Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Reads
4.3K
Votes
0
Parts
19
Vote
Report
mr. boros vs mrs. perhitungan
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Penulis Ariny Nh

13. Rencana Penembakan

Waktu cepet banget berlalu, tanpa terasa sudah satu bulan Radith bekerja membuat Andhina tertawa. Namun sampai saat ini usahanya belum membuahkan hasil. Untungnya Rani tetap membayar kerja kerasnya selama sebulan ini. Dengan gaji yang dibayar Rani, lumayan bisa membayar tunggakkan kos, utang di warung, hidup sampai bulan depan bahkan masih ada sisa buat makan di restoran.
Saunders Restaurant malam ini penuh dikunjungi. Maklumlah malam ini kan malam Minggu. Malam di mana orang menghabiskan waktu bersama kekasih tercinta atau hanya melepas penat.
Saunders Restoran ini sebenarnya milik papanya Radith. Radith ke sini bukan untuk mengawasi karyawan, namun ingin makan malam. Ia sangat merindukan makan di restoran, selama 3 bulan lebih ia selalu makan mie, telur, ikan asin saja.
Mau restorannya rame atau tidak, Radith tidak memedulikan hal itu. Matanya tetap terpaku pada sebuah foto gadis cantik yang berhasil didapatnya dari seorang teman. Sejak insiden terkunci di gudang, Radith terus kepikiran gadis itu. Radith merasa sudah jatuh hati pada gadis di foto. Gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Rani. Wajahnya cantik, kulitnya mulus putih bersih, matanya sipit, rambutnya panjang bergelombang dan memiliki lesung pipi yang manis. Selain cantik, Rani itu cerdas, guru les matematika di bimbingan belajar.
Ingin sekali Radith menyatakan cinta pada Rani, namun keraguan selalu menyelimuti hatinya. Ragu karena takut ditolak. Kata Adelia, Rani itu punya segudang tipe cowok idaman. Tipe Idamannya nggak boros, pake kacamata tipis, smart, bersih dari jerawat, berpakaian rapi, setia, sabar, bijaksana dan paling penting sayang sama adiknya. Ia merasa dirinya tak sesuai dengan tipe idaman Rani.
“Woy, bro. Restoran lo rame eh malah bengong kayak sapi ompong sambil mandangi foto,” ujar seorang cowok yang tiba-tiba datang. Radith menoleh ke samping, ternyata Tandy.
“Eh, lo Tan. Kalau datang itu ngucapin salam dulu kek, biar gue nggak kaget dan bisa nyiapin sesajen buat lo.”
“Halo, lo ke mana aja? Tadi sore gue udah sms lo kalau mau datang ke sini. Dari tadi juga gue udah ngucapin salam tapi lo aja yang sibuk bengong mandangi foto. Emang lo lagi liat foto siapa sih sampai gak dengar sapaan gue?” Tandy berusaha mengintip foto yang dipegang Radith.
Radith buru-buru menyimpan foto Rani ke dalam saku jaketnya agar Tandy tidak bisa melihat wajah cantik Rani. Ia hafal betul sifat Tandy yang super playboy, tak bisa melihat cewek cantik dikit aja pasti langsung ditaksir.
“Bu-bu-bukan siapa-siapa, kok. Yang gue pandangi itu fotonya adek gue,” jawab Radith terbata. Keringat pun mulai membanjiri keningnya. Radith itu orangnya tak pernah bisa berbohong sama orang lain, jika ia berbohong pasti keringatan.
“Udah deh lo nggak usah bohong sama gue. Gue itu kenal sama lo sejak zaman bahari kala, jadi gue tau banget tentang lo. Hayo, ngaku… foto yang lo pandangin tadi foto cewek yang lo taksir kan?”
“Sial, Tandy itu nggak bisa dibohongin. Terpaksa deh gue harus jujur sama dia,” batin Radith kesal.
“Iya deh gue ngaku, foto yang tadi gue pandangi emang foto cewek yang lagi gue taksir.”
“Puji Tuhan… akhirnya kamu bisa jatuh cinta juga sama cewek. Gue kira tadi lo itu…” ucapan Tandy terhenti. Tandy melempar senyum jail ke arah Radith.
Radith memanyunkan bibir. “Gue masih normal kali…” Radith tahu apa yang ingin diucapkan Tandy.
“Hehehehe… kali aja kagak. Abis selama lo pulang dari Thailand, kagak pernah tuh lihat lo jatuh cinta sama cewek. Gue kira lo jadi suka sesama jenis.”
“Itu karena gue belum nemuin orang yang tepat di hati aja. Gue itu orangnya gak mudah jatuh cinta, nggak kayak lo!”
