Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Reads
4.3K
Votes
0
Parts
19
Vote
Report
mr. boros vs mrs. perhitungan
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Penulis Ariny Nh

12. Gara-gara Lupa

 Brak!
Seorang gadis membanting pintu kamar tidurnya. Ia berlari ke tempat tidur, lalu menumpahkan air matanya dipelukan guling. Hatinya saat ini sedang terluka melihat pria yang dicintainya mulai mencintai wanita lain.
Tangan kanannya menyentuh sebuah benda berbentuk persegi panjang. Benda itu tak lain dan tak bukan adalah smartphone-nya. “Mungkin smartphone ini bisa mengurangi kesedihanku.”
Ditelusurinya lag-lagu yang ada di daftar mp3. Pada akhirnya tertuju pada sebuah lagu Al-Ghazali berjudul Lagu Galau. Jari tangannya menyentuh tulisan play di layar.
Cinta itu buta dan tuli
Tak melihat tak mendengar
Namun datangnya dari hati
Tidak bisa dipungkiri
Itu benar
Lirik lagu yang dinyanyikan Al sangat dalam, sesuai dengan apa yang dirasakannya saat ini. Lagu itu bukannya menenangkan perasaannya, justru membuat air matanya semakin mengalir deras.
Ia kemudian membuka blog. Kebiasaannya sejak SMA, kalau lagi sedih pasti curhatnya melalui tulisan di blog.
Mencintai itu menyenangkan tapi mencintai orang yang tidak menyadari keberadaan kita itu menyedihkan. Perlu keikhlasan yang luar biasa. Dan pastinya mengikhlaskan orang yang kita cintai untuk wanita lain bukanlah hal yang mudah. Jadi berbahagialah jika kamu mencintai dan dicintai orang yang sama.
Tidak seperti diriku, baru saja benih-benih cinta mulai tumbuh di hati, eh sekarang dengan sangat terpaksa aku harus mengeluarkan benih-benih cinta itu. Ini salahku juga, andai aku tak terikat perjanjian konyol mungkin aku tak akan pernah mencintainya.
Radith, nama orang yang kucintai. Awalnya aku mencomblangkan dia dengan orang yang paling berjasa dalam hidupku. Aku ingin orang paling berjasa itu bahagia dengan menemukan cinta sejatinya, namun di luar dugaanku, di tengah perjalanan justru Radith berhasil mengetuk pintu hatiku. Dan sialnya dia juga mulai mencintai orang yang paling berjasa dalam hidupku.
Ah, apa yang harus kulakukan? Haruskah aku mengakhiri perjanjian konyol dan mengatakan pada mereka bahwa aku mencintai Radith?
Jari tangannya menyentuh tulisan publikasikan di layar smartphone-nya.
Mendadak ia jadi teringat Donny, kakak kelas yang dulu ia kagumi di bangku SMP. Dan sekarang kakak kelasnya itu sudah di bangku perkuliahan. Muncul ide cemerlang di kepalanya. “Hemmm… sepertinya aku bisa memanfaatkan Kak Donny agar bisa pergi dari tempat ini,” gumamnya disertai senyuman licik. Setidaknya dengan pergi dari tempat ini, bisa mengurangi mereka berdekatan.
“Gimana, lo suka pemandangan di Tebing Keraton ini?”
“Suka banget.”
“Ya udah besok pagi kita ke sana lagi ya, konon kata orang melihat pemandangan di pagi hari jauh lebih indah.”
“Asyik. Bener ya besok pagi kita ke sana lagi.”
Gadis itu mendengar percakapan di luar kamarnya. Percakapan yang membuat hatinya semakin terbakar api cemburu. “Aduh, ngapain coba tu cowok ngajakin cewek ini? Kenapa nggak ngajakin gue aja?” gumamnya.
Sayup-sayup ia mendengar langkah kaki menuju kamarnya, itu artinya detik ini juga ia harus kembali ber-akting.
***
Bahagia itu sederhana, yaitu saat usaha kita sudah mulai membuahkan hasil dan saat melihat sahabat akhirnya mulai menemukan cinta sejatinya.
Klik bagikan. Ya, Adelia baru saja meng-update status baru.
Drrrt… drrrttt
Smartphone di tangan bergetar. Di layarnya tertulis ‘Si Krempeng memanggil’. Si Krempeng itu teman kampusnya. Jadi dijuluki krempeng karena badannya sangat kurus. Adelia menggeser layar smartphone untuk menerima panggilan.
“Halo, tumben lo nelepon gue? Kangen ya?” Adelia menyapa Krempeng dengan candaan.
“Kangen pala lo peyang. Eh, Del… lo lagi ngapain?”
“Lagi santai aja.”
“Hah? Di saat kayak gini lo masih bisa santai? Lo udah belajar gitu?”
“Emangnya kenapa kalau gue nyantai? Besok kan dosennya gak datang jadi buat apa juga belajar.”
