Padang Kuyang

Reads
45
Votes
0
Parts
1
Vote
Report
Padang kuyang
Padang Kuyang
Penulis Indhie Khastoe

Di Bawah Lantai



Akan selalu ada yang butuh topeng demi menutup wajah aslinya.

Ada masa di mana dia akan membuka topeng itu, hingga kau bisa melihat senyum culasnya.

Ini tentang kisah tak biasa cinta segitiga.




****



Pegunungan Meratus, 1980

Sebuah gerobak sapi merayap pelan menapaki jalan hutan yang sepi. Gemirincing lonceng pada leher sapi itu seirama derit roda gerobak. Matahari bersinar garang. Silau panas menimpa pucuk-pucuk pohon. Rimbun dedaunan layaknya kanopi yang memayungi sepanjang jalan menuju desa.


"Grookh ...."

Dengkuran keras terdengar saling bersahutan. Kadang mirip bunyi siulan. Perjalanan pulang yang memakan waktu panjang membuat dua lelaki muda dalam gerobak itu tak mampu menahan kantuk.

Saat ini angin sedang berembus sepoi. Semakin keduanya terbang ke alam mimpi. Sempit gerobak tak mengurangi kenikmatan tidur. Mereka meringkuk dengan posisi tak keruan. Bahkan Arul tak sadar jika wajahnya sudah bergeser tepat di depan bokong Aman sang kakak.

Setandan pisang tampak tergeletak di sudut gerobak. Ada pula bungkusan besar berisi kain jarik yang baru dibeli Aman untuk persediaan isterinya melahirkan nanti. Mereka pulang dari menjual hasil kebun di pasar minggu. Pasar yang menjadi tempat tumpah ruah penduduk dari penjuru Perbukitan Meratus.


Bibir tipis Arul menyunggingkan senyum. Dalam mimpi, wajah Barlian terasa sangat dekat. Sampai-sampai Arul lupa cara bernapas. Gadis cantik itu membuat dada berdetak syahdu.


Aduhai, cantik nian engkau, Barlian!


Tiba-tiba....


BROOT!


Satu ledakan dahsyat sukses membuyarkan mimpi indah Arul hingga tak berbekas. Aroma gas beracun meluluh lantakan wajah elok Barlian.


"Hantu Bilau!" Arul mengumpat dengan mimik wajah hancur.


"Aaaargh!" teriaknya lagi penuh kesal.


Dengan wajah kusut masai dia kemudian duduk seraya mengibas sisa aroma busuk yang memenuhi gerobak.


"Tadi pagi sarapan bangkai kah?" rutuk Arul menatap wajah tak bersalah Aman.


Orang yang ditanya tak bergeming, kian pulas karena perut terasa lebih lega. Mulut mengecap seperti orang yang tengah makan. Setetes iler membasahi sudut bibir.


Menyebalkan!


"Aah, percuma ngomong sama orang tidur!" Arul berkecimus.


Hup! Gesit tubuh kurus berotot Arul melompat keluar dari gerobak.


Sudah biasa bagi Arul meninggalkan gerobak sapi dalam perjalanan seperti ini. Si Utih nama sapi mereka itu, bukanlah kuda. Jalan Utih lemot, selemot keong sawah. Walau begitu, Utih sudah hapal rute pulang pergi antara pasar minggu dengan rumah majikannya. Tanpa perlu dikendalikan gerobak dipastikan sampai di depan rumah.

Sepasang kaki Arul berlari kecil memasuki hutan. Banyak waktu bermain-main sebentar, dari pada pasrah menghirup gas beracun. Tanpa dia sadari ada puluhan pasang bola mata yang mengintip kepergiannya, dari balik rimbun pohon kariwaya.

Di waktu yang sama, Sala tengah jongkok menghadap tungku. Pipi wanita muda berkulit kuning langsat itu mengebung meniup tumpukan kayu bakar dengan sebuah corong bambu.

Api mulai memakan kayu yang menyatu dalam tungku, memanaskan air dalam panci berisi beras yang bertengger di atasnya. Sebentar lagi suami dan adik ipar pulang dari pasar. Makan siang harus disiapkan dari sekarang.

Di sela papan lantai, sepasang mata mengawasi gerak-gerik perempuan muda itu. Tatapan yang sangat tajam. Seolah ingin mencabik-cabik tubuh Sala. Mulutnya menggeram pelan.

Rumah panggung tinggi memungkinkan seseorang bisa berdiri tegak di bawah lantai. Seperti yang sekarang dilakukan oleh sesosok makhluk asing dengan penampakan sangat mengerikan.

Kening Sala mengernyit. Selintas terdengar suara geram yang aneh. Samar tercium bau busuk, hidung Sala mengendus, kemudian perhatiannya terbagi saat tanakan nasi mulai mendidih.

Bluk bluk bluk....

Buih-buih air tajin menggelegak. Gegas Sala meraih kayu, lalu mengaduk nasi dalam panci yang menghitam oleh jelaga.

