5. Traumatic Stress Disorder
From : Ayang Dhanu Tercinta
Andhina, kamu dandan yang cantik ya! Jam 8 malam aku jemput. Aku mau ngajakin kamu dinner. Anggap aja ini kencan di malam minggu pertama kita jadian.
Dhanu adalah pacar Andhina, baru seminggu jadiannya. Namun ia sudah sejak lama jatuh cinta pada Dhanu, bersyukur ia akhirnya bisa mendapatkan cinta Dhanu.
OMG, Dhanu mau jemput jam 8 malam? Ngajakin kencan di malam Minggu pertama setelah jadian? Sekarang jam berapa? Andhina melirik jam yang menempel di dinding kamar. Dan ternyata sudah jam 7 malam. Ia panik, Dhanu mau jemput satu jam lagi. Sedangkan dirinya saat ini cuma memakai piyama.
Ia membuka lemari pakaian untuk mencari baju yang cocok buat kencan. Tapi semua bajunya kaos lengan pendek, daster, baby dol. Masa iya sih kencan memakai baby dol? Namun tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah gaun model terbaru berwarna pink. Bagian atasnya sederhana, tanpa aksen dengan warna putih yang membuat gaun lebih manis sedangkan bagian bawahnya melebar. Gaun ini pemberian kakaknya di hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun. Sekitar 2 tahunan yang lalu, gaun ini jarang ia pakai sehari-hari soalnya ia sehabis pulang sekolah selalu di rumah garap novel, tak mungkin kan memakai gaun?
Sepertinya gaun ini paling cocok, batin Andhina. Ia tidak tahu Dhanu akan mengajak makan malam di mana. Mungkin di tempat yang santai atau mungkin juga di tempat yang formal. Di manapun itu, gaun ini paling aman. Mampu nampak formal sekaligus santai. Langsung ia pergi ke kamar mandi untuk mengenakan gaun tersebut.
Ia berdiri gugup di depan meja rias dengan kebingungan. Mau dandan gimana? Seumur hidup tak pernah dandan. Mama dan kakak dari kecil mendidiknya seperti cowok, kayak gini deh jadinya bingung sendiri. Ternyata jadi cewek waktu menjelang kencan itu ribet.
Setelah berperang antara otak dan hati, akhirnya ia memutuskan dandan yang simple aja. Cukup menyisir rambut dan ia biarkan terurai, mengenakan bando dan sedikit memoleskan wajahnya dengan bedak biar terlihat tidak pucat.
Setelah semua sudah beres, ia memakai sepatu berhak rendah dengan warna yang senada warna gaunnya, yakni pink. Ia menatap diri di cermin untuk terakhir kalinya, sebelum meraih tas dan melangkah keluar kamar.
Ia tersenyum puas melihat bayangan dirinya sendiri. Ya, berdandan simple pun aku tetap cantik memesona. Malam ini Andhina Rosalia akan berubah menjadi gadis feminim. Tak kalah feminim dengan Kak Rani. Aku yakin Dhanu bakal bengong, terpesona oleh kecantikanku. Batin Andhina senang.
Tepat saat itu bel berbunyi. Itu pasti Dhanu, Kak Rani lagi bersama Kak Adelia makanya tak ada yang bukain pintu. Dengan riang ia melangkah ke arah pintu, sebelum membuka pintu ia mengintip di jendela dulu. Siapa tahu yang memencet bel maling atau perampok, kan bahaya kalau dibukain.
Ia melihat Dhanu di sana. Ia bernapas lega, kesal akan ketakutan yang tidak beralasan. Semua ini pasti gara-gara kebanyakan nonton berita kriminal. Ia membuka pintu dengan memasang senyum paling manis.
Dhanu tersenyum manis begitu melihatnya. Dari binar matanya, Dhanu menunjukkan terpesona akan penampilan Andhina. Ia jadi serba salah antara tersipu dan bahagia.
Dhanu berdehem dan mengangkat alisnya, “Mungkin malam ini aku akan sibuk.”
“Sibuk?” Andhina menatap Dhanu bingung. “Kalau sibuk ngapain ngajakin aku kencan segala!” sambungnya lagi.
Dhanu hanya tersenyum penuh arti, “Aku akan sibuk mengusir lelaki yang ingin mendekatimu karena penampilanmu sangat cantik,” Dhanu mengedipkan sebelah matanya dan setengah membungkuk, “Andhina, terima kasih kamu mau jadi kekasih hatiku dan kencan bersamaku.”
