Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Reads
3.9K
Votes
0
Parts
19
Vote
Report
mr. boros vs mrs. perhitungan
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Penulis Ariny Nh

11. Piknik Ke Tempat Wisata Kekinian

 Radith terduduk lemas di sofa rumah Rani. Satu jam jungkir balik melontarkan banyolan agar Andhina tertawa namun hasilnya masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Sialnya hari ini hari ke sepuluh, usaha Radith belum juga membuahkan hasil.
“Del, Rani… kayaknya gue mau mengundurkan diri aja deh. Percuma gue jungkir balik bikin Andhina ketawa tapi tetap saja tak ada perkembangan,” Radith sudah mulai putus asa.
Sama seperti Radith, Rani pun tak tahu gimana lagi cara menyembuhkan Andhina. “Mungkin cara nyewa badut bikin Andhina ketawa bukan solusi yang baik. Gue juga mau nyerah deh. Lebih baik Andhina dimasukin ke RSJ aja kali ya, biar mereka yang nyembuhin Andhina.” Rani menyampaikan pendapatnya.
“Kalian apa-apaan sih masa mau nyerah gitu aja? Usaha kita masih setengah, masa mundur di tengah jalan?”
“Terus kita harus gimana biar Andhina ketawa dan sembuh?” tanya Rani geregetan.
“Bentar!”
Tangan Adelia bertopang di dagunya. Itu tanda-tanda bahwa Adelia sedang berpikir keras. Tak sampai lima detik wajah Adelia kembali cerah. Bagai orang menang kupon undian senilai 1 milyar. “Aha, gue punya ide bagus,” ia melonjak kegirangan.
“Ide apaan?” tanya Rani antusias. “Awas aja kalau ngasih ide ngaco,” ucapnya lagi dengan nada sedikit mengancam.
“Gimana kalau besok kita piknik ke tempat wisata kekinian. Radith, lo harus ikut dalam piknik ini. Siapa tau aja kalau lo ngelawak di tempat wisata kekinian, Andhina bisa ketawa terus sembuh deh. Bagus kan ide gue?”
“Bagus kepala lo peyang. Ogah ah gue ngelawak di tempat wisata. Malu-maluin aja,” Radith sewot sendiri.
“Ayolah Dith, lo ikut ya. Ini demi Andhina. Please,” Rani memohon dengan mengeluarkan jurus andalannya, muka melas.
Tak tega melihat muka melas Rani, akhirnya Radith mengalah. “Oke deh gue mau ikut. Tapi ntar gue ngelawaknya pas lagi sepi aja ya.”
\"Kalau soal itu gampang diatur. Yang penting lo ikut dulu. By the way, tempat wisata kekiniannya itu di mana, Del?” tanya Rani.
“Bandung. Di sana kan udaranya sejuk, lagian di sana gue punya vila,” jawab Adelia.
“Nama tempat tempat wisata kekinian di Bandung itu apa, Del?” kali ini Radith yang kepo.
“Ada deh. Sementara ini masih rahasia negara. Ntar juga kalian bakal tau. Dijamin kalian pasti suka tempatnya.”
Rani memanyunkan bibirnya. Adelia menyebalkannya kumat. Pakai rahasia segala pula. Ia kan jadi penasaran setengah mampus tentang tempat wisata kekinian yang dimaksud sahabatnya itu. Huft, ia hanya mendesah napas berat.
***
Jika biasanya cewek kalau mau piknik mempersiapkan pakaian, makanan ringan, obat-obatan, dan peralatan mandi, Radith justru mempersiapkan piknik besok hari dengan berselancar di dunia maya.
Cara bikin orang ketawa antara lain:
Nonton video lucu di youtube.
Nonton film komedi
Digelitiki
Berdandan seperti badut
Datang langsung ke acara lawak.