BRAK!

Lantai di bawah kaki Sala tiba-tiba dibentur keras dari bawah.

Perempuan hamil itu terlonjak kaget. Jantung terasa lepas saat beradu pandang dengan sepasang mata merah menyala di antara sela papan.

"Astagfirulloh!" pekiknya tertahan.

Terpikir itu mata hewan buas semacam beruang. Ah, entahlah. Sala tak bisa melihat jelas bentuk makhluk yang ada di bawah lantai sekarang ini.

BRAKK!!"

Sekali lagi makhluk itu mencoba mengempur lantai. Papan-papan kayu mulai terangkat. Paku-paku terlepas. Bola mata Sala membelalak menyaksikan itu semua. Seluruh tubuhnya dingin gemetar.

Sala menelan ludah gugup. Sudut matanya melirik sebuah mandau di dinding dapur. Jarak sepuluh langkah dari tempatnya sekarang berdiri. Dia harus menjangkau benda itu untuk mempertahankan diri.

BRAAAKK!!!

Lantai akhirnya jebol. Papan-papan sebagian patah.


"AAARGHH!!"


***

Sementara itu Aman masih dalam buaian mimpi. Sama sekali dia tidak tahu Arul sudah tidak lagi ada di gerobak.

Merasa aman, puluhan pasang mata hitam yang tadi mengintip dari balik rimbun dedaunan menyembul keluar. Makhluk-makhluk berbulu dan berekor panjang berlompatan masuk ke dalam gerobak sapi.


"Ugk ugk ugk.... ugk ugk ugk...."


Mulut monyet-monyet nakal mulai berisik. Apalagi saat melihat setandan pisang kepok yang buahnya telah menguning. Tak butuh waktu lama buah pisang di tandan ludes, tak ubahnya sepotong daging ayam yang jatuh ke kolam penuh ikan piranha.


Monyet-monyet itu dengan leluasa memporak porandakan seisi gerobak. Dodol yang sengaja dibeli Aman untuk oleh-oleh isteri tercinta dinikmati mereka beramai-ramai. Tak cukup sampai di situ. Salah satu monyet dengan isengnya mengencingi wajah Aman.


"Jiaaah, apa nih?!" Lelaki bertubuh tambun itu seketika terbangun. Mata sembabnya menatap tak percaya seisi gerobak tak ubahnya kapal pecah.

"ARUUUL!!!"

Teriakan Aman menggelegar, menerbangkan burung-burung yang tengah asyik makan di atas pohon.


Sejurus kemudian dia tampak berlari mengejar monyet-monyet nakal seraya meneriakan nama adiknya. Dia butuh bantuan Arul untuk mendapatkan kembali kain-kain jarik itu. Susah payah sejak subuh berangkat menuruni bukit demi bisa membelinya, sekarang malah dicuri monyet-monyet penghuni hutan.

"Ugk ugk ugk!" Satu monyet meledek Aman. Dijulur-julurkannya sehelai kain jarik dari atas dahan yang tinggi.

"Binimu mau melahirkan juga, hah?" tanya Aman gusar.  Kedua tangan berusaha menjangkau. Tubuh gempalnya melompat-lompat.

"Ugk ugk ugk!" sahut si monyet.

"Nantilah, kupinjami untuk binimu," bujuk Aman kehabisan akal. 

Monyet kecil itu seakan mengerti kalau tubuh tambun Aman tak akan mampu menyusulnya menaiki dahan. Monyet lain menjerit girang, seolah mereka sedang menonton pertunjukan. Senang sekali melihat manusia bisa menjadi bulan-bulanan kaumnya.

"Aruuul ... Aruuul!" teriak Aman lagi. Mata menyapu sekeliling. Sosok adiknya tak juga tampak. 

"Ah, kemana si Arul? Bisa-bisanya anak itu meninggalkan gerobak," keluh Aman.

***

JEDUAARRR!!

Lantai dapur kini sudah bolong.

Wanita muda yang tengah hamil itu sontak menghambur ke arah mandau  yang terkait paku, lalu menyelipkan tubuh ke balik daun pintu. Tangan kanan Sala kini sudah menggenggam kuat gagang mandau. Sikap tubuh waspada.

Bau busuk bercampur amis semakin menyeruak tajam. Sala mengintip lewat sela-sela daun pintu. Jantungnya berdegup kencang. Dari lantai dapur yang telah jebol  muncul satu pucuk kepala. Semakin naik semakin tampaklah kepala berambut panjang dengan kedua kuping lebar. 

'Makhluk apa itu?' batin Sala.

Dibekap mulutnya sendiri berusaha kuat menahan napas yang mulai memburu. Lutut terasa lemas, menyaksikan iblis yang menyembul dari kolong rumah.

Bunyi mendengung yang aneh mirip serangga, saat kedua telinga lebar itu mulai mengepak bagai sepasang sayap. 

NGUUUNG... NGUUUNG.... 

