Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Reads
4.3K
Votes
0
Parts
19
Vote
Report
mr. boros vs mrs. perhitungan
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Penulis Ariny Nh

2. Mr. Boros

Kringgg …!
Bunyi jam weker membuyarkan seluruh mimpi indah Radith. “Aduh, jam kenapa pake bunyi segala sih? Baru aja gue tidur,” Radith menggerutu sendiri. Dengan mata terpejam ia meraba-raba meja di samping tempat tidur, pengen lihat jam berapa sekarang.
Yes, akhirnya jam weker berhasil ia temukan. Ia membuka mata sebelah seketika dirinya melihat jarum jam yang pendek ke angka 5, sedangkan jarum jam yang panjang ke angka 12. Berarti jam 5 sore dong? Soalnya seingatnya tadi ia tidur jam 2 siang. “Tumben-tumbenan jam weker gue bunyi jam 5 sore?” tanyanya dalam hati. Ia tak memedulikan jam itu, ia mau tidur lagi.
Tit… tit…
Baru aja Radith mau memejamkan mata, sekarang HP-nya yang bunyi. Ah, menyebalkan! Ia jadi kesal sendiri kenapa sih HP dan jam weker bunyi dalam waktu dekat? Ia kembali meraba-raba tempat tidur mencari HP yang lagi ngumpet entah di mana. Setelah ketemu ia melihat layar HP untuk mengetahui siapa yang nelepon atau sms jam segini. Ganggu ia tidur aja!
Ternyata dugaannya salah. HP bunyi bukan karena ada sms atau orang nelepon, melainkan jam alarm. Di layar HP tertulis Hari Jadian Gue sama Malaya yang ke 5 tahun dan besok hari wisuda Malaya.
Mata Radith terbelalak melihat tulisan yang ada di layar HP. Sumpah, ia lupa hari ini hari jadian yang ke lima tahun sama Malaya. Ia bangkit dari tidur dan bergegas menuju kamar mandi. Bisa ngomel Malaya kalau sampai dirinya telat datang.
30 menit kemudian
Radith sudah selesai mandi dan berpakaian rapi. Ia berdiri di depan cermin yang menempel di lemari pakaian. Mau mengolesi rambut dulu dengan gel rambut terus mencukur jenggot biar kelihatan tambah cakep. Emang sih dirinya dari lahir sudah cakep bin ganteng, Kevin Aprilio aja lewat. Tapi tak ada salahnya dong ia berias diri lagi sebelum datang ke hari bersejarah?
Selain hari jadian, hari ini Radith juga mau melamar Malaya. Secara umurnya kan sudah 25 tahun, bentar lagi ia wisuda, sudah seharusnya ia memikirkan sebuah pernikahan. Wisuda? Harusnya sudah dari tahun-tahun lalu ia diwisuda, Malaya yang umurnya baru 22 tahun saja besok sudah wisuda. Gimana mau cepat wisuda wong ia sering bolos kuliah? Ia hobby banget travelling dan menghambur-hamburkan uang papanya.
Radith merasa Malaya adalah wanita yang pas buat dijadikan pendamping hidupnya. Ia mengenal Malaya sejak pertama kali menginjakkan kaki di Thailand. Selain parasnya yang cantik jelita, hatinya juga selembut sutra. Ia ikhlas menerima Radith apa adanya. Secara Radith kan banyak mempunyai sifat jelek, yaitu suka kentut di sembarang tempat, suka ngupil, nyanyi pas pup, suka main togel, suka mabok dan suka ganti-ganti gebetan. Sejak Radith pacaran sama Malaya, ia jadi tobat tak pernah ganti-ganti gebetan lagi.
“Ya, sip, gue tambah cakep! Kalau cakep kayak gini kan si Malaya nggak bakal bisa nolak lamaran gue,” ujar Radith berbicara di depan cermin.
Dandan sudah, sekarang tinggal berangkat ke tempat jadian. Eits, tapi sebelum berangkat ia mengambil HP dulu. Jari-jari tangannya menari lincah mengetik sebuah SMS untuk seseorang.
To : My Lovely Malaya
Honey, today so right we invented our dating days five years?
Beberapa detik setelah SMS terkirim, HP-nya menyala lagi. Sengaja ia matiin nada deringnya, jadi kalau ada sms masuk itu layarnya cuma menyala biar nggak berisik. Di layar HP tertulis 1 pesan diterima dari My Lovely Malaya. Klik open untuk membaca SMS.