Radith membaca dengan saksama tulisan artikel di blog https://arinynurulhaq91.blogspot.com. Ia ingin besok hari sukses membuat Andhina tertawa. Tangannya menggerakkan kursor. Diketiknya www.youtube.com di kolom tab baru itu. Kemudian dia menuliskan sebuah kata kunci ‘video terlucu’ di kolom pencarian.
Taraaa!
Ada puluhan bahkan ratusan video lucu. Radith menggaruk kepalanya yang tak gatal. Jadi bingung sendiri mau download video yang mana. Ia mengklik video nomor 1. Lumayan bisa membuatnya tertawa. Lagi-lagi tangannya menggerakkan kursor mengklik tulisan download.
Ia merasa tak puas dengan hanya men-download satu video saja. Akhirnya ia men-download lima video sekaligus. Begitu selesai, ia tetap merasa tak puas. Ingin melakukan cara nomor dua, men-download film komedi. Sayang, kouta internet-nya tersisa 10 MB.
Ukuran film rata-rata 1 GB ke atas, ada sih yang ukurannya kecil tapi tetap saja besar, 30-50 MB. Mau beli kouta internet 2 GB sayang sama duit, harganya lumayan 30 ribuan. Itu yang paling murah. Ia kembali teringat masa lalunya. Dulu uang 30 ribu sama sekali tak ada artinya. Namun sekarang keadaannya berbanding terbalik, uang 30 ribu sangat berarti. Bisa buat beli makan pagi dan siang.
Tiba-tiba Radith merasakan pundaknya disentuh oleh seseorang. “Pasti Tandy,” pikirnya singkat.
“Hey, Bro. Lo lagi ngapain?” tanpa menoleh ke belakang pun ia sudah bisa memastikan bahwa itu Tandy. Terbukti dari suaranya yang agak gimana gitu.
“Ini gue lagi download video lucu, siapa tau aja setelah Andhina nonton video ini dia bisa ketawa lagi. Tadi sih gue mau download film komedi juga, sayang kouta inet modem gue nggak cukup.”
“Wah, kebetulan banget kalau gitu.”
“Kebetulan apanya?”
“Tadi gue ke rumah kakak sepupu, nah gue dipinjemin kaset DVD bajakan film komedi. Bentar gue ambilin dulu filmnya di tas.”
Tandy mengeluarkan sebuah kaset film komedi yang ngehits di tahun 2015. Judul filmnya 3 Dara. Radith menatap sahabatnya dengan tatapan penuh keharuan. Walaupun Tandy sering menyebalkan, judes, bawel namun ia selalu bisa jadi sahabat yang diandalkan. Ia belum minta tolong, Tandy sudah memenuhi apa yang diinginkannya. Itulah gunanya persahabatan, saling tolong-menolong dan melengkapi.
***
Rani, Radith, Andhina dan Adelia piknik ke Bandung naik mobil Adelia. Perjalanannya sendiri memakan waktu 2 jam 55 menit. Rani memilih duduk di depan, sebelah Adelia yang lagi mengendarai mobil. Sedangkan Radith memilih duduk di belakang bersama Andhina.
Diam-diam Rani memperhatikan Radith dari kaca mobil. Orang yang diperhatikan terlihat sibuk memperlihatkan video lucu ke Andhina. Pandangan Andhina tetap kosong. Ia sama sekali tak tertawa melihat video yang ditunjukkan oleh Radith.
Bukan Radith namanya kalau nyerah begitu saja. Ia kembali memperlihatkan koleksi video lainnya ke Andhina. Andhina bukannya ketawa malah molor. Radith jadi manyun sendiri. Mungkin ia kesal. Andai Rani berada di posisi Radith pasti juga akan melakukan hal yang sama. Dalam hati Rani tertawa geli melihat ekspresi wajah Radith yang seperti itu.
“Hoammm…”
Radith menguap lebar. Sepertinya Radith ikutan mengantuk. Ia menyenderkan kepala di pintu mobil. Dalam sekejap cowok yang dilihatnya sudah terlelap dalam balutan mimpi.