Tubuh makhluk itu melayang, sehingga penampakannya semakin jelas. Dari leher ke bawah berupa isi perut. Kedua paru-paru kembang kempis, jantung berkedut-kedut.

Degup jantung Sala hampir tak berjeda. Apa yang diinginkan makhluk itu sampai menjebol lantai dapur?

Inikah yang disebut Kuyang? Seumur hidup Sala belum pernah melihatnya langsung. Tapi, sering mendengar cerita orang-orang tentang makhluk  penghisap darah itu. 

Dari penampakan yang berupa kepala tanpa badan dengan usus menjuntai, Sala bisa menyimpulkan makhluk apa yang kini berada tak jauh darinya. Posisi mereka sekarang semakin dekat. Bau busuk menusuk penciuman. Perut Sala terasa di aduk-aduk. Susah payah dia menahan mual.

"Gerrkh...." Suara geraman bertambah dekat ke arah Sala bersembunyi.

Mandau di genggaman tampak bergetar. Dalam hati Sala berharap suaminya segera pulang. Sementara itu nasi dalam panci sudah mengering dimakan api. Aroma hangus nasi kalah tajam dari bau busuk tubuh si kuyang. Pipi Sala mengembung menahan rasa mual yang luar biasa. Bau amis bercampur busuk menusuk ulu hati.

"Huweeekh...." Sala tak mampu lagi menahan. Isi perutnya sekonyong-konyong keluar.

Makhluk itu berpaling. Kedua mata iblis menyala merah. Jeroannya pun ikut menyala.

Krieeek....

Daun pintu yang menutupi tubuh Sala bergerak sendiri. Seolah ada kekuatan yang menariknya.

Sala tercekat. Sekarang tak ada lagi penghalang antara dia dan si Kuyang. Mata menyala menatap nyalang. Dari mulutnya berlesakan keluar gigi-gigi tajam yang panjang. Bibirnya mencucu.

"Ciaaak!" Makhluk busuk itu memekik nyaring persis kelelawar. Kepala dengan usus memburai lalu melesat ke arah Sala.

Sala histeris. Genggaman pada gagang mandau terlepas. Benda yang harusnya jadi senjata untuk melawan malah jatuh ke lantai. Tubuh wanita berwajah manis itu lemas. Seluruh tenaganya seolah tersedot habis.

Nyala api tungku kian membesar tak terkendali. Merambat pada dinding dapur yang terbuat dari kayu. Hawa panas membakar. Siap melahap semua yang ada.

***

Klinting... klinting....

Gemerincing kalung lonceng si Utih mengiringi gerak gerobak. Kepala sapi gemuk berbobot ratusan kilo itu menggeleng-geleng lembut. Tampak menikmati irama lonceng kalungnya sendiri. Keempat kakinya melangkah santai menapaki bukit Pegunungan Meratus.

Jalan mulai menanjak. Kiri dan kanan berjajar pohon karet yang tinggi menjulang. Beberapa puluh meter di belakang Utih, tampak berlarian Aman dan Arul. Wajah mereka tampak panik. 

"Apiii... apiii!!!" teriak Arul.

Napas pemuda berambut sebahu itu memburu, sembari berlari cepat mendahului Aman yang tampak tersengal.

Bukan tanpa alasan mereka panik luar biasa. Asap hitam membumbung tinggi di puncak bukit. Di situ rumah kayu mereka berdiri. Lidah api yang merah terlihat menyambar-nyambar dari kejauhan.

"Salaaa...!" Aman berlari terengah. Baju basah oleh keringat. Apa daya, perawakan yang gempal tak kuasa berlari cepat.

Keduanya terus berlarian menuju pulang. Memakan waktu lama jika naik gerobak Utih. Arul tiba di lebih dahulu. Mencelos hatinya melihat kobaran api sudah melahap dapur. Gerak cepat dia mengambil seember air dari sumur. Menyiram seluruh tubuh hingga basah kuyup. Tanpa pikir panjang pemuda kurus itu menerobos masuk ke dalam.

Bunyi berderak api memakan kayu tak dipedulikan lagi oleh Arul. Percikan api berjatuhan dari atas kepala. Panas luar biasa, asap mengepul menyesakan dada. Dia harus menyelamatkan Sala dan calon keponakan dari lalapan api.

Saat memasuki dapur, sebuah bayangan hitam berkelebat.

"Sala?!" Mata Arul mencari-cari.

Arul semakin panik belum juga menemukan Sala. Bara api terus berjatuhan dari atas. Nyalanya kian membesar. Asap hitam mengepul menutupi pandangan.

"Uhuk ... uhuk!!" Pemuda itu terbatuk-batuk seraya memegangi dada. Pandangan telah tertutup asap hitam.

Bruaakk!! 

Seluruh bangunan dapur kini ambruk. Tubuh Arul terpental.








Other Stories
Bahagiakan Ibu

Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Cinta Kadang Kidding

Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada teman sekelas saat sedang menempuh pendidika ...

Yume Tourou (lentera Mimpi)

Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...

Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )

Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...

Download Titik & Koma