From : My Lovely Malaya
Yes, so. I’m for waiting for you at the usual place. All anyone wants me to talk to you.
Radith mengangguk tanda paham arti tempat biasa yang disebutkan Malaya lewat sms. Tempat biasanya itu di Pantai Pattaya, pantai paling keren di Thailand. Jadi kalau kencan di sana asyik banget, di sana kita bisa menikmati angin pantai sepoi-sepoi dan deburan ombak.
Pantai Pattaya menjadi saksi cinta Radith sama Malaya selama lima tahun ini, sebab ia ketemu sama Malaya di sana, setiap kencan ke sana, dan hari ini ia mau melamar Malaya di sana juga.
Radith keluar dari kamar. Seketika ia melihat apartemen sepi, biasanya jam segini Bima asyik nonton tv di ruang tengah. Bima itu sahabat Radith dari SD kelas 6, ke mana-mana selalu bersama, bahkan saat kuliah di Thailand mereka satu apartemen bareng.
“Bim, Bima… gue pergi dulu ya. Gue mau ngedate nih.”
Namun hening tak ada jawaban dari Bima. Radith bingung sendiri, Bima ke mana ya? Tak biasanya Bima tak pamitan dulu sama Radith. Berhubung Radith lagi dikejar waktu, ia tak memedulikan ke mana Bima pergi.
***
Setibanya di Pantai Pattaya, tubuh Radith mematung dan mulutnya tak bisa berkata-kata lagi. Faktor penyebabnya bukan karena suasana di pantai itu, tapi pemandangan yang ada di depan matanya sangatlah menyakitkan hati. Malaya, wanita yang ia cintai selama lima tahun sekarang lagi asyik ciuman dan bermesraan sama cowok lain di depan matanya. Lebih menyakitkan lagi ia bermesraan sama Bima, sahabatnya sendiri. Siapa coba yang nggak sakit hati melihat hal itu?
Radith terbakar api cemburu, ia mengepalkan tangan lalu melangkah maju. Ia sudah tak sabar pengen nonjok Bima. Bima itu teman makan teman. Seenaknya aja merebut calon istrinya dan merusak suasana anniversary dirinya sama Malaya.
Buk!
Satu tonjokannya berhasil mendarat di pipi Bima. Darah segar mengalir di sudut bibir Bima. Rasain, itu belum seberapa. Bima bangkit lalu ia membalas tonjokan Radith. Ini cowok boleh juga. Lihat aja siapa yang menang.
“Stop, hentikan! Kalian kayak anak kecil bertengkar di depan umum! Radith, kamu kenapa datang-datang langsung menampar orang?” seru Malaya mencoba melerai pertikaiannya dengan Bima. Malaya memang orang asli Thailand, namun dirinya bisa berbahasa Indonesia kerena telah diajari Radith.
"What was I supposed to ask, why you're making out with another man on the day we were invented to five years? Bermesraannya with my best friend too." nada bicara Radith mulai meninggi.
"I'm sorry Radith, this is what I want to say to you. I know it hurt you but I have to be honest. My heart loves Bima. And begin the second I return the whole love, I do not need anymore. Thank you for the love that you give for five years with me. Sorry, I could not continue our relationship. Goodbye!" ujar Malaya. Setelah berkata demikian Malaya berlalu dari hadapannya, ia pergi bersama cowok brengsek itu. Radith sudah tak menganggap Bima sebagai sahabatnya lagi, tapi sebagai cowok brengsek.
Radith masih diam seribu bahasa. Kata-kata yang keluar dari mulut Malaya tajam banget seperti katana 70 cm. Sakit banget hati Radith mendengar kata-kata Malaya. Selama lima tahun ini, apapun yang diinginkan Malaya pasti dipenuhinya. Bulan ini saja Malaya minta satu set perhiasan seharga 250 juta dikasih, tapi ternyata balasan yang ia dapat adalah pengkhianatan. Ia menendang apa aja (botol, kertas dan daun-daun berserakan di tanah) yang ada di depan kakinya.