“Iya, karena lo cintanya sama PS.”
“Sialan, lo.”
“By the way, any way busway… siapa sih cewek yang berhasil meluluhkan hati lo? Cantik gak orangnya?”
Radith kembali mengeluarkan foto Rani dari saku jaketnya. Ia pun menyerahkan foto itu ke Tandy. “Nih, lo liat sendiri wajahnya. Tapi awas kalo lo naksir dia juga!”
Mata Tandy melotot ketika melihat foto Rani. Dahi Radith berkerut melihat tingkah Tandy. “Kenapa lo? Kaget ya sama kecantikan cewek inceran gue?”
“Gue heran aja, ini kan foto Rani, kok lo bisa naksir dia? Bukannya lo kalau ketemu ma dia selalu berantem?”
“Lo kenal Rani juga?”
“Ya jelaslah, lo kan pernah ngajak gue ke rumah Rani. Lo lupa? Tadi lo belum jawab pertanyaan gue, kok lo bisa naksir dia?”
“Gue juga nggak tau kenapa bisa naksir dia, sejak insiden terkunci di gudang ama dia, gue kepikiran dia mulu. Sekarang gue udah berdamai, ternyata orangnya baik banget. Perhatian juga.”
“Ciee… benci bilang cinta nih ceritanya.”
“Ya gitu deh.”
Obrolan Radith dan Tandy terus berlanjut. Radith menceritakan segala tentang Rani, menceritakan tentang perhatian-perhatian Rani lewat sms, sampai akhirnya Radith meminta pendapat Tandy tentang keinginannya menyatakan cinta pada Rani.
“Gue juga rasa lo harus menyatakan cinta sama Rani. Inget, Rani itu wanita yang nyaris sempurna, pasti banyak banget cowok-cowok yang ngincer dia. Lo nggak mau kan Rani itu diembat orang?”
Radith terdiam. Di mata orang lain mungkin Rani cewek nyaris sempurna. Tapi di mata Radith, Rani tetap punya kekurangan. Kekurangannya itu terletak di sifat pelit alias perhitungan. Tapi ia sadar dirinya itu boros, jika bersatu sama Rani maka akan saling melengkapi.
“Tapi gue takut ditolak.”
“Nih, dengerin kata-kata gue. Sesuatu yang dipendam itu nanti pasti busuk, begitu pula dengan cinta. Cinta yang hanya dipendam dalam hati juga lama-lama bisa membusuk dan akhirnya jadi penyakit hati. Soal ditolak atau diterima itu belakangan, yang penting lo usaha.”
Radith terdiam memikirkan kata-kata Tandy. Ia merasakan apa yang diucapkan sahabatnya itu ada benarnya juga. Cinta yang hanya dipendam dalam hati juga lama-lama bisa membusuk dan akhirnya jadi penyakit hati.
Atas saran dari Tandy akhirnya hati Radith menjadi mantap untuk menyatakan cinta pada Rani. “Tan, lo mau bantuin gue nggak?”
“Bantuin apa coba?”
“Bantuin gue dalam penembakan Rani, lo yang nyiapin tentang penembakan. Kan lo yang ahlinya nembak cewek.”
“Bisa diatur. Wani piro?” Tandy menirukan gaya Om Jin yang ada di iklan-iklan pertelevisian Indonesia.
“Soal itu mah gampang. Kalau Rani menerima cinta gue, lo boleh deh makan gratis di kafe ini selama sebulan.”
Tandy melonjak kegirangan. Lalu ia mengulurkan tangan kepada Radith. “Oke deal. Kapan lo mau nembak Rani?”
“Berhubung kata lo tadi Rani itu wanita yang nyaris sempurna dan pasti banyak banget cowok-cowok yang ngincer, dia maka dari itu gue memutuskan nembak dia esok hari mumpung hari libur. Gue juga nggak mau Rani keburu diembat orang.”
“Buset, nih anak gile juga. Udah kebelet ama Rani kali ya?”
“Hahahaha…”
Mereka pun tertawa bersama. Tandy memesan makanan dulu, sedangkan Radith senyum-senyum sendiri membayangkan Rani esok hari menerima cintanya. Ia berharap bayangan itu menjadi nyata, bukan sekadar semu.
“Rani, tunggu aku di hatimu,” batin Radith girang. Jantung Radith berdebar-debar, belum juga nembak Rani sudah seperti ini. Gimana saat di depan Rani? Namun Radith tetap tak sabar menunggu esok hari.

Other Stories
Pada Langit Yang Tak Berbintang

Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...

Susan Ngesot Reborn

Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Wajah Tak Dikenal

Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...

Titik Nol

Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...

After Meet You

Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...

Download Titik & Koma