Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Reads
4.3K
Votes
0
Parts
19
Vote
Report
mr. boros vs mrs. perhitungan
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Penulis Ariny Nh

15. Pertolongan Tuhan

Pasca pertikaian dengan Tandy, mau tak mau Radith harus pindah kost. Ia tak mau satu atap dengan pengkhianat. Saat ini ia berada tepat di depan kos putra yang lumayanlah. Setidaknya lumayan lebih layak daripada kosan Tandy.
“Maaf, Anda cari siapa ya? Dari tadi celingak-celinguk di sekitar sini,” tegur seorang kakek sekitar umur 60 tahun. Rambutnya memang beruban semua, namun giginya belum ompong.
“Gini Kek, saya mau nyari pemilik kost ini. Kakek kenal nggak sama pemiliknya?”
“Kenal banget. Kebetulan saya sendiri pemilik kost ini. Ada apa ya?”
“Saya mau ngekost di sini, Kek. Kira-kira masih ada kamar yang kosong nggak?”
“Ada kok.”
“Kira-kira per bulannya berapa ya?”
“500 ribu.”
Glek!
Radith menelan ludah berkali-kali. 500 ribu? Itu termasuk mahal. Terlebih uang di dompet tinggal 100 ribu. Gaji dari Rani dan PT. Lelucon sudah habis buat mentarktir orang banyak kemarin. “Ah, bego banget sih gue. Ngapain coba gue janjiin nraktir orang banyak,” omelnya dalam hati.
Kakek pemilik kost mengibaskan tangan ke depan mata Radith. “Kok diem? Jadi nggak nih ngekost di sini?”
“Hemmm…” ketika ia menjawab pertanyaan kakek.
Drrrt… Drrrttt
Smartphone di saku celananya bergetar. Di layarnya tertulis ‘Si Killer Bawel memanggil’. Si Killer Bawel itu Pak Sigit, bos di PT. Lelucon . Jadi dijuluki killer bawel karena super galak dan suka bawel nyuruh orang. Radith menggeser layar smartphone untuk menerima panggilan dari Killer Bawel.
“Hallo, selamat siang, Pak Sigit. Ada apa nih nelepon saya?”
“Kamu lagi di mana, Dith?”
“Daerah Kemang, Pak. Ada apa ya?”
“Kamu bisa datang ke timezone mal Cipinang Indah nggak? Tadi pagi ada yang nyewa badut buat acara ulang tahun, tapi sayangnya semua badut di PT. Lelucon pada penuh job. Kamu tenang aja ada bonus tambahan. Dan bonus tambahannya itu dibayar hari ini juga. Gimana? Bisa kan?”
Wajah Radith berseri-seri. Tentu saja ia tak menyia-nyiakan tawaran Pak Sigit. “Oke, Pak. Saya bersedia. Sekarang juga saya akan ke timezone mall Cipinang Indah.”
Pak Sigit memutuskan sambungan telepon. “Kek, saya jadi deh ngekost di sini, tapi bayarnya nanti sore ya. Saya mau ambil barang-barang di kost lama dulu.”
“Oke, saya tunggu.”
***
Di timezone mall Cipinang Indah ternyata sepi senyap. Sama sekali tak ada tanda-tanda orang merayakan ulang tahun. Radith menggaruk kepala tak gatal. “Bener di sini nggak sih tempat ulang tahunnya?”
Untuk memastikan, ia berinisiatif menelepon Pak Sigit.
“Pak, saya sudah di timezone mall Cipinang Indah nih. Tapi kok sepi ya, sama sekali nggak ada tanda-tanda orang merayakan ulang tahun.”
“Wah, maaf banget, Dith. Ulang tahunnya ternyata batal gara-gara yang ulang tahun mendadak sakit perut.”
Radith langsung terduduk lemas. Hilang deh harapannya agar bisa ngekost di tempat tadi. “Terus malam ini gue tidur di mana? Masa emperan toko?” Radith terus-terusan berbicara sendiri.
“Huhuhu…” terdengar suara tangisan anak kecil. Radith bangkit dari tempat duduk, mencoba mencari sumber tangisan.
Seorang anak laki-laki sedang menangis tersedu-sedu di samping box permainan getok kepala buaya. Radith ikutan jongkok dan mencoba ngajakin bicara anak itu. “Hey, adek namanya siapa? Kok nangis di sini?”
“Namaku Reno, Kak. Aku terpisah dari Mama Papa.”
“O…” Radith ber-o ria. “Yuk ikut kakak! Kakak akan mengusahakan kamu biar ketemu lagi sama Papa Mama. Gimana? Mau?”
Reno mengikuti langkah Radith. Dan Radith membawa Reno ke tempat security. Tiba-tiba Reno ngacir ngumpet di bekalang. “Loh, Ren… kamu kenapa? Kok ngumpet?”
“Aku takut sama Bapak itu!” ucap Reno seraya menunjuk security yang berambut botak, kumis tebal dan mata melotot.
Radith hanya tersenyum simpul. “Kamu tenang aja, kan ada kakak. Bapak itu nggak akan marahi kamu kok.”
Radith menggendong Reno biar ia tak takut lagi. Lalu meminta security mengumumkan tentang Reno.
“Kepada pengunjung mal, bagi Anda yang merasa kehilangan anak, silakan datang ke tempat security.”
Belum lima belas menit pemberitahuan itu disiarkan, sudah ada sepasang suami istri datang. “Papa… Mama!” teriak Reno.
“Oh, jadi ortunya Reno itu mereka toh.”
Reno berlari ke pelukan papa dan mamanya. Radith jadi terharu melihat pertemuan mereka.
“Sayang, kok kamu bisa ada di tempat ini?” tanya seorang wanita cantik yang diyakini Radith sebagai mamanya Reno.
“Aku diajakin Kakak itu ke sini, Ma.” Reno menunjuk Radith.
Papa Reno mengulurkan tangan. Radith menjabat tangan papanya itu. “Wah, makasih banget ya. Kalau bukan karena kamu mungkin kami saat ini masih kebingungan mencari Reno.”