Meskipun dirinya lagi emosi tapi tak akan pernah menendang meja dan memporak-porandakan restoran. Kalau ia melakukan itu, bisa keluar duit atau lebih parahnya lagi bisa jadi kasus.
Radith melangkahkan kaki mendekati bibir pantai. Tanpa terasa butir-butir air matanya mengalir dari kelopak mata. Ini kedua kalinya ia menitikkan air mata. Yang pertama kalinya saat Radith melihat jenazah mamanya.
Pantai ini tempat bersejarah buat dirinya dan Malaya. Saksi cinta mereka. Mereka sering bercanda tawa dan lari-lari kecil di pantai ini. Kini semua sirna, hanya jadi kenangan pahit. Radith menjambak rambutnya sendiri. Ia tak habis pikir kenapa nasibnya kayak gini banget. Baru aja ia mau bahagia karena hari ini mau melamar Malaya, tapi ternyata ia harus menerima kenyataan pahit. Kenyataan bahwa Malaya bukan jodohnya, ia pergi ninggalin dirinya tepat di hari anniversary yang ke lima tahun. Perginya sama Bima pula.
“Arggghh… kenapa Tuhan nggak adil? Apakah gue nggak pantas bahagia?” teriak Radith sekencang-kencangnya. Ia sudah tak peduli lagi dengan orang-orang sekitar. Biarlah mereka menganggap dirinya gila. Ia akui dirinya emang gila, gila karena Malaya.
“GUE NGGAK MAU JATUH CINTA SAMA CEWEK LAGI! CEWEK HANYA RACUN DUNIA!” teriak Radith sekali lagi.
Ajaib, seketika rasa sesak di dadanya hilang dalam sekejap. Lumayanlah bisa sedikit melegakan hatinya, tapi tetap aja rasa sakit hati ini masih terasa. Mungkin hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka hatinya.
Tanpa terasa sudah satu jam ia di pantai ini. Matahari aja sudah tidak menampakkan sinarnya lagi, itu berarti tugas dia menjalankan titah Tuhannya telah selesai. Sekarang giliran bulan dan bintang yang menjalankan titah Tuhannya untuk menerangi malam.
Cahaya bulan dan bintang tak kan mampu menyinari hati Radith yang gelap. Cuma Malaya yang mampu menyinarinya.
Berhubung hatinya sudah merasa enakan dikit, ia memutuskan untuk pulang aja. Ngapain juga lama-lama di sini? Yang ada badannya bentol-bentol diciumin nyamuk, secara ia kan orangnya manis banget. “Selamat tinggal Pantai Pattaya! Gue nggak akan menginjakkan kaki ke sini lagi. Bagi gue tempat ini hanya menjadi kenangan yang manis sekaligus pahit.”
Sebelum pergi, ia mengambil HP dulu dari saku celananya. Ia ingin menelepon seseorang dulu.
“Hello, how can we help?"
“I want to ask if tomorrow there is a flight to Indonesia?"
“Yes, Do you want to book tickets for a flight tomorrow Indonesian destination?"
“Yes, I want to book a ticket to Indonesia tomorrow.”
“Oke, thanks”
Tuttt… tuttt
Radith memutuskan sambungan telepon. Lega rasanya tiket pesawat tujuan Indonesia sudah berhasil dipesan. Ya, Radith memutuskan besok pulang ke Indonesia saja. Buat apa di Thailand, toh sahabat yang selama ini sangat disayanginya tega menusuknya dari belakang.
***
Setelah menempuh perjalanan Thailand - Indonesia selama tiga jam, akhirnya Radith tiba di rumahnya sekitar jam dua belas siang. Kehadiran Radith bukannya disambut manis oleh papa dan mama tirinya, malah disambut dengan wajah horor. Wajah mereka seperti seorang hakim yang sedang menjatuhi hukuman pada tersangka pembunuh.
“Hey, aku baru datang, harusnya dipeluk atau dikasih ucapan selamat datang gitu,” ujar Radith.
“Radith, nggak usah bertele-tele. Kedatanganmu ke Indonesia sudah tepat. Ada yang ingin kami bicarakan sama kamu.”
“Bicarakan apa, Pa?”
Papa Radith merogoh saku celananya lalu sesaat kemudian tangan kanannya mengeluarkan beberapa lembaran kertas. Lembaran-lembaran kertas itu ditaruh di atas meja tepat di hadapan Radith.