Andhina tergelak mendengar rayuan Dhanu yang dibalut dalam canda. Ia tak menyangka Dhanu bisa menggombal juga. Dhanu mengulurkan tangan untuk mengajaknya naik ke mobil dan ia mengikutinya dengan langkah ringan pastinya tanpa beban.
****
Setengah jam telah berlalu, sepanjang perjalanan ia dan Dhanu hanya diam saja. Abis Dhanu sih tak memancing pembicaraan terlebih dahulu. Ia mencoba berpikir postif, mungkin dia lagi fokus menyetir mobil dan tak suka ngobrol saat menyetir.
Tiba-tiba Dhanu ngerem mobil secara mendadak. Ia terkejut bukan main. Jangan-jangan Dhanu menabrak kucing? Berbagai pikiran jelek pun hinggap di otak Andhina. Sambil berdoa dalam hati agar hal jelek tersebut tidak terjadi. Kata nenek, “Kalau menabrak kucing maka kesialan bakal mengintaimu.”
“Dhanu, kok berhenti mendadak?” tanya Andhina memastikannya. Ia berharap sekali jawaban yang keluar dari mulut Dhanu bukan karena menabrak kucing.
“Sudah sampai di tempat tujuan,” Dhanu tersenyum manis.
Andhina mendengus kesal, “Dasar! Bikin jantungku mau copot aja.”
Ia lihat dari kaca mobil, ini tempat apa? Kok sepi dan gelap? Wah, jangan-jangan Dhanu ternyata orang jahat. Dia ingin memerkosa dan membunuhku di tempat ini. Lagi-lagi berbagai pikiran jelek hinggap di otak Andhina. Ketika ia ingin turun dari mobil, Dhanu menarik lengan kanannya. Ia menoleh pada Dhanu.
“Nona yang cantik, tunggu sebentar! Biar aku yang membukakan pintu mobilnya,” jawabnya manis. Ia mencoba tersenyum untuk menutupi ketakutannya.
Masa iya sih cowok semanis Dhanu ingin berbuat jahat padaku? Rasanya benar-benar mustahil. Tapi aku teringat berita di koran, bahwa pembunuh ada yang berasal dari pondok pesantren. Zaman sekarang lulusan pesantren nggak menjamin seseorang bakal berbuat baik selamanya.
Sekarang pintu mobil terbuka. Pelan-pelan ia turun dari mobil. Keringat dingin pun membasahi jidat Andhina. “Kamu jangan takut! Aku nggak akan berbuat macam-macam sama kamu di tempat ini,” ujar Dhanu seolah mengerti akan ketakutannya.
“Coba deh liat ke arah sana! Di situlah kita dinner malam ini,” sambungnya lagi. Jari telunjuk Dhanu mengarah pohon pisang.
Andhina mengerjap mata berkali-kali berharap salah lihat. Pemandangan yang ada di hadapannya ini benar-benar tak sesuai dengan apa yang ia bayangkan sebelumnya. Dalam bayangannya Dhanu bakal mengajak dinner di sebuah restoran mewah atau hotel bintang lima. Eh ternyata Dhanu malah membawanya ke kebun pisang yang disulap jadi tempat romantis. Pertama kalinya dalam hidup Andhina dinner sama cowok di kebun pisang.
“Kalau tahu dari awal aku nggak bakal memakai gaun dan berdandan segala. Mending juga memakai kaos oblong, jaket, celana panjang dan topi biar nggak kedinginan plus digigit nyamuk. Dasar Dhanu, wajah doang yang manis, eh ternyata pelit.” Andhina mulai menggurutu dalam hati.
“Andhina, kamu kecewa ya karena tempatnya nggak sesuai harapanmu?” tanya Dhanu. Andhina tak menjawab. Kecewa sudah pasti. Capek-capek dandan cantik, ternyata cuma dibawa ke kebun pisang.
“Andhina, maafin aku ya nggak bisa membawamu dinner ke tempat yang mahal. Beginilah aku apa adanya, orang nggak mampu. Anak yatim pula,” sambung Dhanu lagi.
“Kalau orang nggak mampu kok menjemputku memakai mobil segala?” tanya Andhina ketus.