“Iya, Pak. Sama-sama. Saya senang kok melihat Reno bertemu lagi dengan orang tuanya.”
Sebagai rasa terima kasih, papanya Reno memberikan uang seratus ribuan ke Radith. Namun pemberiannya itu ditolak secara halus. “Nggak usah, Pak. Saya ikhlas kok nolongin Reno.”
“Wah, saya salut sama kamu. Jarang loh ada anak muda yang nolongin orang tanpa mengharap imbalan. Kalau boleh tau nama kamu siapa ya?”
“Radith, Pak.”
“Kamu masih kuliah?”
“Saya sudah nggak kuliah lagi. Saat ini kerja jadi badut.”
Kening papanya Reno berkerut. “Cowok seganteng kamu jadi badut? Kenapa nggak coba cari pekerjaan yang lebih bagus? Jadi model gitu.”
“Ah, Bapak bisa saja. Saya mah mana pantes jadi model. Zaman sekarang kan bukan kita yang memilih pekerjaan, melainkan pekerjaanlah yang memilih kita.”
“Hemmm… bener juga sih. Oh iya kalau kamu mau, kamu bisa bekerja di restoran saya. Posisinya sebagai manajer. Ini alamatnya.”
Papanya Reno memberikan sepucuk kartu nama. Radith terbengong-bengong kayak sapi ompong. Mimpi apa gue semalam tiba-tiba ditawari jadi manajer restoran? Apa ini pertolongan dari Tuhan? Sepertinya benar begitu. Tuhan takkan membiarkan umatnya kesusahan terlalu lama.
“Baik, Pak. Saya bersedia kerja di restoran Bapak.”
“Kalau begitu besok pagi datang ke restoran saya ya.”
“Insha Allah, Pak.”
Papanya Reno bukan hanya menawarkan kerja di restorannya saja, tapi juga memaksa Radith menerima uang lima lembar seratus ribuan dan sebuah smartphone. Katanya sih setiap orang yang bekerja di restorannya, dapet DP lima ratus ribu terus biar gampang komunikasi. Kalau uangnya lima ratus ribu baru Radith mau menerima. Hehehe.
***
Jakarta, 22 Agustus 2016
HRD Manager
Lelucon
Jl. Menteng No. 7, Jakarta
Dengan Hormat.
Melalui surat ini saya Raditya Ziel Saunders bermaksud mengundurkan diri dari PT. Lelucon sebagai badut ulang tahun, terhitung sejak 23 Agustus 2016. Saya ucapkan terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya untuk bekerja di perusahaan yang Bapak pimpin.
Saya juga mohon maaf kepada Bapak, seluruh management dan karyawan PT. Lelucon apabila terdapat kesalahan yang saya lakukan selama bekerja. Saya berharap PT. Lelucon dapat terus berkembang dan mendapatkan badut yang lebih baik dari saya.
Hormat Saya
Raditya Ziel Saunders
Radith tersenyum simpul membaca surat pengunduran diri yang baru saja diketiknya. Ia merasa surat itu sudah pas, surat itu lalu di-scan kemudian dikirim ke email Pak Sigit.
Belum sampai sepuluh menit, Pak Sigit sudah membalas email-nya. Langsung saja ia membaca email tersebut.
Dear Radith,
Saya sudah menerima surat pengunduran diri Anda. Saya sebenarnya menyayangkan Anda keluar dari PT. Lelucon, karena Anda merupakan badut tertampan di sini. Anak-anak kecil juga banyak yang suka dengan banyolan lucu Anda. Namun saya tak dapat menahan lebih lama. Anda berhak mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik.
Salah dan khilaf selama saya jadi atasan Anda mohon dimaafkan.
Sekian terima kasih
Sigit Hardadi.
Radith baru ingat hari ini belum memberikan kabar ke Rani. Cepat-cepat ia menyambar smartphone baru yang tergeletak di atas meja. Ia menekan nomor Rani.
“Halo…” terdengar suara Rani di seberang telepon.
“Lagi apa nih?”
“Lagi santai aja. Nomor baru ya, Dith.”
“Iya. Aku sekarang udah nggak tinggal di kostan Tandy lagi. Oh iya, aku nelepon kamu selain kangen, aku juga mau ngasih kabar baik sama kamu. Oh ya, kabar baiknya aku mulai besok kerja jadi manajer restoran loh.”
“Loh, kok bisa sih kamu jadi manajer restoran dalam waktu singkat?”
Radith menceritakan dari awal ia cari kostan baru, pertemuan dengan Reno sampai ditawari jadi manajer restoran secara jelas dan rinci kepada Rani. “Yah, kalau kamu udah nggak kerja jadi badut, berarti mulai besok kamu nggak akan datang ke rumahku buat bikin Andhina ketawa lagi dong?” nada bicara Rani terdengar sendu.
“Kalau soal itu kamu tenang saja, aku tetap bakal ke rumah kamu kok bikin Andhina ketawa lagi. Kan itu syarat biar jadian sama kamu.”
“Ih, kamu bisa aja. Eh udah dulu ya, baterai hpku low nih, mau di charge dulu.”
“Oke, bye Rani sayang. Emmmuuuaaachh.”

Other Stories
Kidung Vanili

Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...

Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat

Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...

Youtube In Love

Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...

Hold Me Closer

Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...

Testing

testing ...

Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...

Download Titik & Koma