“Eh, Ran… kalau diperhatiin Radith itu mirip elu ya?” Adelia berceloteh sambil menyetir.
“Mirip apanya coba?”
“Kalian berdua sama-sama tidur cepet. Wah, jangan-jangan kalian jodoh. Kan kata orang jodoh kita itu yang mempunya kemiripan dengan kita,” Adelia menggoda Rani.
Rani menyenggol lengan Adelia. “Ih, lo apaan sih. Udah deh lo nyetir aja, nggak usah make godain gue segala,” balas Rani disertai senyum simpulnya.
Jujur di lubuk hati ia mengamini ucapan Adelia yang terakhir. Tanpa disadarinya benih-benih cinta untuk Radith sudah mulai tumbuh di sana. Namun rasa gengsi mengakui masih mendominasi hatinya.
“Eh, Del… nyampe Bandungnya masih lama kan ya?”
“Ya, sekitar sejam lah. Emang kenapa? Lo mau molor juga kayak pangeran lo yang di belakang itu?”
“Ya gitu deh. Kan lo tau sendiri kalau gue nggak ada aktivitas pasti ngantuk.”
“Huuu… dasar ratu molor.”
“Kalau dah nyampe bangunin gue ya?”
“Oke deh. Beres.”
***
Seseorang mengguncang-guncang tangan Radith. Hal itulah yang membuyarkan seluruh mimpi indahnya. “Ada apa sih? Gangguin gue tidur aja,” omel Radith mata setengah terpejam.
“Udah nyampe tauuu.”
Radith mengucek matanya. Seketika ia dapat melihat pemandangan dari balik kaca mobil. Mobil berhenti tepat di depan rumah yang lumayan mewah. “Loh, ini kan villa yang deket Tebing Keraton?”
“Emang,” Adelia menjawab santai.
Oh, jadi tempat wisata kekinian yang dimaksud Adelia itu Tebing keraton toh, batin Radith.
Radith turun dari mobil duluan. Kedua kalinya ia menginjakkan kaki ke tempat ini. Dulu waktu SMA pernah ke sini bersama Affandi. Adelia memang tak salah memilih tempat. Pasalnya Tebing Keraton yang berada di Cimenyan ini merupakan salah satu tempat wisata kekinian di Bandung. Setelah banyak berita miring karena pungutan liar, kini keadaan kembali normal.
Salah satu keindahan Tebing Keraton terletak pada pemandangan taman hutan Ir. H Juanda nan hijau di lembahnya. Apalagi kalau mendatangi tebing ini bertepatan dengan datangnya mentari pagi, beuh ajib benar. Nuansa misterius dari kabut di lembah dan pepohonan terlihat sungguh kuat.
“Del, si Dhina lagi bobo nih. Gue nggak tega banguninnya.”
“Kalau Dhina nggak dibangunin, lo kuat gitu gendong Dhina sampai ke kamar villa?”
Radith bisa mendengar jelas perdebatan antara Rani dan Adelia di belakangnya. Ia pun berbaik hati hati menawarkan bantuan. “Ya udah biar gue aja yang gendong Dhina.”
Tanpa persetujuan dari Rani, tangan kekar Radith sudah menggendong tubuh Andhina yang mungil keluar dari mobil. Lalu membawa ke kamar villa. Rani dan Adelia mengekor Radith di belakang.
“Nah, Andhina kan lagi bobo nih, kalau kalian mau jalan-jalan ke Tebing Keraton silakan aja. Biar gue jagain Dhina.”
“Ih, lo gimana sih. Tujuan kita ke sini kan bikin Andhina ketawa, kalau dia bobo berarti kita bobo juga. Lagian gue lagi males jalan-jalan.”
“Kalau lo males jalan-jalan, ya udah gue sendirian aja jalan-jalannya,” Radith ngacir duluan.
“Udah lo susulin Radith gih. Dia itu baru pertama kali ke sini, ntar kalau dia nyasar gimana? Dia aset utama kita.”
“Hah? Baru pertama kali ke sini? Tapi tadi di mobil dia langsung tau tempat ini.”