“Jangan bilang lo lupa besok ujian matkul Pak Ibra?”
“Ah, lo jangan bercanda deh. Kapan coba Pak Ibra bilang besok ujian?”
“Minggu lalu kan beliau sudah bilang.”
Adelia mencoba mengingat kejadian minggu lalu. Sesaat kemudian ia menepuk jidat sendiri. Barulah ia sadar apa yang dikatakan Krempeng benar adanya. Kok gue bisa lupa sih besok ada ujian? Omelnya dalam hati.
“Yeee… malah diem. Woy, lo masih hidup kan, Del?” tanya Krempeng di seberang telepon dengan nada sedikit berteriak.
Teriakannya itu membuyarkan seluruh lamunannya. “Eh, sorry. Wah, thanks banget ya lo dah ngingetin gue tentang matkul Pak Ibra.”
Klik. Adelia sengaja memutuskan sambungan telepon dari si Krempeng. Ia langsung berlari keluar kamarnya untuk memberitahukan hal ini ke Radith dan Rani.
Di ruang tamu Adelia tak melihat batang hidung Radith dan Rani. “Rani, Radith!” teriak Adelia. Namun sama sekali tak ada sahutan.
Ia mencoba mencari mereka berdua di kamar, dapur, toilet, sampai teras depan tak kunjung ditemukan juga. Ke mana mereka? Jika sudah seperti ini jalan satu-satunya mengetahui keberadaan mereka adalah lewat BBM. Jari-jari tangannya mengetik sebuah pesan untuk Rani.
Ran, lo lagi di mana?
Klik, sent.
Ting!
Pesan BBM dari Rani.
Gue lagi nyari makan malam nih sama Radith. Sorry, kita nggak pamit sama lo, abis lo tadi sibuk solat dan baca Al-Qur’an.
Adelia kembali membalas pesan BBM dari Rani.
Sekarang juga kalian pulang ke villa! Ada yang pengen gue bicarakan. PENTING.
Sekarang Adelia tinggal menunggu kedatangan mereka. Semoga tak lama.
***
Setengah jam berlalu akhirnya Radith dan Rani tiba juga di vila. “Sorry agak lama, tadi kami cari makannya jauh. Emang apa sih yang mau dibicarain?” tanya Radith.
“Udah, kalian duduk dulu. Kan lebih enak ngobrol sambil duduk.”
Radith dan Rani pun duduk di sofa sebelah Adel. “Nah, sekarang kami udah duduk. Buruan deh lo bilang mau bicara tentang apa. Gue penasaran tauuu.”
“Gue besok harus pulang ke Jakarta soalnya ada ujian dadakan.”
Radith dan Rani kompakan melotot ke arah Adelia. “What? Gue nggak salah denger nih?” teriak mereka berbarengan.
Adelia menggeleng lemah. “Del, kenapa mesti balik ke Jakarta sih? Lo kan bisa izin, bilang aja sakit atau acara keluarga gitu. Tujuan utama kita ke tempat ini belum terlaksana,” Rani protes.
“Nggak bisa. Ujian ini menentukan kelulusan gue. Yang balik kan cuma gue, kalau kalian masih mau di sini sampai tujuan utama berhasil ya silakan aja.”
“Kalau nggak ada lo, nggak rame,” timpal Rani.
“Gue setuju sama Rani. Lagian kalau lo pulang, berarti kita cuma berduaan dong. Ntar terjadi apa-apa di villa lo gimana?”
Adelia mendelik ke arah Radith. “Dith, kalian nggak berdua, tapi masih ada Andhina.”
“Iya sih, tapi kan Andhina itu…” Radith sengaja menggantungkan kalimatnya, takut Rani tersinggung.
“Pokoknya kalau lo pulang ke Jakarta, gue juga mau pulang. Lagian nyembuhin Andhina nggak harus di tempat ini kan?”
“Kalau lo gimana, Dith? Mau pulang juga atau masih mau tetap di sini?” tanya Adelia serius.
“Kalau kalian berdua mau pulang, ya mau nggak mau gue juga harus ikut pulang. Kalau gue tinggal di sini ntar pulangnya ma siapa? Nggak ada ongkos, Bo.”
“Berarti besok kita sepakat pulang ke Jakarta bareng ya?”
Radith dan Rani mengangguk mantap. Jujur Adelia menyesali keteledorannya. Rencana yang sudah disusun rapi harus berantakan hanya gara-gara lupa. Namun apa boleh buat, manusia tempat salah dan lupa. Toh, Jakarta-Bandung nggak jauh-jauh banget. Masih bisalah lain kali ke sini.
“Rani, Radith maafin gue ya nyecewain kalian. Gue janji bakal nebus kesalahan gue ini!” batin Adelia pilu.

Other Stories
Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

Takdir Cinta

Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...

Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

The Fault

Sebuah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Sebuah awalan selalu memiliki akhiran. ...

Download Titik & Koma