Radith menggaruk kepala yang tak gatal. “Kertas-kertas apa ini, Pa?”
“Kamu baca sendiri isi kertas-kertas itu!” ujar papanya menunjuk beberapa lembaran kertas di atas meja. Radith pun mengambil beberapa lembaran kertas.
Matanya terbelalak ketika melihat tulisan di kertas-kertas itu. Kertas-kertas itu ternyata adalah bon belanja Radith selama di Thailand. “Aduh, mampus gue. Bon-bon ini kok bisa jatuh di tangan papa? Ah, pasti Bima yang kirim semua ini ke papa. Dasar teman pengkhianat.” Radith memaki Bima dalam hati.
“Radith, Papa nggak habis pikir, selama kamu Thailand pengeluaranmu semakin banyak. Bulan lalu kamu menghabiskan uang 150 juta. Dan bulan ini kamu menghabiskan uang 250 juta. Bima saja di Thailand hanya menghabiskan uang 50 juta per bulan,” Papanya mulai mengomel. Radith hanya tertunduk mendengarkan omelan papanya.
“Papa, sudah bingung harus pake cara apa lagi biar kamu nggak boros,” Papanya terlihat berpikir serius.
“Sepertinya kamu harus pergi dari rumah ini tanpa membawa uang sepeser pun dari Papa. Biar kamu tahu susahnya cari uang.”
Radith melotot, “Papa, nggak adil. Bulan lalu Tante Citra minta uang 500 juta dikasih dan nggak diusir, masa aku yang hanya menghabiskan uang 250 juta langsung ditendang dari rumah ini?”
Radith memangggil mama tirinya dengan sebutan Tante Citra. Walaupun papanya sudah menikah dengan Citra hampir sepuluh tahun, tapi sampai detik ini Radith masih enggan memanggil Citra dengan sebutan ‘mama’. Baginya sebutan mama hanya untuk ibu kandungnya.
“Citra kan minta uang 500 juta buat modal usaha. Nah, kamu menghabiskan uang 250 juta untuk sesuatu yang nggak jelas.”
“Alah, bulshit. Bilang aja Papa lebih sayang Tante Citra daripada Radith.”
Radith merogoh jaket dan saku celananya. Ia mengeluarkan dompet, kunci mobil, dan HP. “Kalau Papa ingin Radith keluar dari rumah ini tanpa membawa harta Papa, oke fine. Ini semua Radith balikin ke Papa,” Radith meletakkan barang-barang yang dipegangnya di atas meja.
Jari telunjuk Radith mengarah ke Citra. “Buat lo, lo puas sekarang? Gue diusir dari rumah gue sendiri. Ini kan yang lo mau dari dulu? Gue tahu akal bulus lo yang ingin menguasai harta Papa seutuhnya. Dasar ular betina berkepala dua. Gue akan buktikan ke kalian semua, kalau gue bisa sukses tanpa harta Papa!”
“Papa akan tunggu kesuksesanmu.”
Tanpa pikir panjang lagi Radith bergegas pergi dari rumahnya. Untung rumahnya di tepi jalan raya, jadi begitu keluar rumah ia langsung mencegat taksi lewat.
Sebelum naik taksi, ia terlebih dahulu memandangi rumahnya. Ia lahir dan besar di rumah yang ada di hadapannya itu. Sudah ratusan kenangan terukir di dalamnya. Ia benar-benar tak menyangka papanya tega mengusirnya. Kebencian Radith ke Citra semakin menjadi-jadi. Ia yakin 100% Citra lah yang mengompor-ngomporin papanya agar dirinya diusir dari rumah.
“Good bye, rumah tercinta gue,” ucap Radith sebelum sopir taksi tancap gas.

Other Stories
Desviar : Libur Dari Kata-kata

Dua penulis yang berniat berlibur justru terjebak dalam kolaborasi tak disengaja ketika ke ...

Don't Touch Me

Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...

Kepentok Kacung Kampret

Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...

Rei Kazama

Sebuah helm retak. Sebuah arwah yang tak bisa pergi. Dan seorang gadis yang bisa mendengar ...

Haruskah Bertemu?

Aku bertemu dengan wanita di gerbong yang sama dengan satu kursi juga. Dia sangat riang se ...

Nona Manis ( Halusinada )

Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...

Download Titik & Koma