“Itu mobil temanku. Dia minjemin ke aku, katanya masa jemput cewek memakai sepeda ontel? Lagipula jarak rumahku dan rumahmu kan sangat jauh. Andhina, kalau kamu nggak bisa menerimaku apa adanya, aku ikhlas kok diputusin detik ini juga. Aku memang nggak pantes mendapat cintamu.”
Betul juga kata Dhanu, jarak mereka sangat jauh. Andhina di Bekasi sedangkan Dhanu di Bogor. Kalau Dhanu menjemputku naik sepeda ontel, kapan sampainya? Bisa jamuran aku nungguin dia.
Andhina memandangi wajah Dhanu, guratan wajahnya terlihat jelas sebuah kesedihan dan takut akan kehilangan cinta untuk kedua kalinya. Ia jadi tak tega marah-marah. Mencintai orang itu harus menerima kekurangan orang tersebut. Mau tak mau ia harus menerima kekurangan Dhanu yang terletak di dompetnya yang kering.
\"Ada yang bilang tempat romantis itu di Korea, Jepang, Paris, Hongkong dan sebagainya, tapi bagiku di mana pun bisa jadi tempat romantis asalkan aku bersamamu, orang yang aku cintai selama ini.\"
“Beneran Dhin? Terima kasih banyak ya?” Dhanu memeluk Andhina erat lalu mengecup keningnya.
“Dhan, boleh aku minta sesuatu nggak?”
“Minta apa? Selama aku bisa memenuhi akan kupenuhi.”
“Aku cuma minta lain kali kalau ngajakin dinner kasih tahu tempatnya dulu, biar aku bisa menyesuaikan baju yang kupakai. Dingin tau, makai gaun ginian! Kamu sih tadi nggak ngasih tahu tempatnya,” Andhina manyun. Tapi yang ada malah Dhanu terkikik geli dan mencubit pipi Andhina.
“Kamu tambah cantik kalau lagi manyun,” Dhanu mulai menggombali Andhina lagi.
Dhanu melepas jaketnya. Ia memakaikan jaket tersebut ke tubuh Andhina. Ya, ampun Dhanu, romantis banget sih kayak di sinetron atau novel. Jadi merasa nggak enak sama Dhanu, soalnya tadi sempat punya pikiran jelek tentang dia. Biarlah tempatnya nggak sesuai dengan apa yang aku harapkan, tapi Dhanu sesuai dengan yang kuharapkan. Semoga menjadi cinta pertama dan terakhirku.
***
Setengah jam berlalu, makanan yang ada di depan Andhina dan Dhanu sudah habis.
“Dhanu, kita pulang yuk! Dah malam nih, aku takut dimarahi kakakku pulang kemaleman.” Andhina mengajak Dhanu pulang.
“Tunggu bentar. Kita menikmati malam sebentar lagi,” Dhanu bernapas sejenak. “Coba deh liat bintang di langit sana!” jari telunjuk Dhanu ke arah langit.
Andhina terpesona melihat keindahan bintang-bintang bertaburan di atas langit. Ditambah lagi bintang tak sendirian, mereka ditemani bulan purnama.
“Aku bisa membuat malam ini menjadi lebih indah, jauh lebih indah dari bintang-bintang di atas sana!”
Dahi Andhina berkerut, tak mengerti apa yang dimaksud Dhanu. “Maksudnya?”
Dhanu tak menjawab pertanyaan Andhina. Justru Andhina merasakan tangan Dhanu meraba-raba bagian pinggang, lalu terus naik ke atas. Andhina mencoba melepaskan tangan Dhanu dari tubuhnya. “Aku geli tau.”
“Tenang aja sayang. Ini justru bagian dari keindahan.”
Dhanu sekarang beralih menciumi leher Andhina. Dari gelagat Dhanu ia tahu bahwa Dhanu sebentar lagi akan menodainya.
“Please, jangan nodai aku.”
Dhanu semakin berhasrat menciumi Andhina. Dengan cepat Andhina menampar pipi Dhanu, ia bersiap berlari. Namun ketika hendak lari tangan kanan Andhina dicekal hingga akhirnya ia jatuh. Dalam sekejap Dhanu menaiki tubuh Andhina.
“Tolong!!!!” teriak Andhina sekeras-kerasnya.
“Percuma Sayang, nggak akan ada yang dengar. Lebih baik kamu nikmati malam yang indah ini bersamaku.”
