang! Cepetan bukain dong!” teriak Radith.
“Iya nih. Siapa pun yang ada di luar tolong bukain pintunya dong! Gue takut gelap nih!” Rani juga ikut berteriak.
Lima belas menit mereka teriak minta tolong, namun hasilnya nihil. Pintu gudang tetap tak terbuka. Air mata di pelupuk mata Rani mulai mengucur deras. Sepanjang hidupnya hari ini merupakan hari paling menyeramkan.
Ia paling takut sama yang namanya gelap. “Aduh, sampai kapan gue ada di sini? Satu hari? Satu minggu? Satu bulan? Atau seumur hidup?”
Ia bergidik ngeri membayangkan dirinya terkunci di gudang ini berbulan-bulan. “Ah, gue nggak mau mati di tempat ini. Nggak keren banget mati di gudang, bersama orang paling menyebalkan pula. Huwaaa…” teriak Rani lagi.
“Ran, lo bisa nggak sih nggak usah teriak-teriak gitu? Berisik tau! Yang harus lo pikirkan adalah gimana caranya kita bisa keluar dari gudang ini! Gue nggak mau mati bareng lo!
Rani memanyunkan bibirnya. “Radith, bukannya nenangin gue malah ngomelin gue!”
Rani sadar apa yang dikatakan Radith ada benarnya. Teriak-teriak doang takkan bisa membuat pintu gudang ini terbuka. Ia pun mulai berpikir keras, mencari cara agar pintu terbuka. Tapi nyatanya otaknya sama sekali tak bisa digunakan berpikir dalam situasi seperti ini.
Satu-satunya cara ialah dengan berdoa. Rani mengangkat kedua tangannya. “Ya, Allah tolong aku! Buatlah pintu gudang ini terbuka. Aku tak mau mati di tempat ini!” Rani berdoa dalam hatinya.
Other Stories
Membabi Buta
Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...
Relung
Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Namaku Amelia
Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...
Senja Terakhir Bunda
Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat ...
Susan Ngesot Reborn
Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...