“Hemmm…” Adelia terlihat bingung. “Mungkin dia tau dari artikel situs internet. Buruan susulin Radith gih, sebelum dia pergi jauh!”
Rani mendelik ke arah Adelia. Ia sendiri heran mengapa sahabatnya ini ngotot banget minta dirinya menyusul Radith jalan-jalan ke Tebing Keraton. Ada apa gerangan? Apakah ada niat terselubung Adelia mengajaknya ke tempat ini?
“Yeee… malah bengong. Buruan gih susulin Radith!” Adelia mendorong tubuh Rani keluar dari kamar Andhina.
Karena desakan dari Adelia, akhirnya Rani mau juga menyusul Radith jalan-jalan ke tebing Keraton.
***
“Radith, tunggu!” teriak Rani.
Orang yang diteriaki Rani berhenti, lalu membalikkan badan. “Eh, lo Ran. Katanya males jalan-jalan, taunya nyusulin gue juga.”
“Yeee… kalau bukan karena Adel yang maksa, gue juga ogah nyusul lo.”
“Alah, alasan aja lo. Udah, nggak usah malu-malu. Bilang aja lo itu mau jalan berdua ma cowok tertampan se-Asia Tenggara,” Radith menarik kerah kemejanya.
Rani tersipu malu. Untuk menutupi rasa malunya, ia memukul-mukul lengan Radith. “Ih, apaan sih lo. Jadi cowok narsis banget.”
“Eh, Ran… kita foto selfie di sana yuk?” ajak Radith.
“Di mana?” Rani celingukan mencari tempat yang pas buat selfie.
“Itu di sana!” tangan kanan Radith menunjuk ke arah batu besar di ujung tebing.
Rani menggelengkan kepala. “Ogah ah, gue takut mengalami hal yang sama ama pendaki yang jatuh di merapi.”
“Kalau soal itu lo tenang aja. Kan ada gue,” Radith menepuk dada bidangnya. “Gue pasti bakal jagain lo biar nggak jatuh.”
“Beneran ya lo jagain gue biar nggak jatuh?”
Radith mengangguk mantap. Rani mulai memegangi tebing bersiap memanjat sampai ujung tebing. Karena kurang hati-hati, baru memanjat ia sudah terpeleset. “Aaargh.”
Bruk!
Ntah kebetulan atau sudah diatur oleh Tuhan, tubuh Rani tepat jatuh di atas tubuh Radith. Mereka saling berpandangan dari jarak yang sangat dekat. Aliran darah Radith mengalir lebih cepat, dari ujung kaki ke ujung kepala.
“Dilihat dari dekat, wajah Rani cantik banget. Mirip Citra Kirana.,” Batin Radith.
Mendadak perasaan aneh menyusup di relung hatinya. Radith sendiri tak tahu perasaan apa ini. Apa jangan-jangan ini perasaan cinta? Hati Radith kembali bertanya-tanya.
“Ya, Tuhan… kalau memang ini perasaan cinta, jadikanlah Rani sebagai cinta terakhirku sampai hayat,” doa Radith dalam hati.
“Woy, kalau mau indehoi jangan di sini! Malu diliatin orang,” seorang pria menegur mereka.
Gara-gara teguran itu Rani tersadar. Buru-buru ia berdiri. “Aduh, maaf banget ya Dith. Karena kurang hati-hati, gue jatuh terus nindihin badan lo deh.”
“Udah, santai aja. Eh, kamu nggak lecet kan?”
“Sama sekali nggak lecet kok.”
Tanpa disadari oleh Rani dan Radith, ada dua pasang mata memandangi mereka dari jauh. Sepasang mata memandang dengan penuh kebahagiaan, sepasang mata lagi memandang mereka dengan penuh kebencian.

Other Stories
Buku Mewarnai

ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Konselor

Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...

The Museum

Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...

DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...

Download Titik & Koma