“Hey, kamu. Sedang apa di sana? Lepaskan cewek itu!” terdengar suara yang tak dikenali. Dhanu mencari sumber suara. Ternyata di sana ada seorang bapak mengenakan jas putih. Tanpa aba-aba Dhanu dan bapak itu mulai bertengkar.
Andhina bernapas lega akhirnya ada yang datang untuk menolongnya. Tiba-tiba kepala Andhina sedikit pusing, dan dalam sekejap ia tak sadarkan diri.
***
Sejak perjalanan pulang, perasaan Rani tak enak. Ia terus kepikiran Andhina. Ia takut terjadi sesuatu dengan adiknya itu di rumah. Untunglah Adelia melajukan mobil dengan cepat, sehingga tak lama kemudian ia sudah sampai di rumah dengan selamat.
“Dhin… Dhina!” teriak Rani. Namun tak ada sahutan sama sekali dari dalam. Andhina ke mana ya? Ia merogoh saku celana, ia menemukan kunci rumah. Untung ia bawa kunci rumah cadangan, cepat-cepat ia membuka pintu.
Begitu pintu berhasil terbuka ia berlari menuju kamar Andhina, namun Andhina tak ditemukan di kamarnya. Ia mengecek kamar mandi, tetap tak menemukannya juga. Ia panik sendiri, jam segini biasanya Andhina asyik nonton sinetron, kenapa sekarang ia tak ada di rumah?
Tiba-tiba matanya tertuju ke arah meja, di sana ada sebuah kertas. Diraihnya kertas itu.
Kak Rani, aku pergi ngedate dulu ya sama pacar baruku. Kakak nggak usah khawatir.
Rani semakin panik membaca tulisan itu. Pasalnya Andhina tak pernah kencan sama cowok malam-malam. Jangankan kencan, punya pacar saja ngga. Ia panik karena takut Andhina diapa-apain sama pacar barunya.
“Lo tenang, Ran. Gue yakin Andhina nggak akan kenapa-kenapa kok. Mending kita nunggu Dhina sambil duduk aja, biar lo sedikit tenang!” Adelia berusaha menenangkan Rani. Baru saja Rani duduk di sofa.
Teng… tong
Bel rumahnya berbunyi. Rani bangkit dari tempat duduk dan langsung membukakan pintu. Betapa terkejutnya Rani begitu pintu terbuka. Ia melihat Andhina tak sadarkan diri. Di sebelah Andhina ada Pak Arsyadanie, dokter langganannya.
“Pak Arsyadanie, ada apa dengan Andhina?” tanya Rani.
“Ceritanya panjang.”
“Ya sudah. Tolong bawa Dhina ke kamar aja,” Adelia menyahut. Pak Arsyadanie membawa Andhina ke kamar, Adelia dan Rani mengikuti langkahnya.
Sesampai di kamar, Pak Arsyadanie merebahkan tubuh Andhina di tempat tidurnya. “Pak, sebenarnya apa yang terjadi dengan Andhina?”
“Tadi saya lewat kebun pisang, di sana saya melihat Andhina hampir diperkosa orang.”
Mata Rani terbelalak. “Hah? Andhina hampir diperkosa? Terus gimana keadaan Andhina, Pak?”
“Tadi saya sempat memeriksa Andhina, Alhamdulillah dia hanya pingsan. Oh ya, berhubung ini sudah malam saya mohon pamit dulu.”
“Pak, saya mengucapkan beribu-ribu terima kasih karena telah menolong Andhina.”
“Sama-sama. Sudah kewajiban saya menolong sesama.”
Rani mengantar Pak Arsyadanie ke depan rumahnya.
***
Prang!!!
Terdengar suara pecahan kaca dari dalam kamar Andhina. Rani dan Adelia yang mendengar suara itu langsung bergegas menuju kamar Andhina. Rani shock bukan main begitu membuka pintu kamar, pasalnya ia melihat Andhina mengamuk memporak-porandakan isi kamar.
Untung di sini ada Adelia. Omnya Adelia itu seorang paranormal kondang, Ki Joko Sableng. Siapa tahu Adelia diajarin ilmu menenangkan orang kesurupan, jadi ia bisa menenangkan Andhina.
Perlahan Adelia mendekati Andhina. Andhina semakin ketakutan. Ia terus melangkah mundur, hingga akhirnya ia terpojok di sudut kamar. Posisi Andhina jongkok, lalu kedua tangannya menutupi dada.
“Please, jangan mendekat atau aku teriak!” jerit Andhina.
Rani yang dari tadi mengamati tingkah Andhina, menangis sejadi-jadinya. Ia tak tega melihat kondisi Andhina seperti itu, terlebih Andhina sudah tak mengenali ia dan Adelia lagi. Ah, kenapa jadi seperti ini?
“Kamu jangan takut. Aku bukan orang jahat,” Adelia mencoba menenangkan Andhina.
Adelia terus mendekati Andhina, sampai akhirnya ia berada tepat di hadapannya. Apa yang terjadi? Kaki Andhina malah menendang-nendang Adelia. Adelia pun mengeluarkan tali dari saku celananya. Dengan gesit Adelia mengikat tangan dan kaki Andhina.
“Del, lo apain adek gue? Emang lo kira adek gue kambing pake diikat segala?” Rani mulai marah melihat adeknya diikat seperti itu.
“Gue terpaksa lakuin ini biar adek lo tenang dan nggak kabur.”
“Apa yang terjadi sama adek gue? Adek gue kesurupan?”
“Bukan kesurupan, tapi adek lo menderita Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau disebut oleh orang awam sebagai trauma, sebuah gangguan psikologis yang menyebabkan penderitanya tidak bisa merasakan kedamaian.”
Rani mengangguk paham dengan apa yang dijelaskan oleh Adelia. Wajar saja sih Andhina menderita Post Traumatic Stress Disorder, kata Pak Arsyadanie, tadi Andhina sempat hampir diperkosa cowok.
Rani tak bisa tinggal diam melihat adeknya seperti itu. Ia membalikkan badan, ia hendak mencari pelaku yang tadi hampir memerkosa adeknya. Ia ingin menjebloskan cowok itu ke penjara.
“Ran, lo mau ke mana?” tanya Adelia.
“Mau nyari cowok brengsek yang hampir memerkosa Andhina. Gara-gara cowok itu Andhina seperti ini, gue nggak akan membiarkan cowok itu berkeliaran di dunia.”
“Lo tenangin diri dulu!” Adelia memberikan segelas air putih. Rani kemudian meminumnya.
“Soal cowok yang hampir memerkosa adek lo itu kita kesampingkan dulu. Yang terpenting sekarang kita harus memikirkan kesembuhan Andhina. Sebab jika trauma yang diderita adek lo dibiarkan, maka semakin lama akan semakin parah.”
“Terus apa yang mesti gue lakuin biar adek gue sembuh? Gue nggak tega liat Andhina diikat kayak gitu.”
“Satu-satunya jalan ya Andhina dibawa ke rumah sakit jiwa. Di rumah sakit jiwa biasanya ada terapi dengan aromaterapi yang diformulasikan khusus untuk mengobati trauma.”
“Nggak, gue nggak setuju. Adek gue bukan orang gila. Gue nggak akan memasukkan adek gue ke tempat orang gila. Del, coba lo buka buku pelajaran waktu lo kuliah dulu, gue yakin pasti ada cara lain untuk mengobati penderita Post Traumatic Stress Disorder tanpa harus dimasukkan ke rumah sakit jiwa.”
Adelia berpikir keras. “Hmmm… sebenarnya ada sih cara lain, tapi agak susah.”
“Gimana caranya?”
“Dengan cara bikin Andhina bisa tertawa lagi. Gimana kalau kita nyewa badut supaya bisa bikin Andhina tertawa?”
“Hemmm… boleh juga. Nah, gue minta tolong ma lo, cariin badut yang paling lucu biar Andhina bisa tertawa lagi.”
Adelia memanyunkan bibirnya. “Huft, pasti deh ujung-ujungnya gue lagi yang disuruh.”
Rani tersenyum simpul melihat tingkah Adelia. “Tenang, ntar kalau Andhina sembuh gue bakal traktir lo makan di Chinese food selama 2 bulan full. Gimana?”
Mata Adelia berbinar mendengar bakal ditraktir makan di Chinese food selama 2 bulan full. Tanpa pikir panjang lagi Adelia langsung menyetujui permintaan Rani. “Oke, deal. Besok gue akan carikan badut yang paling lucu biar bisa bikin Andhina tertawa lagi.”
Other Stories
Hellend ( Noni Belanda )
Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...
Pintu Dunia Lain
Nadiva terkejut saat gedung kantor berubah misterius: cat memudar, tembok berderak, asap b ...
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...